
Rendy terpaku ketika melihat Kirana yang berjalan pelan dengan wajah menunduk kearahnya. Kirana terlihat berbeda setelah memakai gaun tersebut.
"Pak Rendy. Gimana menurut Bapak? Saya jelek kan Pak? Saya ganti pakai baju saya lagi aja ya Pak?" Tanya Kirana dengan wajah ditekuk melihat tatapan Rendy yang terbengong menatapnya.
"Cantik." Jawab Rendy seketika membuat Kirana menatap lebar karena merasa tersanjung dipuji oleh Pak Presdir tampannya. "Maksud saya gaunnya cantik dan sangat cocok dipakai sama kamu." Lanjut Rendy dan membuat hati Kirana merasa kecewa. Baru saja merasa diterbangkan tapi kemudian dijatuhkan begitu saja.
Kirana mendengus merasa kesal namun ia memaklumi ucapan Rendy. Tidak mungkin seorang Rendy memujinya. Memang siapa dirinya? Hanya pacar pura-puranya saja.
"Sudah ayo! Kita sudah terlambat. Kamu tunggu saya dimobil. Saya mau bayar dulu." Ucap Rendy kemudian berjalan menuju kasir dan Kirana mencebikkan bibirnya lalu berbalik dan berjalan keluar menuju mobil.
Beni yang menunggu dimobil segera turun ketika melihat Kirana keluar. Ia membukakan pintu mobil untuk Kirana. "Terkmakasih. Tapi saya bisa buka sendiri kok." Ucap Kirana dengan tersenyum canggungnya.
"Anda tidak perlu merasa sungkan mbak Kirana." Ucap Beni sedikit mengangguk menghormati Kirana.
Kirana hanya tersenyum lalu masuk kedalam mobil. Tak lama, Rendy menyusulnya masuk kedalam mobil dengan membawa beberapa paperbag ditangannya dan meletakkannya disamping tempat duduknya.
Beni segera melajukan mobilnya kambeli menuju restoran Jepang yang ada didekat Mall pusat kota.
Rendy menyerahkan satu paperbag kepada Kirana. "Ini buat kamu. Kamu pakai ini setelah sampai direstoran nanti." Ucap Rendy dengan memberi perintah pada Kirana.
"Ini apa Pak?" Tanya Kirana dengan bingung sambil menerima paperbag dari tangan Rendy.
"Kamu buka aja. Semoga pas." Jawab Rendy lalu menyandarkan punggungnya kebelakang.
Kirana membuka isi paperbag tersebut dan ia mengernyitkan keningnya lalu menatap Rendy. "Pak? Pak Rendy membeli ini untuk saya?" Tanya Kirana dengan wajah polosnya.
"Tentu saja buat kamu. Masa iya buat Beni?" Jawab Rendy yang membuat Beni kali ini tersedak ludahnya lalu berdehem dan meirik Bosnya sambil mendengus.
Kirana terkekeh geli lalu ia mengambil sepatu dari dalam paperbag yang diberikan oleh Rendy barusan. "Astaga, Pak! Ini mahal banget! Aku nggak sanggup kalau harus menggantinya." Pekik Kirana saat melihat bandrol harga yang menempel pada sepatu bermerek tersebut dan mengeluh.
"Apa saya meminta kamu untuk menggantinya? Kamu nggak usah banyak protes. Kamu cukup mengikuti skenario dari saya saja. Sebentar lagi kamu harus bersiap menjadi pacar pura-pura saya." Ucap Rendy dengan serius menatap Kirana.
Kirana merasa tegang dan mengangguk begitu saja meski ia masih merasa bingung dengan skenario yang akan dimainkan olehnya nanti.
"Dan satu lagi." Ucap Rendy sambil mencondongkan sedikit tubuhnya kesamping mendekat pada Kirana. "Jangan memanggil saya dengan sebutan Pak!" Tegas Rendy membuat Kirana sedikit terkejut dan melebarkan matanya.
"Lalu, sa..saya harus panggil apa Pak?" Tanya Kirana dengan tergagap sangat gugup karena wajah tampan Rendy begitu dekat dengannya dan aroma wangi juga mint dari nafasnya yang begitu segar dapat ia rasakan.
