
Keesokan paginya, Kirana terbangun duduk diatas tempat tidur dan ia melihat sekeliling dalam kamar. Ia merasa sangat asing dengan tempat ini. Kemudian, ia mengingat-ingat kembali kejadian semalam yang telah menimpanya.
Air matanya kembali mengalir dan ia memeluk tubuhnya sendiri. Ia masih sangat ingat dengan apa yang telah dilakukan Bima kepadanya semalam. Bima hampir memperkosanya. Ia juga masih ingat saat Rendy tiba-tiba mendobrak pintu dan menyelamatkannya.
Ia kembali merasa beruntung karena Rendy sudah menyelamatkannya lagi. Tapi kali ini, ia akan sangat berterima kasih dan berhutang budi kepada Rendy karena kalau saja Rendy tidak ada diperusahaan malam tadi, tidak tau apa yang akan dialami Kirana setelahnya. Mungkin, ia akan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas gedung perusahaan Pradipta Grup.
'Ceklek!'
Kirana tersadar dari lamunannya dan pandangannya mengarah kearah pintu. Ia mengusap air matanya dan menundukkan wajahnya saat melihat sosok tampan bertubuh tinggi yang berdiri dipintu menatapnya.
"Udah bangun?" Tanya Rendy yang masih berdiri dipintu karena ia tidak ingin membuat Kirana merasa takut.
"Pak Rendy..maaf.." Ucap Kirana dengan lirih sambil menunduk tidak sanggup menatap Rendy. Ia merasa sangat malu.
Rendy menghela nafasnya merasa lega karena Kirana sudah terlihat tidak ketakutan lagi melihatnya. "Nggak perlu minta maaf. Sebaiknya kamu mandi dan sarapan. Aku tunggu kamu diruang makan." Ucap Rendy dengan ramah dan sedikit tersenyum. "O ya, ini pakaian untukmu. Pakailah. Semoga pas." Lanjutnya sambil meletakkan paperbag diatas laci samping televisi lalu berbalik dan keluar.
Kirana tertegun sejenak. Hatinya merasa tersentuh dengan kebaikan dan kelembutan sikap Rendy. Ia semakin kagum kepada Rendy yang merupakan pimpinan perusahaan tempat ia bekerja.
Namun seketika, Kirana menepis pikiran itu dengan menggelengkan kepalanya. "Nggak nggak nggak! Itu nggak mungkin! Pak Rendy itu pimpinan perusahaan tempatku kerja sedangkan aku hanya karyawan biasa di perusahaannya. Nggak sepantasnya aku mikirin dia seperti ini!" Gumam Kirana sambil meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Kirana menghela nafasnya panjang lalu segera beranjak turun mengambil paperbag berisi pakaian yang diberi oleh Rendy untuknya.
Kirana merogoh dan mengambil pakaian didalam paperbag tersebut. Ia melotot ketika ada pakaian dalam juga didalamnya. Ia semakin mendelik ketika ukuran dalaman tersebut sama dengan miliknya. "Gimana Pak Rendy bisa tau ukuran punyaku?" Pekiknya dengan menahan suaranya.
Pikiran Kirana kembali berputar memikirkan sang PresDir tampan yang telah berhasil menyentuh hatinya. Namun seketika, Kirana kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat menepis pikiran buruk yang baru saja bersarang dalam pikirannya.
"Kiranaaaa! Kamu ini kenapa berpikiran yang enggak-enggak sih?! Mungkin aja Pak Rendy cuma mengira-ngira aja kan? Nggak mungkin juga dia berbuat nggak sopan kepadaku!" Gumamnya lagi dengan emosi kepada dirinya sendiri.
Kemudian Kirana segera beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
...
Kirana merasa tidak nyaman dengan pakaian yang diberikan oleh Rendy. Ia tidak pernah memakai pakaian seperti ini. Terlalu feminin baginya. Tapi ia juga tidak bisa menolak dan berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin memakai pakaian yang kemarin ia pakai kan? Apalagi makian itu mengingatkan dirinya dengan kejadian semalam.
Mungkin setelah ini, Kirana akan membakar habis pakaian tersebut.
Kirana menghela nafasnya dan ia berjalan keluar dari kamar dengan menunduk dan menarik-narik kebawah mini dresnya yang panjangnya sedikit diatas lutut.
