Because, I Love You

Because, I Love You
#79



Kirana baru saja selesai merapikan kamarnya dan menyapu lantai rumahnya juga membuat sarapan untuk dirinya sendiri.


Kegiatannya dipagi hari sebelum dia mandi dan bersiap berangkat kerja.


Dia melihat jam sudah jam enam lebih seperempat dan dia bergegas pergi mandi.


Kirana sudah terbiasa mandi dengan cepat. Dia juga tidak butuh berdandan untuk pergi kekantor karena memang tidak biasa berdandan. Hanya memakai day cream dan bedak tabur sangat tipis lalu mengoleskan lip cream dibibir tipisnya yang berwarna merah muda agar tidak kering. Dia menyisir lalu mengikat rambutnya yang panjang seperti ekor kuda dengan sedikit poni menyamping di keningnya. Terlihat begitu manis.


Dia segera sarapan dan pergi kerja. Seperti biasa, ada Haris yang akan selalu menyapanya dengan senyum ramah setiap paginya.


"Pagi manis."


"Pagi juga kak Haris." Balas Kirana sambil tertawa kecil.


"Kita berangkat sekarang?"


Kirana mengangguk dan segera membonceng Haris setelah memakai helm.


Sesampainya didepan gerbang perusahaan Pradipta, Kirana menyerahkan helm yang dipakainya kepada Haris. "Makasih ya kak." Ucapnya dengan tersenyum manis yang dijawab dengan senyuman oleh Haris. "O ya kak, kayaknya hari ini aku lembur. Karena kemarin aku kan libur." Ucap Kirana sebelum berbalik dan masuk kedalam gedung megah perusahaan Pradipta.


"Ya udah nggak apa-apa. Nanti kamu kabari aja pulang jam berapa. Aku jemput kamu." Ucap Haris dengan tulus.


"Nggak udah kak, aku ada janji sama temen nanti mau jalan-jalan sekalian belanja bulanan." Tolak Kirana secara halus dan Haris mengangguk sambil tersenyum.


"Ya udah. Kalo gitu aku pergi dulu." Ucap Haris.


"Hati-hati kak." Ucap Kirana sambil tersenyum manis kemudian berbalik dan segera masuk kedalam gedung megah tempatnya bekerja.


Saat melangkah masuk tiba-tiba lengannya ditarik oleh dua orang begitu saja dengan paksa dan mengajaknya kearah basement yang jarang dilewati para karyawan.


"Rossa? Yola?" Pekik Kirana dengan terkejut. "Kalian ini apa-apaan sih?" Lanjutnya sambil menepis tangan mereka.


"Ki! Kamu yang apa-apaan?!" Seru mereka hampir bersamaan membuat Kirana terdiam dan menatap mereka secara bergantian.


"Memangnya..a aku kenapa?" Tanya Kirana dengan gugup dan sedikit panik.


"Jujur? Ju jujur apa sih?"


"Ki, kamu nggak perlu nyembunyiin lagi ke kita tentang hubungan kamu dengan Pak Rendy. Kita udah tau kok." Sahut Yolanda yang terlihat lebih tenang dari pada Rossa yang terlihat begitu marah kepada Kirana karena merasa dikecewakan sebagai teman baiknya.


Kirana membulatkan kedua matanya merasa semakin terkejut dan panik.


Ya Tuhan! Kenapa mereka bisa tau?


"Kaget kan kamu kenapa kita tau hubungan kalian?!" Sewot Rossa.


"I iya. Aku kaget." Gumam Kirana dengan polosnya seperti anak SD yang kepergok menyontek.


"Ya udah lah Ros. Kamu nggak usah marah-marah gitu kali." Ucap Yolandan sebagai penengah mereka.


Rossa menghela nafasnya panjang untuk meredam rasa kesalnya pada Kirana. "Oke, aku nggak akan marah lagi kalo kamu mau jujur sekarang juga ke kita! Kamu tau kan Ki? Betapa berharapnya aku ingin bisa dekat dengan Pak Rendy, nggak hanya aku Ki. Semua perempuan didalam gedung ini, mereka juga sama pengen bisa deket dan mungkin kalo beruntung, bisa jadi pacar Pak Rendy. Tapi kamu, ternyata diam-diam jadi pengkhianat Ki!" Ucap Rossa dengan emosional dan menatap Kirana.


Kirana kembali terdiam menunduk sambil menggigit bibirnya. Dia tidak bermaksud seperti yang diucapkan Rossa barusan. Pengkhianat?


Ya, mungkin karena mereka sudah berteman sangat baik dan tidak ada lagi rahasia diantara mereka. Tapi, Kirana membuat mereka merasa kecewa karena tidak jujur tentang kedekatannya dengan Rendy. Bahkan mereka telah resmi pacaran dan juga baru saja kemarin, Rendy mengumumkan dirinya adalah calon istri dia dan Rossa baru tau semalam saat melihat tayangan berita infotainment di televisi yang hingga pagi ini masih menayangkan berita tentang Rendy dan seorang wanita yang Rossa yakini itu adalah Kirana.


Rossa semakin merasa emosi. Sebenarnya, Rossa tidak akan semarah ini, jika sejak awal Kirana jujur kepada teman baiknya ini. Rossa memang sejak awal sudah mengagumi Rendy dan langsung menaruh perasaan terhadap pimpinan baru mereka yang masih muda tampan dan berwibawa juga ramah.


"Ya udah ah. Jangan marah-marah Ros! Sebaiknya kita bicarakan ini nanti aja setelah pulang kerja. Kita ke kafe biasa, gimana?" Tanya Yolanda meminta pendapat kepada teman teman baiknya.


Rossa hanya mendengus dengan sinis kemudian berbalik dan pergi begitu saja.


Kirana menghela nafasnya dengan berat. Dia juga merasa sangat bersalah kepada teman teman baiknya yang selama ini selalu membantunya dan baik kepadanya.


"Ya udah Ki, ayo kita masuk." Ajak Yolanda dan Kirana hanya mengangguk lemah.


................