Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 231



Sepertinya Maria sengaja ingin berlama-lama berdua dengan Joe di hadapan ku. Kami sudah berkeliling cukup puas ke beberapa tempat, hingga aku lapar dan haus. Maria sungguh sengaja, seolah membiarkan ku kelaparan dan kehausan.


"Joe, aku haus."


"Astaga, kau pasti kelelahan sejak tadi. Maafkan Maria yang sedikit manja,"


"Hem, tak apa. Ayo mampir dulu cari minum,"


Joe mengangguk menuruti permintaan Pelangi.


"Joe, aku juga lapar." Ucap Maria setelah melihat Joe yang begitu perhatian dengan Pelangi.


"Hmm.. Kita juga akan mencari makan kok, kita mampir di restoran sebentar."


Beberapa saat kemudian Joe memarkir mobil di simpang perjalanan. Kita berhenti di sebuah restoran untuk melepas dahaga dan lapar.


"Ayo, sayang." Panggil Joe meraih tangan Pelangi untuk di genggamnya.


"Joe!!!" Panggil Maria kembali dengan cetus.


"Apa lagi?" Jawab Joe dengan nada malas.


"Tunggu aku, kau meninggalkan ku di belakang. Sementara kau membiarkan Pelangi di depan bersama mu, aku takut. Meski aku sudah pernah di Indonesia sebelumnya, tapi sejak tadi banyak mata yang menatapku. Mereka menyebalkan!"


"Hah.. Itu karena penampilan mu begitu terbuka. Ini Indonesia Maria, jangan samakan dengan di LN sana." Joe menarik nafasnya dalam-dalam lalu menatap kesal pada Maria. Karena seharian ini dia cukup lelah mengajaknya ke berbagai tempat sesuai yang diinginkannya.


Maria sedikit terhentak mendengar ucapan Joe yang sedikit tinggi menegurnya. Dia mendecak kesal dan menatap ke arah Pelangi dengan tajam.


"Jika begitu, ayo.. Kau jalan lah lebih dulu di depan, aku dan Joe akan mengawasimu dari belakang." Jawab Pelangi dengan helaan nafas panjang, kedua bola matanya di putar ke atas seolah menampakkan kekesalannya.


Maria begitu manja sejak tadi, tiada hentinya selalu mencoba mencuri perhatian Joe. Meski Joe selalu mengabaikannya, Maria tidak menyerah sedikitpun. Kemudian Maria berjalan mendahului Joe dan Pelangi.


"Dia pernah tinggal di Indonesia?" Bisik Pelangi dengan pelan.


"Hemm.. Dia bilang sih begitu, saat SMP dulu. Tapi entah lah, kami memang cukup akrab dan dekat. Tapi aku tidak pernah tertarik akan kisah pribadinya." Balas Joe dengan bebisik di telinga Pelangi. Ia takut terdengar oleh Maria jika sedang membicarakannya diam-diam.


"Cih, kau berbohong. Sejak awal dia datang kau diam saja ketika dia merangkulmu, huh. Dasar cowok, pintar berpura-pura."


"Astaga, aku hanya menganggapnya sahabat saja. Itupun aku sudah terbiasa dengan sikap manjanya saat di LN dulu,"


Joe kembali menjelaskan tentang hubungan akrab nya dengan Maria, ia berbisik pelan-pelan. Pelangi membuang wajahnya ke sekitar ruangan restoran, dalam hatinya kesal namun tetap berusaha terlihat biasa saja.


"Langi..." Panggil Joe kembali, dengan suara yang sangat lirih di telinga Pelangi.


"Hmm." Jawab nya singkat lalu menoleh.


Cup!!!


Joe mengecup pipi kanan Pelangi dengan singkat, membuat Pelangi tersipu malu dengan wajah nya yany kini mendadak berwarna merah jambu. Beruntung tidak ada yang menyadari meski pengunjung restoran cukup ramai.


"Joe, kita..."


Maria menghentikan ucapannya ketika melihat Joe dan Pelangi saling bertatapan malu dengan candaan kecil, saling mengadukan kening mereka.


"Joe!!!" Teriak Maria. Membuat beberapa pengunjung menatapnya dengan heran.


"Marmar. Bisa gak sih pelankan suaramu?"


"So what??? Marmar??? Apa itu Marmar, Joe?"


Maria semakin kesal mendengar Pelangi berkata demikian lalu melempar tanya pada Joe. Kemudian Joe kebingungan menatap wajah Pelangi dengan mengernyit.


"Yaa.. Namamu Maria kan? Nama itu terlalu sulit ku sebut, jadi ku panggil nama ku lebih gampang. Mar-mar, bagus kan?"


"Kyaaaaaaarght... Stupid girl. Nama ku Maria, bukan Marmar seperti yang kau sebut tadi. Kau juga bisa memanggil ku dengan Mery, pliss."


"Pfft... Hahaha, Langi. Kau memang konyol, hahaha. Mar-mar, aku suka panggilan itu." Sontak Joe tertawa lepas setelah melihat Maria begitu histeris setelah mendengar Pelangi mengerjai Maria.


"Joe. Are you crazy???"


"Ups. Sory!" Joe menghentikan tawa nya.


"Hah, ku sudah sangat haus dan lapar. Ayo, Joe. Kita duduk di... Ehm, disitu saja." Ajak Pelangi yang kemudian menunjuk sebuah meja kosong di depan sana.


