
"Mas, kamu ngapain sih nyuruh aku kesini? Aku tuh ngantuk banget tauk!" Gerutu Kirana setelah masuk dan Rendy menutup pintunya.
"Disini ada tiga kamar. Kamu pindah kesini gih. Tidur disini aja." Jawab Rendy dan Kirana langsung melihat sekeliling lalu melebarkan matanya menatap takjub dengan kamar yang ditempati Rendy ini. Ini sangat jauh beda dengan kamar yang ditempatinya.
Bukan seperti kamar melainkan rumah.
"Oh ya ampun! Ini..ini kamar kamu Mas? Gede banget! Mungkin, rumah aku kalah gede kalian ya sama kamar ini." Serunya masih sambil melihat sekeliling dalam kamar Rendy.
"Makanya, kamu pindah kesini biar aku gak kesepian dikamar segede ini." Pinta Rendy sambil memeluk Kirana dari belakang membuat Kirana langsung terpaku dengan jantung yang hampir melompat keluar dari sarangnya.
Mungkin Kirana harus membiasakan dirinya dengan perlakuan Rendy yang selalu membuatnya merasa jantungan dibuatnya.
Tapi sesaat kemudian Kirana melepas pelukan Rendy dengan pelan. Meski dia sangat menyukai pelukan Rendy yang begitu nyaman ditambah dengan aroma wangi yang maskulin dari tubuh Rendy. Kirana cukup tau diri dan tidak ingin sampai terbawa suasana lalu melakukan sesuatu diluar batas seperti pesan dari Ibunya yang tak pernah bosan mengingatkannya.
Ibunya selelu berpesan kepada Kirana putri semata wayangnya untuk selalu menjaga dirinya dengan baik dan jangan sampai berbuat maksiat yang mungkin saja akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Kirana berbalik dan menatap Rendy. "Em..Mas, bukannya aku gak mau. Tapi, aku cuma gak enak kalau dilihat temen-temen aku."
"Aku cuma pengen deket sama kamu selama kita disini." Ucap Rendy menatap Kirana dengan penuh harap.
Kirana tetap tidak bisa menerima permintaan Rendy. Mengingat Rendy yang sudah sering menciumnya dengan tiba-tiba, Kirana malah kembali berpikiran yang tidak tidak tentang Rendy.
Bisa saja kan kalau Rendy khilaf. Atau mungkin keduanya khilaf dan melakukan sesuatu yang lebih. Kirana tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selanjutnya seandainya hal itu terjadi.
"Em..Mas, Maaf. Tolong kamu ngertiin aku. Aku gak mau orang-orang mengira kalau aku ini ...." Kirana tidak melanjutkan ucapannya dan menggigit bibir bawahnya berharap Rendy bisa memahaminya.
Tentu saja Rendy paham dengan maksud dari ucapan Kirana. "It's okay. Ya udah sana balik kekamarmu lagi." Ucap Rendy kemudian menarik Kirana kedalam pelukannya sebelum Kirana pergi. "Maaf, udah ganggu waktu istirahat kamu." Lanjutnya sambil mengusap rambut sebahu Kirana mengecup puncak kepalanya dengan penuh sayang.
Kirana tersenyum kemudian mendongak menatap wajah tampan kekasihnya yang begitu baik dan pengertian ini. "Nggak apa-apa Mas."
Rendy menunduk dan menatap lekat Kirana. Mereka saling menatap sepersekian detik kemudian Rendy semakin menunduk mendekatkan wajahnya pada Kirana kemudian mencium bibir manis Kirana yang telah membuatnya candu.
Kirana sedikit terkejut dengan ciuman Rendy yang selalu dia lakukan secara tiba-tiba. Kirana yang selalu memberontak, kali ini dia hanya diam menerima ciuman Rendy yang sialnya Kirana juga sudah mulai kecanduan dengan ciuman Rendy yang mampu membuatnya mabuk kepayang hingga dia membalas ciumannya. Tentu Rendy sangat senang saat merasakan Kirana membalas ciumannya meskipun masih kaku karena Kirana belum terbiasa.
