Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 181



Ammar terus saja melangkah pergi menarik lengan Hana yang masih kebingungan, seakan Ammar sungguh tidak mengenalku dan mengabaikan umpatan mu sejak tadi. Sementara Pelangi kian histeris menjerit memanggil nama Lucky, sementara Lucky hanya terdiam dengan tangisan terus menatap Pelangi.


Irgy melangkah maju mengejar Ammar dan Hana, menerobos para bodyguard yang melangkah di belakang Ammar, aku pun tidak sanggup lagi menahan Irgy. Lalu dengan sekuat tenaga Irgy menahan lalu menarik tangan Hana dari genggaman Ammar hingga ia terhuyung begitu saja.


Bugh !!!


Sebuah pukulan mendarat mengenai wajah Ammar. Hana memekik, begitu juga aku yang menyaksikan ini semua, sementara dengan sigap para bodyguard Ammar menahan Irgy. Ammar memberikan isyarat untuk melepas kan Irgy, namun salah satu bodyguard membantah yang sepertinya dia adalah kapten disini.


"Aku bilang lepaskan ! Jangan menyentuhnya." Bentak Ammar dengan lantang, seketika membuat para bodyguard itu melepaskan Irgy.


"Ya ampun, tuan. Anda tidak apa-apa?" Tanya Hana mendekati Ammar dengan cemas.


"Gigy, ini baru pertama aku melihatmu berprilaku kekanakan seperti ini. Ada apa dengan mu hah?" Hana mulai berbicara dengan nada serius, berbeda dengan sikapnya yang selalu ceria dan berbicara konyol ketika menyerangku.


Dengan cepat aku menghampiri Irgy di hadapan Ammar.


"Kenapa? Kau terkejut melihat laki-laki yang pernah kau impikan di masa lalu berubah sangar? Ya, dia laki-laki ku saat ini. Kau tida berhak mengatainya apapun itu Hana,"


"Tapi aku..."


"Hana, cukup. Aku baik-baik saja," Ucap Ammar dengan nada lirih menahan Hana untuk tidak terus berbicara.


"Kenapa, kenapa hah? Kau sengaja bukan? Apa kini kau merasa dirimu jauh lebih baik hanya karena tidak melawan pukulan Irgy? Apa kau sungguh tidak mengingatku, apa kau sungguh telah menyusun semua rencana ini selama kau menghilang kabar? Iya, jawab..."


Aku terus menyerangnya dengan segala pertanyaan, tuduhan dan bahkan aku mendorongnya dengan kasar langkah demi langkah hingga dia terdorong begitu saja tanpa melakukan perlawanan. Sikapnya yang terus mengacuhkan ku sementara Lucky kian menangis histeris dalam dekapan para bodyguardnya.


"AMMAR BILYANTAMA !!!" Ucapku dengan lantang. Dia terhentak menatapku dengan kedua mata memerah seolah dia sedang menahan ribuan amarah dan luapan emosinya.


"Apa kau sudah cukup?" Ucapnya pada ku. Aku membelalakkan kedua mataku menatapnya heran, dia sungguh bukan Ammar yang ku kenal dulu.


"Jadi kalian saling kenal?" Ujar Hana menyela di tengah kami.


"Kau ********." Ujar ku kemudian.


"Sayang, sudah hentikan. Aku sudah memberinya satu pukulan untuk menyadarkannya, tapi sepertinya itu tidak berguna. Ayo, kita pergi. Aku tidak ingin kehamilan mu bermasalah hanya karena orang gila sepertinya. Mungkin dia sengaja menahan diri untuk reputasinya di hadapan Hana."


"Hey, apa hubungannya dengan ku hah? Lagi pula aku sudah lama mengenal tuan Ammar." Jawab Hana mendorong Irgy begitu keras.


"Jangan pernah menyentuhku lagi Hana."


"Wow, kau.. Kau sungguh berubah Irgy. Hahaha, astaga. Aku tidak percaya ini, tapi sepertinya diantara kalian..."


"Dia Fanny, teman dekatku dulu."


Jleb !!!


Teman dekat? Dia bilang kami hanya teman dekat dulu? Apakah aku salah dengar? Atau dia sengaja memancingku bersikap lebih dari ini?


"Apa? Teman dekat? Hahaha, ayolah tuan tampan. Jangan mengerjaiku begitu," Jawab Hana tertawa cekikikan. Dia kembali bertingkah konyol seperti biasanya, menyebalkan.


