Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 141



10 menit sebelum jam pulang sekolah Pelangi, aku sudah menunggunya di gerbang sekolah. Ah, ternyata waktu berjalan begitu cepat dari yang ku kira. Kini aku sudah berdiri di pintu gerbang sekolah sebagai ibu dan wali murid dari anak ku.


"Mamaaa..." Teriak Pelangi,


Aku mengelurkan tangan, membukanya lebar-lebar bak membuka sebuah pintu dan mendekap Pelangi dalam pelukan.


"Bagaimana di kelas hari ini? Kau senang nak?"


"Senang sekali Ma, bu guru sangat baik pada kami. Pelangi juga banyak punya teman, tapi... Ehm..."


Celotehnya terhenti, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa Nak?"


"Pelangi lupa nama-nama mereka," Jawabnya dengan menggaruk-garuk rambut di kepalanya.


"Astaga, hihihi... Tak apa, nanti pelan-pelan pasti akan mengingatnya. Ayo kita pulang, bibi sudah menyiapkan jus strawberry kesukaan mu."


"Yeay... Ayo Ma," Jawab Pelangi dengan girang menari-nari.


"Pelangi.." Panggil seorang anak laki-laki seusianya melambaikan tangan dengan senyuman manisnya, sembari di gandeng oleh seorang wanita yang jelas terlihat jika itu pengasuhnya.


"Eh," Pelangi tampak kebingungan menanggapinya, kemudian tersenyum tipis. Sementara anak itu memasang ekspresi cool dan kemudian memasuki sebuah mobil mewah.


"Dia teman mu?" Tanya ku.


"Iya Ma, tapi Pelangi lupa namanya. Pelangi cuma ingat dia suka senyum sama Pelangi." Jawab nya dengan lugu menatapku. Aku tersenyum geli saat dia menjawab demikian, cerita baru di usianya akan dimulai. Sementara aku belum siap, aku selalu ingin merasa dan menganggap nya masih bayi.


Selama dalam perjalanan pulang, dia tertidur begitu lelap di kursi mobil sebelahku. Sesekali aku meliriknya sembari fokus menyetir, dia terlihat begitu lelah. Setelah sejak tadi banyak hal yang dia ceritakan tentang pengalaman pertamanya masuk sekolah.


Memasuki halaman rumah, perlahan aku membuka pintu mobil. Dengan setengah berlari hendak membuka pintu mobil sebelahnya lagi, dimana Pelangi masih tertidur lelap. Aku menggendongnya hingga sampai di ruang tamu. Mata Pelangi terbuka dengan sayup melihat sekeliling rumah.


"Eh, sudah sampai?" Ucapnya gelagapan.


"Hemm.. Apakah nyenyak tidur mu?" Tanya ku sembari menyibak poni rambutnya.


"Maaf ma, Pelangi ketiduran dan meninggalkan mama sendirian menyetir mobil."


"Eh, kenapa minta maaf nak? Tak apa, ayo ganti baju dulu lalu minum jus nya ya."


"Ok ma, siap." Kemudian Pelangi berlari menaiki tangga dengan menggendong tas bercorak Disney di bahu nya.


"Pelan-pelan Nak, jangan berlari. Nanti jatuh," Teriakku sembari mengeluhkan nafas panjang.


"Dia langsung bersemangat setelah mendengar jus strawberry." Ucap ku sendiri.


🌻🌻🌻


Sore pun tiba. Aku duduk santai dengan beberapa tabloid fashion di tangan, lembaran demi lembaran aku membukanya. Dan menandainya, berbagai macam style serta setelan yang ingin ku beli nantinya.


Sedangkan di Pelangi sedang asyik bermain di temani bibi asisten dekat kolam. Tiba-tiba sebuah kotak kado muncul menghalangi pandangan dekat dengan kedua mataku. Aku sungguh terkejut bukan main kali ini, karena aku begitu fokus dengan berbagai macam style dan sepatu juga tas lucu.


"Sayang, kau membuatku terkejut." Ucapku dengan nada lantang setelah menoleh ke arah belakang dengan cepat Irgy mengecup pipi kiriku.


"Hehe, maafkan aku sayang. Kau begitu serius memerhatikan tabloid mu. Aku cemburu,"


"Ih, apaan sih. Mulai deh gombalnya, lagipula ini tabloid khusus wanita tahu." Jawab ku kesal menoleh kembali ke lembaran tabloid di tangan ku.


"Apa bedanya, setelah ini tentu istriku ini akan semakin cantik dan banyak mata lelaki lain menatapnya. Ugh," Ucap Irgy dengan menarik kembali kotak kado tadi.


"Aah, sayang.. Itu tadi apa? Kemarikan." Ucapku manja merangkul lengannya.


"Bukan apa-apa," Jawabnya membuang muka.


Cup !!!


Aku mengecup singkat pipi Irgy hingga membuatnya tersipu malu.


"Hemm.. kalau saja sejak tadi kau memperlakukan ku begini aku akan langsung memberinya pada mu."


"Cih, dasar. Apa ini?" Jawab ku meledeknya setelah dia memberikan kotak kado.


"Buka saja."


Aku segera membukanya, tak sabar rasanya tanpa banyak kata lagi padanya yang terus menggodaku.