Rendy mengusap punggung Kirana dan usapannya naik ketengkuk lalu menekannya. Membuat ciumannya semakin dalam. Tangan sebelahnya memeluk pinggang ramping Kirana untuk mengikis jarak diantara mereka.
Rendy melepaskan ciumannya saat Kirana mendorong dada bidangnya karena kahabisan oksigen. Nafas Kirana terengah dan Rendy tersenyum melihatnya. "Udah mulai pinter kamu." Bisiknya yang langung mendapat pukulan keras didada bidangnya.
"Dasar!" Kirana pun memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.
Rendy merangkulnya dengan tersenyum. "Ayo aku anter kamu balik kekamarmu."
...
"Ki, buruan bangun dan mandi sana! Kita udah rencana buat jalan-jalan bertiga loh ya! Awas aja kalau kamu nggak jadi ikut!" Rossa terus mengomeli Kirana dan memintanya untuk segera bangun.
"Lima menit lagi deh Ros. Aku masih ngantuk banget." Gumam Kirana sambil memejamkan matanya.
"Gimana nggak ngantuk kalau semalem habis *** *** dikamar Pak Bos!" Seru Siska yang baru masuk dengan tersenyum sinis melirik Kirana.
Rossa dan Yolanda menoleh menatap Rossa dengan tatapan tidak suka. "Eh Bu Siska punya mulut nggak pernah disekolahin ya?" Celetuk Rossa dengan berani.
Yolanda hanya menyikut Rossa untuk diam.
Kirana langsung bangkit duduk dan menatap Bu Siska dengan tersenyum miring. "Bilang aja kalau sirik."
"Sorry ya! Nggak level!" Balas Siska dengan gaya sombongnya sambil mengambil ponselnya diatas nakas lalu pergi. Karena dia kembali kekamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Kirana menghela nafasnya panjang lalu menguncir rambutnya keatas dan melihat Rossa juga Yolanda yang sedang menatapnya aneh. "Kalian kenapa liatin aku kaya gitu?"
"Ki, jujur sama kita. Semalem setelah kita tidur, kamu ngapain?" Tanya Rossa menatap Kirana dengan menyelidik.
"Mulai deh kumat jiwa reporternya." Ledek Yolanda dengan menghela nafasnya.
"Semalam Mas Rendy minta aku kekamarnya." Jawab Kirana dengan santai sambil turun dari tempat tidurnya dan menutupi mulutnya karena menguap.
"Ngapain?!" Tanya Rossa dan Yolanda dengan melotot pada Kirana.
"Astaga! Kalian ini kepo banget sih. Nggak ngapa-ngapain. Cuma...." Jawab Kirana lalu terdiam dan tersenyum malu ketika membayangkan Rendy yang menciumnya dengan begitu lembut membuatnya mabuk kepayang.
"Cuma apa?!" Seru Rossa dan Yolanda lagi dengan kompak sambil mengapit Kirana memegangi lengannya.
"Ki, jangan-jangan emang bener apa yang dibilang Bu Siska? Semalem kamu sama Pak Rendy? Kalian?" Tambah Rossa sambil melotot menatap Kirana.
"Aduh! Kalian percaya banget sih sama si nenek sihir itu! Udah ah, aku mo mandi! Awas!" Jawab Kirana sambil mengangkat kedua lengannya keatas agar kedua temannya melepaskannya. "Lagi pula nggak seharusnya aku cerita semuanya ke kalian juga kan? Aku juga punya privasi." Lanjut Kirana kemudian segera berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Kirana..!" Teriak Rossa yang tidak terima dengan ucapan Kirana.
Yolanda menariknya. "Udahlah Ros! Kirana bener. Nggak seharusnya kita selalu ingin tau gimana hubungan dia sama Pak Rendy dan apa yang mereka lakukan itu semua bukan urusan kita, Ros." Ucap Yolanda berusaha memberikan pengertian kepada Rossa dengan halus.
................