
Tiba di kediaman kak Rendy, rumah mewah yang di desain klasik nuansa chat berwarna putih bersih dengan banyak pepohonan menggugurkan dedaunan di sekitarnya, menambah suasana rumah ini begitu menenangkan.
Sambutan putra putri kak Rendy menyambut kami dengan sangat sopan dan ceria. Mereka langsung mengajak Pelangi bermain, namun... Sangat terlihat jelas, perlakuan mereka yang penuh kasih sayang belum mampu membuatnya ceria kembali. Aku semakin merasa bersalah dan gelisah.
"Sayang, kau masih marah padaku?" Tanya Irgy sembari memelukku dari arah belakang. Aku terdiam dengan tetap memperhatikan Pelangi yang sejak tadi hanya diam saja meski begitu banyak cara yang di lakukan oleh anak-anak kak Rendy, hingga kak Rendy dan kakak ipar ikut serta.
"Sayang, jawab aku." Ucap Irgy kembali dengan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leherku.
"Aku hanya tidak mengerti akan sikap dan ucapan mu saat itu, kau seolah tidak mempercayaiku ketika mengetahui siapa Lucky yang sebenarnya. Atau, kau cemburu karena kekasihmu di masa lalu kini menjadi milik Ammar."
"Sayaaang, pliss.. Jangan selalu berkata jika dia adalah kekasihku di masa lalu. Aku tidak pernah lagi menganggapnya ada, aku hanya.. Aku hanya sedikit marah dengan kenyataan yang harus melukai hati puteri kita."
"Apa yang selalu ku takutkan telah terjadi lebih awal. Harusnya kau mengerti, bukan menyalahkan mu saat itu." Jawab ku dengan tegas.
"Maafkan aku, ku mohon jangan marah lagi. Hem?" Ucap Irgy sembari mengecup keningku.
"Aku mencintaimu, jangan marah lagi." Ucapnya lagi, dan aku mengangguk pelan menanggapinya.
Satu minggu kemudian, libur sekolah telah usai. Dua hari sebelum itu, kami sudah kembali ke indonesia. Pelangi memang tampak baik-baik saja, terkadang dia melempar senyuman tipis dengan hal-hal yang dianggapnya senang. Namun di lain itu, dia kembali pada sikapnya yang selalu cuek, dingin, dan pendiam. Sama seperti ketika hubungan pertemanannya dengan Tama mengharuskan mereka terpisah begitu saja.
Saat tiba di sekolah, dia selalu menghela nafas dalam-dalam melihat sekeliling halaman sekolah. Sejenak aku terbayang senyuman Lucky, kata sapaan nya yang selalu santun, dan sikapnya yang dewasa dalam memperlakukan seseorang.
Ah, begitu sesak ku rasa. Kau tidak salah Lucky, maafkan aku. Tapi mungkin ini adalah jalan terbaik, kau dan Pelangi tidak bisa kembali bersama dalam ikatan apapun itu. Salahkan saja ayah mu, Ammar. Aku hanya tidak ingin Pelangi berada dalam kisah yang sama sepertiku di masa lalu, Aku bergumam dalam hati.
Kemudian Pelangi berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang begitu berat, hatiku sangat pilu. Aku merasa menjadi ibu yang tidak berguna dan memyakiti hatinya.
Dan saat dirumah pun, Pelangi lebih memilih diam dan bermain sendiri di kamar. Tak peduli aku dan Irgy menemaninya bermain, dia bersikap cuek dan mengabaikan kami. Hanya sesekali menjawabnya ketika kami bertanya, meski ia tetap menjadi anak yang penurut. Tapi senyum ceria dan manja yany selalu di lakukannya tak lagi ada.
Diam-diam aku selalu menangis di kamar, dan Irgy selalu sabar menenangkan ku dengan segala cara agar ini tidak mengganggu kehamilan ku yang kian mendekati kelahiran. Aku sungguh merasa bersalah, aku menyakiti puteri ku sendiri. Aku tidak tahu apa yang saat ini dia pikirkan setelah kedua kalinya dia terpisah dengan orang yang dekat dengan nya.
Maafkan mama Nak...!!!
