
Rendy terpaku dan menatap lurus pada Olivia yang baru saja keluar dari lift bersama seorang laki-laki yang tidak asing bahkan sangat akrab dengannya.
Olivia yang sedang merangkul lengan laki-laki itu seketika melepaskannya ketika keluar dari lift dan melihat Rendy berdiri didepan unit apartemennya juga sedang menatap lurus kepadanya.
"Re-Rendy?" Gumam Olivia dengan melebarkan matanya merasa terkejut karena ternyata Rendy mengetahui apartemen yang sudah beberapa hari ini ia tempati.
Gawat! Kenapa Rendy bisa tau aku disini?
Ucap Olivia dalam hati lalu sekilas menoleh pada Andreas dan menjaga jarak kepadanya.
Wah bakal seru nih.
Batin Andreas dengan tersenyum.
Andreas terlihat begitu santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melangkah menghampiri Rendy. "Hai bro! Akhirnya kita ketemu lagi." Sapa Andreas dengan sikapnya yang santai seperti biasa terhadap Rendy.
Rendy beralih menatapnya dengan mengernyit dan tidak membalas sapaan Andreas yang sudah menjadi teman baiknya selama berada di London. Ada perasaan ingin sekali marah dan menghajarnya, tapi Rendy masih bisa menahan kesabarannya saat ini. Ia hanya perlu bicara dengan Olivia saja saat ini.
Ia kembali menatap Olivia yang terlihat gugup dan canggung dengan senyum kakunya.
Perlahan Olivia melangkah mendekatinya. "Honey..aku..."
"Aku mau bicara sama kamu." Ucap Rendy dengan datar lalu menatap Andreas kembali dengan tatapan penuh tanda tanya.
Rendy ingin sekali bicara dan bertanya kepada Andreas juga Olivia. Tapi untuk saat ini, ia hanya butuh penjelasan dari kekasihnya dulu sebelum harus bicara dengan Andreas.
"Ehm, sebaiknya ayo kita masuk dulu. Kamu bisa bicara dengannya didalam." Sambung Andreas masih dengan sikapnya yang santai.
"Thank's Bro. Tapi sebaiknya aku cari tempat lain aja." Jawab Rendy dengan memaksakan sedikit senyumnya. "Ayo Oliv." Lanjut Rendy mengajak Olivia pergi.
Beni yang sejak tadi berdiri dibelakang Rendy hanya diam dan membuntuti Bosnya.
Andreas menyunggingkan senyum penuh kemenangan saat melihat Rendy pergi. "Ini yang aku tunggu. Aki harap hubunganmu dengan Rendy akan berakhir Oliv." Gumam Andreas dengan senyum semakin dalam lalu berbalik dan membuka pintu apartemennya kemudian masuk kedalam.
Rendy berjalan dengan cepat menuju lift tanpa menghiraukan Olivia yang mengikutinya. Bahkan Rendy tidak menggandeng atau merangkulnya seperti biasanya saat ia sedang berjalan bersama. Olivia merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Hati dan pikirannya terus memikirkan sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya. Bukan padanya tapi pada hubungannya dengan Rendy.
Ia menghela nafasnya panjang berusaha untuk tetap tenang dan memikirkan kata-kata untuk memberi penjelasan kepada sang kekasih yang sudah seminggu lebih tidak ada komunikasi dengannya. Ia harus bisa meyakinkan Rendy dan mempertahankan hubungan dengannya.
Ini semua karena cowok sialan itu! Berengsek!
Umpat Olivia dalam hati menyalahkan Andreas.
Saat masuk kedalam lift, Olivia mengulurkan tangannya dan memeluk lengan Rendy.
"Honey, aku..."
"Kita bicara nanti. Bukan disini!" Tegas Rendy menyambar ucapan Olivia dengan wajah dingin tanpa menoleh kearahnya saat berada didalam lift.
Seketika, Olivia melepaskan tangannya yang sedang memeluk lengan Rendy. Rendy hanya diam membiarkannya. Saat Olivia memeluk lengannya, ia juga tidak menolaknya.
Beni membukakan pintu untuk Rendy, sedangkan Olivia membuka pintunya sendiri. Mereka duduk dibarisan belakang. Beni segera masuk dibagian kemudi dan mengemudikan mobilnya kembali meninggalkan gedung apartemen elite tersebut.
Tanpa bertanya, Beni sudah tau harus membawa Bosnya dan Olivia kemana untuk bicara.
Didalam mobil, tidak ada yang bicara. Suasana menjadi hening dan sangat canggung yang dirasakan oleh Olivia. Mungkin ia merasa sangat bersalah kepada Rendy.
Rendy juga tampak acuh seolah enggan menatap Olivia. Ia duduk bersandar dengan sebelah tangannya juga bersandar pada pintu mobil.
"Honey." Olivia pun membuka suara memanggil Rendy.
"Hmm." Jawab Rendy lalu menoleh kearahnya.
"Kita bicara setelah sampai." Lagi-lagi Rendy memotong ucapan Olivia dengan wajah tanpa ekspresinya lalu memalingkan wajahnya kembali menatap keluar dari kaca jendela mobil.
Ia membiarkan Olivia yang masih menggenggam tangannya.
