
Tiba-tiba Haris datang mengetuk pintu dua kali lalu mencondongkan kepalanya dan melihat Kirana sedang duduk didalam karena pintunya memang terbuka sejak kedatangan Rendy tadi.
"Kak Haris?" Balas Kirana sambil bangkit berdiri lalu melangkah kepintu dan Rendy hanya menoleh kearah pintu.
"Apa sedang ada tamu?" Tanya Haris yang sekilas melihat ada bayangan seseorang yang duduk didalam tapi tidak tau siapa tamu Kirana.
"Iya. Kak Haris ada perlu apa? Ayo masuk dulu." Jawab Kirana dengan tersenyum ramah.
"Nggak usah. Nggak enak masih ada tamu. Aku cuma mau nganter ini disuruh Bunda. Kamu pasti belum makan kan?" Ucap Haris sambil menyodorkan rantang yang berisi makanan kepada Kirana.
"Ya ampun. Makasih banget ya kak sampeiin ke Bunda." Ucap Kirana dengan tersenyum lebar dan menerima rantang tersebut dari tangan Haris.
"Iya, nanti aku sampein. Ya udah kalau gitu aku balik dulu." Ucap Haris dengan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Kirana dan Rendy melihatnya saat menoleh.
Haris pun berbalik dan segera pergi. Kirana berjalan masuk dan Rendy bangkit berdiri.
"Sebenarnya saya mau ngajak kamu keluar makan malam. Tapi pacar kamu udah lebih dulu ngaterin makanan buat kamu." Ucap Rendy dengan tersenyum menatap Kirana.
"Itu barusan tetangga seberang rumah Pak. Bukan pacar saya. Ibunya sering memintanya untuk nganter makanan ke saya. Kalau Pak Rendy nggak keberatan, boleh kok makan malam bareng saya disini." Ucap Kirana dengan sedikit mendongak menatap Rendy.
"Makasih. Tapi lain kali aja. Saya pulang dulu." Ucap Rendy berpamitan pada Kirana.
Bukannya ia tidak mau makan bersama Kirana dirumahnya. Cuma ia tidak mau makan makanan pemberian dari Haris.
"Oh baiklah kalau gitu Pak." Ucap Kirana dan Rendy melangkah keluar diikuti Kirana yang ingin mengantar sampai depan.
Rendy berhenti dan berbalik. "O ya, sekali lagi terimakasih atas bantuan kamu. Tapi mungkin saya masih membutuhkan bantuan kamu lagi nanti." Ucap Rendy dengan menatap Kirana.
"Saya akan siap membantu kapan saja Pak Rendy membutuhkan bantuan dari saya." Ucap Kirana dengan tulus.
Rendy tersenyum dan mengangguk. "OK, kalau gitu saya pamit dulu. Selamat malam dan sampai jumpa." Ucap Rendy.
"Malam Pak. Hati-hati dijalan." Balas Kirana dengan tersenyum dan Rendy berbalik lalu segera pergi meninggalkan rumah Kirana.
Kirana masih senyum-senyum sendiri terlihat begitu senang. Ia berbalik dan masuk sambil menutup pintunya.
Diseberang sana tampak Haris sedang berdiri bersandar pada dinding depan rumahnya memperhatikan Kirana. dengan perasaan campur aduk.
Apa itu pacar Kirana? Dia kelihatannya seneng banget tadi.
Gumam Haris bertanya-tanya dalam hati merasa cemburu melihat Rendy keluar dari rumah Kirana dengan Kirana yang terus tersenyum berseri-seri terlihat begitu senang.
Haris menghela nafasnya panjang lalu beranjak masuk kedalam rumahnya.
...
Keesokan harinya.
Kirana sudah rapi dengan celana panjang hitam dan kemeja biru mudanya. Ia keluar dari rumah tak lupa menutup dan mengunci pintu rumahnya.
Seperti biasa, diseberang ada Haris yang sedang memanasi motor maticnya. "Pagi Kirana!" Seru Haris dengan senyum ramahnya pada Kirana.
"Pagi Kak." Balas Kirana juga dengan tersenyum.
"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Haris dan Kirana berjalan menghampiri Haris.
