
POV AMMAR
"Pak, berhentilah merokok. Dalam satu hari bapak sudah menghabiskan beberapa bungkus sejak tadi." Ujar Andi menegur Ammar yang kini menyembunyikan diri di apartemen Andi.
".........."
Ammar terdiam dan hanya terus menghisap batang rokoknya. Sejak sepeninggal istrinya, Ammar memilih tinggal di apartemen Andi tanpa aktivitas apapun. Dia menghabiskan hari demi hari hanya dengan merokok, yang selama ini sesekali dia menyentuhnya namun kali ini seolah ketergantungan.
Tak pernah ada air mata yang menetes dari pipinya sejak hari itu. Dia hanya terdiam membungkam mulutnya sendiri, namun Andi sangat mengenal betul sosok laki-laki yang di kaguminya sejak di sekolah dulu.
Walaupun dia terlihat tegar diluar, namun dalam hatinya sedang kacau dan berkabung. Hingga Ia tak mampu mengekspresikan apa yang kini di rasakannya. Sudah berhari-hari Andi menegurnya untuk menghentikan ketergantungannya dalam merokok. Namun nihil, Ammar membatu tanpa jawaban untuk mengelak.
"Pak Ammar, hentikan !!!"
Kali ini Andi berani menarik tangan Ammar ketika hendak membuka satu bungkus rokok untuk yang kesekian kalinya.
Ammar terhentak akan perbuatan Andi.
"Apa lagi hah?" Jawab Ammar dengan cetus. Yang kali ini baru membuka mulutnya untuk berbicara.
"Pak, jika ingin marah. Luapkan saja, jika ingin mengamuk bapak bisa menghancurkan seisi ruangan ini, dan jika ingin menangis... Jangan menahannya. Itu akan menyakiti bapak,"
Ammar menyeringai mendengar ucapan Andi.
"Katakan padaku Andi, haruskah aku membenci Tuhan ku saat ini?"
"Pak..."
"Apakah ini hukuman yang pantas untuk ku? Tapi kenapa Eliez yang menanggungnya? Kenapa bukan aku saja yang pergi dari dunia ini?"
"Pak, nona Eliez adalah orang yang baik. Tuhan pasti sangat menyayanginya, tak ingin membiarkannya lebih lama menahan sakit yang di deritanya." Jawab Andi berusaha menenangkan emosi Ammar yang mulai meluap kembali.
"Ya, Eliez wanita yang baik. Tapi dia salah memaksaku hidup dengan nya, sedangkan hatiku... Hatiku,"
"Hanya untuk kak Fanny. Iya kan?" Jawab Andi menyela. Membuat Ammar semakin memuncak, beranjak dari duduknya lalu menghantam sebuah tembok dinding yang kokoh tepat di hadapan Andi.
Andi terkejut hingga sekujur tubuhnya kaku, nafasnya seolah terhenti sejenak.
"Aaaaaarght... Ini salah ku, aku yang membunuh Eliez dengan cintanya yang tulus padaku."
"Ppak, ber-henti menyalahkan diri begitu. Ini sudah menjadi takdir nona Eliez, nona pasti akan bersedih jika melihat bapak begini." Jawab Andi terbata-bata menahan ketakutannya.
"Lalu aku harus bagaimana Andi? Disaat kepergiannya hatiku justru terhanyut akan kenangan Fanny dulu. Exelle putera yang tak pernah ku inginkan, entah bagaimana masa depannya nanti. Bahkan aku tidak lagi di izinkan sekedar menguatkan hatinya dalam pelukan ku Andi."
Kali ini justru Andi yang menitikkan air mata mendengar tutur kata Ammar. Di satu sisi hati Andi juga geram namun tertahan, tapi di sisi lain dia terpukul melihat Ammar begitu kacau.
"Pak, ayo obati dulu luka bapak. Tangan bapak mengeluarkan banyak darah pak, sebelum infeksi nantinya." Ucap Andi mengalihkan setelah melihat darah menetes dari bekas hantaman tangan Ammar di tembok tadi.
