Because, I Love You

Because, I Love You
#71



Memang ada tambahan persyaratan yang tertulis dibawah. Tapi, Kirana tidak teliti dan mengabaikannya karena saat itu dia sedang terburu-buru ingin segera pulang.


Isi tambahan persyaratan dari Rendy adalah *Hanya Rendy yang berhak memutuskan hubungan dan Kalau Kirana melanggar persyaratan setelah menandatanganinya, maka Kirana akan dikenakan denda sebesar seratus juta rupiah. Dan Kirana akan mendapat jatah uang tiap bulannya yang akan langsung ditransfer ke rekeningnya.*


Kirana terus mengumpat didalam kamar mandi. Dia benar-benar sangat kesal dan merasa menyesal mau menerima Rendy menjadi pacarnya. Dia merasa telah dijebak oleh Presdir tampannya ini.


Dia memang sudah jatuh cinta kepada Rendy dan merasa senang bisa menjadi pacarnya. Tapi, dia juga tidak mau kalau hubungannya dengan Rendy hanya untuk sebuah permainan saja meski mereka sudah resmi jadian.


Selesai mandi dan ganti baju, Kirana dan Rendy segera pergi. Didalam mobil, Kirana terus membisu dan cemberut.


"Jelek banget sih kalo cemberut gitu! Senyum dikit dong." Ucap Rendy dan Kirana mendengus kesal.


"Terserah aku dong! Bibir bibir aku. Aku juga nggak pernah ngerasa kalo aku ini cantik!" Ucap Kirana sangat ketus.


Rendy terkekeh geli. "Yang bilang kamu cantik juga siapa? Nggak usah GR deh!" Ucap Rendy sengaja menggoda Kirana.


Saat Kirana ingin bersuara membalas Rendy, tiba-tiba ponsel Rendy berdering, ada panggilan telepon dari Beni.


Kirana mengurungkan niatnya untuk bicara.


Rendy memasang earphone bluetoothnya disebelah telinganya dan menjawab panggilan Beni. "Gimana? Udah siap semua?"


"Udah Bos.Sesuai yang kamu inginkan."


Jawab Beni.


"Oke!" Rendy pun menutup teleponnya dan menambah kecepatan laju mobilnya.


Masih ada waktu kurang lebih dua jam. Rendy punya kesempatan membawa Kirana kebutik dan ke salon untuk merubah penampilannya.


"Mas, kamu nggak perlu bawa aku ke salon segala lah!" Tolak Kirana karena dia tidak terbiasa nyalon apalagi dirias sedemikian rupa.


"Udah, kamu diem aja dan jangan banyak protes!" Tegas Rendy dan setelah membeli gaun dibutik untuk Kirana, Rendy membawa Kirana ke salon untuk di make over.


"Mari mbak, ikut saya." Ucap pagawai salon dengan ramah dan Kirana menghela nafasnya dengan pasrah lalu masuk kedalam.


Rendy duduk disofa depan untuk menunggu Kirana sambil melihat-lihat majalah yang tersedia disana.


Matanya tertuju pada cover majalah yang terdapat gambar seorang model cantik disana. Wanita cantik yang masih sering muncul dalam pikirannya.


Rendy mengambilnya lalu menatap sesaat wajah Olivia yang begitu cantik.


Kamu emang cantik Oliv. Tapi hati dan kelakuan kamu nggak sesuai dengah wajah kamu.


Batin Rendy lalu meletakkan lagi majalah tersebut.


Tiga puluh menit lebih Rendy menunggu Kirana dan Kirana baru saja selesai didandani oleh hairstylist dan make-up artis.


Rendy merasa sudah tidak sabar menunggu. Dia melihat jam tangannya lalu bangkit berdiri ingin melihat kedalam apakah masih lama atau tidak.


Saat Rendy mengangkat kepalanya dan berjalan, dia terhenti dan terpaku melihat Kirana berjalan keluar dengan sangat hati-hati karena dia masih belum terbiasa memakai high heels.


Bahkan Rendy tidak berkedip menatap Kirana hingga Kirana berdiri didepannya melambaikan tangan didepan mukanya dan memanggilnya berulang kali. "Mas Rendy! Hellooow!"


