
Mereka masih menikmati pertemukan yang sudah bertahun-tahun di nantikan, tak peduli meski kini berada di bawah derasnya hujan. Yang mereka rasakan adalah kehangatan dari pelukan satu sama lain. Berulang kali mereka saling menatap satu sama lain, kala meregangkan pelukan masing-masing, untuk memastikan wajah-wajah mereka yang kini hampir tidak saling mengenali namun berulang kali pula mereka akhirnya berpelukan kembali, melepas rindu, ada rasa bahagia yang tak bisa diluapkan. Namun sesekali mereka tiba-tiba saja terbayang oleh adanya Lisa dan Exelle diantara mereka.
"Kau, sudah mulai kedinginan. Bibirmu sampai gemetaran." Ujar Lucky ketika meregangkan pelukannya pada tubuh Pelangi, dengan lembut dia menyentuh bibir Pelangi yang sudah memucat jelas terlihat di tengah cahaya terang lampu yang terpasang di depan apartemen.
Pelangi tersenyum manis menahan rasa malu akan sikap Lucky saat ini. Beruntung ini malam hari, terlebih di tengah hujan. Jadi wajahnya yang sudah berubah warna merah jambu tak nampak di depan mata Lucky, namun Lucky tahu jika gadis di hadapannya saat ini sedang tersipu malu.
"Ehm. Maafkan aku, aku... Aku telah lancang." Ujar Lucky dengan gugup dan hendak menarik tangannya agar melepas sentuhannya dari bibir Pelangi. Namun dengan cepat Pelangi menangkap lalu mengecup punggung tangan Lucky dan di tempelkannya pada pipi kanannya
Kini giliran Lucky yang tersenyum malu mendapat perlakuan demikian dari Pelangi.
"Apakah kita akan terus mandi hujan seperti ini?" Tanya Pelangi setelah beberapa saat mereka terdiam saling menggenggam tangan satu sama lain di bawah rintik hujan yang mulai mereda seketika. Seakan memahami suasana hati mereka yang terdalam.
"E,eh... Kita, apa sebaiknya kita ke dalam mobil?" Tanya Lucky memberikan ide ajakan. Meski dalam hatinya ragu, dia takut tidak bisa mengontrol debaran di dadanya saat ini.
Dengan pelan Pelangi mengangguk, menyanggupi ajakan Lucky untuk segera masuk ke dalam mobil. Lalu kemudian mereka melangkah berlarian kecil menuju mobil Lucky yang terparkir tak jauh dari hadapan mereka tadi.
"Pakailah, keringkan badanmu meski ini tidak seberapa untuk mengeringkan seluruh badanmu."
Lucky memberikan handuk kecil setelah mereka berdua kini ada di dalam mobil. Pelangi meraihnya dengan senyuman lembut, lalu mengusapkannya di bagian wajah dan lehernya dahulu. Lalu kemudian dia membuka jaket sweater tebal yang sudah basah kuyup saat di kenakannya sejak tadi. Melihat Pelangi yang kini hanya memakai baju kaos pendek sehingga memperlihatkan kulit nya yang putih mulus, serta wangi aroma tubuhnya yang masih lekat, membuat Lucky semakin berdegub kencang dan seketika memalingkan wajahnya begitu saja.
"E,eh maaf. Aku, aku jadi sedikit sembrono." Ucap Pelangi setelah menyadari gelagat Lucky.
"Ti,tidak apa-apa." Jawab Lucky dengan gugup.
Lalu Pelangi memberikan handuk itu lagi pada Lucky, setelah dia merasa sudah cukup mengeringkan beberapa di bagian tubuhnya.
"Ini, kau juga sangat basah dan bahkan mungkin sudah basah-basahan lebih lama dariku di luar tadi. Nanti kau masuk angin, kau masih basah kuyup." Ujar Pelangi sembari menyodorkan handuk tadi.
"Kalaupun aku akan jatuh sakit setelah ini, gapapa. Aku sudah menemukan dokter ku yang selama ini aku nantikan." Tiba-tiba saja Lucky menggombal demikian untuk menggoda Pelangi.
