Because, I Love You

Because, I Love You
#115



Setelah Beni memberi tau keadaan Rendy kepada Kirana dan menyampaikan maksud kedatangannya, Kirana segera pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Dia bukan tipe gadis yang mudah tergiur akan harta Ben. Pantas aja kalau Mas Rendy tertarik dan jatuh cinta kepada Kirana." Ucap Pak Sony dengan serius menatap Beni.


Beni membenarkan ucapan Pak Sony. Sejak awal kenal dengan Kirana, Beni sudah tau kalau Kirana adalah gadis yang mandiri dan berpendirian kuat. Kalau tidak, tidak pasti akan langsung menerima tawaran dari orang tua Rendy untuk resign dan menerima segala kemewahan yang akan diberikan selama hidupnya tanpa harus bekerja.


Beni mengambil ponsel disaku jasnya dan menelpon Bagas-Papa Rendy. Tak lama, telepon langsung diangkat.


"Ya Ben. Gimana?"


"Maaf Pak Bagas, Mbak Kirana menolak tawaran Anda."


Terdengar helaan nafas dari Bagas diseberang sana. Mungkin Bagas merasa kecewa karena niat baiknya ditolak oleh Kirana. Tapi, dia juga tidak berhak untuk memaksa.


...


Beberapa minggu kemudian.


Kirana menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia sudah sedikit merasa terbiasa dengan ketidak hadiran Rendy dalam kehidupannya. Meskipun hatinya masih sulit untuk menghilangkan rasa rindu terhadap Rendy, Kirana berusaha menyibukkan dirinya. Bahkan dia sering lembur kerja hingga larut malam baru pulang.


Hari ini, Haris kembali menemani Kirana kerumah sakit untuk pelepasan gips nya.


Akhirnya, Kirana bisa berjalan dengan normal kembali. "Makasih ya Kak, udah mau nganter dan nemenin aku lagi. Gimana kalau aku traktir Kak Haris makan di pecel lele langganan kakak?" Ajak Kirana sebagai rasa terimakasihnya kepada Haris.


Haris melirik kearah Kirana. "Bener nih? Kamu kan belum gajian, Ki."


"Kak Haris tenang aja. Cuma mentraktir makan aja, uang aku nggak akan habis kok..hehe." Jawab Kirana lalu tertawa.


Haris berdecak lalu mengusap puncak kepala Kirana dengan gemas. "Dasar, makin sombong kamu. Mentang-mentang punya gaji gede sekarang."


"Sekali-sekali sombong dikit nggak apa-apa kan?"


Sambil berjalan, mereka terus mengobrol diselingi candaan.


Tiba-tiba langkah Kirana terhenti dan terpaku. Haris yang masih berjalan sontak terhenti saat menoleh dan Kirana sedang berdiri mematung dua langkah dibelakangnya.


"Ki, ada apa? Kakimu sakit lagi?" Tanya Haris dengan penuh perhatian.


Kirana hanya diam seolah tidak mendengar pertanyaan Haris. Malah matanya mengeluarkan air mata membuat Haris sedikit panik karena Kirana tiba-tiba menangis.


"Mas..Rendy.." Gumamnya pelan dengan suara tercekat menahan isak tangisnya.


Haris mengernyit kemudian menoleh mengikuti arah pandang Kirana. Dia melihat laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengan Rendy. Laki-laki itu sedang duduk dikursi roda dan kepalanya dibalut perban. Terlihat tatapannya yang kosong seperti sedang menatap kearahnya atau lebih tepatnya kearah Kirana.


Haris sudah sering melihat Rendy sebelumnya. Dia juga sangat hafal wajah juga postur tubuh laki-laki yang selama ini masih menjadi saingannya.


Tapi baru selangkah maju, Kirana kembali berhenti dan terpaku. Senyumannya seketika pudar dan tatapannya terlihat terkejut saat melihat ada seorang wanita cantik lebih muda darinya merangkul Rendy dari samping dengan senyum riangnya. Terlihat Rendy juga tersenyum kepada wanita muda itu kemudian wanita itu mendorong kursi roda yang diduduki Rendy dan pergi.


"Ki, apa itu Rendy?" Tanya Haris yang baru saja juga melihat Rendy bersama wanita lain.


