Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 317



"Apaan ini? Menyebalkan. Ternyata Lucky tidak seperti dulu yang ku kenal, saat ini dia terlihst seperti seorang laki-laki yang playboy. Apakah dia tidak menyadari sikapnya itu justru membuat Lisa semakin berharap. Atau jangan-jangan... Lucky juga telah jatuh cinta pada Lisa? Enggak, enggak. Aaakh, memangnya kenapa?"


Pelangi masih menggerutu sendiri saat sudah tiba di ruang kelas. Kebetulan hanya ada dia sendiri pagi ini. Tak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu, Pelangi terkejut menolehnya seketika.


"Oh?" Pelangi terkejut karena kini telah berdiri sosok yang sejak tadi membuatnya kesal dan berasumsi macam-macam.


Ya, Lucky. Dia tersenyum lalu menghampiri Pelangi.


"Ayo, ikut aku." Ajaknya kemudian menarik tangan Pelangi.


"Eh, mau kemana?" Pelangi tampak kebingungan seraya berdiri.


"Udah, ikut aja. Nanti kau akan tahu, ayo!" Jawab Lucky dengan terus menarik tangan Pelangi. Dengan langkah ragu Pelangi mencoba mengimbangi Lucky yang berjalan sedikit cepat karena langkah kakinya begitu panjang.


Tanpa bertanya lagi, Pelangi terus mengikutinya meski perasaannya campur aduk ketika Lucky menggenggam erat tangannya. Tak lama kemudian, Pelangi menyadari jika Lucky mengajaknya menuju ruang perpustakaan. Sehingga Pelangi menarik tangannya dari genggaman tangan Lucky.


"Kau, mengajakku kemari? Untuk apa?" Tanya Pelangi dengan ekspresi kesal menatap wajah Lucky.


"Maafkan aku, Langi. Aku ingin Lisa segera tahu jika kita sebenarnya teman masa kecil." Jawab Lucky dengan suara santun yang sangat lembut.


"Tapi, aku..."


"Lebih cepat lebih baik. Agar semuanya clear tanpa suatu kebohongan dan kita tidak sedang bermain petak umpet. Hem? Kau paham bukan maksudku?"


"Tapi, tapi setelah itu lalu apa? Kita harus bagaimana?"


Ya, ya apa lagi? Kita memang berteman bukan? Apa lagi yang di harapkan? Astaga Tuhan, apa yang ku pikirkan saat ini.


"Te-man. Ya, teman. Baiklah, kita harus menyampaikan hal ini secepatnya pada Lisa."


Lucky mengerutkan kedua alisnya hingga menjadi satu. Dia menatap Pelangi sejenak, ada yang berbeda. Lucky berusaha menangkap ekspresi itu, tapi apa? Tanya Lucky dalam hatinya.


Setelah memasuki ruang perpustakaan, Lisa sedang asyik memilih dan mencari-cari sebuah buku yang di inginkannya.


"Lisa!" Panggil Pelangi lebih dulu, Lisa menoleh nya dengan terkejut. Karena Pelangi kini di depannya bersama Lucky.


"Eh, kau menyusulku akhirnya. Dasar, tadi aja menolak keras. Huuuuuuu..." Ujarnya langsung meledeki Pelangi.


"Sa, aku... Aku mau ngomong! Ada se-suatu yang ingin aku sampaikan." Dengan gugup Pelangi menyampaikan maksudnya.


"Aduh, apaan sih my Princess cold. Kau sampai serius begitu, bicara saja. Apakah kita baru kenal? Hehe." ujar Lisa menarik tangan Pelangi tepat di depan Lucky.


"Sa, maafkan aku. Sebenarnya aku dan Pelangi sudah berteman sejak kami di taman kanak-kanak dan berada dalam sekolah yang sama." Lucky yang sejak tadi terlihat sedang mengumpulkan tenaganya akhirnya angkat bicara.


"A,apa?" tampak Lisa sangat terkejut menatap tajam wajah Lucky, lalu kemudian beralih memandangi wajah Pelangi yang kini menundukkan kepalanya.


"Kau ingat perbincangan kita di restoran malam kemarin? aku ingin mengatakannya padamu langsung. Tapi,"


"Hahaha. Woah, daebak. Ini sungguh kejutan pagi yang sangat langka." Lisa menepuk kedua tangannya dengan tawa lepas. Membuat Pelangi dan Lucky memandangnya heran, Lisa kian tertawa setelah melihat mimik wajah mereka saat ini.