
Sebagai mahasiswi baru yang datang dari kota dan negara berbeda, tentu kemolekan dan paras wajah Pelangi yang khas selalu jadi sorotan dan incaran dari beberapa mahasiswa dari kota itu sendiri. Mekipun masih banyak beberapa mahasiswi lainnya yang juga datang dari negara yang sama dengan Pelangi.
Berbeda dengan Lisa. Yang selalu bersikap manis manja untuk menarik perhatian banyak mahasiswa berdarah LN. Dalam sekejab pun Lisa sudah banyak yang berduyun-duyun serta mengantre untuk mendapatkan nomor ponsel Lisa. Pelangi pun acuh, dengan terus mencicipi jus kesukaannya. Mereka sedang di kantin saat ini.
Tak lama kemudian, Exelle datang. Dengan cepat Lisa mengusir beberapa laki-laki yang mendekatinya, ia takut jika Exelle dan Lucky akan berpikir dia wanita yang gampangan oleh rayuan laki-laki.
Namun Exelle hanya datang sendiri, membuat Lisa tampak kecewa mendongakkan kepala nya ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok Lucky, ia berharap jika Lucky datang terlambat dari belakang Exelle.
"Hai.." sapa Exelle.
"Hai, Ex." Balas Pelangi tersenyum ramah.
"Uugh, Ex. Dimana Lucky?"
"Hmm... Jangan menanyakannya, jika sudah aktif seperti ini di kampus dia tidak akan mudah diajak ngumpul atau sekedar makan bersama, berbincang sebentar."
"Dia memang unik." Jawab Lisa gemas dengan senyuman genitnya.
"Hmm, saudara ku itu sangat patuh pada pesan papa untuk fokus belajar dan meraih prestasi yang baik."
"Kyaaaa... Aku semakin kagum" teriak Lisa semakin berbinar-binar. Pelangi hanya mengangkat salah satu alisnya ke atas melihat sikap sahabatnya itu.
"Pelangi, nanti malam dinner yuk."
"Eh? Di-nner?" tanya Pelangi dengan ragu-ragu. Ekspresi wajahnya sedikit terkejut, meski ini bukan yang pertama kalinya Exelle mengajak Dinner.
"Ciye.. Ehhem, apakah hanya akan berdua?" goda Lisa seraya berdehem.
"Cih, apaan sih Sa? Kamu mau ikut? Ayo, sekalian. Aku ajak Lucky juga, kita dinner berempat."
Degh!!!
Jantung Pelangi masih saja serasa terhenti berdetak setiap kali mendengar nama Lucky di sebut.
"Aku mauuu, mau banget. Aaah, Princess cold. Ayolah, mau ya. Mau, kita dinner. Ups, double date. Yah, ini akan seru. Hihi," Lisa mulai ribut dan sangat riang mendengar hal itu.
"Kita harus izin dulu sama bibi Yasmin, Sa. Kasihan dia, jika om Kevin tahu kita keluar malam dengan laki-laki bibi Yasmin akan di tegur." bantah Pelangi, berusaha mengelak. Karena sebenarnya ia tak ingin kembali duduk bersama dalam jarak yang dekat dengan Lucky, yang selalu membuatnya berdegub kencang dalam hati.
"Astaga, iya. Kita akan izin dulu sama bibi Yasmin, atau kau bisa menelpon om Kevin juga. Ayolah, Princess cold. Kita sedang hidup negara berbeda kali ini, kita sudah dewasa. Mereka akan mengerti hal itu."
"Ehm, baiklah." Pilihan terakhir Pelangi sudah pasti tak bisa menolak jika sahabatnya itu meminta.
Malam pun tiba, Lisa sudah sekitar satu jam tak juga selesai menyulap wajah dan penampilannya malam ini setelah Exelle mengirim pesan singkat akan menjemputnya 15 menit sebelum makan malam.
Sementara Pelangi tetap saja dengan penampilannya seperti biasa ketika dia masih duduk di bangku SMA. Malam ini dia mengenakan dres berwarna gold, tak terlalu mencolok, tak juga memamerkan lekuk tubuhnya. Karena ini musim dingin, Pelangi menutupinya dengan jaket tebal yang hanya dia tanggalkan di bahu.
Rambut nya yang tebal bergelombang dia kuncir rendah ke samping. Beberapa helai rambut nya di bagian kanan dan kiri sepertinya sengaja dia biarkan menjuntai manja untuk menghiasi wajahnya lebih terlihat manis tentunya.
Soal make up, Pelangi memang belum jago. Berbeda dengan Lisa yang kini sudah menyulap dirinya begitu menonjol dari ujung kepala hingga kaki. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru yang sangat ketat di tubuhnya hingga terlihat begitu seksi memamerkan lekuk tubuhnya. Dia pun menutupnya dahulu dengan jaket tebal, rambut lurusnya yang hanya sebahu dia biarkan terurai dengan hiasan jepit bunga di atas rambut yang dia selipkan pada daun telinga kanannya.
"Finish!" ujar Lisa berdiri memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
Kemudian Pelangi kembali masuk kamar setelah dia menemui bibi Yasmin untuk memohon izin. Bibi Yasmin mengizinkan mereka makan malam diluar karena di ketahui jika Exelle adalah teman dekat Pelangi dari negara yang sama.
"Omegot.. Princess cold." Lisa tampak terkejut.
"Hmm, apa?" Tanya Pelangi kebingungan melihat Lisa menatapnya dengan terkejut.
"Tahu enggak sih, kita ini mau dinner. Kau yakin mau memakai sepatu flat?" ujar Lisa dengan bibirnya yang sudah tak karuan bentuknya, menunjukkan bahwa dia sedang terkejut namun meremehkan apa yang dikenakan oleh sahabatnya itu.
"Ya, lalu? Kenapa?" tanya Pelangi acuh.
"Oh Tuhan, apakah aku sungguh harus mengajarinya?" Lisa mendecak pelan.
"Ayo, kita turun. Kita tunggu dia di bawah saja." ajak Pelangi dengan meraih tad gandengnya.
"Princess cold.. Aaah, apakah aku harus menangis agar kau peka. Ganti sepatu mu, aku ingin kau tampil elegan juga. Iiih, lihat. Apa itu, bahkan bibirmu kau tidak memoles dengan lipstik sedikitpun."
"Ayolah, Sa. Jangan bercanda, kau tahu aku tidak suka memakai itu semua. Terasa tidak nyaman padaku."
"Hah, baiklah. Bersyukur lah karena kau memiliki tubuh tinggi, berbeda dengan ku. Tapi walau begitu, kau akan terlihat jauh lebih anggun. Ehm, jika saja kau mau memakai lipstik. Exelle akan semakin terpikat padamu, hihi."
"Ih, berhenti menggodaku. Kau ini, menyebalkan."
Kemudian Pelangi dan Lisa keluar dari kamar bersamaan, bibi Yasmin sudah menunggunya dengan senyuman hangat.
"Wah, kalian. Sungguh wanita-wanita yang sangat cantik. Berhati-hati lah diluar, jangan pulang terlalu larut. Cuaca diluar sangat dingin, nanti kalian sakit."
"Iya, bi. Tenang saja, kami akan hati-hati dan pulang tepat waktu nanti." ujar Lisa menjawab seraya merangkul bahu bibi Yasmin.
"Kami pergi dulu ya, bi." Pamit Pelangi kemudian. Lalu bibi Yasmin mengangguk pelan tanda memgizinkan mereka untuk makan malam diluar. Tentu juga sudah dapat izin dari Kevin, maka itu bibi Yasmin mengizinkan.