Kirana tersadar dan mengangguk memaksakan senyumnya menoleh pada Haris. "Ayo kak, kita pulang." Ucap Kirana tanpa menjawab pertanyaan Haris.


Hatinya kembali merasa kecewa. Bagaimana tidak kecewa? Sejak pernikahannya yang tiba-tiba batal karena Rendy mengalami musibah kecelakaan dan langsung dibawa ke Jerman, laki-laki itu tidak pernah memberi kabar kepadanya. Kirana hanya sekali saja mendapat kabar mengenai kondisi Rendy dari Beni.


Setelah itu, tidak pernah lagi. Hingga sekarang, Kirana dikejutkan dengan melihat sosok yang mirip sekali dengan Rendy didepan matanya. Tapi, laki-laki itu hanya diam. Bahkan tidak tersenyum sedikit pun saat menatapnya.


"Eh tunggu! Kamu nggak lupa mau mentraktir aku kan?" Tanya Haris yang berusaha ingin mengalihkan pikiran Kirana yang dia yakini kalau Kirana pasti sedang memikirkan laki-laki yang sangat mirip dengan Rendy pergi bersama wanita lain.


"Kak, maaf. Tiba-tiba aku nggak enak badan. Kalau lain kali aja gimana? Atau kita delivery order aja gimana?" Tanya Kirana dengan raut wajah yang berubah sendu.


Haris tersenyum dan sedikit mengangguk. "Ada aku yang selalu ada buat kamu, Ki. Kamu nggak perlu sedih apalagi sampai nangis mikirin laki-laki itu." Ucap Haris dengan pelan tapi hatinya ingin sekali marah dan memberi pelajaran kepada Rendy. Jelas dia melihat Rendy yang sedang menatap Kirana. Tapi, seolah tidak mengenalnya.


Biasanya, dia yang akan paling marah ketika melihat Kirana sedang bersama dirinya. Eh tunggu! Seketika Haris kembali teringat kejadian kecelakaan yang dialami Rendy waktu itu. Jangan-jangan dia .....


"Kak Haris ngomong apa sih? Aku nggak sedih kok. Mungkin Mas Rendy nggak lihat aku tadi." Ucapan Kirana menghentikan pemikiran Haris tentang Rendy.


Haris tidak ingin lagi membahas tentang Rendy apalagi repot-repot memikirkan laki-laki yang sudah berani mencuri hati Kirana. Untuk apa peduli dengan laki-laki itu. Buang-buang waktu saja.


"Ya udah, lain waktu aja kalau kamu udah gajian." Ucap Haris dengan tersenyum kemudian mengajak Kirana pergi.


...


Malam harinya, Kirana masih terus terjaga. Dia terus memikirkan Rendy. Dia juga tau dengan jelas kalau tadi Rendy menatapnya. Tapi, tatapannya datar seolah tidak mengenalnya.


Rendy yang dia kenal, Rendy kekasihnya, bukan laki-laki yang akan diam saja ketika melihatnya. Biasanya, Rendy akan langsung tersenyum senang dan memeluknya bahkan menciumnya.


Tapi, Rendy yang dia lihat tadi bukan seperti Rendy yang dia kenal. Bukan seperti Rendy kekasihnya. Atau tadi hanya orang yang mirip saja dengan kekasihnya?


"Aku yakin kalau itu kamu Mas. Tapi, kenapa kamu cuma diem aja liatin aku? Atau kamu sengaja nggak mau kenal aku lagi karena kamu udah sama perempuan lain?" Gumam Kirana bicara sendiri sambil membayangkan bagaimana saat laki-laki itu menatapnya hanya diam saja tadi. Tapi langsung tersenyum ketika dipeluk oleh perempuan lain.


Seketika,Kirana kembali teringat saat Rendy bersama dengan Lena. Mungkin saja, ucapan orang-orang memang benar. Laki-laki setampan dan sekaya Rendy, pasti akan dengan mudah menarik perhatian para wanita.


Tanpa sadar, air mata Kirana kembali membasahi pipinya.


Kirana menghela nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Dia berusaha untuk mengontrol segala rasa yang sedang dia rasakan dalam hatinya.


................