Because, I Love You

Because, I Love You
#92



Setelah masuk, Kirana menutup pintunya dan melihat Rendy berdiri menatapnya. "Eum..Pak Rendy, ada apa meminta saya kesini?" Tanyanya dengan formal karena menghormati Rendy sebagai pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.


"Duduk dulu."


Rendy mempersilahkan Kirana duduk disofa kemudian dia duduk disampingnya dan tiba-tiba, tubuh kekarnya menyender dipundak Kirana.


"Eeeh Pak!" Pekik Kirana yang langsung menahan tubuhnya agar tidak terdorong menahan tubuh berotot Rendy yang sedang bersandar dipundaknya. "Pak Rendy sakit?" Lanjutnya bertanya sambil mengangkat sebelah tangannya untuk ditempelkan di kening Rendy. "Nggak demam. Aduh Pak! Berat nih!" Kirana mengguncang-guncang pundaknya agar Rendy segera bangun.


"Kamu ini nggak bisa diajak romantis!" Gerutu Rendy sambil mendengus dan menegakkan posisi duduknya lalu menyandarkan punggungnya kebelakang.


"Idih! Lagian ngapain nyender-nyender sih? Bukannya kebalik ya? Masa cowoknya yang nyender?" Gerutu Kirana sambil mendengus.


"Ya udah sini kamu yang nyender!" Rendy menarik kepala Kirana hingga kepalanya membentur dada bidangnya.


"Aduh Pak! Pak Rendy sendiri juga kasar banget sih? Nggak ada romantis romantisnya!" Gerutu Kirana balik sambil mendorong dada bidang Rendy dan menegakkan posisi duduknya. "Pak Rendy ada apa manggil aku kesini?" Lanjutnya bertanya.


"Kita serius ya Ki? Aku capek selalu kepikiran tentang hubungan kita ini. Aku juga selalu mikirin kamu."


Seketika Kirana terpaku dan terdiam. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya saat ini. Eh tunggu! Rendy mikirin dia?


"Aku beneran pengen hubungan kita ini serius dan bisa sampai ke pelaminan Ki." Ucap Rendy lagi terdengar lemah tak berdaya. Mungkin dia memang sudah merasa sangat lelah memikirkan hubungannya dengan Kirana yang tidak jelas ini. Ditambah, masalah dengan Olivia yang kembali muncul diberita hingga membuat orang tuanya kecewa.


"Ki?"


"Hmm?"


"Kamu denger nggak sih?"


"Ya..denger Pak."


"Kenapa diem aja?"


"Ya karena..saya..lagi mikir."


Rendy menghela nafasnya dan menyerongkan duduknya untuk menatap Kirana. "Kamu masih mikir apa lagi sih? Tinggal bilang iya apa susahnya?"


"Pak! Mungkin bagi Pak Rendy nggak susah! Tapi bagi saya, ini sangat penting untuk dipikirkan dan dipertimbangkan lagi. Saya nggak mau dikecewakan lagi dan sakit hati. Lagi pula, Pak Rendy juga nggak cinta kan sama saya?"


Dikalimat terakhir, suara Kirana terdengar sedikit bergetar dan wajahnya berubah menjadi sedih.


Rendy masih menatap lekat Kirana. "Siapa bilang aku nggak cinta sama kamu Ki?"


Bukan pertanyaan melainkan pernyataan. "Aku cinta sama kamu."


'Deg!'


Jantung Kirana berasa berhenti sejenak. Kemudian berdegup dengan sangat cepat bahkan sampai ingin melompat keluar dari sarangnya.


Rendy mencintainya? Jadi, cinta Kirana tidak bertepuk sebelah tangan?


Kirana terdiam dan masih menatap tak percaya pada Rendy.


"Kenapa? Kamu nggak percaya kalo aku beneran cinta sama kamu?"


"Aku..aku.."


"Aku apa?"


"Aku..masih belum bisa percaya. Maaf." Ucap Kirana dengan wajah yang menunduk tidak berani menatap Rendy.


Rendy meraih tangannya lalu dia genggam. "Lihat aku Ki." Ucapnya lembut sambil meraih dagu Kirana untuk menatapnya. "Mungkin dimata kamu, aku ini laki-laki berengsek. Tapi kamu harus percaya kalo aku udah jatuh cinta sama kamu. Aku beneran cinta sama kamu dan mau serius dengan hubungan kita ini."


"Apa yang buat kamu jatuh cinta sama aku dan pengen hubungan kita ini serius? Sedangkan banyak banget perempuan yang jauh lebih cantik dan menarik yang tergila-gila sama kamu Mas? Dan aku ini cuma gadis kampung yang kampungan. Aku nggak pantes buat kamu."


