
Karena pengumuman kelulusan akhir sudah terbaca, maka seluruh siswa siswi tentu diliburkan sekolahnya. Sampai batas pengambilan ijazah terakhir untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi nantinya. Tak heran lagi, saat libur seperti ini tentu semua siswa dan siswi pergi bersantai dengan keluarga, pergi berkencan, ada pula yang mengadakan party untuk perayaan kelulusan mereka.
Begitupun Exelle yang saat ini pun akan merayakan party bersama teman-temannya, saling berbagi kado sebagai kenangan cinderamata. Exelle pun pergi ke suatu pusat accessories terbaik, mencari beberapa hadiah cinderamata untuk teman-temannya.
"Eh.."
"Cih, kau lagi."
Joe dan Exelle saling terkejut ketika mereka bertemu tanpa sengaja. Exelle tersenyum tipis, melihat tingkah Joe yang begitu sinis.
"Kau juga akan memberikan hadiah untuk teman-temanmu?" Sapa Exelle mencoba lebih akrab.
"Tentu, kau tidak tahu bukan? Jika aku dan yang lainnya termasuk Pelangi, akan party di suatu tempat terfavorite milik tante Lucas. Dan kau tahu, tempat itu privasi khusus bagi pengunjung VIP. Kami bebas bersama melewati malam perpisahan ini."
Exelle mengerutkan keningnya. Mencoba menelaan kemana pikiran Joe saat ini. Dia mulai terpengaruh.
"Kau pikir aku akan menyerah dan cemburu begitu saja meski aku tahu kalian akan menghabiskan malam bersama?"
"Cih, kau sombong sekali."
"Joe, ayolah. Bukan kah nantinya kita akan berkumpul dalam satu kampus bersama?" Ujar Exelle mencoba tetap tenang.
"Hem... Baiklah, Joe. Lakukan saja apa yang kau inginkan, dan aku akan tetap berusaha dengan cara ku sendiri. Hanya saja, aku harap kau masih memegang teguh harga dirimu untuk tidak memakai cara kotor mendekatinya. Kita berjuang secara sehat, tapi aku tidak akan pernah setuju untuk menjadikan Pelangi sebagai bahan taruhan. Pantang bagiku, Joe. Jika perjuangan mu ingin di hargai, hargai lebih dulu orang yang ingin kau miliki, Joe."
"Kau mengguruiku? Semakin lama aku muak padamu, Ex. Bisakah kah enyah saja dari hidup ku dan Pelangi?"
"Apa itu juga keinginan Pelangi?" Exelle masih berusaha menjawabnya dengan tenang, ia tak ingin membuat kegaduhan lagi.
"Hahahaha, hei bro. Kau akan menyesalinya esok, malam ini aku akan pastikan Pelangi mau menerimaku dan tidak akan pernah lari lagi dalam pelukan ku. Dan kau, jangan pernah mencoba untuk merebutnya."
"Coba saja, jika itu mau mu Joe. Bukan kah Pelangi hanya menganggapmu sebagai sahabat saat ini? Sama sepertiku, yang saat ini juga dia anggap sebagai sahabat. Tapi aku bukan typikal laki-laki mudah menyerah tapi bukan juga mudah memakai cara yang keji."
Sial!!! Kenapa dia seolah sudah bisa membaca apa yang akan aku lakukan malam nanti?
Joe sedikit salah tingkah. Ia bergumam serta mengumpat dalam hati, dan Exelle semakin merasa jika Joe memiliki maksud lain dari ucapannya itu.
Apa, apa yang kau maksud sejak tadi Joe? Apa yang akan kau lakukan? Oh Tuhan, semoga saja ini bukan hal buruk yang aku takutkan.
"Sejak kecil aku dan Pelangi sudah bersama, tentu kami juga sudah di ciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Saat ini mungkin Pelangi masih menolakku, hanya salah paham saja. Aku akan memastikannya sekali lagi, kau tidak akan pernah sedikitpun bisa merebutnya dariku." Ujar Joe dengan cetus seraya menunjuk batang hidung Exelle. Lalu dia pergi begitu saja, mendecak sebal menubruk bahu Exelle secara sengaja.
"Cih, dia sungguh kekanakan. Hah, aku hampir saja ingin menyumpal mulutnya lagi." Ucap Exelle meremas kedua tangannya sendiri.