
Hari mulai petang. Pelangi memberitahu bibi Yasmin jika ada dua orang temannya yang akan datang berkunjung. Karena Pelangi menyuruhnya datang tepat di saat jam makan malam agar nantinya bisa menikmati makan bersama. Dan Exelle menyutujuinya dengan sangat senang hati tentunya.
"Princess cold, ayo kau mandi dulu dandan yang cantik. Atau, ehm.. Apa perlu aku menyulapmu menjadi Princess yang sesungguhnya malam ini?" goda Lisa.
"Ih, apaan sih, Sa. Enggak ah, aku hanya akan mandi saja dulu." Jawab Pelangi dengan santai.
"Eeeh, dasar. Kau ini, tidak juga peka sebagai wanita. Hei, sayang. Kita ini sudah mahasiswi bukan? Kau mengundang Exelle makan malam disini, tidak kah kau berniat tampil berbeda dari usia kita saat ini? Ini di LN, Princess cold.. Uugh." Lisa mendecak pelan dengan omelannya itu.
"Hahaha. Aduh, Sa.. Tidak ada yang berbeda. Walaupun kita dimana saat ini, yang berbeda hanya tempat status kita saat ini yang sudah beranjak dewasa sebagai mahasiswi." Jawab Pelangi dengan meraih handuk
"Aku gak mau tahu. Sana cepat mandi, aku akan menyulapmu secantik putri nantinya." Bantah Lisa dengan mendorong Pelangi agar lebih cepat melangkah menuju kamar mandi.
.
.
.
.
.
Sudah 15 menit Pelangi tak kunjung pula keluar dari kamar mandi. Karena dia sedang menikmati kamar mandi dengan suasana berbeda. Tak kalah dengan suasana kamar mandi pribadinya saat di rumahnya di Indonesia.
Tok tok tok...
Pelangi mengabaikan ketukan pintu di toilet, karena dia tahu sudah pasti Pelangi tidak sabar menunggunya untuk segera selesai.
"Princess cold, apa yang kau lakukan di dalam? Apa kau sedang merubah setengah tubuhmu jadi puteri duyung?" Lisa kembali mengomeli Pelangi yang masih sedang asyik bermain dengan busa sabun di bathup.
"Tunggu sebentar, aku masih menikmati air hangat ini. Aku ingin merilexkan tubuhku dulu, Sa." Jawab Pelangi setengah teriak dari dalam kamar mandi.
"Lima menit lagi, jika tidak juga selesai aku dobrak pintu ini." Ancam Lisa.
"Astaga, iya iya." Jawab Pelangi menurut. Karena jika Lisa sudah mengancam nya demikian. Tidak akan tanggung-tanggung.
Tak lama kemudian Pelangi sunggu keluar dari kamar mandi, Lisa tersenyum puas dengan tatapan sinis melihat Pelangi memakai piyama handuk lalu menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Hah, akhirnya. Cepat pakai baju mu, ponselmu sejak tadi sudah berdering. Itu pasti Exelle." Titah Lisa.
"Hmm.. Ya, lagi pula ini sudah waktunya makan malam." jawab Pelangi sembari berjalan ke ruang khusus untuk memilih baju santai malam ini.
Tak lama kemudian Pelangi sudah siap dengan pakaian santainya. Celana kain panjang dan kaos pendek motif polos, terukir gambar logo kepala kelinci di depannya, ukuran longgar menutupi lekuk tubuhnya agar tidak tampak vulgar. Dengan sandal lantai yang imut dan lucu, rambut terurai basah belum di sisir rapi ia keluar dari ruangan ganti pakaian tersebut.
"Oh my God." Lisa tampak terkejut dengan kedua bola mata melotot. Pelangi kebingungan dengan menatap sekujur tubuhnya. Sementara Lisa sudah berdandan secantik dan se anggun mungkin.
"Apa?" Tanya Pelangi singkat lalu berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.
"Kau, yang benar saja pakai baju begini?" Tanya nya dengan terus memandangi sekujur tubuh Pelangi hingga mulutnya menganga seperti bentuk huruf O.
Pelangi mengabaikannya dengan terus menyalakan hair dryer utuk mengeringkan rambutnya. Tampak berombak-ombak dan menari kesana sini rambutnya yang kini tampak kecoklatan itu.
"Princess cold, kau sungguh keterlaluan." Lisa mulai mendecak sebal.
"Apa lagi sih, Sa? Kau ini, crewet tahu gak sih..." Ujar Pelangi dengan menepuk-nepuk sebuah cream di wajahnya. Kemudian mengoles bibirnya dengan lipblam agar bibirnya terlihat selalu lembab.
