Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 186



"Elu elu elu pade udah tau belum..."


"Kagaaaak." Ucap serentak Lisa dan Jeni di dalam kelas, memotong pembicaraan Lucas yang bergaya perempuan.


"Iiih, gue belum selesai ngomong para wanita cantik. Eh kecuali elu Jens.." Balas Lucas mendecak kesal pada mereka membuat Pelangi tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.


"Yeee... Ku jambak juga nih, Lu." Balas Jeni dengan mengepalkan tangannya. Lucas memekik menutupi rambut di kepalanya.


"Aduh, cepetan deh ngomong. Ada apaan?" Ucap Lisa kemudian.


"Pagi tadi aku tidak sengaja mendengar ucapan para guru di kantor. Bahwa di sekolah kita ada seorang murid pindahan, tapi kasian ih.. Katanya dia telat satu tahun, harusnya dia satu tahun di atas kita. Murid nya itu laki-laki, terus terus aku kepo deh wajahnya itu seperti apa. Dan ternyataa, oh my God. Dia cakep banget, kumis tipis diatas bibirnya itu aaaah..."


Sementara Lisa dan Jeni ikut gemas menyimak cerita Lucas saat bercerita hingga menggigit jarinya kemudian.


"Kyaaaaa... Aku mauuu, cowok yang berkumis tipis pasti romantis dan.. Uwuuh, merindung bayanginnya." Ucap Lisa dengan wajah memerah menggigiti sebuah buku tulis di tangannya.


"Wah, Lucas. Cerita mu begitu detail, nguping kan tadi? Bilangnya gak sengaja. Huuuu..." Bantah Jeni.


"Iih aku beneran gak sengaja kakak Jeni,"


"Eh, bilang kakak lagi..." Jeni beranjak dari kursi hendak memberikan sebuah tinjuan pada Lucas yang kemudian bersembunyi di belakang Pelangi.


"Sssst..." Lisa menghentikan keributan mereka. Dan memberikan isyarat menatap pada Pelangi yang sejak tadi mengabaikan keributan para sahabatnya.


Beberapa saat kemudian, seorang guru sekaligus wali kelas memasuki kelas Pelangi dan sahabatnya berada. Yang kemudian di susul oleh seorang murid laki-laki berparas tinggi, berkulit sawo matang, dengan rambut hitam kecokelatan, kumis tipis di dekat bibirnya yang merah itu membuatnya terlihat begitu tampan. Sontak membuat para murid perempuan menyeru dan saling berbisik genit.


"Selamat pagi anak-anak. Pagi ini kalian mendapat teman baru, dia pindahan dari salah satu sekolah terbaik yang sangat jauh disana." Ujar guru tersebut di depan kelas.


Pelangi menyimak dengan serius ucapan guru nya di depan tanpa ekspresi apapun. Kemudian murid baru tersebut memperkenalkan diri, dengan suara nya yang sedikit serak.


"Pagi, teman-teman. Nama saya, ehm.. Panggil saja Joe. Mari berteman baik, dan mohon bantuannya." Ucapnya dengan setengah membungkukkan tubuhnya tanda memberikan salam penghormatan.


Melihat hal itu Pelangi mengerutkan kedua alisnya menatap murid tersebut, kemudian Joe melempar pandangannya tepat ke arah dimana Pelangi saat ini duduk menatapnya pula. Mata mereka saling bertemu, terasa suasana di kelas hening sesaat.


"Pak. Boleh kah saya duduk di depan cewek itu?" Ucap Joe dengan menunjuk ke arah kursi kosong tepat di depan Pelangi. Karena pemiliknya sedang izin sakit hari ini.


"Oh boleh saja Nak, dimana saja asal kau merasa nyaman. Kau bebas memilih," jawab pak Guru.


"Huuuu... Bapak, tidak adil dong. Biarkan dia duduk bersama ku saja," Ucap salah satu murid perempuan yang terkenal paling berani membantah di kelas.


"Ah jangan, duduk bersama ku saja. Kau akan merasa lebih betah nantinya, sini Joe. Aah kau tampan sekalii," Bantah murid perempuan lainnya. Di susul oleh beberapa lainnya lagi sehingga suasana kelas kembali bising dengan seruan dan ocehan mereka para murid perempuan yang terus memuji ketampanan Joe.


"Terimakasih, maaf. Terimakasih, senang bertemu kalian, halo..." Jawab Joe berkali-kali menundukkan badannya berjalan menuju kursi kosong di hadapan Pelangi.


"Ehhem,"


Lisa berdehhem yang duduk di sebelah Jeni, Pelangi menolehnya dengan tatapan serius.