Rendy yang berdiri memunggungi Kirana baru saja menerima panggilan telepon, ia berbalik karena mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.
Ia terpaku sejenak ketika melihat Kirana yang sudah terlihat segar dengan memakai pakaian yang ia beri tadi. "Wah, ternyata pas ya?" Tanya Rendy dengan tersenyum ramah pada Kirana yang terlihat malu.
"Terimakasih banyak Pak. Saya janji akan membayarnya nanti setelah gajian. Emm..atau Pak Rendy potong saja gaji saya nanti." Ucap Kirana dengan sedikit menunduk dan gugup.
Kirana masih berdiri diam ditempat merasa bingung dan malu. Ia juga merasa sangat tidak enak harus makan bersama dengan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Hanya berdua saja? Membuat hati Kirana merasa gelisah.
Rendy menoleh menatap Kirana yang masih berdiri diam seperti patung.
"Kirana?" Panggilnya dan Kirana menoleh.
"Hah? I..iya Pak?" Jawabnya dengan gugup.
"Cepat sarapan!" Tegas Rendy yang membuat Kirana gelagapan lalu segera berjalan cepat menuju meja makan dan duduk dikursi seberang Rendy.
Kirana kembali terpaku dan tanpa sadar ia menatap Rendy yang terlihat semakin tampan dan terlihat begitu berwibawa dengan setelan jas hitamnya. Aura ketampanan sang PresDirnya ini mampu membuat Kirana kehilangan kesadarannya untuk sesaat hingga Rendy telah menyelesaikan sarapannya dan ia mendapati Kirana sedang menatapnya tanpa menyentuh sarapannya.
Rendy menghela nafasnya merasa sedikit kesal. Ia paling tidak suka dipandangi seperti cara Kirana yang saat ini sedang memandanginya tanpa berkedip.
Rendy sengaja meletakkan gelasnya dengan keras diatas meja hingga menimbulkan bunyi 'Brakkk!'
Seketika membuat Kirana terkejut dan tersadar. Ia langsung menunduk begitu malu dan merasa bersalah. Jantungnya berdegup sangat cepat hingga terasa seperti ingin keluar dari sarangnya.
"Terserah kamu mau memakan sarapanmu atau nggak." Ucap Rendy dengan wajahnya yang berubah menjadi dingin lalu menatap sekilas jam dipergelangan tangannya. "Aku harus keperusahaan sekarang. Beni akan mengantarmu pulang setelah ini." Lanjut Rendy sambil bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan Kirana yang masih terdiam.
"Emm..Pak Rendy!" Teriaknya ketika Rendy sudah hampir membuka pintu.
Rendy berhenti namun tidak berbalik juga menoleh. Ia menunggu Kirana bicara.
Kirana beranjak menghampirinya.
"Saya..saya minta maaf. Saya juga sangat berterimakasih kepada Bapak karena sudah menolong saya. Sekali lagi terimakasih banyak. Saya akan selalu mengingat kebaikan Pak Rendy dan saya telah berhutang Budi kepada Pak Rendy." Ucap Kirana yang awalnya sangat gugup namun setelahnya begitu lancar bicara dengan cepat. Namun ia menunduk tidak berani menatap Rendy yang berdiri memunggunginya.
Rendy pun menoleh menatapnya. "Sebaiknya kamu cepat sarapan dan minum obatmu. Kamu boleh ijin hari ini untuk beristirahat dirumah." Ucap Rendy yang tidak menghiraukan ucapan terimakasih Kirana yang merasa berhutang Budi kepadanya.
Bukannya Rendy tidak menghiraukannya. Ia hanya tidak ingin membuat orang yang ditolongnya menjadi memiliki hutang Budi kepadanya. Sudah cukup berterimakasih saja kepadanya.
"Tidak Pak. Saya akan tetap berangkat bekerja. Saya merasa baik-baik saja. Tapi saya meminta ijin untuk terlambat datang, karena saya mau pulang dulu." Ucap Kirana masih tertunduk dan kembali gugup.
"Terserah." Ucap Rendy lalu berbalik membuka pintu namun ia kembali menoleh kearah Kirana. "Beni akan mengantarmu untuk menyingkat waktumu." Ucap Rendy kemudian segera pergi meninggalkan Kirana.
Pagi ini, ia ada meeting penting dengan klien barunya. Jadi, ia terburu-buru karena sudah terlambat.
................