Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 267



Sementara Exelle pergi dengan tangisan yang tertahan. Pelangi dan Joe saling menatap sejenak, kemudian Joe Pelangi duduk di sisi Joe dengan masih berlinangan air mata.


"La..langi..." Ujarnya dengan suara terbata-bata. Merasa kesulitan berbicara di balik bantuan oksigen yang menutupi mulutnya. Joe membukanya dengan paksa, membuat Pelangi kebingungan dan panik.


"Joe, apa yang kau lakukan? Kenapa kau lepas oksigennya?"


Joe tersenyum.


"Aku... Aku tak apa." Ujarnya lagi dengan suara parau.


Pelangi masih menatapnya dengan penuh cemas. Kembali air matanya berlinang, Joe menggerakkan tangannya dan menyeka air mata itu.


"Kau, sangat jelek." Ucapnya meledek Pelangi untuk menghiburnya dengan tawa paksa.


"Aku memang jelek. Tak secantik Maria, bukan?"


"Uhuk uhuk, uhuk..." Seketika Joe terbatuk-batuk setelah mendengar Pelangi berkata demikian.


"Akh, Joe!!! Kau... Kau mau minum?" Pelangi panik melihat Joe terbatuk-batuk.


"Tidak... Ti-dak. Aku baik-baik saja, aku... Aku hanya tidak suka, kau.. Menyebut nama ma-ria." Jawab Joe dengan terbata-bata.


"Ma,maafkan aku. Dimana, dimana yang sakit?" Tanya Pelangi dengan panik.


Lalu Joe meraih tangan Pelangi, perlahan di bawanya hingga menyentuh bagian dadanya. Pelangi mengernyit, Joe masih menarik nafasnya dalam-dalam.


"Disini, disini yang sakit. Setiap kali kau menyebut nama cewek lain di depan ku, Langi."


"Aku... Aku hanya bercanda, maafkan aku. Jangan dipikirkan, nanti kau sakit lagi." Ujar Pelangi dengan gugup.


"Melihatmu di sisiku saat aku membuka mata, itu sudah menjadi obat buatku."


"Dih, sepertinya kau hanya berpura-pura sakit. Kau sudah bisa menggombaliku."


Lagi-lagi Joe tersenyum tipis memandangi wajah Pelangi yang kini sudah kembali sifat galaknya.


"Terimakasih, Langi."


"Hem, untuk apa?"


"Untuk mu yang disini menungguku."


"Ini tidak gratis. Kau harus ingat itu!" Jawab Pelangi cetus.


"Cih, dasar."


Lalu kemudian Pelangi melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, perlahan Pelangi menarik tangannya yang sejak tadi di genggam oleh Joe. Namun dengan cepat Joe menahannya agar tidak terlepas.


"Joe, aku... Aku harus pulang dulu."


Joe menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Ayolah, jangan menahan ku. Aku janji, besok sepulang dari sekolah aku akan datang lagi dengan yang lain. Teman-teman kita pasti akan sangat bahagia mendengarmu sudah sadar, aku bahkan belum sempat mengabari mereka melalui pesan tadi. Aku, aku terlalu bahagia akhirnya kau sadar kembali."


"Langi... Tidak bisakah kau menginap saja malam ini?"


"Apa kau gila?"


"Aku hanya bertanya, kenapa kau melotot begitu? Aah... Aku jadi merasa sakit lagi."


"Ih, kau... Menyebalkan."


"Tsk... Baiklah, pulang lah dulu. Tapi kau harus berjanji besok akan datang kemari, bahkan sebelum aku sembuh kau harus merawatku disini." Jawab nya setelah menyumbingkan senyuman paksa di ujung bibirnya.


"Dih, lalu tugas para perawat dan dokter disini apa? Jika aku harus merawatmu juga."


"Kau calon dokter juga bukan? Kau bisa praktek untuk ku."


"Ih, gak mau ah."


"Jika kau menolak, biar saja aku akan membuat diriku terjatuh lalu koma lagi."


"Apa kau takut aku akan mati?"


"Apaan sih? Bicaramu itu sungguh menyebalkan." Ujar Pelangi menepis tangan Joe.


"Hahaha, uhuk uhuk uhuk..." Joe tertawa lalu terbatuk-batuk sembari memegangi bagian dadanya.


"Tuh, kan. Berhenti bercanda, kau masih lemah." Pelangi mulai mengomelinya.


"Iya, iya. Maafkan aku, dokter cantik." Jawab Joe menggoda Pelangi.


"Iiih. Masih saja gombal, ya sudah. Aku pulang dulu ya, besok aku akan datang lagi."


