
Pagi telah tiba, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi namun Pelangi tak kunjung keluar dari kamar nya. Membuatku khawatir, ada apa dengannya? Ini tidak seperti biasanya.
Tok tok tok...
Ku ketuk pintu kamar Pelangi untuk membangunkannya. Berulang kali ku ketuk masih belum terdengar suaranya yang menandakan bahwa dia sudah bangun. Aku berniat menggedornya lebih keras, pada akhirnya pintu kamar Pelangi terbuka.
"Maaf, Ma. Pelangi kesiangan," Ucap Pelangi dengan mata setengah terpejam.
"Astaga, sayang. Ini sudah jam 6 pagi loh, cepat mandi."
"Pelangi izin gak masuk ya, Ma."
"Loh, kenapa? Eh, apakah kau sakit nak? Coba mama cek." Dengan cepat dan penuh kecemasan aku menempelkan pungguh tangan ku di keningnya.
"Aduh, mama.. Pelangi baik-baik aja. Pelangi cuma malas saja,"
"Hemm.. Kalian gak lagi berantem kan? Semalam bukannya masih baik-baik aja?"
Pelangi terdiam sejenak. Dia terlihat seperti sedang menyembunyikan hal entah apa itu.
"Nak, mama tidak pernah mengajarimu sebagai wanita yang pengecut. Suka lari dari masalah, hem.. Ayo cepat mandi sana." Titah ku memaksanya. Dengan bermalas-malasan Pelangi menurut pergi ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian Pelangi sudah keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Ma, Pelangi sarapan di sekolah aja. Nanti telat ke sekolah,"
"Eeh, tunggu. Bawa ini, mama sudah menyiapkan sarapan untuk kalian makan bersama di sekolah nanti."
"Ka-lian?"
"Iya, kau dan Joe. Hihi,"
"Tapi, Ma..."
"Gak ada tapi-tapian, cepat. Joe sudah menunggumu di depan," Jelasku dengan mengecup kedua pipinya. Sementara Irgy tersenyum menggelengkan kepalanya melihat Pelangi menghela nafas panjang.
"Uang jajan masih ada? Papa tambahin nih."
"Ehm, gak usah pa. Masih ada kok," Jawab nya dengan tegas.
"Oh ya? Anak papa hemat sekali, ini sudah seminggu sayang. Kau masih menolak untuk papa berikan uang jajan. Apa tidak pernah mentraktir teman-teman mu?"
"Ehm.. Joe sudah melakukannya pa, hehe."
"Eh, mana bisa begitu. Kasihan dia, sekali-kali kau juga harus mentraktir teman-teman mu."
"Beres, Pa. Pelangi ke sekolah dulu, ehm.. Mama, makasih untuk sarapannya."
"Hati-hati, nak.. Belajar yang benar di sekolah. Salam untuk Joe," Ujar ku mengingatkan dengan setengah berteriak saat melihatnya berlarian menuju pintu.
"Huhft... Sayang, sudah lah. Jangan terus menggoda puteri kita. Kasihan dia, selalu saja kau buat malu."
"Hihihi, mereka menggemaskan sayang."
"Itu karena aku juga menggemaskan, Pelangi kita mirip dengan ku, papa nya."
"Enak aja, dia lebih mirip aku. Mama nya, cute dan menggemaskan."
"Hahaha, siapa bilang?"
"Jadi gak ngaku nih?"
"Astaga, tampaknya aku harus mengalah lagi."
Aku menyembikkan bibir mendengar Irgy mengeluh demikian. Sementara dia terus menggodaku dengan tawa lepas.
Sementara di lain tempat...
Pelangi dan Joe berada dalam perjalanan menuju sekolah mereka. Di tengah perjalanan Joe melirik Pelangi yang terlihat sedikit gelisah setelah mengingat kembali ucapan Exelle malam tadi.
"Eh, ah.. Yah, aku baik-baik saja. Hanya sedikit malas dan mengantuk,"
Mendengar jawaban dari kekasihnya itu, Joe melirik jam di pergelangan tangannya.
"Tidurlah sebentar, saat sampai di sekolah aku akan membangunkan mu."
"Hemm.. Baiklah," Jawab Pelangi singkat. Kemudian dia membenahi posisi duduknya lalu memejamkan matanya.
