
Ini sudah hari ke 4 aku berada dirumah ibu, aku mulai bosan dan mood swing ku berantakan. Ah, apa ini sungguh bawaan ibu hamil kembar? Saat Pelangi dulu tidak begini, tapi kali ini sungguh merepotkan. Nafsu makan ku kian makin bertambah, dan kau tahu.. Hobby yang sangat ku sukai saat ini adalah tidur.
Seusai membersihkan diri sore ini, aku berdiri di depan cermin. Ku tatap seluruh tubuh ku sejenak, mulai mengembang. Ku putar-putar tubuh ku dengan mengelus bagian perut ku. Aku tertawa ketika terdengar suara yang menandakan aku mulai lapar lagi.
"Hihi, sehat-sehat ya kalian. Apakah kalian sudah lapar? Kalian baru saja menghabiskan 3 buah apel hijau, satu toples kue cokelat, dan dua gelas jus mangga. Mulut mama sudah lelah mengunyah terus sejak pagi tadi,"
Kembali aku tertawa ketika merasakan di bathin ku mereka sedang mengomel.
"Baik lah, sebentar lagi mama akan keluar dan makan sesuatu. Kalian jangan berebut di dalam, ok my twins."
Kemudian aku bergegas untuk segera memakai baju, namun semua terasa mulai menyempit. Ini sungguh menggelikan, aku belum sempat membeli baju hamil untuk kehamilan ku saat ini. Kondisi ku saat ini tidak memberanikan ku pergi sendirian ke mall.
Aku mulai merindukan Irgy di sisi ku, bagaimana kabar nya? Apakah dia makan dengan baik selama kami berjauhan?
"Maafkan mama Nak, kau belum bertemu dan melihat papa mu." Ucap ku lagi.
Kemudian aku keluar kamar, ku lihat Pelangi sedang duduk termenung di ruang TV. Tatapan nya kosong pada mainan di depannya saat ini, perlahan aku menghampirinya..
"Hai, ada apa nak? Kenapa kau melamun?"
"Ma, kapan papa kesini? Pelangi juga mau sekolah ketemu Lucky."
Oh Tuhan, dia rindu itu semua...
"Nanti kita telepon papa ya,"
"Pelangi mau sekarang."
Aku menghela nafas panjang mendengarnya berkata demikian.
"Baiklah nak, sebentar ya. Mama telepon papa," Jawab ku sembari meraih ponsel dan mencoba menelponnya. Tapi entah apa yang akan aku bicaran lebih dulu.
Tuuuut... TUuuut...
Tidak ada respon, aku mencoba mengulang panggilan sekali lagi. Kedua kali, ke tiga kali, tetap tidak ada respon.
Apakah sesibuk itu? Atau dia sengaja mengabaikan panggilan telepon ku? Harusnya ini sudah jam nya pulang.
"Ehm, nak. Mungkin papa masih sibuk. jadi nanti kita telepon lagi ya."
Aku tidak menduganya sama sekali jika Pelangi akan menangis seketika saat mendengar ucapan ku kali ini, aku kebingungan. Aku tidak tahu harus apa, dia menangis tiba-tiba entah dimana letak salah ku.
"Pelangi mau papa... Huwwaaaaa, Pelangi mau papa ma." Ujarnya dengan tangisan yang meluap. Aku memeluknya kemudian, rasanya sakit hati ini. Rasanya perih di hati, aku tahu dia pasti sangat ingin bertemu papanya.
"Ada apa Nak, kenapa Pelangi menangis?"
Ibu datang dengan tergesa-gesa kemudian meraih Pelangi ke dalam pelukannya. Pelangi kian semakin menangis, ibu mencoba menenangkannya.
"Oma, Pelangi mau papa." Ucap Pelangi sambil sesunggukan.
Ibu menghela nafas dalam-dalam melirik ku yang menundukkan wajah, Tiba-tiba air mata ku juga mulai menetes.
"Aku sudah mencoba menelpon Irgy. Tapi dia tidak menjawabnya bunda, aku sudah mencobanya berkali-kali." Jawab ku kemudian.