"Ini tidak seberapa sakit Andi. Tapi hatiku, aku tidak bisa melukiskannya. Ini berat untuk ku,"
Andi mengabaikan ucapan Ammar dengan segera meraih kotak obat. Kemudian di bersihkan luka Ammar dengan sabar dan tangan gemetaran, lalu di balut luka Ammar dengan perban.
"Apa kau tidak takut dan jijik padaku Andi?"
"Tidak pak, bapak sudah saya anggap sebagai kakak kandung saya sendiri. Sejak awal hingga kini, selamanya akan tetap demikian." Jawab Andi sembari mengingat perban di tangan Ammar tanpa berani mendongakkan wajahnya pada Ammar.
"Terimakasih, Andi.." Ucap Ammar lirih.
"Jika begitu, ayo bangkit. Bapak harus kembali seperti sedia kala, jangan terpuruk begini."
Ammar tersenyum tipis akan semangat yang selalu Andi lontarkan. Hanya Andi satu-satunya orang yang mampu menenangkan hati Ammar saat ini.
🍃🍃🍃
Ammar mulai berani menampakkan diri kembali pada dunia. Dia merasa harus bangkit dan tetap menjalani kehidupannya demi masa depan serta keretakan hatinya yang di penuhi rasa sesal.
Kemudian menghibur diri dengan nongkrong disebuah kafe lalu berniat booking sebuah hotel untuk beberapa hari. Dia merasa tak ingin membebani Andi yang memiliki privasi dengan wanitanya.
Sampai di hotel tanpa sengaja Ammar bertemu dengan Nia dan beberap orang yang sangat di kenal oleh Ammar adalah sejawat mengajar Nia di sekolah. Tampak Nia terkejut melihat Ammar yang kian semakin dekat berjalan ke arah Nia.
"Pak Ammar, mau bertemu siapa? Ehm, kami ikut berduka cita atas kepergian istri bapak. Sangat di sayangkan," Sapa salah satu wanita yang sedang berdiri di samping Nia. Dengan gemetaran Nia mundur satu langkah di belakang wanita tersebut.
"Ya, terimakasih bu. Ngomong-ngomong ada acara apa kalian disini?" Jawab Ammar namun pandangan matanya tertuju pada sikap Nia yang gelagapan.
"Oh kami sedang melakukan seminar disini sampai besok kita akan bermalam disini." Jelasnya. Tanpa sedikitpun Nia berani menyapa Ammar. Dalam hatinya ada rasa takut dan amarah besar yang bercampur aduk.
"Bu Nia, apa kabar?" Sapa Ammar kemudian. Nia terdiam, membuat teman yang lainnya menoleh ke arah Nia kebingungan.
"Ba..Baik." Jawab Nia dengan kikuk dan salah tingkah.
Ammar membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu berpamitan hendak menuju kamar yang sudah di bookingnya.
Malam pun tiba, Ammar hendak keluar kamar untuk makan malam di restoran hotel tempatnya menginap. Tanpa di duga saat membuka pintu kamar, di sebelah kamar Ammar berdiri seorang wanita membuka pintu dan terkejut hingga hampir tersungkur berpangku pada gagang pintu yang di sentuhnya.
"Bu Nia, wah kamar kita bersebelahan ternyata." Sapa Ammar dengan santai. Tanpa menjawab Nia terburu-buru membuka pintu kamar namun dalam sekejab Ammar menahan pintu tersebut.
"Pak Ammar, tolong jangan macam-macam." Jawab Nia ketakutan.
"Ayo lah bu Nia, kau yang membuatku berani bertingkah begini. Kenapa kau menunjukkan sikap yang membuatku tersinggung?" Ujar Ammar sembari mendorong paksa Nia memasuki kamar nya lalu dengan cepat Ammar mengunci pintu.