"Terserah kamu. Asal jangan panggil saya Pak!" Jawab Rendy sambil kembali menyandarkan punggungnya kebelakang.
Kirana terdiam dan tempak berfikir.
Rendy meraih ponsel dari saku celananya karena merasakan ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari Olivia. Setelah hubungan mereka berakhir, Rendy selalu mengabaikan dan tidak pernah menjawab telepon ataupun pesan dari Olivia.
Tapi karena siang ini ia sudah janjian dan ingin menemuinya, terpaksa ia menerima panggilan telepon darinya.
"Ya, kenapa?" Tanya Rendy dengan malas.
"Kenapa kamu belum sampai? Jangan bilang kalau kamu nggak jadi dateng dan nggak mau kasih bukti ke aku kalau kamu...."
"Sebentar lagi aku sampai!" Ucap Rendy memotong ucapan Olivia lalu segera menutup panggilan telepon dari sang mantan.
Tak lama mobil mewah milik Rendy sampai diparkiran restoran Jepang. Ia menoleh menatap Kirana. "Kamu udah siap dengan peran kamu?" Tanya Rendy dan Kirana mengangguk.
"Siap Pak. Tapi Pak? Saya nggak yakin." Jawab Kirana merasa ragu.
"Kalau kamu siap kenapa kamu masih nggak yakin?" Tanya Rendy dengan mengerutkan dahinya.
"Maksud saya, saya nggak pandai bersandiwara Pak. Saya kan bukan pemain film." Jawab Kirana membuat Rendy menghela nafasnya untuk tetap bersabar.
"Kamu pasti pernah punya pacar kan? Kamu anggap aja saya sebagai pacar kamu. Bersikap seolah kita benar-benar pacaran. Kamu mengerti kan?" Ucap Rendy dengan serius menatap Kirana.
Kirana terdiam sejenak dan tampak kembali berfikir.
"Sudah ayo turun! Kamu terlalu banyak mikir!" Ucap Rendy lalu membuka pintu mobilnya dan Beni membukakan pintu mobil untuk Kirana.
Kirana memakai sepatu high heel yang diberikan oleh Rendy tadi. Ia menghela nafasnya panjang. Ia juga sama sekali belum pernah memakai sapatu berhak tinggi. Ia turun dengan berpegangan pada pintu mobil merasa takut kalau sampai terjatuh dan membuat Rendy malu lalu mengacaukan semuanya.
Rendy berjalan mengitari mobil dan menghampiri Kirana. "Ingat Kirana! Jangan panggil saya Pak!" Tegas Rendy mengingatkan Kirana kembali.
"Iya Pak saya tau." Jawab Kirana dengan mencebikan bibirnya lalu tubuhnya terhuyung kedepan.
Untung saja Rendy masih berdiri didepannya dan dengan sigap menangkap tubuh Kirana. "Kamu hati-hati. Nggak usah gugup." Ucap Rendy sambil membantu Kirana berdiri tegak.
"Hehe..maaf Pak. Emm maksud saya Mmmas." Ucap Kirana dengan menyengir dan memanggil Rendy dengan sebutan 'mas' dengan menekankan kata 'm'.
"Boleh kan saya panggil Anda Mas?" Tanya Kirana dengan meringis.
"Terserah kamu." Jawab Rendy lalu melepaskan tangannya yang masih memegangi lengan Kirana.
Beni sejak tadi hanya berdiri diam disamping mobil mengulum senyum menahan tawanya melihat Bosnya yang sedang ingin bermain peran-peranan dengan karyawan wanitanya untuk membuat Olivia berhenti mengejarnya.
Bos ini ternyata juga pandai untuk jadi sutradara perfilman.
Batin Beni dengan menahan tawanya.
Rendy berjalan didepan dan Kirana mengekor dibelakangnya. Tapi tubuh Rendy yang tinggi dan langkahnya yang lebar membuat Kirana merasa kesulitan untuk mengikutinya. Apalagi dengan Kirana yang harus memakai sepatu berhak tinggi. Ia berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati karena takut terjatuh. Jadi, jarak diantara mereka menjadi semakin jauh.