"Upz.." Balas Lisa cekikikan di susul oleh Jeni.


"Oh si kumis tipis. Idaman, kali ini aku baru merasa beruntung duduk bersama mu Princess Cold. Aaah, dia tampan sekaaaalii." Bisik Lucas sembari menggigit jari jemarinya.


"Mau ku bantu menggigit jari-jari tangan mu itu Lucas?" Ucap Pelangi dengan dingin.


"Aw, ah jangan Princess cold."


"Pffft... Panggilan apa itu, Princess cold. Apakah dia sedingin es?"


Tiba-tiba saja Joe diam-diam tertawa geli mendengar panggilan khusus untuk Pelangi. Kemudian menolehnya ke belakang, Pelangi terkejut karena tiba-tiba begitu saja mengulurkan tangan di depan Pelangi.


"Hai, kau Pelangi bukan? Aku Joe," Ujarnya dengan senyuman manis. Membuat Lucas beserta Lisa dan Jeni yang duduk bersebelahan dengan Pelangi semakin memuji nya tanpa henti.


"Aku sudah mendengar namamu tadi, tapi darimana kau tahu nama ku? Kita baru saja bertemu bukan?" Jawab Pelangi dengan cetus.


"Mungkin karena nama mu banyak di sukai oleh orang-orang. Termasuk aku,"


"Cih, apaan sih?" Jawab Pelangi menepis tangan Joe begitu saja.


"Upz, well. Aku hanya bercanda saja, salam kenal. Semoga kedepannya kita bisa menjadi teman baik, atau mungkin lebih juga gapapa." Jawab Joe dengan mengedipkan matanya pada Pelangi.


"Daebak !!! Jen, pemandangan apa ini? Lagi-lagi aku kalah dari Princess cold kita, walaupun dia dingin dan cuek kenapa selalu jadi kejaran cowok-cowok di sekolah kita hah?" Ucap Lisa pada Jeni.


"Apa lagi aku Sa, apalah dayaku yang tidak memiliki innerbeauty manja sepertimu. Haaah, nasiib." Balas Jeni.


"Gak waras." Balas Pelangi pada Joe dengan dingin.


"Hmm.. Pantas saja kau mendapati julukan Princess cold. Ternyata selain cantik kau juga dingin, Brrrrrrr..." Ucap Joe kembali dengan menggetarkan sekujur tubuhnya. Kemudian Pelangi mengabaikannya kembali.


🌻🌻🌻


Di jam istirahat, banyak para murid perempuan di kelas Pelangi yang berhamburan saling merebut untuk berkenalan dengan Joe. Kemudian Pelangi melewatinya begitu saja di antara kerumunan itu, di susul oleh ketiga sahabat dekatnya.


"Oh my God, princess cold. Apaan sih berhenti mendadak gitu? Hidung mancung ku ini perawatannya mahal taaauk." Ujarnya mendecak kesal dengan menyentuh serta menekan ujung hidungnya.


"Siapa suruh itu mata jelalatan sih, hihihi." Jawab Jeni menertawainya.


"Ih, apaan sih.. Ngaku deh, kamu juga ikutan kan curi-curi pandang barusan." Bantah Lisa dengan lantang.


"Hemm, bener tuh. Gue saksinya, hihihi." Ucap Lucas dengan menyembikkan bibirnya.


"Kalian pada ngapain sih? Ngomongin cowok itu? Astaga, kalian bisa mendekatinya langsung. Lalu ajak kenalan, ajak makan bareng, aku bisa makan sendiri di kantin."


"Enggak enggak, ayo kita makan bareng. Aku memang tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, tapi aku lebih tidak bisa menahan lapar ku ini." Jawab Lisa dengan cepat. Dalam hatinya, Lisa bergumam..


Aku selalu merasa tidak tega meninggalkan mu sendiri di sekolah ini Pelangi, aku ikut sedih saat diam-diam kau menyendiri lalu menitikkan air mata. Entah masalah apa yang selama ini kau pendam sendiri.


"Ayo kita makaaan..." Ajak Jeni dengan setengah teriak merangkul leher Pelangi begitu saja. Kemudian mereka melangkah bersama dengan canda tawa.


Tiba di kantin, Pelangi the geng sudah duduk berhadapan di sebuah kursi yang di tengahnya terdapat meja yang begitu luas memanjang. Mereka sedang menikmati hidangan yang tersedia di kantin sekolah sembari berbincang ria, Lucas selalu mencoba untuk membuat Pelangi selalu tertawa riang dengan cerita dan tingkah konyolnya, kali ini berhasil. Pelangi tertawa lepas, membuat Lisa dan Jeni ikut bahagia.


