Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 189



Malam ini aku sengaja menunggu Pelangi untuk tiba dirumah dulu sebelum aku dan Irgy merebahkan diri di kamar, sementara Rafa dan Rafi sudah tidur. Tak berapa lama kemudian Pelangi tiba memasuki ruangan, tatapannya kepada kami sedikit heran. Seolah dia bertanya ada apa gerangan dengan kami yang belum juga beranjak tidur.


"Kau sudah pulang, Nak? Mama dan Papa mau bicara sebentar." Aku menyapanya dengan senyuman.


"Hem, iya ma. Ehm, kenapa mama dan papa belum tidur?" Tanya Pelangi dengan ekspresinya yang selalu dingin tanpa senyuman.


"Kami sengaja menunggu mu, besok kan hari libur sekolah. Sini, temani kami ngobrol dulu sebentar. Kau pasti belum mengantuk bukan?" Jawab ku dengan hangat meraih tangannya.


"Pelangi mengantuk, Ma." Jawab Pelangi kemudian melanjutkan langkah nya menaiki anak tangga.


"Peri cantik papa, ayo lah Nak. Kita jarang mengobrol santai selama ini, kami rindu Pelangi yang dulu Nak. Yang selalu brrgelayutan manja pada kami dengan segala keceriaan." Ucap Irgy mrnghentikan langkah Pelangi sejenak.


"Pa, ma. Maafkan Pelangi, tapi Pelangi sangat mengantuk." Ucapnya dengan lirih.


"Pelangiii..." Panggil ku menahannya kembali, namun Pelangi terus menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya di atas. Dia mengabaikan panggilan ku dan Irgy yang terus menahannya.


"Sayang, apa yang harus kita lakukan untuk anak kita? Sikapnya sungguh berubah, aku sangat rindu keceriaan nya dulu." Ucap ku dengan helaan nafas panjang pada Irgy, kemudian Irgy meraih tubuhku dalam dekapannya. Di peluknya erat tubuh ku, ini membuatku sesak ingin menangis. Meluapkan segalanya, aku merasa perubahan pada puteri ku kini ialah akibat kesalahan ku sendiri.


"Tenanglah, jangan sedih. Jangan selalu merasa takut, Pelangi kita belum dewasa, dia masih labil dan butuh banyak waktu untuk berpikit dewasa agar mengerti tentang keadaan yang membuatnya sampai begini."


"Ini salah ku.."


"Ssssttt... Apa yang kau katakan? Hem, ini bukan salah mu istriku."


Aku mulai menangis dalam pelukan Irgy. Entah bagaimana aku harus mengembalikan keadaan dan keceriaan Pelangi seperti dulu lagi, apakah mungkin hanya dengan kehadiran Lucky kembali dia akan ceria kembali? Ah, tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkan Pelangi kembali dekat dengan Lucky. Walau bagaimanapun, Lucky telah menjadi bagian dari Ammar. Tak peduli semengagumkan apapun dia di masa kecil dulu, dia tetap bagian dari Ammar.


Sedang di kamar nya, Pelangi menatap wajahnya di kaca setelah membersihkannya. Di tatap lekat-lekat wajah nya yang masih di penuhi butiran bening bekas air yang membasahinya.


"Hah, sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini Pelangi? Tidak kah kau merasa lelah?" Ujarnya pada dirinya sendiri.


Kembali dia mengenang masa kecilnya dengan Lucky, dan bagaimana semua begitu cepat berlalu kemudian berakhor begitu saja.


"Apa salah kami, Tuhan?"


Pelangi kembali menitikkan air mata nya, namun tiba-tiba saja hadir bayangan Joe yang selalu menggodanya. Bertingkah konyol di depannya, dan selalu menebar senyuman. Tak peduli walau Pelangi selalu bersikap dingin pada Joe.


🌻🌻🌻


Pagi hari, di sekolah Pelangi menyaksikan Jeni yang tiba-tiba saja begitu akrab dengan canda tawa bersama Joe. Sementara dari arah belakang Pelangi di kejutkan oleh kedua sahabatnya yang lain, Lisa dan Lucas.


"Hayo, pagi-pagi bengong."


"Astaga, huhft... Lisa, Lucas. Apaan sih? Kaget tahu."


"Hahaha, lagian pagi-pagi melamun." Jawab Lisa dengan tawa riangnya.


"Eh, enggak. Aku hanya, sedikiit..."