Aku semakin merasa jika ini semua salah ku, tapi ini bukan aku yang memulainya bukan? Aku tidak menduga dan menyangkanya, apa dia begitu marah dan tidak memikirkan Pelangi lagi sebagai anaknya? Apakah dia sungguh berniat membiarkan ini semakin berlarut begitu saja tanpa melakukan hal apapun untuk membuatku memaafkannya lagi.
Lalu bagaimana nasib kehamilan ku setelah ini? Mereka sangat membutuhkan kehadiran papa nya juga selama dalam kandungan.
"Maafkan mama Nak, berhentilah menangis sayang." Ucap ku setelah melihat Pelangi masih menangis sembari memeluk ibu.
Kemudian terdengar suara bel dari luar rumah, aku dan ibu saling menatap satu sama lain.
"Bunda, ini sudah petang. Apakah biasa ada tamu di jam seperti ini?" Tanya ku sembari menyeka air mata.
"Ehm, tidak. Kami tidak pernah menerima tamu di jam seperti ini nak. Cepat kau buka pintu nya,"
"Biar saya yang membukanya nona." Dengan cepat bibi Asri berjalan menuju ruang depan untuk membuka pintu. Aku kembali mendekati Pelangi dana memeluknya yang masih belum juga berhenti menangis.
"Ayo lah sayang, jangan menangis terus. Calon dokter gak boleh cengeng kan?"
"Tapi Pelangi mau papa Ma, mau gendong sama papa, mau main sama papa." Jawab lagi dengan terus mengulang nya. Mulai timbul rasa geram ku pada Irgy yang mengabaikan panggilan telepon ku.
"Nona..." Panggil bibi Asri padaku yang kemudian aku di kejutkan oleh sosok yang menyusulnya dari belakang.
"Papaaaa, papaaa..." Teriak Pelangi dengan antusias lalu berlari dan Irgy langsung menangkapnya kemudian menggendongnya. Pelangi begitu erat memeluk nya, Irgy menciuminya dan berkali-kali mendekapnya erat.
"Kau sudah menunggu papa sayang?"
Pelangi mengangguk cepat. Sementara aku masih terpaku menatap Irgy yang bagaikan telepati saja di depan ku, sejak tadi aku sudah mengumpatnya tapi kini dia tiba-tiba hadir di depan mata ku.
"Nak Irgy," Sambut ibu, kemudian Irgy meraih tangan ibu menjabatnya dengan santun.
"Apa kabar bu?"
"Baik nak, kau menepati janjimu. Baiklah, ayo duduk dulu. Eh, Fanny.."
Ibu menoleh ke arah ku yang masih berdiri tanpa ekspresi apapun.
"E,eh.. Bunda, Fanny ke kamar dulu." Jawab ku lalu pergi dari hadapan mereka tanpa menyapa Irgy lebih dulu.
"Fanny, tunggu..."
Aku terus berjalan memasuki kamar mengabaikan panggilan ibu.
"Bu, biarkan lah. Fanny mungkin masih marah padaku Bu, tak apa. Biar aku mencoba berbicara langsung padanya nanti saat sudah tenang."
"Baiklah, jika begitu ayo makan malam dulu nak. Kau pasti juga sangat kelelahan,"
Irgy mengangguk menuruti ajakan ibu yang kemudian menuju meja makan. Sementara Pelangi enggan melepaskan diri dari gendongan papa nya, dia begitu erat memeluk dan bermanja.
Setelah makan malam, Irgy menemani Pelangi bermain dan bercanda terlebih dahulu. Sesekali berbincang santai di temani oleh ibu, sementara aku di kamar menangis sesunggukan. Selain merasa kesal dengan kehadirannya yang tiba-tiba begitu saja, aku juga merasa lapar. Sangat lapar, tapi jika aku keluar hanya untuk makan saja. Ibu pasti akan menertawakan ku, dan itu akan membuat Irgy merasa menang.
Semakin ricuh terasa di dalam perut ku, aku tahu mereka pasti sudah kelaparan di dalam. Aaaarght... Menyebalkan. Tubuh ini sudah seperti sedang memanggang ikan, bolak balik tak menentu hanya untuk menunggunya agar segera matang.