Bagaimanapun juga, Kirana selalu sadar diri. Dia tidak akan pernah lupa siapa dirinya. Darimana asalnya. Dia hanyalah gadis kampung yang sangat sederhana. Jika dibandingkan dengan teman-teman kerjanya disini, Kirana yang terlihat paling sederhana dan sangat biasa. Bisa dikatakan kalau penampilannya sangat tidak menarik.


Rendy tersenyum sinis. Dia tidak suka dengan ucapan Kirana. "Jujur Ki. Aku sangat nggak suka dengan omonganmu itu. Siapa yang bilang kalo kamu nggak pantes buat aku? Bahkan aku udah ngumumin kesemua orang kalo kamu calon istriku Ki. Siapapun kamu dan bagaimanapun kamu, kalo hatiku udah milih kamu dan jatuh cinta sama kamu, aku nggak peduli. Yang aku peduliin saat ini cuma gimana perasaan kamu ke aku, gimana kamu bisa bener-bener nerima aku dan percaya sama aku Ki."


Kirana terdiam dan matanya memanas. Dia sangat terharu dan sangat senang mendengar apa yang barusan di ucapan Rendy. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Rendy juga mencintainya.


Rendy melihat mata Kirana berkaca-kaca ingin menangis. Dia segera menariknya masuk kedalam dekapannya. "Cengeng. Bukannya jawab malah nangis." Gerutunya sambil memeluk Kirana yang seketika langsung meneteskan air matanya.


Kirana memukul dada bidang Rendy cukup keras. "Kamu emang nyebelin!"


"Iiih Mas! Apaan sih? Nggak usah lebay deh!" Kirana memukul dada bidang Rendy lagi kemudian tersenyum. "Aku percaya kok."


"Terus?" Tanya Rendy yang masih butuh kepastian dari Kirana.


"Terus apanya?" Tanya balik Kirana dengan polos.


"Astaga Kirana!" Geram Rendy.


"Iya iya. Aku mau." Jawab Kirana dengan malu-malu.


"Mau apa?" Goda Rendy dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tuh kan? Tauk ah!" Kirana mengerucutkan bibirnya membuatnya terlihat semakin menggemaskan dimata Rendy.


'Cup'


Satu kecupan dari Rendy mendarat dibibir Kirana yang manyun.


Seketika Kirana menoleh dan melotot pada Rendy. "Pak Rendy! Ini masih dikantor! Jangan macem-macem deh!" Geram Kirana yang benar-benar memarahi Rendy.


Rendy malah terkekeh geli melihatnya. "Udah sini peluk dulu. Jangan marah-marah ntar keriput."


"Iiih nggak mau! Lepasin!" Kirana memberontak tapi setelahnya dia tertawa pelan dan menerima pelukan dari Rendy.


"Makasih ya." Ucap Rendy sambil memeluk Kirana.


Kirana mendongak dan menatap wajah tampan pacarnya ini. "Makasih buat apa?"


"Udah mau serius dengan hubungan kita ini." Jawab Rendy sambil menunduk menatap Kirana lalu mengecup keningnya membuat Kirana sedikit terkejut dengan sikap Rendy.


Mungkin karena Kirana belum terbiasa melakukan kontak fisik dengan laki-laki.


"Cubit aku Mas."


Rendy melonggarkan pelukannya dan menatap Kirana dengan bingung.


"Cepetan cubit aku!"


Rendy segera mencubit hidung Kirana dengan gemas.


"Aduh aww! Sakit Mas pelan dikit dong!" Pekik Kirana lalu mengusap hidungnya.


"Kamu kenapa sih? Kesurupan ya?" Tanya Rendy dengan ekspresi ngeri melihat Kirana.


Kirana. kemudian tertawa sendiri. "Hehe..ternyata aku nggak mimpi!" Seru Kirana dan memeluk Rendy begitu saja.


"Astaga." Gumam Rendy lalu membalas pelukan Kirana. Hatinya merasa lega dan senang.


Suara dering ponsel Rendy disaku jasnya membuat dirinya melepaskan pelukannya. "Bentar ya." Ucap Rendy dan Kirana mengangguk sambil tersenyum.


"Sebaiknya, aku balik ke ruanganku aja deh Mas. Aku masih banyak kerjaan." Ucap Kirana sebelum Rendy menerima panggilan telepon yang entah dari siapa.


"Tunggu dulu." Rendy menahan tangan Kirana agar tetap duduk di sampingnya karena masih belum merelakan Kirana pergi.


Kirana pun hanya mengangguk pasrah saja. Rendy melihat siapa yang meneleponnya. Dia mengernyit lalu menoleh menatap Kirana yang langsung tersenyum kepadanya.


Rendy segera menerima panggilan telepon tersebut. "Ya Andreas, ada apa?"


"Rendy ini aku. Apa aku mengganggumu?"


"Oliv?"


Seketika senyum dibibir manis Kirana menghilang ketika Rendy menyebut nama mantan kekasihnya.


Ternyata Mas Rendy masih berhubungan dengan mantannya?


Batin Kirana dengan memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan.


................