"Kyaaaaa... Lucu sekali, aaaah sayang... Ada apa ini? Kenapa kau memberinya padaku tiba-tiba?"


"Ini produk terbaru, di design langsung oleh salah satu bawahan ku. Kau menyukainya?" Ucap Irgy dengan tersenyum manis padaku.


"Aku sangat menyukainya sayang, kalung ini cantik. Dan pasti.. Ini sangat mahal bukan?"


"Huhft... Kenapa kau selalu memikirkan berapa besar biaya yang ku berikan padamu."


"Aku hanya..."


"Sudah lah, sini aku pakaikan." Ucapnya sembari memeluk ku dari belakang dan mengaitkan sebuah kalung yang menjuntai dengan liontin bertabur berlian.


"Wah... Sudah ku duga, ini sangat pas dan indah di lehermu. Kau semakin terlihat menakjubkan sebagai Nyonya Irgy," Ucap Irgy kembali memuji.


"Aaah, terimakasih sayang ku. Kau selalu membuatku bahagia selama ini,"


Dugh !!!


Sebuah bola plastik terlempar tepat mengenai bahu Irgy. Kami yang sedang asyik saling menggoda kasih, terkejut seketika. Menoleh ke arah darimana datangnya arah bola tadi.


"Upz, pa-pa. Iam sorry," Ucap Pelangi dengan wajah memelas.


"Gadis kecil papa, hmm... kemari," Ujar Irgy sembari berdehem mengulurkan tangannya untuk memeluk Pelangi.


Pelangi tersenyum ceria dengan segala gelak tawanya ketika Irgy memeluk dan menggelitiki bagian perurnya.


"Uh, bau asam. Anak cantik kenapa belum mandi, jam berapa ini? Ayo berhenti main, lalu mandi. Hari sudah petang, sebentar lagi jam makan malam."


"Uugh, Pelangi masih ingin bermain bola sama bibi."


"Pelangi, mama bilang apa?


"Waktu bermain tidak boleh sampai petang."


"Bagus !!! Come on, mandi bareng bibi. Mama akan menyiapkan makan malam," Ujar ku tegas.


"Ayo mandi dulu, nanti papa temani bermain lagi." Bisik Irgy secara sengaja di depan ku. Aku melototinya, Irgy dan Pelangi cekikikan mengabaikan ku.


"Ayo non, kita mandi dan bermain dengan bebek-bebek kecil." Ajak bibi asisten.


"Houph, mandi yang bersih jangan lama-lama bermainnya ya nanti masuk angin." Ucap Irgy sembari menurunkan Pelangi dari gendongannya.


"Ok pa," Jawab Pelangi sembari berlarian memasuki rumah. Di susul oleh bibi asisten kemudian, aku masih meliriknya dengan kesal.


"Apa lagi sayang?" Tanya Irgy.


" Kau selalu memanjakan Pelangi,"


"Aaah, ayolah. Dia masih anak-anak, dunianya masih gemar bermain. Jangan terlalu mengaturnya dulu,"


"Sayang, justru karena dia masih anak-anak. Jadi harus terdidik dengan benar sejak dini, hem.."


"Ya ya ya, baiklah nyonya besar. Aku mengerti, aku menurut saja. Tapi ku harap jangan terlalu keras dan tegas mendidiknya, kita harus penuh kelembutan dan kesabaran. Agar kelak puteri kita menjadi sosok yang anggun, sepertimu."


"Cih, kau menggodaku terus sejak tadi. Apa kau membuat kesalahan hari ini?"


"Tidak, kapan aku berani berbuat salah pada nyonya yang satu ini? Aku hanya meminta sesuatu padamu."


"Sesuatu? Apa itu?"


"Malam ini, aku ingin malam ini."


Dia berbisik dengan hembusan nafasnya yang sengaja di mainkan di telinga ku ketika kami melangkah bersama memasuki ruangan kembali. Seketika sekujur tubuhku bagai tersengat aliran listrik berkekuatan daya tinggi.


"Ih, sayang. Kau... Sudah lah, kau mandi saja dulu. Aku akan menyiapkan makan malam," Jawab ku mendorong tubuhnya pelan dan mencoba mempercepat langkah ku. Namun Irgy berhasil menarik lenganku, dia menatapku dengan wajah memelas.


"Apa, apa hah? Jangan mencoba merayuku dengan wajah lugu mu itu." Aku masih barusaha mengalihkan.


"Sayang... Jangan memaksaku berbuat hal konyol lagi," Jawab nya merengek manja padaku.


"Aakh, baik lah baik lah. Kau memang jago dalam hal ini, sudah mandi sana." Jawab ku dengan wajah yang mungkin kini sudah memerah bagai kepiting rebus.


"Uh huy.. Aku akan pergi mandi, bersiaplah untuk pertarungan malam nanti sayang. Aku akan menjadikan malam ini lebih indah dari sebelumnya yang pernah kau rasakan." Ucapnya sembari memeluk gemas dan mengecup keningku dengan hangat.


Aku pun merasa ikut gemas akan sikapnya itu, selalu saja aku yang dengan sengaja mengerjainya lebih dulu dalam hal ini. Hanya untuk melihat tingkahnya yang kadang konyol dan kekanakan.


Irgy, sampai detik ini kau masih selalu membuatku merasa bagai jatuh hati untuk yang pertama kali...