🌻🌻🌻
POV LUCKY
Sejak itu, apa yang di alami oleh Pelangi tak jauh berbeda dengan Lucky. Dia jadi semakin pendiam meski tetap menjadi anak yang penurut. Di sekolah baru nya, dia menolak untuk berteman dengan siapapun. Dia selalu diam-diam menangis hingga kini dia kembali terjatuh sakit.
"Lucky, ayo bangun sayang. Nanti terlambat me sekolah, ayah mu sudah menunggu di meja makan." Ujar mama Ammar membangunkan Lucky yang masih bergulat dalam selimut.
"Lucky, cucu nenek yang paling tampan." Panggil mama Ammar kembali. Kemudian membuka selimut yang menutupi tubuh Lucky.
"Astaga Tuhan, Lucky.. Lucky, Nak. Kau demam tinggi,"
"Ammar, Ammar.. Lucky demam,"
Mama Ammar keluar dengan menuruni tangga yang begitu terbentang memanjang berkeliling hingga ke bawah lantai dasar tempat kediaman Ammar selama ini di luar negeri.
Baru setengah langkah menuruni anak tangga, Ammar dengan sigap berlari menuju kamar Lucky yang kemudian di susul oleh mama nya.
"Nak, Lucky.. Kenapa kau mendadak demam begini,"
"Ma, suruh asisten segera memanggil dokter pribadi Lucky. Cepat ma," Ucap Ammar panik dengan memeluk tubuh Lucky yang masih memejamkan matanya.
"Ayah angkat, aku ingin.. ber-te-mu La-ngi, bertemu Pelangi. Sekali... sa-ja ayah, dia pasti sedih tanpaku ayah." Ucap Lucky dengan terbata-bata. Ada butiran air mata berlinangan di kedua ujung matanya yang masih terpejam.
Ammar terhentak sesaat, kemudian semakin memeluk tubuh Lucky lebih erat. Ia pun menangis, merasa jika ini terlalu membuatnya merasakan hukuman yang berat.
Tak berapa lama kemudian, dokter datang. Dengan cepat langsung melakukan pemeriksaan pada tubuh Lucky yang kian menggigil karena demam nya begitu tinggi.
"Apakah tuan muda tidak makan dengan baik? Sepertinya dia juga mengalami tekanan bathin yang hebat."
Ammar terdiam dengan terus menatap wajah Lucky yang kini sudah terpasang jarum infus di sisi nya. Ammar tidak mampu memberikan jawaban ketika dokter pribadi mereka yang selama ini selalu setia, bertanya dengan nada kesal.
"Tuan..." Panggil dokter itu kembali.
"Ehm, dokter.." Panggil mama Ammar dengan tatapan memberikan isyarat padanya. Dokter itu mengangguk pelan.
"Ammar..."
"Ma, sampai kapan hukuman ini terus menghujaniku dengan berbagai hal yang menyakitkan? Anak ini tidak bersalah. Ini semua salah ku, Lucky hanya anak kecil yang begitu polos dan memiliki hati lembut seperti ayah kandungnya."
"Menangislah jika ingin menangis nak, jangan pernah berpikir Tuhan menghukum mu terlalu berat. Tuhan hanya terlalu mencintaimu sebagai hambanya, agar kau berubah menjadi lebih baik."
"Tapi tidak kah cukup selama ini Tuhan sudah merenggut semuanya dari ku, Ma?"
"Bukan kah Tuhan sudah menggantinya dengan kehidupan mu saat ini nak? Hanya saja, hatimu belum bisa menerimanya. Di hatimu masih tertanam masa lalu yang sudah seharusnya kau relakan."
"Aku sudah melakukan banyak cara untuk bisa melupakan cintaku pada Fanny, bahkan dengan cara tergila sekalipun. Hingga saat ini aku menyerah dengan keadaan, aku memilih diam walau rasanya sudah tidak mampu. Tapi semua itu nihil, Ma. Cintaku pada Fanny kian semakin membuatku sesak Ma,"
Ammar mulai terisak dalam tangis. Hatinya benar-benar sakit, dia terduduk di bibir ranjang Lucky terbaring saat ini. Di raihnya tangan mungil itu dan di genggam erat oleh Ammar.
