
Hampir semalaman suntuk aku menyendiri di teras depan rumah, mencoba menelaah apa yang sudah ibu sampaikan melalui nasehat dan pemikirannya. Yah, aku wanita.
Yang ku tahu, wanita adalah tempatnya lemah dan egois menerpa. Di dunia ini, memang tidak semua wanita akan melemah dan gegabah dalam bersikap.
Tapi sayang nya aku bukan termasuk wanita pilihan itu. Masa lalu memang tidak perlu lagi kita ingat dan kita jadikan bayang-bayang untuk menghalangi kita dalam menatap masa depan. Tapi ini berbeda, aku memiliki alasan besar yang tidak bisa aku tepis lagi.
Aku akui, aku bodoh. Sejak awal aku mengenal cinta yang sudah ku anggap sejati dan terakhir aku memilikinya, aku justru terkhianati karena adanya orang ketiga. Dan itu sungguh menyakiti ku, dan di saat aku kembali mengenal apa itu cinta, apa itu percaya, kembali aku harus merelakannya karena aku begitu mencintainya pula.
Berapa kali aku gagal dalam mempertahan kan cintaku, dan aku selalu kalah dengan adanya orang ketiga. Apakah ini adil? Tentu tidak. Aku selalu merasa Tuhan sedang mempermainkan ku. Sampai akhirnya aku di pertemukan dengan sosok laki-laki yang kini sudah menjadi suami plus ayah dari anak ku.
Laki-laki yang ku lihat berbeda, laki-laki yang tidak pernah banyak bicara, tidak pernah mengumbar kata-kata cinta, tidak pernah mencoba menyentuhku dengan paksa. Lalu dia secara tiba-tiba memintaku menjadi istrinya, bagaimana aku tidak merasa wanita paling beruntung? Ketika dia mau menerimaku dengan segala keburukan ku di masa lalu.
Walau berkali-kali aku memintanya mengatakan dan bercerita tentang nya di masa dulu, dia selalu menolak dan dengan tegas berbicara HANYA AKU wanita pertama yang dicintainya dan hanya aku yang telah berhasil merubah kekakuan hatinya akan perihal cinta.
Dan sejak malam pesta reuni itu, siapa yang menduganya.. Di balik keharmonisan dan keromantisan Irgy terhadapku selama ini buyar begitu saja setelah kehadiran Hana yang baru ku ketahui adalah bagian dari masa lalu Irgy.
Hah, sudah lah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, ini baru satu hari berlu. Tapi aku sudah sangat rindu padanya, ingin sekali mendengar suaranya. Tapi tetap saja, aku masih membencinya.
Pagi ini aku sungguh malas untuk beranjak dari kasur, kepala ku sungguh terasa berat. Rasanya banyak bintang yang berputar-putar mengelilingi kepala ku. Sekujur tubuh ku terasa sangat lemah, tenggorokan ku terasa kering seketika. Ku coba meraih segelas air putih di atas meja lalu meneguknya. Ah, rasanya begitu pahit. Entah kenapa begitu mendadak.
Aku mencoba berjalan menuju pintu kamar dengan sedikit terhuyung-huyung. Ku lihat ibu sudah sibuk membantu bibi Asri di dapur ketika langkah ku tiba di meja makan. Ku lihat Pelangi juga sibuk bermain dan sesekali mengeluarkan banyak tanya dengan menunjuk ke berbagai sayuran dan buah juga lauk pauk lainnya.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya ku menyapa mereka. Kemudian ibu menoleh ke arah ku.
"Kemari lah, bantu bunda memotong sayur ini." Jawab Ibu ku dengan senyuman.
Dan ketika aku menghampirinya, mendadak aku merasa ingin sekali melahap sebuah jeruk lemon. Dengan cepat ibu menepis tangan ku yang hendak menghisapnya setelah berhasil ku belah menjadi beberapa potongan.
"Sarapan dulu, atau paling tidak minum susu hangat. Nanti asam lambung mu kambuh, Irgy akan marah pada bunda." Jawab nya dengan nada tegas.
H**ey kau tahu, air liur ku ini sudah hampir jatuh saja. Aku ingin sekali menghisap lemon itu...
"Bunda, ini terlihat sangat segar di tenggorokan. Hari ini Fanny sedikit tidak enak badan bunda, jadi ku mohon sedikit saja aku ingin mencicipi lemon ini."