"Cih, apaan sih. Sejak kapan kau pintar menggombal dengan genit seperti ini?" Balas Pelangan dengan tawa geli. Karena gombalan yang dia dengar dari mulut Lucky barusan membuatnya tidak percaya jika sosok yang ia kenali sejak kecil selalu kaku hingga dewasa pun begitu, namun detik ini sedikit berbeda. Namun dalam hatinya yang sebenarnya, Pelangi merasa bagaikan di bawa terbang sampai di langit ke tujuh.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering sebuah nada telepon. Yang membuat Pelangi seketika berubah gusar dan menarik tawa cerianya sejak tadi, ekspresinya berubah serius dengan mengerutkan keningnya hingga menjadi beberapa kerutan.
"Siapa? Apakah itu, ehm.. Exelle?" Tanya Lucky dengan suara lirih seraya mengelap bagian wajahnya dengan handuk bekas Pelangi pakai tadi.
"Li-sa. Dia, dia... Menelpon ku terus, aku tahu dia pasti khawatir karena tadi aku langsung berlari begitu saja keluar kamar." Sahut Pelangi dengan lirih. Lucky pun tampak tercengang, dan berusaha dengan cepat untuk memutar otaknya agar menemukan alasan yang tepat untuk membantu Pelangi menjawabnya.
Panggilan di ponsel Pelangi pun kembali terhenti, Pelangi bernafas lega. Namun giliran ponsel Lucky yang berbunyi, mereka kembali menegang. Seakan-akan Lisa sedang berusaha menebak pertemuan mereka.
"Sssstttt..." Lucky memberikan isyarat yang menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya pada Pelangi agar tak bersuara. Pelangi pun mengangguk cepat tanda mengerti.
"Ha,halo... Lisa." Jawab Lucky setelah menerima panggilan telepon Lisa.
"Hai, cowok cuek. Kau sudah tidur ya? Atau kau masih diluar rumah?" Sahut Lisa di ujung sana.
"E,eh.. Aku.. I,iya. Aku sudah di kamar, dan akan segera tidur. Tapi kau, menelpon ku. Aku jadi mengurungkan niatku sebentar untuk segera tidur nyenyak." Jawab Lucky kembali dengan terbata-bata.
"Emh... Maafkan aku Lucky, sudah mengganggumu. Tapi, bisakah jangan nervous begitu saat bicara dengan ku? Hihihi, wajahmu saat ini pasti bersemu merah kaan bicara dengan ku? Hehe."
Lucky hanya terdiam dengan senyuman tipis, ia menyempatkan diri melirik ke arah Pelangi yang menatapnya dengan mata sedikit menyipit. Seakan Pelangi sudah siap menghujaninya dengan pertanyaan lagi.
"Sa. Aku tidur dulu, selamat tidur dan mimpi indah."
Klik!!!
Panggilan telepon benar-benar di matikan oleh Lucky.
"Heh, sejak kapan kau pintar berbohong begitu? Ah. Aku jadi tidak nyaman dengan sahabatku, Lisa. Aku belum pernah membohonginya seperti ini, aku merasa bersalah." Ujar Pelangi kemudian dengan menundukkan kepalanya sedih.
"Langi. Apakah kita sudah siap untuk jujur pada Lisa, terutama saudaraku Exelle. Jika mereka tahu kita berteman dekat sejak kecil, aku takut Exelle akan membenciku."
"Begitupun Lisa, membayangkannya aku takut. Dia tidak akan mempercayaiku lagi, karena dia tentu akan merasa jika aku merebut laki-laki idaman nya selama ini." Jawab Lisa dengan jelas dan padat serta cukup singkat.
Mereka terdiam sejenak di dalam mobil, saling menundukkan kepala dan berusah memutar otak mereka untuk menemukan alasan yang tepat, serta pengakuan yang mungkin akan berat di sampaikan. Di satu sisi, ini tentang kebahagiaan mereka yang kembali di pertemukan. Di sisi lain, ini tentang persaudaraan dan persahabatan. Bagaimana keduanya akan bisa saling menerima dan memahami akan kebenaran itu.