"Oh my God, Lisaa. Lihat Jeni kitaa, ku pikir dia belum datang. Lihat, dia berduaan dengan pangeran ku. Awas Jeni ya, Ih.." Lucas sedikit berteriak dengan omelannya menunjuk ke arah Jeni.


"Ya ampun, mata gue belum rabun kan ini? Jeni... Sejak kapan Jeni begitu mudah akrab dengan cowok di sekolah kita ini?" Ujar Lisa dengan mulut menganga mrlihat ke arah Jeni dan Joe.


"Ayo masuk kelas, mau sampai kapan kalian melongo seperti itu hah?"


"Tapi Jeni kita..."


"Aaah, Princess cold. Jaahat, ih." Jawab Lucas mendecak kesal menyusul langkah Pelangi.


"Hahaha baru sadar jika Princess cold kita ini selain dingin dia juga jahat? Hahaha." Lisa tertawa terbahak-bahak dengan langkah cepat dan saling mendorong serta merangkul dengan Lucas di belakang Pelangi. Hingga suaranya terdengar oleh Jeni dan Joe, canda tawa dan keakraban mereka terhenti seketika.


"Pagi, Langi." Sapa Joe pada Pelangi. Namun tak ada balasan kata sapa dari Pelangi yang terus berjalan melewatinya yang berdiri dengan Jeni saat ini.


"E,eh.. Princess cold, aku.. Ehm, tunggu..." Jeni tampak gelagapan mengejar langkah Pelangi menuju kelas.


"Gilau ya, baru saja semalam berduaan dengan Joe. Pagi ini kalian sudah terlihat akrab dan dekat, aku kan jadi iri." Bisik Lisa mencubit lengan Jeni.


"Ih apaan sih, Sa. Ini tidak seperti yang kau kira,"


"Kau tega, Jeens. Mendahuluiku mendekati pangeran ku, si kumis tipis."


"Yee, diem lu. Jeruk makan jeruk, lu harusnya cari strawberry sana." Jawab Jeni dengan nada kesal pada Lucas.


"Aw, masam dong. Hihihi," Lucas semakin kian genit bertingkah manja.


Hingga mereka tiba di kelas, Pelangi langsung duduk di kursi nya.


"Princess Cold, kau jangan salah paham dulu. Aku dan Joe hanya..."


"Apakah sangat menyenangkan bisa merasakan jatuh cinta, Jeni?"


Jeni terhentak dengan tatapan mata melotot pada Pelangi, kemudian salah tingkah di depan Pelangi.


"Ya ampun, Jen. Jadi elu jatuh cinta nih sama Joe?" Ujar Lisa dengan terkejut.


"Aaaw, tidaaaaaaak..." Teriak Lucas.


"Eh, tidak. Tidak, aku hanya mengaguminya saja. Tidak lebih, kalian harus percaya padaku." Jawab Jeni kemudian.


"Jen, gapapa. Jika kau memang menyukai Joe, sepertinya dia cowok baik-baik." Ujar Pelangi.


"Sungguh? Apakah kini kau menganggapku cowok baik? Hahaha, coba ucapkan sekali lagi Langi."


Joe hadir di belakang Jeni kemudian melempar senyuman manisnya pada Pelangi, membuat semua menegang.


"Jen, aku gapapa. Nikmati dan jalani saja apa yang membuatmu bahagis saat ini."


"Pelangi... Inu tidak seperti yang kau pikirkan," Ujar Jeni kembali dengan wajah memelas.


"Jen, ada apa? Kenapa mau sampai memohon begitu pada nya?"


"Joe, kau tidak mengerti." Jawab Jeni dengan tegas.


"Hikzt... Huwwaaa... Kalian, aku tidak rela. Iih, aku bahkan belum mendapatkan pacar yang selalu aku impikan. Aku kurang apa sih?" Lisa mulai mengoceh kembali.


"Joe, pangeran kumis tipis ku. Apa kau sudah memiliki pacar sebelumnya?" Tanya Lucas dengan logat khasnya.


"Pacar? Ehm, aku masih menunggu seseorang. Dan untuk jatuh cinta, aku sudah pernah merasakannya pada gadis yang mungkin saat ini sudah melupakan ku." Jawab Joe dengan menatap mata Pelangi begitu lekat. Mata mereka bertemu, hening sesaat tanpa kata dari ketiga sahabatnya itu.