"Ya, kami teman dekat. Tidak lebih, apakah jawaban ini sudah cukup Hana?" Jawab Ammar dengan menekan nadanya. Tapi sama sekali dia tidak terpancing emosi dan berbalik memberikan satu pukulan pada Irgy.


"Waaah, Fanny. Ternyata kita memang sudah di takdirkan berada dalam satu lingkaran. Hahaha, ini sungguh menarik. Aku sudah merelakan Gigy padamu namun Tuhan menggantinya dengan orang terdekatmu di masa lalu. Bukan kah kini sudah impas???"


Plak !!!


Dan pada akhirnya aku benar-benar mengotori tangan ku untuk menampar wanita gila ini. Yang membuat semua orang terhentak menyaksikannya, aku menamparnya sungguh sangat keras hingga pipinya memerah


"Fanny kau.."


"Sudah cukup sikap mu yang selalu dengan sengaja kau anggap ini bahan candaan Hana. Sejak tadi kau hanya haha hihi kau pikir aku tidak muak sejak awal melihatmu? Bahkan tamparan tadi belum bisa dibilang kita impas. Siapa kau hah? Kau bukan Tuhan yang berhak menghakimi apapun diantara kita sekalipun." Jawab ku dengan bibir gemetaran, rasanya sudah benar-benar meluap segala unek-unek yang selama ini ku tahan tentangnya.


"Dan kau, laki-laki gila, psyco, ********, kau terburuk diantara yang terburuk di dunia ini." Ucap ku lagi menunjuk Ammar yang menatapku sejak tadi.


"Apa kau masih saja menilaiku seburuk itu selama ini Fanny? Meski aku sudah tidak lagi menampakkan wajah di depan mu?"


"Heh, kau tentunya tahu jawaban ku jika kau masih memiliki otak yang normal."


"Gigy, kenapa kau diam saja? Lihat, apakah ini wanita yang kau pilih sebagai istrimu hah?" Ucap Hana menyerangku kembali.


"Lalu seperti apa? Apa sepertimu yang harus ku pilih Hana?"


"Oh my God. Pliss,,"


"Kau masih ingin disini melihat Nana mu itu?"


Irgy mengerutkan alisnya menatapku kebingungan akan ucapanku ini kemudian berbalik lebih dulu pergi. Lalu Irgy menahan tangan ku, aku menolehnya.


"Kau istriku, dan kau wanita yang selama ini berusaha ku pertahankan tak peduli apapun itu yang menghalangi. Aku akan tetap bersamamu," Ucap Irgy yang kemudian melangkah bersamaku beranjak dari hadapan Ammar dan Hana. Ada rasa puas dalam hati mendengarnya melontarkan kata demikian di hadapan mereka, aku merasa jika benar-benar di cintai oleh Irgy meski sempat aku meragukannya perihal kehadiran Hana.


"Cih, apa-apaan ini?" Ucap Hana mendecak kesal.


Ku lihat mereka lebih dulu keluar dari ruangan sedangkan Pelangi masih saja menangis tanpa henti. Aku mencoba meraih nya, dan berusaha menenangkannya. Dia semakin marah dan histeris, sepanjang perjalanan pulang menuju hotel Pelangi masih menangis menyebut nama Lucky. Irgy berusaha menenangkannya dengan segala rayuan namun nihil hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan akan tangisannya yang terus meronta.


🌻🌻🌻


POV


Oh Tuhan, aku telah berjanji padamu. Aku telah bertekad untuk menjadi manusia yang baik asal kau berikan kebahagiaan untuk kehidupan Fanny, tapi melihatnya kembali aku justru kembali terluka dari hati yang sudah berhasil ku tata kembali.


"Tuan, bolehkah aku bertanya bagaimana masa lalu mu hingga kau tinggal dengan sahabat Daddy ku? Dan akhirnya, kita di jodohkan." Tanya Hana mengejutkan lamunan Ammar.


Ammar menatap dan tersenyum padanya. Namun tak ada yang mengerti di balik tatapannya itu masih menyimpan sejuta luka dan kebencian yang berusaha dia sembunyikan.


"Hahaha, ayolah. Kenapa kau hanya tersenyum dan menatapku demikian? Atau kau tidak menyukai sifat ku ini, yanh telah berani mengorek masa lalu mu."


"Kau tahu, sudah berkali-kali aku menolak untuk di jodohkan dengan gadis muda dan lajang sepertimu."


Hana terhentak membelalakkan kedua matanya. Dalam hatinya ia bergumam, apa yang salah dengan dirinya? Bukan kah seharusnya dia bangga mendapatkan seorang gadis yang jauh lebih muda dan lajang sepertinya.


