
Rendy merasa tidak bisa fokus saat meeting pagi ini. Dia terlihat sering melamun dan sesekali Siska yang menanggapi pertanyaan dari kliennya. Meski Siska begitu menyebalkan, tapi dia juga sekertaris yang pintar, tau harus bagaimana.
Selesai meeting, Rendy kembali keruangan kantornya. Ponselnya berdering dan dia langsung menerima panggilan telepon setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Ya Pa? Ada apa?"
"Rendy, kamu ini apa-apaan sih? Ternyata beberapa hari kemarin, kamu pergi ke New York bukan untuk urusan bisnis?! Kamu pergi dengan mantan kamu yang tidak tau malu itu?! Bahkan kamu berani bohong lagi Rend? Terus, siapa lagi perempuan yang kamu ajak ke hotel waktu itu? Papa bener-bener kecewa sama kamu! Setelah kamu mengumumkan calon istri kamu ke semua orang, kamu masih saja bermain-main dengan perempuan nggak bener diluar sana?!"
Seketika kepala Rendy berdenyut saat mendengar Papanya. Rendy mendesis pelan menahan segala emosinya. Papanya juga selalu mengira kalau Rendy suka bermain-main dengan banyak perempuan?
Rendy menghela nafasnya berat. "Pa, aku bisa jelasin. Aku nggak seperti yang Papa atau orang lain bilang Pa." Jawab Rendy dengan pelan berusaha untuk tetap sopan dan menghormati Papanya.
Dia hanya heran saja. Kenapa saat dirinya bersama Lena, ada yang mengambil gambar mereka? Rendy bukanlah artis. Kenapa kehidupannya menjadi seperti artis yang setiap melakukan apa saja selalu menjadi incaran wartawan?
"Papa nggak butuh penjelasan apapun dari kamu! Cepat kamu urus semuanya atau Papa minta kamu balik lagi ke London mengurus bisnis Papa yang ada disini!"
Bagas langsung menutup panggilan teleponnya setelah memarahi putra sulung yang selama ini menjadi kebanggaannya. Tapi ternyata, Rendy telah membuatnya kecewa lagi dan lagi.
Rendy mengacak rambutnya sendiri merasa frustasi. "Kenapa hidupku jadi ribet gini sih? Aku ini bukan artis!"
Semenjak hubungannya dengan Olivia diketahui publik, kehidupan Rendy pun menjadi incaran para wartawan pemburu berita.
Rendy kemudian menghubungi Beni untuk mengurus semua permasalahannya. Kalau sampai dia kembali lagi ke London, bagaimana dengan Kirana? Rendy tidak mungkin meninggalkan Kirana. Apalagi hubungan mereka masih mengambang seperti ini. Setidaknya, Rendy harus bisa membuat Kirana yakin dengan perasaannya dulu.
Dia sudah memantabkan hatinya pada Kirana. Rendy jadi teringat dengan gadis polosnya itu. Dia mengirim pesan kepada Kirana.
"Ki, sekarang juga keruanganku!"
Kirana yang sedang fokus dengan pekerjaannya, dia melirik kearah ponselnya yang dia letakkan dimeja dekat komputer saat ada notifikasi pesan masuk. Mas Rendy?
Saat melihat sekilas nama Rendy pada layar ponselnya, Kirana menghentikan gerakan jari-jari lentiknya yang sedang mengetik diatas keyboard kemudian mengambil ponselnya.
Kirana membuka dan membaca pesan dari Rendy. Mau apa dia nyuruh aku ke ruangannya?
"Maaf Pak, saya nggak bisa. Saya masih banyak pekerjaan."
Balas Kirana yang memang masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Kemudian meletakkan ponselnya lagi dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Saat ingin mengetik, ponselnya berdering. Kali ini bukan pesan yang masuk melainkan panggilan dari Rendy.
Kirana menghela nafasnya berat. Dia menolak panggilan telepon dari laki-laki yang berstatus menjadi pacar sandiwaranya sekaligus pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.
Kirana mengirim pesan lagi kepada Rendy.
"Oke, aku kesana sekarang!"
Kirana beranjak dari meja kerjanya. Seketika Yolanda menoleh dan menanyainya. "Ki, kamu mau kemana?"
"Aku mau ke...toilet. Mules." Jawab Kirana dengan menyengir kemudian segera melangkah cepat keluar dari ruangan kantornya.
Dia melihat sekeliling dan menuju lift khusus yang langsung menghubungkan ke lantai dimana ruangan kantor Presiden Direktur berada.
Kirana tidak menyadari ada dua karyawan wanita yang melihatnya masuk kedalam lift. "Eh itu bukannya Kirana ya? Ngapain dia masuk lift khusus Pak Presdir?"
"Siapa sih?" Tanya temannya.
"Itu, Kirana yang suka caper sama Pak Presdir kita."
Dih!
Kirana sudah dikenal sebagai karyawan yang genit, yang suka cari perhatian kepada Pak Presdir tampan idola semua karyawan wanita di Pradipta Grup. Karena sudah sering mereka melihat Kirana selalu terjatuh dan selalu Rendy yang menjadi sasaran ditabrak olehnya.
Mereka pun mengira kalau Kirana hanya ingin mencari perhatian untuk menggoda pimpinan mereka yang menjadi rebutan para kaum hawa diperusahaan ini.
"Dasar perempuan penggoda. Suka cari muka!" Gumam karyawan wanita tadi sambil mendengus sinis.
Kirana berjalan cepat menuju ruangan Presiden Direktur setelah keluar dari lift.
Kirana sudah mendapat ijin langsung dari Rendy untuk memakai lift khusus saat Rendy memintanya untuk keruangannya. Jika tidak? Mana berani Kirana memakai lift itu.
"Eeeh! Ngapain kamu kesini?!" Tiba-tiba Siska menghadang Kirana saat hampir sampai didepan pintu Rendy.
Kirana berdehem pelan dan tetap tenang menghadapi nenek lampir didepannya ini. "Maaf Bu, saya diminta Pak Rendy untuk menemuinya. Kalo nggak, mana berani saya kesini?"
"Jangan belagu ya kamu! Kamu...."
Siska tidak melanjutkan ucapannya yang ingin memaki Kirana saat mendengar suara pintu ruangan Rendy terbuka dan muncullah sosok tinggi gagah nan tampan yang menjadi idola seluruh karyawan wanitanya disini.
"Pak Rendy?" Seru Siska menyapa Bos tampannya dengan tersenyum kikuk.
Rendy langsung menatap Kirana. "Lama banget sih? Cepat masuk!" Setelah menyuruh Kirana masuk, dia berbalik dan masuk lebih dulu.
Kirana hanya menahan senyumnya kemudian mengangguk kepada Siska. "Permisi ya Bu Siska." Ucapnya dengan sangat sopan lalu melangkah masuk kedalam ruangan Rendy.
Siska pun merasa semakin geram dengan tingkah Kirana yang menurutnya semakin berani untuk melawannya. "Awas kamu perempuan kampung!"
................