
Rendy menghela nafasnya kembali. Yang dikatakan Kirana memang benar. Tapi ia sedang berusaha untuk melupakan semuanya.
"Maka dari itu, saya mau kamu bantu saya untuk melupakan semua tentang Olivia." Ucap Rendy dengan wajah yang berubah menjadi muram. "Masalah cinta, kita nggak tau gimana kedepannya. Yang jelas, saya ingin melupakan Olivia." Lanjutnya.
Tok Tok Tok!
'Ceklek!'
Siska masuk dengan membawa secangkir kopi.
"Pak Rendy, ini kopi Anda." Ucapnya dengan tersenyum sambil meletakkan kopi diatas meja kerja Rendy.
"Makasih." Ucap Rendy sekilas menoleh pada Siska.
Kirana melirik kearah Siska yang juga sedang meliriknya penuh tanda tanya dalam hatinya.
"Kalau kamu keberatan katakan aja." Ucap Rendy kembali dengan menatap Kirana.
Keberatan? Sebenernya apa yang lagi dibicarakan Pak Rendy sama cewek itu? Kliatannya serius banget.
Tanya Siska dalam hati ingin tau.
Rendy menoleh dan menatap Siska. "Kenapa kamu masih berdiri disitu?"
Seketika Siska pun pamit keluar dengan hati yang kesal.
"Maaf Pak, untuk masalah ini sepertinya saya nggak bisa langsung jawab." Ucap Kirana sedikit menundukkan wajahnya dan hatinya merasa nyeri.
Ia merasa kalau Rendy tidak punya perasaan. Rendy hanya memikirkan perasaannya sendiri dan tidak memikirkan bagaimana perasaan Kirana. Egois!
"Kirana, saya butuh jawaban kamu sekarang juga. Karena saya harus melakukan konferensi pers dan mengatakan kepada media kalau saya dan Olivia sudah nggak ada hubungan apa-apa dan karena saya sudah punya pacar yaitu kamu untuk meyakinkan semua orang." Ucap Rendy dengan serius dan terkesan memaksa Kirana.
"Saya merasa kenapa Pak Rendy nggak punya perasaan ya? Pak Rendy nggak mikirin gimana perasaan saya. Pak Rendy hanya mikirin masalah Bapak sendiri dan terus memaksa saya." Ucap Kirana yang merasa ingin marah kepada sang Presdir tampannya ini, tapi Kirana masih bisa menahan kemarahannya karena ia masih ingin bekerja di Pradipta Grup.
Rendy terdiam dan ia tersadar apa yang sudah ia lakukan kepada Kirana. Ia memang sangat berharap kepada Kirana untuk bisa membantunya tapi ia merasa bersalah karena tidak memikirkan bagaimana perasaan Kirana.
Tentu saja Kirana butuh waktu untuk menerima Rendy menjadi pacarnya. Kirana yang diam-diam sudah merasa jatuh hati kepada Rendy sebenarnya ia sangat senang bisa membantu Rendy dan menjadi pacarnya. Pacar sungguhan, bukan pura-pura lagi. Tapi yang membuat Kirana merasa sakit dalam hatinya, Rendy terpaksa melakukan ini, menjadikan Kirana pacar sungguhannya hanya untuk meyakinkan semua orang terutama media kalau dia dan Olivia tidak ada hubungan apa-apa dan pada kenyataannya, Rendy masih mencintai Olivia.
"Saya minta maaf kalau membuat kamu tersinggung. Tapi, saya benar-benar butuh bantuan kamu Kirana. Apa saya harus berlutut dan memohon sama kamu?" Tanya Rendy yang membuat Kirana kembali merasa terkejut dan tidak menyangka kalau Rendy akan melakukan itu? Berlutut dan memohon kepadanya untuk menerimanya? Menerima untuk membantunya?
Kirana terdiam dan menatap Rendy dengan tidak percaya. Lalu Kirana memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup berlama-lama menatap wajah Rendy.
Rendy kemudian mengusap wajahnya dengan gusar karena Kirana terdiam. Ia juga nggak bisa terus memaksa Kirana. Rendy pun bangkit berdiri. "It's ok! Saya beri kamu waktu sampai nanti siang. Kamu boleh kembali bekerja." Ucap Rendy merasa sedikit kecewa karena belum mendapat jawaban langsung dari Kirana.
Ia akan langsung mengadakan konferensi pers setelah Kirana memberi jawaban yang ia inginkan nanti. Ia ingin segera mengakhiri masalahnya dengan Olivia.
Kirana pun bangkit berdiri dan menatap Rendy. "Nanti siang? Yang bener aja Pak? Ini terlalu singkat!" Seru Kirana merasa tidak terima.
"Kirana, saya butuh jawaban kamu secepatnya." Ucap Rendy dengan penuh harap dan wajah memohon. "Saya harap kamu akan beri jawaban sesuai dengan keinginan saya." Lanjutnya dengan menatap Kirana.
...
Kirana kembali keruangan kerjanya. Disana Rossa dan Yolanda terus memperhatikannya. Begitu Kirana duduk, kedua wanita cantik teman baik Kirana tersebut langsung mendekatinya.
