Because, I Love You

Because, I Love You
#73



Saat duduk disofa didalam ruangan Presdir tampan yang baru saja menyatakan ke publik kalau dirinya adalah calon istri dia, ponsel Kirana berdering.


Dia merogoh dan mengambil ponsel dari tasnya.


"Ya ampun!" Pekiknya terlihat sangat terkejut membuat Rendy yang sedang fokus dengan pekerjaannya harus menoleh kearahnya.


"Ada apa?" Tanya Rendy.


"Aku lupa kalo Rossa dan Yola sore ini mau dateng kerumah!" Jawab Kirana dengan panik.


"Nggak usah panik gitu napa sih? Santai aja." Ucap Rendy lalu kembali fokus dengan laptopnya.


"Gimana aku bisa santai? Kalo mereka tau gimana?" Pekik Kirana dengan cemas. "Aku mau palang ya Mas? Mereka kan taunya aku lagi sakit, makanya mereka dateng kerumah mau nengokin aku." Lanjutnya sambil bengkit berdiri tanpa mengangkat panggilan telepon dari Rossa.


"Tapi, aku harus ganti baju dulu. Tadi baju aku dimobil kamu." Imbuhnya terlihat seperti orang bingung karena panik.


"Biar aku minta Beni ambilin baju kamu." Sahut Rendy kemudian menghubungi Beni dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


Tak lama Beni datang dan menyerahkan paperbag kepada Kirana yang berisi pakaian miliknya.


"Makasih ya Pak Beni." Ucap Kirana.


"Sama-sama mbak." Jawab Beni kemudian menghampiri Rendy dan duduk dikursi depan meja Rendy.


Kirana segera beranjak pergi keluar tapi dihentikan oleh Rendy. "Mau kemana?"


"Mau ke toilet ganti baju, terus aku sekalian pulang." Jawab Kirana dengan tidak sabar.


"Kamu bisa ganti disana. Nanti biar Beni yang nganter kamu pulang." Ucap Rendy sambil menunjuk kearah pintu diujung ruangannya.


Kirana hanya mengangguk dan segera menuju pintu yang ditunjuk Rendy, lalu masuk.


Dia terdiam dan terpaku begitu masuk. Kirana pikir ini kamar mandi yang ada didalam ruangan Rendy, ternyata sebuah kamar yang cukup luas dan terlihat mewah seperti kamar hotel berbintang.


"Oh ya ampun. Aku kira kamar mandi. Ternyata kamar dia. Gila! Ruangan Pak Presdir bener-bener luar biasa. Bahkan ada kamar sebagus ini." Gumam Kirana dengan menatap takjub kamar milik Pak Presdir tampannya ini.


Kirana segera menyadarkan dirinya kembali, kemudian dengan cepat berganti pakaian. Dia melihat ada pintu lagi disudut kamar. "Mungkin itu kamar mandi kali ya?" Ucapnya dan melangkah cepat menuju kamar mandi.


Kamar mandi tidak begitu besar. Ada kloset, shower, wastafel dan kaca juga rak dan lemari berisi perlengkapan mandi.


Kirana menyisir rambutnya dan menguncirnya seperti biasanya kemudian membasuh wajahnya untuk menghilangkan make-up yang telah membuat wajahnya terlihat berkali lipat cantik sampai orang-orang yang sudah mengenal wajahnya menjadi tidak mengenalinya.


Selesai mengembalikan penampilannya seperti semula, Kirana segera keluar dengan buru-buru.


'Bruk!'


"Aawh!"


Pekik Kirana saat keluar dari kamar mandi dengan buru-buru tidak hati-hati dan tersandung keset lalu jatuh.


"Aduuuh, ini keset ngapain ada disini sih?!" Gerutunya sambil menunjukkan wajah ingin menangis karena merasakan pergelangan kakinya sakit.


Dia pun berdiri dengan pelan sambil berpegangan pada tembok. Kirana masih bisa berjalan meski jalannya pincang karena kaki kirinya sepertinya terkilir.


Rendy dan Beni yang sedang membicarakan sesuatu langsung menoleh kearah Kirana yang baru saja keluar.


"Kamu kenapa?" Tanya Rendy sambil beranjak menghampiri Kirana.


"Kepleset." Jawab Kirana singkat sambil mengerucutkan bibirnya.


Rendy terkekeh pelan dan merangkul Kirana. "Hobi kok jatoh sih kamu." Ucap Rendy dan membantu Kirana berjalan.


Kirana hanya mendengus kesal dan menangkis tangan Rendy. "Aku masih bisa jalan sendiri."


"Eh nggak usah. Sebaiknya aku sendiri aja. Aku nggak mau Rossa dan Yola liat kamu nganter aku!" Tolak Kirana dengan cemas.