"Kirana!" Seru seseorang memanggil Kirana dan berjalan kearahnya.
Haris yang sudah menaiki motor maticnya menunggu Kirana ikut menoleh menatap kearah orang tersebut dengan perasaan gelisah.
"Pak..Pak Rendy?" Ucap Kirana dengan melebarkan kedua bola matanya merasa terkejut.
"Pagi Kirana. Sudah mau berangkat?" Tanya Rendy setelah berdiri didepan Kirana.
"I..iya." Jawab Kirana masih menatap Rendy dengan wajah terkejut. "Emm..Pak Rendy ngapain kesini?" Lanjutnya bertanya dengan bingung.
Rendy tersenyum. "Jemput kamu." Jawab Rendy seketika membuat Kirana kembali terbelalak karena terkejut dan tidak percaya.
"Hah? A..apa?!" Pekiknya.
Haris yang mendengarnya, ia turun dari motor maticnya dan menghampiri Kirana.
"Ehem. Maaf mengganggu." Ucap Haris dengan memaksakan senyumnya.
Rendy menoleh dan menatap Haris. Sedangkan Kirana masih merasa terkejut dan bingung.
"Perkenalkan, saya Haris." Ucap Haris dengan ramah dan sopan berinisiatif memperkenalkan dirinya sendiri pada Rendy sambil mengulurkan tangannya.
"Oh. Salam kenal. Saya Rendy." Balas Rendy juga dengan ramah menjabat tangan Haris sekikas dan melepaskannya kembali.
"Pak Rendy ini atasan aku Kak." Sahut Kirana dengan tersenyum kaku.
"Oh." Haris hanya tersenyum dan mengangguk saja menanggapi ucapan Kirana. Namun dalam hati, ia merasa gelisah dan cemburu.
Ternyata dia atasan Kirana. Tapi nggak mungkin kalau mereka nggak ada apa-apa.
Batin Haris yang terus menebak-nebak hubungan antara Kirana dengan Rendy sebagai atasannya. Karena nggak mungkin kalau tidak ada sesuatu diantara mereka dengan Rendy yang semalam mendatangi Kirana dan pagi ini datang lagi untuk menjemput Kirana.
"Kirana, ayo kita berangkat. Keburu macet." Ajak Haris setelah melepaskan jabatan tangannya pada Rendy.
Kirana yang masih merasa bingung, ia terdiam menatap Haris lalu beralih menatap Rendy.
Ia merasa ini seperti mimpi. Pagi-pagi, Pak Presdir tampan yang sejak awal telah dikaguminya tiba-tiba datang ingin menjemputnya setelah semalam mendatanginya dan dengan terbuka menceritakan semua masalahnya kepadanya.
Tapi ia juga merasa bimbang karena Haris sedang menunggunya untuk berangkat bersama seperti biasanya.
Kirana ingin berangkat dengan Haris, tapi ia juga merasa tidak enak kalau harus menolak Rendy sebagai atasannya ditempatnya bekerja. Lagi pula, Rendy juga sudah banyak membantunya.
"Kirana, sebenarnya ada yang mau saya bicarakan lagi sama kamu. Tapi.." Ucap Rendy yang tidak melanjutkan ucapannya dan menoleh menatap Haris sekilas.
Dalam hati, ia sangat berharap Kirana mau ikut berangkat bersamanya. Tapi disisi lain, ia juga merasa tidak enak dengan Haris.
"Kirana, sepertinya ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan dengan atasanmu ini. Kalau gitu aku berangkat duluan aja ya?" Sahut Haris dengan sangat terpaksa dan pengertian meminta Kirana untuk berangkat bersama Rendy.
"Tapi kak.."
"Udah nggak apa-apa. Lagi pula, pagi ini aku lagi buru-buru, ada meeting diluar kantor dengan bosku." Sahut Haris memotong ucapan Kirana dengan alasan kalau dirinya sedang buru-buru ada meeting.
Kirana hanya mengangguk dengan perasaan yang tidak enak.
"Ayo berangkat." Ucap Rendy mengajak Kirana dan Kirana berjalan dibelakang Rendy mengikuti langkahnya.
................