Ammar kembali tersenyum tipis, memiringkan ujung bibirnya. Kemudian sesekali menatap Lucky yang sudah di sisinya, terus menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Hidupku sejak awal, tidak pernah berjalan sesuai harapan ku. Aku pernah mencintai lalu di hempaskan begitu saja, dan aku pernah membunuh istriku yang sangat mencintaiku. Apa kau percaya itu?"


Hana kembali terhentak dan mulai gelisah tak menentu. Hatinya bergetar, sejak awal di perkenalkan dengan Ammar Hana menilai Ammar adalah pria dewasa, tidak banyak bicara, humble dan selalu hangat yang baru di ketahuinya belakangan ini jika dia sudah memiliki seorang anak meski hanya anak angkat.


"Kau takut untuk melanjutkan hubungan ini Hana?"


"Ah, eh.. Hahaha, ehm.. Aku terlihat sangat jelas?" Tanya Hana.


Ammar kembali tersenyum tipis.


"Aku juga sudah memiliki seorang putera dari istriku, tapi akibat ulahku. Aku harus terpisah dan merelakannya begitu saja. Hidupku terlalu rumit karena sikap ku yang begitu egois hanya karena aku belum bisa merelakan seseorang pergi dari hidupku. Hidupku benar-benar hancur, aku tahu jika Tuhan sedang menghukumku."


"Tuan, maafkan aku. Jika aku memaksamu mengingat semua hal pahit itu." Ucap Hana menyela.


"Walau bagaimanapun kau juga akan mengetahuinya nanti. Aku tidak percaya jika Tuhan masih memberiku kesempatan tetap hidup. Semenjak hadirnya Lucky, yang bukan dari darah dagingku. Tapi dia telah merubah semuanya, dia seperti puteraku."


"Tapi tuan, bagaimana jika nantinya mereka tahu bahwa kau diam-diam merawat dan mengangkat Lucky sebagai puteramu? Ku dengar Lucky dianggap pembawa sial."


"Kau tahu Hana, hahft... Kejadian itu tepat sekali terjadi di depan ku. Aku butuh pekerjaan untuk kembali menjadi orang hebat, sudah cukup semua yang ku miliki dan ku bangun sendiri di hancurkan oleh mertua ku. Dan dengan susah payah aku merangkak ke negeri ini, hingga bergabung dengan perusahaan milik kakek dan nenek Lucky yang sebenarnya. Kemudian kedua orang tua Lucky mengalami kecelakaan hebat."


"Astaga Tuhan, aku baru mengetahuinya.."


"Hmm.. Saat itu aku bekerja hanya sebagai sekretaris ayah Lucky, Lucky akan bertahan hidup jika mendapat donor jantung. Saat itu ayah nya yang rela memberikan jantung nya untuk Lucky, itu sebabnya Lucky dibuang begitu saja ketika usianya baru menginjak satu tahun. Entah kenapa, di tengah kekalutan ku. Aku justru mengingat Exelle putera kandung ku, diam-diam aku membawa Lucky pulang ke kediaman ku. Aku dan ibu merawatnya sebagai penghibur kami."


"Kau terlalu berani tuan, kau tidak tahu bagaimana watak asli mereka yang sebenarnya. Mereka bukan kalangan dari keluarga yang akan diam saja jika salah satu orang kepercayaan nya berkhianat."


"Itu sebabnya Hana, aku berusaha menjaga sikapku agar aku bisa menyembunyikan identitas Lucky yang sebenarnya. Bersusah payah aku memberinya pendidikan sama seperti yang seharusnya dia dapatkan dari keluarga dia yang sesunguhnya. Aku tidak ingin merubahnya sama seperti mu, aku ingin dia yang mewarisi semua milik ayah nya nanti dalam keluarga itu."


"Tapi kenapa harus memberinya banyak aturan? Kenapa harus mengirimnya ke indonesia? Kasihan dia."


"Banyak aturan kau bilang? Aku hanya ingin dia menjadi sosok yang banyak di kagumi oleh orang diluar sana. Aku ingin dia bisa di terima oleh keluarga aslinya Hana, hidup terlunta-lunta dan terbuang itu sangat berat. Aku ingin Lucky hidup sebagai sosok yang tidak gampang menyerah, aku ingin dia hidup mandiri dan berani agar kelak dia bisa melindungi orang yang dia pilih untuk dicintai."


