Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 278



Abel masih berpikir keras untuk menenangkan hati serta pikiran puteranya yang saat ini sedang kalut hanya karena cinta.


Mendadak muncul pikiran licik dan jauh dari batas normal di otak Abel. Dia menyeringai menatap wajah puternya, Joe. Yang saat ini masih tertunduk murung dan lesu.


"Joe, ehm.. Pelangi menempuh jurusan kedokteran bukan?" Tanya Abel dahulu.


"I,iya mi. Sejak kecil dia sering sekali berlagak menjadi dokter hebat yang mengobatiku, aku sebagai pasiennya. Hihi, sangat menggemaskan mengingat itu." Joe kembali terkenang masa kecilnya dengan Pelangi saat itu.


"Kau yakin dia akan lolos begitu saja?"


Joe mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang saat ini tersirat dari pikiran maminya.


"Maksud mami?"


"Ehm, yah... Kamu kan pernah pacaran dengannya cukup lama, bahkan sering melewati waktu berdua tak ingat waktu. Apakah sungguh kau tidak melakukan hal apapun padanya selama kalian pacaran?"


Seketika wajah Joe memerah dan salah tingkah. Dia tersipu malu mendengar tutur kata maminya barusan.


"A,apa, apa yang mami pikirkan hah? Ka,kami masih berpacaran sehat kok, Mi. Ih mami apaan sih?" Mendadak pula ucapan Joe jadi terbata-bata.


"Hemm... Sungguh? Kalian berpacaran sehat? Peluk cium dan sentuhan lainnya apakah tidak?" Tanya Abel mendetail puteranya dengan senyuman nakal.


"I,iya. Beneran mami, eh.. Kami, ehm.. Hanya, ber-ci-uman bi-bir sesekali. Eh tapi itu normal kan mi?" Jawab Exelle kembali dengan mengalihkan pandangannya dari tatapan Abel. Abel melihat Joe sedang gelisah dan berusaha menyembunyikan rasa malunya.


"Hemm... Masuk akademis kedokteran itu, ehm... Setahu mami tidak mudah loh. Masih harus melakukan banyak tes lagi, sudah tentu juga di bagian anggota tubuh lainnya."


"Ma,maksud mami?" Joe mulai penasaran. Meski dia tidak memahami maksud maminya


"Oh ya ampun, ternyata puteraku belum juga dewasa pemikirannya."


"Aku sungguh tidak mengerti maksud mami, apa." Jawab nya dengan lugu.


"Kau sudah dewasa, tak apa jika ingin mencoba lebih dari itu asal... Kau harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, jika tidak. Mami akan marah mengenai hal itu."


"Apaan sih mi? Langsung point nya saja dong. Kebiasaan mami suka berbelit-belit, Joe juga tidak suka itu." Bantah Joe dengan bibir manyun.


"Kau sungguh hanya ingin Pelangi yang menjadi bagian hidupmu, My baby boy?" Tanya Abel sekali lagi.


"Ah, mami. Kenapa mami masih bertanya hal itu, tentu saja iya. Aku pun ingin nantinya kami hidup berdua memiliki banyak anak dan menikmati waktu senja berdua, ah bahagianya..." Joe mulai berpikir dan melamun jauh, bola mata nya menatap ke atas dengan bibirnya yang tersenyum sendiri.


"Jika begitu, lakukan sesuatu jika kau ingin Pelangi hanya menjadi milikmu. Tapi apapun itu kau harua berjanji dan siap menerima segala resikonya."


"E,eh... Maksud ma-mi?"


"Yah, kau bisa menggagalkan salah satu cara agar Pelangi gagal masuk di akademis kedokteran di universitas itu. Atau paling tidak, buat saja dia tetap tinggal di kota ini, kuliah bersamamu dan kalian saling mendukung satu sama lain seperti dulu. Mami yakin dengan ucapan mami kali ini kau akan paham maksud mami." Ujar Abel dengan menyentuh kedua pundak puteranya, ia tatap lekat-lekat kedua matanya Joe saat ini.


Lama Joe berpikir tanpa menjawab satu hal kata pun, sesaat kemudian dia membelalakkan kedua matanya menatap Abel. Lalu Abel tersenyum tipis, menyeringai membalas reaksi puteranya saat ini.