"Hah, ingin rasanya aku menelanjangimu saja detik ini. Bisa-bisanya kau hanya memakai baju seperti ini, sedangkan Exelle dan saudaranya kau undang makan malam bersama. Ayolah, lebih cantik dan berkelas sedikit." Ucap Lisa kemudian dengan menarik-narik tangan Pelangi untuk segera menghanti baju yang dia kenakan saat ini.
"Nona-nona. Makan malam sudah siap, cepat keluar." Perintah bibi Yasmin setelah mengetuk pintu lebih dulu.
Lisa melepas cengkraman tangannya pada Pelangi setelah mendengar bibi Yasmin menyuruhnya untuk keluar kamar dan makan malam.
"Iya bi, baik. Kami segera turun." Jawab Pelangi dengan suara lantang. Karena kamar ini begitu luas sehingga suara untuk terdengar keluar sangat minim jika tidak dengan lantang.
Lalu Pelangi tersenyum puas menatap wajah sahabatnya yang kini mulai manyun namun sudah menyerah. Pelangi mengangkat kedua bahunya setengah dengan meledek Lisa dari ekspresi wajahnya.
"Ayo, kita keluar." Ajak Pelangi kemudian.
"Huh. Baiklah, biar aku saja yang tampil cantik. Lagi pula Exelle sudah akan lebih tertarik padamu, entah dengan saudara nya itu. Hahaha." Balas Lisa menggoda Pelangi yang beranjak meraih ponselnya. Secara bersamaan Exelle mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa dia sudah berkeliling yang ketiga kalinya untuk menemukan apartemen tempat Pelangi tinggal.
"Astaga, Exelle. Apakah dia nyasar? Aah, dasar. Dia pasti menunggu balasan pesan ku sejak tadi."
"Eh, Kenapa dengan Exelle?"
"Sepertinya dia kesulitan mencari apartemen ini, padahal sangat mudah. Apakah dia sengaja ingin mengerjaiku."
"Hah, ada-ada saja tingkah si Exelle. Yang benar saja jika dia sampai nyasar, apakah sesulit itu? Huh, dia pasti ingin membuat kejutan lagi padamu, Princess cold."
"Entahlah, biar aku coba menelponnya." Ujar Pelangi dengan mencoba menelpon Exelle.
"Halo, Ex. Kau dimana?" Tanya Pelangi setelah tersambung pada Exelle.
"Aku sudah di bawah. Aku segera memasuki lift menuju apartemen mu." Ujar Exelle lalu mematikan ponselnya lagi tanpa mendengar tanggapan Pelangi kembali.
"Ha,halo... Aah, di matikan. Sangat menyebalkan dia ini," Ujar Pelangi sembari mengomel.
"Ayo, kita tunggu di luar saja." Ajak Lisa yang kemudian mereka berjalan keluar dari kamar pribadi mereka untuk menuju ruang makan diluar.
Setelah tiba di ruang tamu sekaligus menjadi ruang makan di sisinya, bibi Yasmin tersenyum hangat menyambut mereka.
"Bi, apakah sejak tadi tidak ada tamu yang datang?" Tanya Pelangi.
"Tidak ada, nona. Apakah teman yang nona maksud itu?" Tanya bibi Yasmin kembali.
"He,em." Jawab Pelangi dengan anggukan.
"Biasa bi, maklum. Sedang menunggu yang special datang daritadi gak nongol-nongol. Hahaha, ups..." Lagi-lagi Lisa menggoda Pelangi dan tertawa lepas.
"Oh, jadi sang pujaan hati." Jawab bibi Yasmin menanggapi.
"Ih, bibi. Malah ikutan, enggak. Hanya teman biasa, teman baik." Bantah Pelangi.
Ting tung...
Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar. Pelangi sumringah, karena bisa di pastikan jika itu adalah Exelle dan saudaranya baru sampai di apartemen.
"Itu, itu pasti Exelle." Ujar Lisa jingkrak-jingkrak.
"Tunggu. Bibi akan pastikan dulu siapa yang datang." Ucap bibi Yasmin melangkah lebih dulu lalu memencet sebuah tombol, dan sebuah layar di depannya yang menempel di pintu menyala. Tampak dua orang laki-laki berdiri clingak clinguk diluar dengan bucket bunga mawar berwarna biru, bibi Yasmin tersenyum.
"Dua pangeran datang." Ucap bibi Yasmin menoleh ke arah Pelangi dan Lisa.