
Malam harinya setelah makan malam, dan menemani Kirana menonton drama korea, Rendy membantu Kirana berbaring dikamarnya dengan menggendongnya.
Dia duduk ditepi ranjang menghadap Kirana dan menatapnya dengan tatapan yang membuat Kirana menjadi salah tingkah.
"Mas, jangan liatin aku kaya gitu dong. Ngeri aku jadinya."
Rendy menghela nafasnya panjang lalu mengalihkan tatapannya kearah lain kemudian bangkit berdiri.
"Eh, kamu udah mau pulang ya Mas?" Tanya Kirana merasa tidak rela.
Tapi tanggapan Rendy malah membuat Kirana menjadi begitu kesal.
"Kenapa? Kamu pengen aku pulang? Udah nggak sabar mau ketemuan sama Harismu itu dan cerita semuanya ke dia?"
"Kamu tuh ya, suka banget nuduh yang nggak-nggak! Terserah kamu mau pulang atau enggak! Aku mau tidur! Males ribut mulu sama kamu!" Ucap Kirana sedikit keras dan emosi kemudian menarik selimut dan membaringkan tubuhnya memunggungi Rendy.
Rendy juga tidak mau kalau harus ribut lagi dengan Kirana. Apalagi kondisi Kirana sedang kurang baik saat ini. Dia membungkuk mengusap kepala Kirana lalu mengecupnya. "Good night. Kalau pengen sesuatu, panggil aku. Aku duduk disofa depan." Ucap Rendy sedikit berbisik ditelinga Kirana kemudian menegakkan tubuh tingginya, berbalik dan berjalan keluar dari kamar Kirana.
Kirana mengulum bibirnya dan seketika hatinya luluh diperlakukan begitu manis oleh Rendy. Dia tersenyum lalu memejamkan matanya untuk tidur.
Saat Rendy hendak duduk di sofa ruang tamu rumah Kirana, ada yang mengetuk pintu.
Rendy mengernyitkan karena sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Siapa yang mengetuk pintu malam-malam gini? Tanya Rendy dalam hati kemudian melangkah kearah pintu dan membukanya.
"Selamat malam. Saya ketua RT dikampung ini. Maaf kalau kedatangan saya dan juga beberapa warga sudah mengganggu." Ucap Pak RT dengan ramah.
"Ada perlu apa ya?" Tanya Rendy.
"Boleh kami masuk? Kita bicara didalam saja. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan kepada Anda juga mbak Kirana." Ucap Pak RT belum menjawab pertanyaan Rendy.
Ternyata Pak RT datang bersama beberapa warga yang tinggal disekitar sini.
Eh tunggu! Kenapa Pak RT datang bersama warga ingin bicara dengannya juga Kirana? Rendy merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya. Tapi dia tetap dengan ramah dan sopan mempersilahkan Pak RT bersama tiga orang warga masuk lalu duduk didalam. Salah satunya adalah Pak Doni-ayah Haris.
Sedangkan beberapa warga yang lain menunggu diluar dan sepertinya makin ramai suasana diluar. Membuat Rendy semakin cemas dan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lihat! Bahkan dia tidak merasa sungkan masuk kedalam kamar perempuan seolah sudah menikah saja." Bisik laki-laki paruh baya yang merupakan keamanan dikampung ini kepada temannya yang duduk disampingnya.
"Iya. Nggak tau malu." Ucap temannya.
"Bapak-bapak ini, tolong jangan berprasangka buruk dulu." Ucap Pak Doni dengan pelan.
Meski mereka bicara dengan berbisik, Rendy masih bisa mendengarnya. Dia tetap bersikap tenang, seolah tidak mendengar apa-apa dan tetap masuk kedalam kamar Kirana memanggilnya untuk menemui mereka.
"Ki, kamu udah tidur?"
"Hem? Belum. Kenapa Mas? Aku seperti denger ada yang ketuk pintu. Apa Pak Beni datang?" Jawab Kirana dengan bertanya karena sudah larut malam jadi Kirana menebak kalau mungkin saja Beni yang datang.
"Bukan. Tapi Pak RT dan warga yang datang. Mereka mau bicara sama kita. Katanya penting." Jawab Rendy masih dengan tenang.
"Hah? Pak RT dan warga? Mau..bicara sama kita? Bicara apa Mas?" Tanya Kirana sambil bangun duduk dengan wajah terkejut dan panik. Dia juga sama seperti Rendy. Langsung merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya.
Rendy hanya mengedikkan bahunya memberi isyarat kalau dirinya tidak tau.
Rendy menghela nafasnya lagi. "Udah ayo, jangan buat mereka nunggu lama atau mereka makin berpikiran buruk tentang kita." Ucap Rendy sambil menarik tangan Kirana membantunya berdiri.
Kirana masih belum bisa berjalan dan kaki kanannya juga masih belum bs menopang beban tubuhnya. Rendy merangkul sambil menahan tubuh Kirana dan memapahnya. Mereka keluar dari kamar.