"Janji?"


"Hemm... Aku janji."


Joe tersenyum puas mendengar Pelangi dengan mantap berjanji untuk kembali datang. Kemudian Pelangi beranjak bangun dari posisi duduknya tadi, tapi lagi lagi Joe menarik tangan Pelangi.


"Joe... Ayolah." Pelangi memainkan nada manja dari panggilannya pada Joe.


"Hehe, hati-hatilah." Ujar Joe sembari melepaskan genggaman tangan Pelangi. Dan membiarkannya pergi keluar dari ruangan.


🌻🌻🌻


Esok hari...


Sepulang dari sekolah, Pelangi dan ketiga sahabatnya sedang dalam perjalanan menuju Rumah sakit. Ketiga sahabat Pelangi sudah menyiapkan beberapa parsel buah dan karangan bunga untuk di berikan pada Joe.


Sampai di depan ruangan Joe di rawat, secara bersamaan Exelle keluar dari ruangan dengan wajah yang tak biasa.


"Eh..." Pelangi dan ketiga sahabatnya menghentikan langkah mereka ketika saling berhadapan dengan Exelle.


"Ha,hai..." Sapa Exelle dengan canggung.


"Hai, Ex. Kau disini? Wah, apa kau bolos sekolah? Mengapa kau berpakaian santai begitu." Sapa Lisa lebih dulu.


"Pelangi... Aku, aku ingin bicara berdua dengan mu." Exelle sangat takut, hampir semalaman dia tidak tidur tenang tanpa berani mengirim pesan singkat ataupun menelponnya. Begitupun dengan Pelangi, meski tahu Exelle menghilang begitu saja dari rumah sakit saat Pelangi keluar dari ruangan, namun dia mengabaikannya.


Pelangi pasti marah padaku, setelah mendengar tuduhan tante Abel padaku kemarin di depannya. Aku tidak ingin itu terjadi, meski aku sudah meminta maaf pada Joe sejak pagi tadi. Tapi tak sedikitpun Joe menggubrisku. Tak apa, dia berhak marah padaku atas kecelakaan ini.


"Aku harus menemui Joe, dulu." Jawab Pelangi acuh.


Hah, dia sungguh marah. Sikapnya berbeda, aku harus bagaimana...


Gumam Exelle dalam hatinya kembali. Sementara ketiga sahabat Pelangi terabaikan meski mereka menatap Exelle dan Pelangi bergantian dengan penuh tanda tanya.


"Ba,baiklah. Kau temui Joe dulu, aku akan menunggumu di restoran tempat kita kemarin." Jawab Exelle dengan kikuk. Suaranya seakan berat dan penuh kepanikan. Lalu dia beranjak pergi melewati Pelangi dan ketiga sahabatnya begitu saja.


"Princess cold, kau dan Ex... Apakah bertengkar?" Tanya Lisa. Memang selalu saja dia yang ingin tahu hal apapun yang menimpa sahabatnya itu.


"Tidak."


"Lalu? Kenapa kau begitu cuek pada Ex?"


"Ayo, kita masuk. Joe pasti sudah sangat menunggu kedatangan kalian." Jawab Pelangi mengabaikan pertanyaan Lisa kembali.


"Hei, Princess cold. Apa kini kau mau main rahasia-rahasiaan kepada kami?" Tanya Jeni dengan nada mengintrogasi.


"Astaga. Tidaaak, aku hanya... Ah, nanti saja ku ceritakan kepada kalian, aku hanya masih bingung. Dan aku juga sedang berusaha untuk tidak mempercayai apa yang ku dengar."


"Apa itu?" Tanya Lisa dan Jeni.


"Aduuuh, kalian. Bisa gak siih, dahulukan Joe dulu? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Aku sangat rindu pangeran ku." Ujar Lucas dengan kesal menyela pembicaraan mereka.


"Hih, dasar. Ya ya ya, baiklah. Ayo kita masuk!" Ajak Lisa yang kemudian mengambil langkah di depan untuk memasuki ruangan Joe di rawat.


Dan benar saja, Joe sedang terbangun dan menyambut kedatangan Pelangi serta ketiga sahabatnya dengan senyuman ceria. Joe sangat bahagia Pelangi datang menepati janjinya.


Lalu kemudian mereka berbincang dan mulai beraksi, membuat suasana ribut untuk menghibur Joe. Tak peduli walau kini Joe masih berada di ruangan khusus. Yang mereka utamakan hanya keinginan mereka untuk segera melihat Joe dan membuatnya semangat kembali.