"Nak, ini sudah sangat lama. Sampai kapan kau terus menyiksa dirimu seperti itu hah? Kau bahkan sudah bertunangan dengan gadis baik seperti Hana. Jangan mengecewakan sebuah keluarga yang pernah membantumu hingga bangkit dan memiliki semua ini."
"Aku tahu ma, aku pun tidak akan mengecewakan mereka. Aku akan membalas budi pada mereka Ma, tapi Hana. Dia, terlalu baik untuk laki-laki yang ******** sepertiku. Hana masih muda dan berprestasi, sedangkan aku..."
"Ayah..." Panggil Lucky kemudian, Ia mulai sadar dan terbangun.
"Eh, Lucky. Nak, kau sudah bangun? Bagaimana? Apa yang sakit? Atau kau butuh sesuatu?"
Lucky menggelengkan kepalanya, kemudian Ammar mengecup kening Lucky.
"Cucu nenek, jagoan. Apa kau sudah baik-baik saja Nak?" Tanya nya dengan menggenggam tangan Lucky.
"Aku baik-baik saja nenek, aku hanya sedikit pusing."
"Bagaimana jika nenek membuat bubur sayur hangat untuk mu, kau selalu menyukainya saat kau sedang sakit sejak dulu. Kau mau bukan?"
"Baiklah nek, aku mau. Buatkan untuk ku," Jawab Lucky dengan suara lirih.
Dengan tersenyum lebar dan merasa senang Mama Ammar keluar kamar untuk membuatkannya bubur sayur.
Lucky menatap Ammar yang sejak tadi di sisi nya, Ammar tersenyum hangat dan menyeka air matanya yang sudah membasahi pipinya.
"Ayah, aku..."
"Maafkan ayah, Lucky. Ayah telah menyakitimu, ayah sungguh bukan ayah hebat dan baik seperti yang selalu kau ucapkan sejak dulu."
"Tidak ayah, jangan berkata demikian. Ayah adalah yang terbaik untuk ku, karena berkatmu aku jadi seperti ini. Ayah telah merawatku dengan baik, tapi..."
"Tapi apa nak?" Tanya Ammar dengan kebingungan, menatap wajah sosok anak kecil di depannya yang begitu lugu dan memucat.
"Ayah, jangan menikah dengan tante itu. Aku takut dengan ibu tiri,"
Ammar terkejut akan ucapan yang terlontar dari bibir mungil Lucky. Ia tidak pernah menyangka jika Lucky akan menolak gadis sebaik dan sepintar Hana.
"E,eh.. Tapi Nak, bukan kah kau sangat menyukai Hana?"
"Ayah yang mengajariku bukan? Untuk tetap bersikap baik dan santun walau kita tidak pernah menyukai orang tersebut."
Ammar terhentak kembali hingga membelalakkan matanya.
"Maafkan aku ayah, jika aku terlalu berani."
"Tapi Nak, ayah sudah berjanji akan menikahi Hana. Ayah harus membalas budi pada seseorang yang telah membuat ayah hingga sesukses ini. Ayah tidak bisa menolaknya, Nak."
"Jika begitu, apakah aku juga bisa memaksa ayah untuk mengembalikan aku ke Indonesia ayah?"
"Lucky..." Ammar spontan membentaknya. Membuat Lucky kembali menundukkan arah matanya dan berlinangan air mata.
"Saat dewasa nanti kau akan mengerti mengapa ayah berbuat seperti ini pada mu, jangan memaksa Ayah untuk terus memarahimu Lucky. Sebaiknya kau istrahat dan tetap jadi anak penurut yang selalu Ayah inginkan darimu." Ucap Ammar dengan kemudian melangkah keluar kamar begitu saja.
Di dalam kamar Lucky menangis sesunggukan, dia berusaha menahan diri untuk tidak memberikan perlawanan pada Ayah yang selama ini dianggapnya sebagai pahlawan hebat, yang telah mau merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang meski begitu tegas. Di saat Lucky menyadari sudah tidak lagi memiliki kedua orang tua yang utuh.