"Kirana, kakimu kenapa?" Tanya Pak Doni suami bunda Siti yang tadi ikut duduk didalam. Dia langsung berdiri dan menghampiri Kirana ketika melihat Kirana dipapah keluar kamar oleh Rendy.
"Om Doni? Eum..aku cuma keseleo aja kok Om." Kirana tersenyum canggung.
"Ayo, Om bantu." Doni pun meraih sebelah tangan Kirana dan membantunya melangkah menuju sofa untuk duduk.
Kirana dan Rendy duduk berdampingan.
"Eum..maaf, Pak RT dan juga bapak-bapak..ada apa ya datang kemari rame-rame begini? Oh maaf, saya akan buatkan minum dulu untuk bapak-bapak semua ya?" Kirana kembali berdiri sambil memegang lengan Rendy tapi Rendy menahannya untuk kembali duduk.
"Tidak perlu mbak Kirana. Duduk saja." Ucap Pak RT dengan senyum ramah dan Kirana kembali duduk.
"Begini. Sebelumnya saya minta maaf karena datang malam-malam bersama beberapa warga selaku keamanan dikampung kita ini. Saya mendapat laporan kalau Masnya ini membuat para warga merasa tidak nyaman karena sering datang kemari dan pulang larut malam juga pernah pulang pagi-pagi sekali." Ucap Pak RT menjelaskan maksud kedatangannya bersama beberapa warga setempat.
Rendy mengernyitkan keningnya merasa heran. "Maaf Pak. Saya datang kemari untuk menemui Kirana lalu kenapa warga yang merasa tidak nyaman? Lagi pula saya dan Kirana tidak pernah melakukan hal-hal yang mungkin ada dalam pikiran bapak-bapak sekalian." Ucap Rendy terlihat tenang tapi hatinya merasa tidak terima.
"Em, begini Mas, maaf dengan Mas siapa?" Tanya Pak RT.
"Rendy." Jawab singkat Rendy dengan cepat dan wajah datar.
"Baik, Mas Rendy. Dikampung ini ada peraturan saat bertamu. Mungkin Mas Rendy belum tau dan mungkin mbak Kirana juga belum tau karena belum lama kembali ke kampung ini." Ucap Pak RT yang selalu ramah.
"Udah lah Pak, mending nikahkan aja mereka! Daripada berbuat zina dikampung kita ini!" Seru salah satu warga yang berdiri diluar didepan pintu.
"Iya Pak! Bikin nama kampung kita ini jadi buruk aja!" Sambung warga lainnya.
Kirana terlihat terkejut dan menatap kearah pintu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau warga disini benar-benar berpikiran buruk tantang dirinya. "Maaf ya Pak! Tolong jaga ucapannya!"
Rendy meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. Dia juga menahan segala emosinya karena dituduh berbuat yang tidak-tidak dengan Kirana. Dia hanya tidak terima kalau sampai Kirana dipermalukan seperti ini. Bagaimanapun dia juga bersalah karena selalu mengkhawatirkan kekasihnya ini dan memaksa datang hanya ingin melihat dan menemaninya saja. Tapi ternyata, banyak CCTV berjalan dikampung ini yang selalu mengawasinya tanpa sepengetahuannya.
"Iya benar! Nikahkan saja mereka! Biar nggak lagi bikin resah kampung kita ini!" Seru warga lainnya.
"Tenang bapak-bapak!" Seru Pak RT untuk menenangkan warganya. "Mas Rendy, mungkin mereka tidak bermaksud menuduh atau berpikiran buruk tentang kalian berdua. Tapi, ini dikampung. Jadi, tolong hargai peraturan yang sudah ditetapkan di kampung ini juga tolong hargai warga disini. Kami juga akan secara tegas memberi sangsi siapapun warga kami yang menerima tamu yang bukan muhrim untuk dinikahkan agar kampung ini terhindar dari perbuatan zina. Saya ......
"Maaf Pak! Saya juga akan tegaskan sekali lagi kalau saya dan Kirana tidak pernah berbuat zina seperti yang kalian semua tuduhkan!" Ucap Rendy dengan sedikit keras menyela ucapan Pak RT karena dia sudah tidak bisa manahan emosinya lagi.
"Sebentar Mas, saya belum selesai ....."
"Tidak bisa! Saya merasa kalau Anda dan semua warga disini sudah merendahkan kami dan menuduh kami melakukan hal-hal diluar batas! Saya tidak terima!" Rendy kambali menyela ucapan Pak RT sambil berdiri.
"Mas..." Kirana meraih tangan dan menggenggam tangan Rendy agar Rendy bisa tenang menghadapi semua ini. Meski dirinya juga sangat tidak terima dengan tuduhan yang membuatnya merasa dipermalukan seperti ini. Sungguh, hati Kirana bagai diserang oleh ribuan pedang saat ini.
"Tenang Mas! Tenang dulu!" Pak Doni juga langsung berdiri berusaha menenangkan Rendy.
................