"Haduuuh, Pak Rendy jalannya cepet banget sih? Katanya lagi pura-pura pacaran, tapi ditinggalin! Digandeng kek?" Gumam Kirana dengan cemberut karena ia merasa tersiksa berjalan dengan memakai high heels seperti ini.
Rendy yang hampir sampai dipintu restoran, ia melihat bayangan Kirana pada kaca pintu restoran lalu berbalik dan menatapnya. "Astaga, lelet banget sih dia jalannya? Apa dia nggak nyaman pakai high heels?" Gumam Rendy sambil memperhatikan Kirana yang sedang berjalan dengan sangat pelan dan terlihat hati-hati.
Ia kemudian menghampiri Kirana. "Ayo, pegangan!" Ucap Rendy sambil mengulurkan sikunya pada Kirana.
"Dari tadi kek!" Gerutu Kirana dengan kesal.
"Kenapa tadi nggak bilang kalau kamu nggak terbiasa pakai high heels?" Tanya Rendy sambil berjalan beriringan masuk kedalam restoran dengan Kirana yang tanpa sungkan memeluk lengan Rendy.
"Saya kan malu." Jawab Kirana dengan pelan karena ia memang merasa sangat malu.
Rendy hanya menghela nafas saja dan tidak banyak bertanya lagi hingga ia masuk dan melihat Olivia sedang berjalan menghampirinya.
Oh, jadi ternyata Olivia yang mau ditemui Pak Rendy? Sebenarnya, mereka ada masalah apa sih? Sampai-sampai Pak Rendy minta bantuan aku dan minta aku jadi pacar pura-puranya dia? Apa Pak Rendy mau bikin Olivia cemburu?
Gumam Kirana dalam hati menebak-nebak permasalahan Rendy.
"Dengar! Bersikaplah seolah-olah kita beneran pacaran! Ngerti?!" Bisik Rendy kembali mengingatkan Kirana.
"Iya saya ngerti." Jawab Kirana.
"Jaga cara bahasa kamu. Nggak usah terlalu formal! Biasa aja seperti kamu ngomong sama temen kamu." Ucap Rendy kembali mengingatkan Kirana.
"He em! Saya..emm aku ngerti!" Jawab Kirana.
"Lama banget?" Tanya Olivia dengan ketus sambil melirik sinis pada Kirana.
"Jalanan macet." Jawab Rendy dengan acuh.
"It's oke. Yang penting kamu dateng. Aku udah pesen private room. Kita langsung aja." Ucap Olivia dengan sinis lalu berbalik dan berjalan menuju private room yang sudah dipesannya.
Terlihat dengan jelas oleh Rendy wajah Olivia yang begitu kesal dan sangat marah. Tapi Rendy sama sekali tidak peduli. Ini yang ia harapkan. Ia berharap setelah ini, Olivia berhenti mengejarnya dan mengangguk hidupnya lagi.
Rendy dan Kirana berjalan mengikuti Olivia dibelakang. Ada seorang pelayan yang membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dengan sopan.
"O ya, kita belum sempat kenalan." Ucap Olivia saat berbalik dan menatap Kirana dengan wajah yang tidak suka.
"Oh, aku Kirana. Senang bisa kenalan denganmu." Ucap Kirana dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Olivia.
Tapi Olivia hanya diam menatapnya saja dan tidak berniat mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kirana.
Merasa Olivia tidak mau bersalaman dengannya, Kirana menarik kembali tangannya dan senyumnya perlahan memudar.
*Ternyata s*mbong amat dia!
Batin Kirana.
"Ayo kita duduk dan nggak perlu banyak basa basi." Ucap Rendy sambil merangkul Kirana dan mengajaknya duduk karena Rendy terus memperhatikan sikap Olivia yang terlihat sangat tidak suka dengan Kirana.
Ia hanya tidak ingin membuat Kirana merasa tersinggung karena Kirana belum mengenal bagaimana sikap Olivia terhadap seseorang yang tidak disukainya.
................