Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 319



Kian bertambah hari, Lisa kian semakin berubah. Dia seolah tak pedulikan lagi, beberapa pria dari kampusnya yang mengejarnya. Lisa hanya fokus terpaku pada Lucky saja, meski beberapa kali Lucky menghindarinya. Seolah Lisa sudah membuta, begitupun Pelangi. Yang selalu kalang kabut di setiap detik jam berputar, menahan kesal yang entah kenapa setiap kali mendengar Lisa yang bermanja saat via telepon dengan Lucky.


Cih, kalau tidak mau ya sudah. Jangan memberinya harapan, di telepon saja Lisa sudah demikian, tapi sampai detik ini Lucky selalu menolak saat Lisa mengajaknya bertemu.


Hampir setiap hari bathin Pelangi berdecak demikian.


Hari ini, sepulang dari kampus Lisa mencoba untuk mengajak Pelangi shopping di suatu pusat belanja khusus pakaian yang memiliki brand ternama di kota itu.


"Princess, ayo shopping. Ini sudah akan berganti musim panas, aku harus mencari pakaian yang nyaman saat ku gunakan setiap harinya," ujar Lisa dengan menatap wajah Pelangi penuh harap. Sebab, Pelangi selalu mengeluh ketika Lisa mengajaknya berbelanja. Bisa memakan waktu berjam-jam lamanya.


"Hem, baiklah. Aku juga mau shopping, aku sedikit jengah beberapa hari ini."


Ups, aah... Kenapa aku berkata demikian? Aduh mulutku ini.


Lisa mengerutkan kedua alisnya, menatap penuh tanda tanya pada Pelangi.


"Je-ngah? Ada apa? Katakan padaku? Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang membebanimu? Apa itu? Katakan, aku akan membantumu." Lisa mulai menghujaninya dengan banyak pertanyaan dan ucapan.


"E-eh maksudku, aku bosan. Karena sudah seminggu ini kita terlalu sibuk, iya kan?" Dengan gugup Pelangi menuturkan jawabannya.


"Ah, ya. Betul sekali, come on. Kita pergi shopping, yeaah!!!" teriak Lisa dengan tangan kanan diatas seperti sedang melakukan demo aksi.


Pelangi mengangguk dengan senyuman lebar, sesaat dia merasa terlepas dari kegalauan hatinya.


Mereka pun tiba di sebuah pusat butique besar di kota itu. Pelangi melihat Lisa masih sibuk mengutak atik ponselnya, meski mereka sudah memasuki ruangan dan hanya tinggal memilih saja mana yang di inginkan.


"Sa..." Panggil Pelangi setelah dia sudah menunggu Lisa yang sejak tadi masih berkutat dengan ponselnya.


"Ah, ya. Tunggu sebentar, iih. Sabar dong, aku lagi merayu pria ku untuk segera menyusul kemari." balas Lisa tanpa menoleh.


"Lucky?" tanya Pelangi kembali, dia sudah bisa menebaknya secara langsung.


"Yess!! Akhirnya dia mau datang." Seraya penuh kemenangan dia mendecak manja, mengacuhkan pertanyaan Pelangi.


"Ayo. Kita pilih-pilih dulu, aah jadi semangat." Lisa langsung saja beraksi melewati Pelangi yang masih menuggu jawabannya. Dengan helaan nafas dalam Pelangi menyusul untuk memilih baju sesuai seleranya di musim panas kali ini.


Mereka sudah terpisah untuk mencari kesenangan dan berbagai baju pilihan mereka dalam satu butique besar kali ini, dan benar saja. Jelang beberapa menit kemudian, nampak batang hidung Lukcy yang sangat mancung itu.


Dia sungguh datang. Hanya untuk menemani Lisa shopping? Woah... Hebat.


Bathin Pelangi mulai kesal.


"Hai. Langi! Maaf, aku terlambat. Dimana Lisa?"


"Halo, Langi..." Lucky memanggilnya dengan jentikan jemari. Karena melihat Pelangi yang termenung menatapnya.


"Ah, ya. Lisa, ehm disana!" jawab nya gugup setelah terbangun dari lamunannya.


"Oh..." Lucky membalas singkat sembari menoleh ke arah yang Pelangi tunjuk. Lalu kemudian dia menoleh ke arah Pelangi kembali yang mulai berubah ekspresi. Wajahnya dia tekuk dengan bibir manyun.


"Kau, sudah makan? Sebentar lagi makan malam."


Oh, jadi dia kemari untuk mengajak Lisa makan? Apa karena ada aku, jadi aku di ajak juga. Hei, Pelangi. Kau hanya cadangan saja, tujuannya hanya pada Lisa. Kalian kan hanya berteman biasa, lihat Lisa dan dia begitu akrab.


"Jika kau punya janji lain dengan Lisa, pergi saja! Aku bisa pulang sendiri nanti." jawab Pelangi cetus.


"Pffttt..." Lucky menutupi mulutnya yang menahan tawa.


"Eh, apa maksudmu tertawa begitu? Lucu?" cetus Pelangi lagi.


"Tidak, hihihi. Maafkan aku, aku hanya lucu melihatmu cemberut begitu. Entah pikiran ku ini benar atau tidak, tapi aku merasa jika kau..."


"Aku apa, hah?" Pelangi kian kesal.


"Maafkan aku, Langi. Jika aku salah bicara, tapi bolehkah aku bertanya untuk meyakinkan hati dan pikiranku tentang hal itu?"


"Tanya saja!" jawab Pelangi dengan memalingkan wajahnya ke arah beberapa pakaian di depannya.


"Apa kau, merasa cemburu melihatku dengan Lisa?"


Jleb!!!


Pertanyaan Lucky kali ini membuat Pelangi mematung seketika. Dia terasa tak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya, kepala dan telinganya terasa seperti ada yang menghantamnya.


"Jawab aku, Langi." Tanya Lucky kembali dengan nada uang sangat lembut.


"Ti-tidak. Kau terlalu GR, kau terlalu percaya diri. Siapa yang cemburu, meski kau mungkin sedang berpacaran dengan Lisa aku juga tidak peduli. Kita kan hanya teman sejak kecil, itu kan katamu?" Terlihat jelas bibir Pelangi gemetaran dan wajahnya pun memerah semu. Lucky mengernyit menatapnya lekat, membuat Pelangi salah tingkah.


"Hah, baiklah. Sepertinya aku saja yang terlalu berharap. Ya sudah, aku akan menemui Lisa." Jawab Lucky yang kemudian pergi begitu saja membalikkan badan dari hadapan Pelangi.


"Iiih, cowok nyebelin. Kenapa kau harus bertanya tentang hal itu, itu membuatku malu. Apa kau tidak mengerti?" Di belakang Pelangi menggerutu kesal, dia berharap Lucky akan memberikan jawaban yang membuatnya senang. Siapa sangka?


Sementara di hati Lucky, dia merasa kecewa. Selama ini dia selalu melihat tingkah Pelangi yang tak biasa, dia berpikir jika Pelangi merasa cemburu. Namun jawaban Pelangi justru sebaliknya.


Mungkin hanya aku yang terlalu berharap dan merasakannya sendiri, kau tidak, Langi.