"Aku hanya mau minta maaf kepadamu! Aku tau kamu pasti marah banget kan sama aku?" Olivia pun sudah tidak bisa menahan emosinya karena sejak tadi Rendy mendiamkannya dan enggan mengajaknya bicara.
"Kenapa nggak langsung aja bicara disini?" Lanjut Olivia dengan marah dan Rendy kembali menoleh menatapnya namun ia tetap diam.
Tak lama, mobil telah sampai di basement parkiran gedung apartemen milik Rendy. Rendy langsung turun tanpa menunggu Beni membukakan pintu. Olivia sejenak terpaku kemudian segera turun menyusul Rendy yang sudah berjalan menuju lift begitu saja tanpa menunggunya.
"Honey, tunggu! Aku tau kamu pasti marah kan sama aku? Aku bisa jelasin semuanya." Seru Olivia sambil berjalan cepat menyusul langkah Rendy.
Beni yang sangat tau diri, memilih tetap berada didalam mobil karena tidak ingin ikut campur urusan pribadi Bosnya kecuali sang Bos butuh bantuan darinya.
"Aku memang butuh penjelasan darimu. Nanti aku beri kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" Ucap Rendy sambil sekilas menoleh kearahnya lalu menatap kearah depan lagi menunggu pintu lift. terbuka.
'Ting!'
Pintu lift terbuka dan Rendy masuk diikuti Olivia. Olivia kembali memeluk lengan Rendy. Rendy masih diam membiarkannya hingga pintu lift tertutup dan sampai ke lantai enam unit apartemen Rendy berada.
Mereka keluar bersama menuju unit apartemen Rendy. Rendy menekan sandi lalu membuka pintunya. "Ayo masuk." Rendy mempersilahkan Olivia masuk.
Olivia pun masuk baru kemudian Rendy masuk dan menutup pintunya.
Ini pertama kali Olivia masuk kedalam apartemen milik Rendy semenjak kepulangannya ketanah air. Olivia melihat sekeliling apartemen milik Rendy yang tampak mewah dan elegan. Tidak banyak barang didalam dan semua tatanannya begitu rapi. Warna cat juga terlihat elegan. Cocok sekali dengan karakter Rendy. Olivia selalu kagum dengan apa yang ada dalam diri kekasihnya ini.
"Duduk sini." Rendy yang sudah duduk diruang tengah menepuk sofa meminta Olivia duduk disampingnya.
Olivia pun segera duduk disamping Rendy.
"Sekarang kamu bisa jelasin semuanya. Mulai dari saat aku pergi ke Surabaya. Kenapa kamu nggak bisa aku hubungi sampai hari ini aku melihatmu bersama Andreas di apartemen barumu? Atau mungkin itu apartemen Andreas?" Ucap Rendy dengan menatap serius pada Olivia meminta penjelasan darinya.
"Honey." Olivia meraih tangan Rendy dan menggenggamnya. "Aku minta maaf karena nggak sempat mengabarimu saat kamu pergi ke Surabaya handponeku rusak." Ucap Olivia juga dengan serius menatap Rendy.
Rendy mengernyit merasa aneh. "Rusak? Kok bisa?" Tanya Rendy.
"Waktu itu, aku mau kirimin foto ke kamu, tapi tiba-tiba handponeku terjatuh di bathtub dan mati." Jawab Olivia dengan wajah bersedih untuk meyakinkan Rendy agar Rendy percaya kepadanya.
Rendy menghela nafasnya panjang berusaha untuk meredam emosinya yang sejak tadi sudah ia tahan. Ia merasa sangat sulit untuk percaya dengan Olivia.
"Honey. Kamu pasti nggak percaya kan sama aku? Sebentar." Tanya Olivia lalu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Rendy dan merogoh dalam tasnya. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Rendy.
"Ini kamu lihat! Handphoneku rusak karena kerendam air. Aku belum lama ini membeli handphone baru. Dan tadi saat kamu menelponku, aku nggak sempet angkat, aku minta maaf untuk itu. Tadi aku..."
"Kamu sedang bersama Andreas? Jadi kamu nggak sempet angkat atau memang nggak mau angkat telepon dariku? Takut kalau aku mengganggu kebersamaan kalian?" Sambar Rendy menghentikan ucapan Olivia dengan tatapan penuh rasa kecewa.
"Kenapa kamu ngomong gitu? Seolah kamu sedang menuduhku selingkuh dengan Andreas?" Tanya balik Olivia dengan emosi merasa tidak terima dengan ucapan Rendy.
"Sudah cukup Oliv! Mau sampai kapan kamu terus membohongiku?" Rendy juga sudah tidak bisa menahan kesabaran dan emosinya lagi.
"Honey, apa maksud kamu kalau aku membohongimu?" Tanya balik Olivia dengan wajah bodoh.
Rendy tidak langsung menjawabnya. Ia hanya diam menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan. Hatinya juga merasa hancur bersama dengan harapan yang ingin sekali melanjutkan hubungan ini ke pelaminan. Mungkin perjuangannya mempertahankan hubungan dengan Olivia tanpa restu dari orang tuanya sudah cukup sampai disini.
Dan mungkin ini adalah pertanda kalau memang ia dan Olivia tidak berjodoh.
................