Because, I Love You

Because, I Love You
#85



Pagi-pagi sekali, mereka bersiap menuju bandara setelah semalam membatalkan tiket penerbangan karena keadaan Olivia yang tidak memungkinkan.


Rendy dan Beni keluar dari kamar hotel bersamaan dengan Andreas yang berjalan sambil menggendong Olivia.


"Gimana keadaannya?" Tanya Rendy yang melihat Olivia masih memejamkan matanya dalam gendongan Andreas.


"Sepertinya dia butuh dokter. Semalaman dia terus merasa ketakutan. Dan luka lebamnya ini, aku sangat khawatir." Jawab Andreas yang terlihat begitu mengkhawatirkan Olivia.


Rendy mengangguk pelan. Meskipun dia sudah merelakan Olivia dengan kehidupannya yang sekarang entah bersama Andreas atau dengan siapapun itu, tapi Rendy juga masih memiliki rasa khawatir terhadap mantannya ini.


"Sebaiknya, sekarang juga kita ke bendara sebelum orang-orang Axel mencari kita." Sahut Beni dan mereka segera pergi meninggalkan hotel untuk menuju bandara.


Sesampainya di bandara, mereka segera ke pesawat setelah melakukan boarding pass.


"Rendy..."


Olivia terus mengigau memanggil manggil Rendy setelah duduk didalam pesawat.


Andreas yang duduk disebelahnya menoleh ke arah Rendy yang duduk dikursi seberang. "Bro." Panggil Andreas.


Rendy menoleh menatap Andreas dan mengedikkan dagunya. "Ada apa?"


"Bisa tuker tempat nggak?"


Rendy mengernyitkan keningnya merasa tidak mengerti maksud Andreas. Melihat raut wajah Rendy yang bingung, Andreas mencondongkan tubuhnya kesamping. "Oliv sejak semalam ngigau manggil-manggil kamu terus. Mungkin, kalo kamu ada disamping dia, dia bisa merasa tenang." Ucap Andreas dengan pelan menatap Rendy penuh harap.


Meskipun merasa berat meminta Rendy untuk bertukar tempat duduk, bagaimana pun juga, Olivia selama ini memang hanya mencintai Rendy. Meskipun dia lebih sering bersamanya dan selalu ada disaat Olivia butuh seseorang untuk ada disampingnya.


"Udahlah biarain aja. Cuma ngingau doang." Ucap Rendy dengan acuh seolah tidak peduli dengan Olivia.


Saat Andreas ingin bicara lagi, Olivia terbangun tampak sangat terkejut dan dia seperti ketakutan.


"Jangan mendekat! Ampun! Tolong lepaskan aku!"


"Oliv tenanglah! Kamu udah aman sekarang. Kita udah dipesawat." Andreas langsung mencoba menenangkan Olivia.


Rendy dan Beni memperhatikan mereka. Beberapa penumpang yang duduk didekat mereka juga menoleh memperhatikan mereka sambil membicarakan mereka karena merasa terganggu.


"Rendy? Dimana Rendy?" Tanya Olivia sambil menangis memegang erat tangan Andreas seperti orang kebingungan.


"Rendy, dia...


"Minggir!" Tiba-tiba Rendy sudah berdiri dan meminta Andreas pindah ketempat duduknya.


Dia hanya tidak mau semua penumpang merasa terganggu, jadi terpaksa dia ingin menenangkan Olivia.


"Rendy..." Lirih Olivia memanggil Rendy dengan derai air matanya.


Andreas tersenyum kemudian bangkit berdiri dan pindah ke tempat duduk Rendy. Beni yang melihatnya hanya menghela nafasnya lalu memakai penutup mata dan ingin tidur karena sangat mengantuk.


"Ren.." Olivia langsung memeluk Rendy begitu Rendy duduk disampingnya.


"Ternyata kamu beneran datang buat nolongin aku?" Tanya Olivia sambil mendongak menatap wajah tampan yang selalu dirindukannya lalu mengusap rahang tegas lelaki yang sudah menjadi mantannya ini.


Rendy menghela nafasnya dan mengangguk pelan dengan sedikit memberikan senyuman kepada Olivia. Olivia balas tersenyum lalu mengeratkan kembali pelukannya. "Makasih. Aku tau kamu pasti akan datang karena kamu masih cinta kan sama aku? Aku sangat senang Rend, akhirnya bisa peluk kamu lagi seperti ini." Ucap Olivia sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Rendy.


"Jangan banyak ngomong. Istirahatlah!" Ucap Rendy tidak begitu menghiraukan ucapan Olivia dan terdengar acuh. Tapi, Olivia sama sekali tidak peduli. Dia terus tersenyum memeluk Rendy dan memejamkan matanya hingga bisa terlelap tidur dengan tenang.


Rendy kembali menghela nafasnya dalam-dalam karena merasakan gelenyar aneh didalam hatinya. Bayangan akan masa lalu saat bersama dengan Olivia tiba-tiba melintas dipikirannya.


Rendy memejamkan matanya sejenak lalu membuang nafasnya dan membuka kembali matanya. Dia mencoba untuk mengusir bayangan kebersamaan dirinya dengan Olivia sebelum mereka putus. Tidak ingin mengingatnya lagi.


Dan tiba-tiba, Rendy menjadi teringat Kirana dan sedikit merasakan rindu kepada gadis kampung manisnya yang sering membuatnya merasa kesal sekaligus senang ketika bersamanya.


...


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya pesawat komersial yang ditumpangi Rendy sampai dibandara Halim Perdanakusuma.


Pramugari menghampiri sambil membawakan kursi roda karena melihat keadaan Olivia yang terlihat banyak lebam diwajahnya juga sangat pucat.


"Aku nggak mau pake kursi roda." Ucap Olivia lirih.


"Oliv, kamu masih lemes gitu." Sahut Andreas.


"Aku masih bisa jalan." Ucap Olivia kemudian berdiri dan langsung memeluk lengan Rendy.


Beni yang melihatnya hanya memutar bola matanya saja merasa jengah namun sedikit kasihan setelah melihat bagaimana Axel menyiksa Olivia.


"Ya udah, ayo jalan." Ucap Rendy kemudian segera berjalan membiarkan Olivia memeluk lengannya.


Meskipun kini, Rendy bukan kekasihnya lagi, Olivia yakin kalau laki-laki tampan ini masih mencintainya. Membuat Olivia kembali ingin berusaha merebut hatinya lagi. Menjadikan Rendy hanya menjadi miliknya seorang.


"Bos, mau naik taksi aja atau mau nunggu dijemput supir?" Tanya Beni setelah sampai diparkiran.


"Naik taksi aja." Jawab Rendy.


"Rend, aku mau bawa Oliv kerumah sakit dulu. Aku khawatir ada luka serius ditubuhnya." Ucap Andreas yang terlihat begitu mengkhawatirkan Olivia.


"Andreas, aku nggak mau kerumah sakit!" Rengek Olivia yang masih memeluk lengan Rendy dengan manja.


"Oliv, lukamu itu harus diobati. Kamu juga harus diperiksa secara keseluruhan." Ucap Andreas dengan penuh perhatian.


"Andreas bener. Kamu harus diperiksa keseluruhan." Sambung Rendy melirik pada Olivia.


"Tapi...


"Aku temeni kamu." Sahut Rendy saat Olivia ingin menolak.


Seketika Olivia mengembangkan senyumannya menatap Rendy dan melingkarkan kedua tangannya diperut six pack Rendy. "Beneran?" Tanya Olivia dan Rendy sedikit mengangguk dengan tersenyum tipis.


................