Baru saja dia merasa seperti sedang berada di kayangan dan melihat bidadari yang sangat cantik juga menawan. Setelah tersadar ternyata bidadari cantik ini adalah Kirana. Dia tidak menyangka ternyata Kirana semakin cantik jika mau berdandan.


"Aku cantik ya? Kamu liatnya sampe nggak kedip gitu loh." Tanya Kirana sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya yang indah seperti boneka.


Melihat Kirana yang seperti ini, membuat Rendy gemas dan hatinya juga menjadi kacau. "Jangan coba-coba godain aku, atau kamu bakal nyesel setelahnya!" Ucap Rendy dengan menatap lekat Kirana lalu mencubit hidungnya.


"Aduuuuh, sakit Mas!" Pekik Kirana merasa kesal karena Rendy hobi sekali mencubit hidungnya. "Siapa juga yang mau godain kamu!" Imbuhnya sambil mendengus.


"Kamu tunggu aku bentar." Ucap Rendy kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar. Setelah itu, mengajak Kirana pergi.


"Mas! Jangan cepet-cepet jalannya! Digandeng kek! Masak pacarnya yang udah cantik ini ditinggalin sih? Ntar disamber kucing loh!" Seru Kirana yang terus menggerutu dan melucu pada Rendy.


Rendy berbalik bukan hanya menggandeng Kirana tapi tanpa berucap, dia langsung menggendongnya sampai ke mobil baru menurunkan Kirana. Membuat Kirana terkejut dan wajahnya merona merah. Tapi Kirana juga hanya diam tidak protes seperti biasanya.


Untung saja dia memakai blush on, jadi tidak perlu menyembunyikan wajahnya yang sedang merona. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan reaksi tubuhnya yang menegang ketika Rendy menggendongnya. Kirana pun menjadi salah tingkah.


"Malah bengong. Cepet masuk!" Ucap Rendy yang menyadarkan Kirana kemudian Kirana segera masuk.


Rendy juga segera masuk dibagian kemudi. Dia melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu melajukan mobilnya.


Setengah jam lagi, acara konferensi pers akan dimulai di gedung pertemuan perusahaan Pradipta.


Kurang lebih lima belas menit, mobil sport Rendy sudah sampai di basement parkiran perusahaan. Disana sudah ada Beni yang menunggu.


Beni membukakan pintu mobil untuk Rendy kemudian Rendy membukakan pintu untuk Kirana. "Mau jalan sendiri apa aku gendong lagi?" Tanya Rendy yang mulai ingin menggoda Kirana.


"Jalan sendiri!" Tegas Kirana kemudian membungkuk. Sebelah tangannya berpegangan pada pintu mobil lalu melepas high heelsnya.


Rendy dan Beni mengernyit menatap Kirana.


"Hey! Kenapa dicopot?" Seru Rendy merasa heran dengan gadis satu ini.


"Ya biar bisa cepet jalannya. Udah yuk ah!" Jawab Kirana dengan santai dan berjalan dengan berjinjit begitu saja mendahului Rendy yang masih terpaku sambil mententeng high heelsnya ditangan kanan dan kirinya.


Beni hanya diam dan mengulum senyumnya menahan tawa.


Dia memang unik.


Batin Beni sambil. menggelengkan kepalanya.


Rendy menutup pintu mobilnya dan segera menyusul Kirana yang sudah berjalan didepan mendahuluinya.


Kirana berhenti setelah sampai didepan lift dan menoleh melihat Rendy yang sedang berjalan bersama Beni kearahnya.


Beni menekan tombol pada lift dan pintu lift terbuka. Mereka masuk kedalam bersama. Beni menekan tombol angka dua.


Rendy berdiri dibelakang Beni dan Kirana berdiri disampingnya. Dia melirik kearah Kirana. Lalu mendekatkan kepalanya pada Kirana. "Kamu cantik." Ucap Rendy dengan berbisik memuji Kirana membuat tubuh Kirana kembali menegang dan wajahnya merona.


Jantungnya pun sudah berdegup semakin cepat.


................