Rendy menghela nafasnya lalu mengangguk pelan. Sedikit merasa kecewa karena lagi-lagi Kirana menolaknya. Tapi, dengan sikap Kirana yang seperti ini kepadanya, malah membuat Rendy merasa semakin yakin untuk menjadikan hubungan mereka berdua menjadi serius untuk kedepannya.


Kirana sangat berbeda dengan perempuan-perampuan yang pernah dia kenal. Entah mengapa, Rendy juga masih bingung untuk mengutarakan perasaannya terhadap Kirana.


Yang pasti, hatinya kini perlahan mulai terukir nama Kirana dan menghapus nama Olivia.


"Ben, kamu anter dia." Ucap Rendy sambil mengambil ponselnya disaku jasnya karena ponselnya berdering.


"Oke Bos. Mari mbak!"


Kirana mengangguk lalu berjalan kepintu dengan pelan dan pincang karena kaki kirinya sakit.


"Ya Len? Ada apa?"


Kirana semakin memperlambat langkahnya saat mendengar Rendy yang sedang menerima telepon dari seseorang yang dia duga adalah Lena.


Beni yang berada dibelakang Kirana menepuk pelan pundaknya. "Perlu aku bawakan kursi roda mbak?" Tanya Beni sengaja ingin mengalihkan perhatian Kirana karena Beni tau kalau Rendy sedang menerima telepon dari Lena dan Kirana mendengarnya.


"He, nggak usah Pak Ben. Apaan sih? Aku masih bisa jalan kok." Jawab Kirana dengan terkekeh tapi hatinya merasa gelisah seketika.


"Oke, aku kesana sekarang." Ucap Rendy lalu menutup teleponnya dan mengangkat wajahnya masih melihat Kirana dan Beni berdiri didekat pintu menatapnya.


"Kalian masih belum pergi?"


"Ini udah mau pergi." Jawab Kirana dengan ketus kemudian berbalik memaksakan kakinya untuk berjalan cepat keluar dari ruangan Rendy.


Rendy hanya menatap bingung pada Kirana. "Kenapa dia?" Tanya Rendy pada Beni dan Beni hanya menaikkan pundakknya lalu berbalik dan mengejar Kirana.


"Dasar aneh." Gumamnya kemudian mengambil kunci mobilnya dan beranjak pergi.


Beni dan Kirana sudah lebih dulu sampai kebawah dan menuju basement parkiran mobil.


"Kalau kamu penasaran calon suamimu pergi kemana, aku bisa bantu kamu ngikutin dia secara diam-diam." Ucap Beni setelah mereka masuk kedalam mobil sambil melirik Kirana dari kaca spion.


"Iiiih apaan sih Pak Beni?! Dia mau kemana, mau ngapain sama siapa itu urusan dia! Lagi pula hubungan aku sama mas Rendy kan cuma sandiwara aja." Ucap Kirana dengan kesal tapi hatinya berkata lain. Dia memang sangat penasaran dan ingin sekali diam-diam membuntuti Rendy.


Tapi mengingat hubungan mereka yang hanya sandiwara saja, sepertinya ini bukanlah urusannya.


Beni hanya tersenyum tipis dan melajukan mobilnya. Begitu mobilnya berjalan, Rendy terlihat sedang berjalan masuk kedalam mobil sportnya. Beni melirik dari spion.


"Pak Ben, aku turun didepan sana aja deh. Biar aku naik ojek atau taksi. Aku nggak mau ada yang liat aku dianter pake mobil mewah." Pinta Kirana dan Beni hanya mengangguk tanpa bersuara karena dia masih fokus memperhatikan mobil Rendy dari kaca spion.


Ponsel Kirana kembali berdering dan Kirana segera menjawab telepon dari Rossa.


"Ya Ros, ma...


"Ki! Kamu tuh dimana sih? Aku sama Yola udah karatan nungguin kamu dari tadi! Kamu kenapa nggak angkat telepon aku?!"


Kirana menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan Rossa yang sepertinya sangat marah kepadanya.


"Ros, maaf banget. Aku..aku lagi diapotek beli obat. Jalan juga macet aku, baru sampai apotek ini. Kamu sama Yola pulang aja deh. Besok aku udah masuk kerja kok. Kita ketemu dikantor aja ya?" Jawab Kirana dengan pelan berusaha tenang karena dia sedang berbohong. Dia merasa saat ini tidak ingin bertemu dengan teman-teman baiknya ini dulu.


"What?! Kamu ini..! Kamu nggak usah bohong deh Ki. Kamu cepetan pulang atau aku susul kamu aja?" Seru Rossa dari seberang telepon terdengar tidak sabar.


Kirana menggigit bibirnya merasakan perasaan yang aneh.


Jangan-jangan, Rossa dan Yola tau!


................