"Baiklah, ayo." Jawab Joe menurut.


Kini mereka sudah duduk bersama dalam satu meja. Joe dengan Pelangi duduk berdampingan, sementara Maria duduk berhadapan dengan mereka seolah berada di tengah-tengah mereka.


Lalu kemudian Joe memesankan beberapa minuman dan cemilan untuk menemani mereka duduk santai. Beberapa saat kemudian datang seorang pelayan membawa pesanan mereka.


"Hemm.. Ya, lagi pula hanya itu saja yang ku ingat. Jangan protes dan bawel lagi, lekas minum dan makan saja." Jawab Joe dengan dingin.


Pelangi hanya tersenyum tipis melihat Maria yang begitu terkesima, akan hidangan yang Joe pesan tadi tanpa bertanya lebih dulu tapi Joe sudah memesannya. Dan itu sesuai selera Maria. Dalam bathin Pelangi bertanya, apakah saat ini dia berhak cemburu dengan hal kecil seperti ini?


"Langi..."


"Ya?"


"Ayo diminum, aku sudah memesan jus favoritmu. Apa yang kau lamunkan?" Joe mengernyit, mencoba menelaan sesuatu hal setelah dilihatnya pacarnya itu sedang termenung.


"Oh, eh.. Makasih, Joe." Jawab Pelangi gagap.


Hening, mereka tanpa melakukan perbincangan untuk memulai obrolan. Maria asyik berkutat dengan hidangannya, sementara Joe terus menatap wajah Pelangi. Membuat Pelangi salah tingkah dan sesekali melempar tatapan tajam untuk melototi Joe yang tiada hentinya memandangi wajah Pelangi.


Kemudian meja meja yang kini mereka jadian tempat menikmati segala hidangan, tergeser oleh seseorang yang hampir saja terjatuh lalu ambruk di atas hidangan yang ada di atasnya. Sontak Pelangi dan Joe di susul oleh Maria beranjak berdiri terpaku karena mereka sungguh terkejut. Baju yang Maria kenakan jadi kotor ternodai oleh beberapa makanan yang sedang ia cicipi sejak tadi.


"Ya ampun, sory sory.. Maaf. Maafkan aku tidak sengaja terjatuh dan menyenggol meja kalian,"


"Aduuuh, baju ku.. Baju ku kotor, ini menjijikkan." Maria mulai mengomel dan menggerutu.


"Mery, kau.. Kau Mery kan?"


"Eh ya ampun Tuhan, cewek galak juga disini? Woah.. Kalian."


Pelangi mulai emosi ketika dilihatnya seseorang yang menubruk meja makan saat ini adalah Exelle dan kedua temannya.


"Kenapa selalu saja kau yang membawa sial setiap kali bertemu hah?" Jawab Pelangi dengan nada kesal.


"Hem.. Mungkin kita berjodoh."


"Hei, kau. Jaga bicaramu!" Joe menunjuknya dengan mengepalkan tangannya ke wajah Exelle.


"Tunggu, kau.. Kau Ex bukan? Iya kan, kau Ex di SMP XXX."


"Hahaha, Mery. Ku pikir hanya halusinasi ku saja, ternyata sungguh kau."


Maria menghampiri Exelle lalu memeluknya. Begitupun Exelle yang memeluknya, mereka terlihat begitu akrab layaknya sepasang kekasih.


"Hahaha, kau tetap saja tidak berubah."


"Kau, jauh lebih tampan." Ucap Maria memuji Exelle.


"Maria, kau.. Kenal dengan cowok brengsek ini." Tanya Joe kebingungan.


"Ya, dia teman ku saat SMP dulu di Indonesia. Kami sangat dekat dulu sampai kita di kira berpacaran."


"Kalian memang cocok, menggila bersama." Ujar Pelangi menggerutu.


"Jangan berteman dengannya, aku tidak menyukainya." Joe menegaskan tutur nya pada Maria.


"Wah, apa kau pacarnya?"


"Jaga mulutmu, apa kau mengajakku duel kembali?"


"Lalu apa masalahmu?"


Pelangi hanya terdiam melihat perdebatan mereka kembali. Namun kali ini bukan karena nya, melainkan Joe terlihat marah mengetahui Exelle adalah teman dekat Maria saat di bangku SMP dulu. Mengapa? Apakah dia cemburu?


"Hei, cewek galak. Kau bilang dia pacarmu? Lihat, apakah dia sungguh pacarmu?"


"Diam kau!!! Kau lebih gila dan menyebalkan."


"Ayo lah, jangan begitu. Tapi tenang saja, ada aku disini. Aku akan melindungimu,"


"Exelle, bagimana kau bisa mengenal mereka? Kalian satu sekolah?"


"Tidak, tapi sepertinya aku akan menjadi bagian dari mereka."


"Gila!!!"


"Kau..."


Joe mendorong tubuh Exelle hingga sedikit terhuyung dan mundur satu langkah. Kedua teman Exelle mulai sigap hendak menghajar Joe yang memulai lebih dulu beraksi meluapkan amarahnya.


"Hentikan. Jangan membuatku malu di hadapan calon pacar ku ini," Jawab Exelle menatap Pelangi dengan senyuman nakal.