"Pak Ammar. Aku mohon, jangan begini. Keluarlah dari kamar ku pak," Nia ketakutan sembari mengatupkan kedua tangannya memohon pada Ammar.
Ammar berjalan semakin mendekati Nia dengan senyuman menyeringai membuat Nia ketakutan dan melangkah mundur hingga terbentur ke sisi ranjang.
"Kenapa bu Nia? Kau merasa jijik padaku hah? Atau kau sengaja membuatku marah?"
"Pak ku mohon, jangan mendekat lagi. Atau aku akan teriak dan melaporkan ke polisi atas sikap bapak ini."
Nia mulai menangis dan kebingungan mencari-cari ponsel untuk segera mencari bala bantuan. Namun Ammar sudah berada tepat di hadapan Nia lalu mencengkram tangan Nia dengan keras.
"Bisakah kita bicara baik-baik bu? Aku hanya perlu waktu berdua dengan anda."
"Lepaskan, lepaskan saya. Jangan menyentuh saya dengan tangan kotor anda yang dulu pernah menodai Fanny."
Ammar membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan yang Nia lontarkan. Lalu dia mendorong tubuh Nia hingga terjatuh di atas ranjang, Nia memekik dan berusaha teriak sekeras mungkin.
Ammar membungkam mulut Nia lalu menindihnya, hingga Nia kesulitan bernafas. Tangan kirinya berusaha mencakar dan menjambak rambut Ammar. Usahanya nihil, kini Ammar semakin mendekatkan wajahnya tepat di telinga Nia.
"Aku suka wanita munafik sepertimu, kau pasti liar di ranjang. Biarkan aku mencicipimu, heh." Ujar Ammar berbisik di telinga Nia.
Dengan sekuat tenaga Nia mendorong Ammar dan menggigit jemari Ammar yang membungkam mulut Nia. Ammar memekik dan melepaskan cengkramannya pada tubuh Nia, dengan deraian air mata Nia berusaha berlari menuju kearah pintu namun Ammar berhasil kembali menjambak rambut Nia yang terurai dari belakang.
Nia kembali terhuyung tepat di pelukan Ammar. Dan dengan sengaja Ammar merobek sebuah kemeja tipis yang di kenakan oleh Nia malam ini, Ammar berusaha menyentuh bagian tubuh sensitif Nia. Kini pakaian Nia hanya tersisa bagian dalamnya saja. Ammar mencumbu paksa bibir Nia, namun sebuah tamparan mengenai pipi kanan Ammar.
"Dasar laki-laki ********. Aku semakin yakin jika nona Eliez mati itu karena mu, dan Fanny wanita yang kau bodohi sungguh sangat di sayangkan harus merelakan kehormatannya demi laki-laki najis sepertimu." Ujar Nia memberikan perlawanan.
"Wow. Jadi ini sosok wanita yang di pilih Kevin? Diam-diam kau cukup liar sebelum memulai permainan."
Tanpa banyak kata lagi, Ammar semakin menggila. Seberapa pun Nia berusaha melepaskan diri untuk kabur atau mencari bantuan agar Ammar tidak sampai menodainya. Namun Nia menyesal dalam hatinya telah mengangungkan sosok Ammar, yang kini telah berani memperlakukannya begitu hina.
Nia hanya bisa menangis tanpa mampu lagi mengeluarkan teriakan. Dia pasrah, dia lemah saat Ammar dengan gilanya menodainya. Hatinya bagai tercabik-cabik akan perlakuan Ammar pada sekujur tubuhnya.
Entah berapa lama Ammar melakukan hal itu pada Nia, sehingga Nia hilang kesadaran. Dan Ammar pergi begitu saja keluar dari kamar hotel tempat Nia menginap malam ini. Perlahan terdengar suara pintu yang tertutup, sayup Nia perhatikan sekeliling kamar. Tubuhnya masih lemah dan kaku, Ia berusaha menata pikiran dan hatinya yang kini hancur karena sosok lelaki yang di sanjungnya sejak dulu telah menodainya .