Kemudian ibu menatapku lalu menempelkan punggung tangan nya di keningku.
"Hemm... Sudah bunda bilang, kau akan demam jika terlalu lama kena udara malam. Duduk saja dulu, ibu akan membuatkan mu susu jahe hangat." Jawab ibu sembari terus mengomel tanpa henti.
Aku menurut untuk duduk di kursi meja makan, beberapa menit kemudian ibu sudah membawakan ku segelas susu jahe hangat. Aku langsung meneguknya, namun entah kenapa ini rasanya menjijikkan. Aku tidak suka bau amis dari susu ini hingga aku memuntahkannya di hadapan ibu.
"Fanny, ya Tuhan. Kau baik-baik saja nak?"
"Bunda, aku tidak suka aroma susu ini. Sangat amis, ini menjijikkan." Jawab ku sembari menutup hidung lalu kembali merasakan mual ingin muntah.
"Bunda, Fanny hanya kelelahan saja dan butuh istirahat lebih banyak. Nanti juga akan baikan kok,"
"Jangan membantah, apakah kau masih takut minum obat? Jangan membuatmu malu di depan Pelangi." Jawab ibu ku lagi-lagi mengomeliku.
"Ma,,mama kenapa? Mama sakit? Sini Pelangi periksa ma." Dengan cepat Pelangi berlari menuju kamar dan kembali dengan sebuah mainan stetoskop yang sudah menggantung di lehernya. Aku tertawa sejenak akan sikap tanggap puteri ku ini.
"Ah, mama demam. Mama harus ke rumah sakit untuk dapat obat. Ayo ma," Ucap Pelangi dengan fasih.
"Ayo nak, kita ke dokter. Sebelum kau sungguh jatuh sakit nantinya, bunda tidak ingin membuat Irgy semakin kepikiran nantinya."
Aku menurut kali ini, karena aku memang merasa butuh ke dokter kali ini. Tubuh ku terasa lemah, kepala ku sangat pening terasa. Perut ku selalu merasa begah sejak kemarin tiba disini. Ah, semoga aku tidak harus menelan banyak obat nantinya.
Aku masih memaksakan diri menyetir mobil untuk lebih cepat sampai di sebuah klinik terdekat. Sejenak aku berpikir bagaimana jika aku mengalami sakit yang lain? Perutku terasa kram sejak kemarin. Kemudian aku beserta ibu juga Pelangi memasuki ruangan seorang dokter wanita muda. Dia tersenyum ramah menyambutku, dan langsung menyuruhku berbaring untuk di lakukan pemeriksaan.
Ku perhatikan sejak tadi dia tersenyum sendiri dan sesekali melirikku, membuatku merasa canggung. Apa yang dipikirkannya saat ini? Kenapa sia menatapku demikian?
Setelah selesai melakukan beberapa pengecekan, aku beranjak bangun dan kembali duduk di hadapannya.
"Dokter, apakah mama ku sakit?" Tanya Pelangi mendahului ku untuk bertanya.
"Mama mu tidak sakit sayang, mama dan adik mu yang di dalam perut hanya perlu istrahat lebih banyak dan hindari stres berlebihan."
"Syukur lah dok, jika aku baik-baik saja. Eh, tunggu dokter. Kau,, kau bilang adik di dalam perut ku?"
Sungguh jiwa ku terhentak mendengar ucapan dokter saat ini. Begitu juga dengan ibu ku, beliau terlihat kebingungan namun seketika berubah ekspresi haru dan bahagia.
"Tidak mungkin dok, pasti salah. Bagaimana mungkin aku hamil, aku tidak menyadari nya selama ini."
"Ehm, kapan terakhir anda mendapati menstruasi anda bu?"
"Aku.. Aku lupa dok, tapi ini.. Ini pasti salah." Jawab ku dengan gemetaran, campur aduk. Antara bahagia dan tidak mempercayainya.
"Mari kita coba lakukan USG saja. Di ruang sebelah, mari."
Dengan termangu aku menuruti arahan dokter itu di susul oleh ibu. Hatiku semakin bergetar, aku tidak percaya ini Tuhan...
Dan benar saja. Setelah melakukan pemeriksaan USG kini justru giliran dokter itu yang terperanjat.
"Sekali lagi selamat bu, ada dua janin di dalam kantung rahim anda. Dan ini sudah memasuki bulan ke tiga, selamat."