Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 157



Seakan Irgy sengaja tidak menurunkan Pelangi dari gendongannya. Terus mendekap Pelangi sampai kami keluar dan aku sudah langsung menuju mobil pribadi ku. Irgy langsung memasuki mobilku lebih dulu dengan tetap menggendong Pelangi.


Aku menatap Irgy dengan tajam, bahkan saat ini dia hanya mengenakan kemeja saja. Aku bergumam dan bertanya dalam hati..


Apakah dia sengaja tidak pergi ke kantor pagi ini? Bukan kah dia bilang kondisi penjualan masih belum normal...?


"Mama, ayo kita berangkat."


"Tapi Nak, bagaimana kita akan berangkat jika papa masih menggendong mu begitu?"


"Papa kan mau ikut." Jawab Pelangi dengan lugu.


Tanpa banyak bicara lagi, aku memasuki mobil dan mengambil alih untuk mengemudi. Walau hati ini terasa masih sakit berada di dekat Irgy, hatiku masih terasa perih tak tertahankan. Tapi aku harus berpura-pura semua baik-baik saja di depan puteri ku Pelangi.


Sepanjang perjalanan sekolah Irgy menjahili dan mengajak Pelangi bermain dan bernyanyi, Pelangi riang gembira pagi ini. Sedangkan aku mati-matian menahan untuk tidak kembali menjatuhkan air mata ku karena amarah ini tak kunjung reda.


Beberapa saat kemudian, tiba di depan pintu gerbang sekolah Pelangi. Di saat yang bersamaan sebuah mobil mewah datang, yang tak lain mobil yang selalu di tumpangi oleh Lucky selama ini.


"Pelangi.."


Dan benar saja, Lucky langsung memanggil Pelangi ketika sudah keluar dari mobil mewah yang mengantarnya pagi ini ke sekolah.


"Hai lucky.." Sambut Pelangi dengan riang. Kemudian Lucky berlari menghampiri Pelangi.


"Tuan muda, hati-hati." Teriak wanita yang sebagai pengasuhnya itu.


"Lucky, lihat. Ini papa ku," Ucap Pelangi lagi dengan menunjuk ke arah Irgy yang berdiri sembari masih menggendong Pelangi kemudian menurukannya.


"Upz, halo om. Selamat pagi, senang bertemu dengan papa Pelangi." Sapa Lucky dengan santun, setengah membungkukkan tubuhnya penuh hormat. Tampak Irgy terkejut akan sikap Lucky di usianya itu.


"Ha,hai.. Kau yang bernama Lucky ternyata. Anak yang pintar, salam kenal dari om papa Pelangi." Jawab Irgy dengan ucapan yang blepotan keluar dari bibirnya.


Lucky tersenyum menanggapinya dan mini giliran menyapaku dengan sapaan yang sama. Mengucapkan kata selamat pagi dengan penuh kesantunan, namun tampak dia sedikit mengerutkan kedua alisnya menatapku yang mungkin agak sedikit berbeda. Ku sadari pagi ini aku pergi ke sekolah Pelangi tanpa polesan make up, aku hanya memakai sedikit pelembab bibir ku untuk tidak terlihat semakin memucat. Walau nyatanya, kedua mata ku masih sembab.


"Pa, ma.. Pelangi masuk dulu ya." Ucap Pelangi kemudian.


"Jangan lupa makan sarapan mu nanti ya di kelas, jangan lupa berbagi dengan Lucky. Dan, Lucky.. Seperti biasa, tante titip Pelangi ya Nak." Jawab ku sembari mengusap kepala Lucky. Entah lah, melihat sosoknya ini selalu membuatku merasa lebih dekat dengan seseorang saja.


"Baik tante, saya akan selalu menjaga Pelangi. Karena tugas lelaki adalah menjaga perempuan dengan baik, agar perempuan itu tidak pergi. Iya kan tante?" Jawab nya dengan senyuman menatapku malu. Sampai membuat Irgy terperangah mendengarnya.


"Ayah angkat ku selalu berkata seperti itu setiap kali kami berjumpa atau berbicara melalui telepon saja." Jawab Lucky menundukkan kepala nya.