"Boleh bergabung?"


Mendadak Joe datang dengan sebotol minuman bersoda di tangannya, tiba-tiba saja duduk langsung di sebelah Jeni, tepat berhadapan dengan Pelangi. Itu membuat Pelangi berhenti tertawa begitu saja, hening seketika. Sementara Jeni mulai kikuk dan salah tingkah karena Joe duduk begitu dekat dengannya.


"Oh ny God, si kumis tipis. Hai, tentu saja boleh. Iya kan teman-teman cantik ku?" Jawab Lucas dengan gaya khasnya bak seorang perempuan yang menyapa laki-lakinya.


"Tentu dong, hai Joe. Kenalin, aku lisa. Senang berkenalan dengan cowok manis sepertimu, iiih..." Ucap Lisa kemudian menjulurkan tangannya. Yang di sambut hangat oleh Joe dengan senyuman manisnya.


"Dan gue Lucas, sahabat yang paling di butuhin diantara kami. Hihihi,"


"Dan... Elu?" Tanya Joe menunjuk ke arah Jeni.


"A,aku Jeni." Jawabnya gugup.


"Gerogi lu ya, awas aja. Itu bagian ku," Bisik Lisa pada Jeni, membuat Jeni memelototinya.


"Terimakasih, senang berkenalan dengan kalian juga." Ucap Joe kemudian yang langsung melempar pandangannya pada Pelangi yang sejak tadi berkutat dengan piring dan sendok untuk menghabiskan makanannya.


"Langi," Panggil Joe. Membuat Pelangi terhentak hingga tersedak mendengar panggilan tersebut. Yang dimana tidak pernah sekalipun ada yang memanggilnya demikian lagi.


"Aduh, princess cold. Kau baik-baik saja?"


Para sahabatnya dengan sigap memberinya minuman dan tissue juga menepuk-nepuk punggung Pelangi yang terus saja terbatuk-batuk.


"Gapapa, aku gapapa kok. Aku hanya sedikit tersedak saja," Jawab Pelangi dengan tatapan tajam mengarah pada Joe.


Kemudian Joe tersenyum nyengir tanpa merasa bersalah sedikitpun padanya.


"Kenapa kau memanggil nama ku seperti itu hah?"


"Eh, memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Namamu Pelangi kan? Aku hanys memperpendek namamu saja agar mudah di sebut. Hehe," Jawab Joe dengan santai.


"Panggil saja Pelangi, jangan merubahnya sesuai keinginan mu itu." Balas Pelangi dengan kembali membuang tatapannya ke arah makanan yang masih tersisa di depannya.


"Ehm, Joe. Apa benar kau telat sekolah dan seharusnya kau adalah kakak kelas kami,"


Kemudian Lisa mengalihkan keheningan sesaat yang terjadi barusan. Untuk mencairkan suasana diantara mereka.


"Hemm, tepat sekali. Itu karena aku harus ikut kedua orang tua ku berpindah kota setiap tahunnya, karena tuntutan pekerjaan Daddy ku."


"Wah, kasihan deh kamu. Lalu dimana kau tinggal sebelumnya Joe?" Tanya Jeni kali ini, setelah dia berhasil menetralisir kegelisahannya menahan gerogi tadi.


"Hemm... Di suatu tempat yang jauh, hehe."


"Iiih kau ini, jangan membuat kami lebih penasaran lagi dong.. Si kumis tipis, uugh gemas." Ucap Lucas sembari berusaha mencubit lengan Joe. Dengan tawa lepas Joe menghindarinya.


"Hahaha, ehm... Pelangi, apa kau juga penasaran pada tempat tinggal ku sebelumnya?" Ucap Joe menggoda Pelangi.


"Enggak tuh, buat apa? Aku bukan team sensus penduduk." Jawab Pelangi dengan menyedot pipet dalam jus jeruk di hadapannya.


"Sungguh, Hemm... Baiklah, jika kau tidak penasaran. Aku tidak akan memberitahu para sahabatmu juga, hehe."


"Iiih apaan sih Joe, kau rupanya jago bernegoisasi ya? Ah, menyebalkan." Ucap Lisa dengan memoncongkan bibirnya.


Pelangi hanya menyeringai mendengar cowok yang baru di temuinya hari ini. Namun seolah seperti dia sudah mengenal dekat Pelangi sejak lama.


Dalam hatinya berkata,


Siapa Joe ini, dia memyebut nama akhiran ku. Yang hanya di sebut oleh Lucky dan kakak Tama, dia misterius sekali. Aku benci cowok yang seperti itu !!!