"Jawab aku Tuan, kenapa kau harus memilih Indonesia. Sedang kau kini hidup dengan bergelimangan harta, hidup bak di kastil, kemanapun pergi kau di kawal, kau bisa menyekolahkan nya di negeri mana pun yang kau inginkan. Atau, hahaha. Jangan-jangan kau sengaja mengirimnya ke indonesia, seperti yany di ucapkan oleh wanita menyebalkan tadi. Huh,"


"Tarik kembali ucapan mu itu Hana."


Hana menghentikan gelak tawanya ketika Ammar menggertaknya. Kemudian dengan berani menatap mata Ammar.


"Kita sudah bertunangan. Apakah kau sungguh hanya berteman dekat dengan Fanny?"


"Lalu siapa Irgy bagimu Hana?"


"Eh, ah.. Dia, dia laki-laki yang dulu pernah ku cintai hingga... Sebelum aku menerima perjodohan ini, tapi sepertinya aku telah jatuh cinta padamu tua. Hihihi,"


"Tapi tidak dengan ku Hana, maafkan aku. Aku memilih Indonesia sebagai pendidikan Lucky ialah hanya dengan begitu rasa rinduku pada seseorang akan terobati."


"Tuan, tidak bisa kah kau membuka hatimu sedikit untuk ku? Aku tidak peduli bagaimana masa lalu mu, dan siapa wanita yang telah membuat hatimu tertutup rapat. Aku akan menganggap kau laki-laki yang telah Tuhan kirimkan untuk ku."


"Kau yakin dengan ucapan mu Hana? Ku lihat sinar matamu semakin menyalakan api dendam saat kau mengetahui aku mereka mengenalku juga."


"E,eh.. Tidak, tidak tuan. Hahaha, ayo lah. Jangan samakan aku dengan wanita lainnya, aku menerima perjodohan ini karena ku dengar kau laki-laki hebat dan pekerja keras. Itu sebabnya, sahabat Daddy yang menganggapmu sebagai pengganti putera mereka begitu menyukaimu. Mereka bukan orang biasa, tentu penilaian mereka juga lebih luar biasa pada mu." Ucap Hana dengan mendekatkan dirinya ke hadapan Ammar. Dia berusaha menggoda Ammar dan meyakinkannya melalui kecupan di bibir.


Namun dengan cepat Ammar menepisnya, dia tak ingin di sentuh oleh Hana.


"Aku harus segera mengurus perpindahan sekolah Lucky."


"Kenapa, kenapa kau lakukan itu hanya karena dia berteman dengan puteri dari masa lalu mu? Hahaha, Tuam. Kau membuatku semakin yakin, jika Fanny bukan hanya teman dekat mu saja. Dia pasti wanita yang sangat special bagimu di masa lalu bukan?"


"Jangan memaksaku Hana. Aku hanya tidak ingin Lucky merasakan sakit seperti yang ku rasakan di masa lalu, karena ku tahu saat ini Fanny dan Irgy tidak akan memberikan kesempatan Lucky bertemu dengan puteri mereka kembali. Lebih cepat lebih baik meski itu akan menyakiti Lucky nantinya,"


Kembali Hana kembali mendekatkan diri pada Ammar. Dia berusaha menggoda dan menyentuh Ammar untuk menerima kecupannya.


"Hentikan Hana. Jangan memaksaku,"


"Kenapa Tuan? Kita sudah bertunangan bukan? Sudah menjadi hak ku memberimu sebuah kecupan."


"Tanya saja hatimu, apakah kau sungguh pantas untuk ku pilih sebagai calon ibu untuk Lucky?"


"Hahaha, baiklah... Aku mengerti, aku akan memantaskan diri untuk menjadi wanita yang kau pilih untuk menjadi ibu dari anak-anak yang sangat kau sayangi itu. Sampai jumpa kembali Tuan tampan, terimakasih atas semua cerita di kehidupan masa lalu mu. Aku tidak mempedulikan itu, aku hanya berharap kau sungguh menerima perjodohan ini." Kemudian Hana beranjak pergi dari kediaman pribadi Ammar.


Maafkan aku Hana, aku tahu kau wanita yang luar biasa. Walau begitu, aku tidak bisa membuka hatiku kembali meski aku telah menerima perjodohan ini sebagai tunangan mu. Hatiku telah ku berikan sepenuhnya hanya kepada satu wanita saja, tak peduli walau kini dia membenciku seumur hidupnya, aku sudah berjanji untuk tidak lagi menjadi sosok yang mengerikan hanya untuk mendapatkan cintanya kembali. Tapi sepertinya aku msih gagal, dia telah hidup dengan bahagia.


Fanny, Aku masih mencintaimu...