Tuhan, apakah dia sungguh anak Kevin dan Nia? Tapi, bagaimana mungkin, dia juga menyebutnya ayah angkat bukan?


"Tapi nak, siapa ayah angkatmu? Dia terlalu mengajarimu hal yang membuatmu dewasa belum pada waktunya." Jawab Irgy mulai penasaran.


"Eh tuan muda, sudah waktunya masuk kelas. Baik-baik di kelas,"


Dan seperti biasa, pengasuh Lucky selalu menyela setiap kali kami ingin mengetahui banyak tentang sosok anak ini. Aku sudah tidak heran lagi akan hal ini, berbeda dengan Irgy yang sepertinya tak mau kalah.


"Lucky, om ingin..."


"Mohon maaf om, tante. Kami masuk kelas dulu, sampai jumpa kembali." Ucap Lucky berpamitan memotong pembicaraan Irgy. Kemudian mengajak Pelangi berjalan bersama, sesaat sebelumnya Pelangi memeluk dan menciumku dengan Irgy bergantian.


🌻🌻🌻


Sejak malam pesta dan reuni itu, hingga saat ini sudah satu minggu berlalu. Aku masih mendiamkan Irgy, tidur kami pun terpisah. Tak peduli hal apapun yang selalu Irgy lakukan dan katakan, mencuri waktu saat aku lengah hanya demi ingin mengajakku berbicara. Membahas tentang masa lalu nya yang sebenarnya, yang tidak pernah aku ketahui sepanjang kami menikah.


Sampai hari ini, tiba-tiba Irgy pun terdiam mengacuhkan ku tanpa sebab. Walau begitu, tanpa suatu perjanjian sebelumnya. Kami menjalani sebuah komitmen yang mengalir begitu saja kami sepakati. Di hadapan Pelangi dengan susah payah aku masih bersikap seperti biasanya, aku tak ingin merusak psikisnya di usianya saat ini.


Aku mulai tidak tahan, aku sungguh muak. Tapi ini sudah seminggu bukan? Aku masih enggan menerima kenyataan masa lalu Irgy yang tidak pernah ia katakan padaku. Paling tidak, aku mengetahui latar belakang kedekatannya dengan wanita lain di masa lalunya. Sehingga aku tidak akan merasa kecewa dan di permalukan di hadapan teman-temannya saat reuni malam itu.


Selama kami menikah, beberapa kali aku menolak untuk hadir dalam acara reuni meski itu bersamanya. Aku tidak ingin seuatu hal baru membuatnya semakin memandangku buruk. Walau nyatanya dia sudah mengetahui masa lalu mu bersama banyak laki-laki brengsek yang telah merenggut semuanya dari ku. Tapi bukan kah aku sudah mengatakan semuanya padanya bukan?


Malam ini Pelangi sudah pergi tidur di kamarnya. Aku masih duduk dengan lamunan dan pikiran yang entah kemana larinya, sementara Irgy. Kembali dia pulang terlambat malam ini, tanpa sedikitpun mengabari melalui pesan singkat selama beberapa hari ini dia lakukan. Entah kenapa ini semakin membuatku merasakan ingin pergi jauh saja, sejauh mungkin dari rumah ini.


Tapi aku berusaha menahan diri, ini tidak baik bagi Pelangi. Aku tidak ingin membuatnya melihat semua keadaan ini, tapi sikap acuh Irgy dua hari belakangan ini membuatku semakin curiga.


Apakah dia kembali bertemu Hana diluar? Atau.. Dia mulai lelah dan jengah akan sikap ku yang sudah seminggu ini terus mendiaminya tanpa mengajaknya bicara kecuali dia yang memulai, itu pun aku menjawabnya hanya di saat kami sedang bersama Pelangi.


Atau... Aaarght, ini sungguh membuatku membenci diri sendiri.


Tuhan, bagaimana ini..???


Disaat bersamaan air mata mu terjatuh, sebuah notif pesan pribadi dari email ku. Dan itu membuatku berpikir jika Irgy yang mengirim pesan, tanpa ku sadari jika itu adalah pesan di email.


"*Ka**u sudah tidur? Aku lagi bosan nih, aku butuh kamu beb.. Temani aku chating malam ini*."