Maafin aku, Joe. Aku hanya sedang mencari cara bagaimana untuk menghindari cowok gila itu. Aku tidak ingin kau marah dan berpikir jika aku dengan sengaja mengundangnya datang ke sekolah.
Perlahan tanpa di sadari Pelangi sungguh terlelap dalam tidurnya. Semalaman dia merasa terganggu dan terusik akan ucapan Exelle yang mengatakan akan menemuinya di sekolah pagi ini. Hingga ia mendengar suara lirih dan lembut mengusap pipi nya dengan lembut, membangunkannya dari tidur sesaat.
"Sayang ku, ayo bangun. Kita udah di sekolah,"
Sontak Pelangi membuka kedua matanya dengan sedikit terkejut melihat sekitar sekolah dari dalam mobil. Semua tampak normal seperti biasanya, siswa siswi berlalu lalang terlihat berdatangan.
"Hei, hei. Apa aku mengejutkan mu, Langi?"
"E,eh.. Tidak, tidak Joe. Aku hanya... Akh, aku sungguh tertidur selama di jalan tadi."
Syukurlah, cowok gila itu hanya mengerjaiku.
"Ayo turun," Ajak Joe kemudian.
"Eh, tapi... Dimana yang lainnya?" Pelangi mulai kebingungan setelah menyadari bahwa ketiga sahabatnya tidak nampak seperti biasanya di depan pintu gerbang sekolah.
"Ehm, iya nih.. Kemana mereka? Tum-ben..." Jawab Joe melihat sekitar halaman sekolah.
"Princess cold!"
Tiba-tiba Lisa berlarian dari arah depan, ekspresinya menunjukkan kepanikan. Namun berusaha segera ia sembunyikan setelah melihat Pelangi di temani oleh Joe.
"Pagi, Sa." Sambut Joe.
"Oh, hai.. Joe, pagi. Eh elu di tungguin Lucas di ruang lab, katanya penting."
"Lucas? Tumben? Ada apa dengan pacar gelap ku itu? Hihihi."
"Entah lah, sepertinya dia sedang galau."
"Sungguh? Hahaha, ini aneh tapi lucu terdengar. Ehm, baiklah. Langi, aku menyusul Lucas sebentar, kita ketemu di kelas. Ku harap kau tidak akan cemburu,"
"Cih, apaan sih. Ya udah sana!" Titah Pelangi dengan mendorong tubuh Joe untuk segera melangkah. Ia paham betul dan bisa membaca ekspresi Lisa pagi ini, sehingga ia pun ingin Joe segera pergi.
"Ada apaan sih, Sa? Kebiasaan deh,"
"Aduh, sory Princess cold. Ini super gawat dan sangat gawat, aduuuh aku tidak tahu harus bagaimana." Lisa mulai mondar mandir di hadapan Pelangi dengan penuh kecemasan.
"Sa, to the point aja deh." Pelangi mulai dirundung rasa penasaran.
"Saat ini, cowok yang kemarin di hajar oleh Jeni ada di kantin. Jeni sedang memantaunya dari jauh diam-diam."
"Apa? Di kantin? Gila gak sih dia itu, mau ngapain lagi? nekat bener. Memangnya ini sekolah milik dia?"
"Dia datang enggak sendiri, di temani dengan dua cowok ediot yang menantangku dan Jeni kemarin. Mereka masih memakai seragam sekolah, gimana dooong... Joe pasti bakal marah jika dia langsung menemuimu, Princess cold."
"Sa, aku takut. Kau sudah melihatnya kemarin bukan? Joe begitu kesal dan salah paham saat dia menelepon ku."
"Maka dari itu, aku gak mau kalian jadi salah paham lagi. Lalu gimana doong, apa kita lapor aja ke kantor."
"Yakin tidak akan semakin rumit, Sa? Kau tahu mereka gila."
"Dia kemari tujuannya cuma satu, kau Princess cold. Dia terus menanyakan mu pada yang lain,"
Pelangi semakin gusar mendengar penjelasan Lisa, sahabatnya. Ingin rasanya dia memberanikan diri menegur kedatangan Exelle di sekolah nya pagi ini. Tapi di satu sisi dia juga takut, ini justru akan mengundang keramaian. Semua akan semakin rumit nantinya,
Sementara Exelle duduk santai tanpa merasa risih sedikitpun walau dia dan kedua temannya menjadi oust perhatian para siswa siswi yang sedang berkeliaran di kantin pagi ini.