Because, I Love You

Because, I Love You
#76



"Woy! Mau bikin celaka orang ya kamu?!" Teriak Haris dengan emosi setelah motornya hampir saja menabrak mobil sport Rendy.


"Kak, kita puter balik aja!" Pinta Kirana sambil menarik-narik jaket Haris dengan panik.


Randy keluar dari mobilnya tanpa mematikan mesin mobilnya dan berjalan menghampiri mereka dengan wajah dingin menatap Kirana. "Turun kamu! Aku mau ngomong sama kamu!"


"Nggak mau!" Jawab Kirana langsung menolak sambil tangannya masih mencengkeram sisi jaket Haris.


"Jangan bikin aku marah sama kamu. Ikut aku atau..."


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau! Kamu nggak punya hak ya, maksa aku dan ngatur-ngatur hidup aku!" Sahut Kirana menyambar ucapan Rendy dengan mengeraskan suaranya.


"Dia nggak mau, jadi jangan dipaksa. Sekalipun kamu adalah Bosnya. Kamu nggak berhak ngatur kehidupan Kirana." Sambung Haris terdengar tenang.


Rendy beralih menatap Haris dengan wajahnya yang semakin dingin. "Kamu nggak usah ikut campur!"


"Ki, kamu turun dulu." Bisik Haris sambil menoleh kebelakang.


Kirana pun turun dan Haris juga turun lalu menyetandarkan motor maticnya.


Suasana seketika berubah. Rendy dan Haris saling menatap dengan wajah mereka yang begitu dingin.


Kirana merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan situasi seperti ini.


"Mas! Kamu ngapain ngikutin kita?" Tanya Kirana dengan sedikit bergetar karena dia sangat cemas dan takut kalau saja Rendy dan Haris berkelahi.


"Karena aku mau ngomong sama kamu. Sekarang, kamu ikut aku!" Jawab Rendy sambil menatapnya.


Kirana terdiam sejenak dan berpikir. Dia hanya tidak mau ada perkelahian diantara Rendy dengan Haris hanya karena dirinya. "Oke!" Jawab Kirana dengan terpaksa.


"Ki?" Panggil Haris.


"Kak Haris, aku minta maaf, tapi aku mau bicara dulu sama dia. Aku nggak mau kalo harus ribut-ribut disini. Malu kak." Ucap Kirana dengan gelisah menatap Haris.


Haris mengangguk pelan mencoba untuk mengerti. "Kalo gitu kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa, langsung telepon aku ya!"


"Hey! Kamu pikir aku mau nyakitin Kirana?" Sahut Rendy merasa tidak terima mendengar ucapan Haris kepada Kirana. Namun Haris tidak menanggapinya.


Kirana melepaskan helmnya dan memberikannya pada Haris dengan ragu-ragu dan terpaksa harus ikut dengan Rendy.


"Kak, kamu nggak usah khawatir. Dia emang nyebelin, tapi dia nggak bakal nyakitin aku kok." Ucap Kirana sambil melirik sinis pada Rendy saat mangatakan "Dia emang nyebelin" dan membuat Rendy mendengus kesal.


Kirana mengangguk dan Haris segera naik kembali kemotor maticnya, kemudian menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Kirana bersama Rendy.


"Ayo masuk." Ucap Rendy dengan pelan sambil membukakan pintu mobil untuk Kirana.


Kirana hanya diam dan masuk kedalam mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Rendy juga segera masuk dibagian kemudi dan melajukan mobilnya.


"Kamu mau ngomong apa sama aku?" Tanya Kirana tanpa menoleh melihat Rendy.


"Apa kamu lupa kalau kamu calon istri aku? Kalo ada reporter yang liat kamu jalan sama laki-laki lain, kamu mau nanggung resikonya?" Tanya Rendy sekilas menoleh kearah Kirana.


Kirana tersenyum sinis dan bersedekap menatap Rendy. "Lalu, kalo ada reporter yang liat kamu lagi berudaan sama perempuan lain, bahkan kamu sampai ngajak perempuan itu ke hotel, apa yang akan mereka pikirkan tentang kamu?"


Rendy mengerutkan keningnya kemudian menepikan mobilnya dan berhenti. "Kamu tau dari mana kalo aku dan Lena pergi ke Hotel?" Tanya Rendy sambil menatap Kirana.


"Oh namanya Lena ya? Nama yang cantik. Secantik orangnya. Juga sexy." Ucap Kirana mengabaikan pertanyaan Rendy dengan tersenyum.


"Tapi, yang buat aku heran sama kamu, kenapa kamu nggak minta Lena buat jadi calon istri kamu, kalo perlu kamu nikahin dia sekalian biar kalian bisa bebas main-main diluar sana." Lanjut Kirana tanpa memperhatikan perubahan wajah Rendy yang sudah semakin dingin menatapnya.


"Sebaiknya kamu putusin aku dan kamu jadiin Lenahmm...."


Belum selesai Kirana bicara, Rendy sudah membungkam bibir manis Kirana dengan bibirnya.


Kirana melebarkan kedua matanya dan sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Rendy kepadanya ini. Tubuhnya menegang.


Kirana yang suasana hatinya sedang tidak baik, kini semakin tidak baik lagi. Marah, kesal, kecewa. Semua bercampur menjadi datu.


Kirana ingin mendorong Rendy tapi Rendy langsung menangkap kedua tangan Kirana dan menahannya.


Rendy melepas ciumannya dan menatap Kirana dengan tatapan dingin.


Kirana juga menatap Rendy dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. "Lepas!" Kirana berusaha melepaskan tangannya yang ditahan oleh Rendy.


"Diam!" Ucap Rendy penuh penekanan dan emosi yang masih tertahan.


"Aku benci kamu! Kamu berengsek! Lepasin aku! Aku benci sama kamu, berengsek!" Bukannya diam, Kirana malah terus berteriak memaki Rendy meluapkan semua emosinya.


................