"Iya Ki. Kata Bu Farah, kemarin kamu diajak Pak Rendy keluar untuk urusan pekerjaan. Aku nggak percaya! Sekarang, kamu harus cerita ke kita yang sebenarnya!" Sambung Yolanda dengan mendesak Kirana yang berwajah gelisah penuh kebingungan karena siang ini, ia harus memberi jawaban kepada Rendy.
Ya Tuhan! Gimana ini? Aku nggak mau Rossa dan Yola juga semua orang disini tau tentang aku dan Pak Rendy. Mereka semua pasti akan benci sama aku.
Batin Kirana merasa sangat bimbang lalu menghela nafasnya dengan berat.
"Ki, kok diem sih? Pasti ada apa-apa ya antara kamu dengan Pak Rendy? Hayo ngaku!" Sela Rossa sambil menuding Kirana.
"Pasti ada apa-apa. Nggak mungkin Pak Rendy ngajakin kamu gitu aja bahkan bela-belain mintain ijin kamu ke Bu Farah kemarin." Sambung Yola.
"Duuuuh, kalian ini apa-apaan sih?! Udah ah, aku mau kerja!" Seru Kirana dengan kesal dan tidak ingin menghiraukan rentetan pertanyaan dari kedua teman baiknya ini.
Bukannya ia tidak ingin bercerita kepada Rossa dan Yolanda. Tapi Kirana merasa tidak harus semua masalah pribadinya ia ceritakan kepada mereka. Meski Rossa dan Yolanda dapat dipercaya. Ia hanya belum siap mereka tau.
"Ehem!"
Ketika Rossa dan Yolanda ingin bertanya lagi kepada Kirana, tiba-tiba Bu Farah manager mereka masuk dan berdehem kemudian dengan cepat Rossa dan Yolanda kembali ke mejanya masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Bu Farah berjalan menghampiri Kirana dengan wajah sinisnya. "Kirana, ada yang mau saya bicarakan sama kamu!" Ucap Bu Farah dengan wajah sadisnya begitu saja kemudian berbalik dan pergi keluar.
Dengan wajah bingung dan jantung yang deg-degkan, Kirana segera beranjak.
"Ki, hati-hati." Bisik Yolanda pada Kirana dan Kirana hanya mengangguk saja lalu berjalan cepat keluar dari ruangannya dan masuk kedalam ruangan Bu Farah.
"Silahkan duduk!" Ucap Bu Farah. Kirana duduk dikursi depan meja Bu Farah.
"Apa yang terjadi kemarin antara kamu dengan Pak Rendy?" Tanya Bu Farah dengan wajah sadisnya menatap Kirana.
Kirana mengernyit menatap Bu Farah. "Maaf Bu, bukannya kemarin Pak Rendy sudah memberi tau Bu Farah ya?" Tanya balik Kirana.
"Kamu pikir saya bodoh? Nggak mungkin Pak Rendy ngurus kerjaan diluar ngajak kamu! Kamu itu bukan sekertarisnya dan pekerjaan kamu juga nggak ada hubungannya dengan urusan Pak Rendy!" Ucap Bu Farah dengan suara keras dan semakin galak.
Bu Farah yang masih lajang diusianya yang sudah matang tiga puluh lima tahun ini, ia juga sangat mengagumi bahkan telah tajuh hati terhadap Rendy. Ia memanggil Kirana kemari karena ingin tau apa yang terjadi saat Kirana bersama Rendy kemarin.
Bu Farah merasa cemburu dan tidak rela melihat Kirana yang belum genap sebulan bekerja disini sudah bisa dekat dengan Pak Presdir muda tampan yang menjadi idola semua karyawan wanita disini. Dan Kirana juga bisa melihat kecemburuan dari Bu Farah terhadapnya.
"Emm..maaf Bu. Lalu kenapa Bu Farah nggak tanya langsung aja ke Pak Rendy?" Tanya balik Kirana yang langsung membuat Bu Farah naik darah.
"Kirana! Kamu tinggal jawab aja apa susahnya sih?!"
Kirana tidak ingin menjawab dan ia juga merasa tidak harus menjawab pertanyaan Bu Farah. Ini masalah pribadinya dan orang lain tidak berhak tau juga ikut campur.
"Maaf ya Bu Farah, bukannya saya ingin bersikap tidak sopan dengan Ibu, tapi ini urusan pribadi saya dengan Pak Rendy. Kalau memang Bu Farah ingin tau, silahkan saja Bu Farah tanya langsung ke Pak Rendy." Ucap Kirana dengan memberanikan dirinya karena ia tidak ingin orang lain selalu ingin tau masalah pribadinya. "Kalau begitu, saya permisi Bu, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Lanjut Kirana sambil bangkit berdiri dengan sopan kemudian segera keluar dari ruangan Bu Farah yang hanya terdiam menatap dengan mata melebar kepada Kirana menahan kemarahannya.
Kurang ajar! Ternyata dia berani?! Awas kamu Kirana!
Batin Bu Farah sambil mengepalkan kedua tangannya menatap kepergian Kirana.
................