Ctakkk!!!


Abel sudah berdiri di hadapnnya lalu menjitak kening puteranya cukup keras.


"Kau terlalu polos dan gampang menyerah soal perihal cinta. Mami tidak ingin melihatmu merasakan apa yang pernah mami rasakan di masa lalu dulu. Itu sangat sakit dan tidak nyaman." Ujar Abel sembari beranjak pergi dari hadapan puteranya hendak keluar kamar.


"Tapi mi..."


Abel mengabaikan aksi bantahan Joe, dan berlalu pergi untuk memanggil si embok. Untuk membersihkan sisa pecahan kaca yang berantakan di kamar Joe tadi.


Joe masih termenung dengan tatapan kosong, memikirkan segala ucapan maminya tadi.


"Tidak, itu tidak akan pernah aku lakukan. Pelangi sangat berharga bagiku, aku tidak ingin merusaknya. Tidak, tidak akan!!!" Joe menahan dirinya dalam ucapan itu.


Tak lama kemudian, ia di kejutkan oleh suara dering ponselnya. Sebuah panggilan telepon dari Lucas.


"Halo, Lucas." Jawab Joe ketika sudah menempelkan ponselnya di telinga, setelah menggeser pilihan terima panggilan di layar.


"Hai, Pangeran aku yang tampan. Aku berniat mengadakan pesta perpisahan dengan kalian semua, terutama ini untuk memberikan hadiah dan ucapan selamat untuk Princess cold dan Lisa. Karena keberhasilan mereka dalam ujian terakhir di sekolah kita."


"Lalu?" Tanya Joe dengan singkat. Mendengar hal itu dia kembali merasa kesal tertahan karena telah gagal.


Harusnya nama Joe dan Pelangi yang bersanding di akhir ujian. Begitu pikir Joe dalam hati.


"Bagaimana jika kita bersenang-senang. Kita makan-makan, melewati waktu semalaman bersama, karena nantinya aku akan berjauhan dengan kalian. Iiih, sebbel. Aku harus tetap tinggal dan melanjutkan kuliah disini, begitupun Jeni. Hanya kau, Lisa dan Princess cold saja yang akan jauh dari kami nantinya." Terdengar suara lirih dari Lucas yang sepertinya begitu sedih saat ini.


"Jangan bersedih sayang, walau bagaimanapun kau tetap sahabat kami walaupun kami akan terpisah jauh."


"Hem, mau bagaimana lagi? Aku pun harus mengurus kafe warisan papa ku juga. Oleh karena itu aku ingin mentraktir dan mengajak kalian,"


"Baiklah, baiklah. Kita akan berkumpul di kafe mu seperti biasa bukan? Kapan?"


"Tiidak, Joe. Bukan di kafe ku, iih.. Aku sudah meminta tante ku mengosongkan ruangan khusus di kafe terbesarnya, disitu ada ruangan privasi dan kita bebas untuk menari dan menyanyi serta bersenang-senang. Karena aku, aku... Ehm, sebenarnya aku suka bernyanyi."


"Apa? Hahaha, gila. Oh ternyata kau suka menyanyi, aku tidak pernah tahu itu. Ehm, baiklah sayang ku Lucas. Aku akan dengan senang hati ikut serta."


"Eh, Joe. Jangan lupa, jauh sebelum kau bergabung dengan kami. Kami sudah mempunyai kesepakatan, saat lulus nanti kami akan saling berbagi kado perpisahan, semacam kenang-kenangan lucu."


"Oh, baiklah. Tentu aku akan memberikan hadiah yang paling bagus untuk mu juga, sayang." Jawab Joe.


"Ah, sungguh? Aaah, makasih pangeranku. Baiklah, aku tutup dulu. Acaranya besok malam jam 7 kau kita sudah harus berkumpul, aku akan mengirimkan alamatnya pada kalian semua di grup, oke." Jawab Lucas dengan ceria lalu mematikan panggilan teleponnya.


Joe tersenyum dan berpikir kado apa yang cocok dan pantas untuk seorang Lucas yang terlihat setengah perempuan dan setengah laki-laki juga.