
"Hai cewek galak. Wajah mu memerah, apakah itu berarti kau merasa gerogi karena ku? Atau itu berarti kau mau menerima ku sebagai pacar?" Tanya Exelle memaksa setelah dilihatnya Pelangi salah tingkah sejak tadi.
iih, nyebelin banget sih. Cewek manapun juga bakal gerogi tau. Jika kau terus saja menyatakan perasaan mu terang-terangan sejak tadi.
Bathin Pelangi.
Dia mengabaikan ucapan Exelle yang terus menggodanya. Sesekli dia melirik Exelle untuk mengajaknya bicara, namun dia urungkan niatnya karena takut memberikan harapan lebih padanya.
"Udaah, jangan menahan diri. Jika ada yang ingin kau bicarakan aku akan lebih senang," Tiba-tiba Exelle terdengar sedang menyindirnya, walau dia sedang mengalihkan pandangan ke sekitar.
"Ehm, kapan kau selesai?"
"Selesai apaan?"
"Cepat pulang, sana. Biar aku saja yang menemani mama belanja,"
Exelle menghentikan langkahnya yang mendorong troly belanja. Begitu pula dengan Pelangi yang mendadak terkejut karena Exelle sedikit menghentakkan kedua kakinya di lantai.
"Apa kau sungguh merasa tidak senang melihatku berlama-lama di dekatmu?" Tanya Exelle menampilkan wajah serius.
"Bu,bukan. Aku hanya bertanya saja, kenapa kau marah hah?" Jawab Pelangi cetus tak mau kalah.
"Lalu kenapa sejak tadi kau seolah mengusirku?"
"Itu karena.. Karena aku.. Aku tidak nyaman mendengarmu terus berkata jika kau ingin menjadi pacarku, sudah berapa kali aku jelaskan jika aku sudah memiliki pacar. Dan kau juga sudah melihatnya di restoran malam itu."
"Cowok yang bersama Mery semal..."
"Sssttt... Pelankan suaramu." Pelangi menutup mulut Exelle dengan tangan kanannya. Di bungkamnya agar tidak terdengar oleh ku yang berada sedikit jauh dari mereka. Exelle mengangguk cepat setelah Pelangi mengancamnya dengan menunjuknya menggunakan jari telunjuk.
"Jangan menyebut nama Maria dan Joe di depan mama, mau mengerti?" Titah Pelangi membali.
"Wah, jadi kau mengajakku bernegoisasi nih?"
"Awas saja jika kau berani mengucapkan nya sekali lagi." Ancam Pelangi.
"Fa-nny.. Haai, kau sedang disini juga sayang?"
Seketika Pelangi menoleh ke arah depan ketika di dengarnya suara yang tak asing baginya. Ya, Abel kini datang menghampiri ku.
"Hai, Bel. Kau disini juga?" Sapaku pada Abel.
"Ya, aku sedang berbelanja untuk bahan-bahan kue. Ih, karen mu aku jadi hobby di dapur minggu-minggu ini, ehm.. Apa kau sendiri?"
"Tidak, aku dengan puteriku, Pelangi. Tuh, dia di belakang." Tunjuk ku ke arah Pelangi yang berdiri kaku di sisi Exelle.
Pelangi maju lebih dekat untuk menghampiri kami, di susul oleh Exelle di sisinya yang dengan setia mendorong troly belanja.
"Ha,halo tante."
"Aaah, Jelitaku Pelangi. Anak yang baik, mau menemani mama mu belanja kebutuhan begini. Tapi siapa laki-laki di sampingmu itu?"
Exelle sedikit tertegun, menunjukkan jari telunjuknnya ke wajahnya sendiri setelah Pelangi menatapnya.
"Hai, tante. Ehm, aku Exelle. Salam kenal, tante cantik." Ucap Exelle dengan senyuman manis memperkenalkan diri.
Mendengar Exelle menyapanya dengan memperkenalkan diri, sontak seolah dia terperanjat, terperangah, tertegun menatap wajah Exelle. Dalam bathinnya penuh tanda tanya.
Exelle, kenapa seketika aku mengingat nama anak Ammar dan mendiang Eliez? Benarkah dia Exelle yang sama? Ah, tidak mungkin kebetulan seperti ini. Nama Exelle banyak, tapi...
"Ha,hai.. Nak, salam kenal. Apakah kau teman Pelangi? Berarti kau juga teman puteraku, Joe."
Belum juga terjawab, tak berapa lama kemudian Joe muncul di temani sosok gadis remaja yang mendorong troly belanja bersamaan. Mereka baru saja terlihat sedang bersenda gurau.
Tampak Pelangi dan Joe saling bertatap kaget, begitupun gadis itu ketika melihat Exelle. Suasana hening, seolah kita berada di tempat yang sepi tanpa lalu lalang orang satupun. Kemudian Pelangi berbalik badan pergi berlarian begitu saja, entah kemana.
"Langi!!!" Panggil Joe kemudian, ia hendak mengejar Pelangi namun tangannya tertahan oleh gadis remaja yang di sebelahnya saat ini. Joe menepis tangannya dengan sedikit kasar, ia mendecak kesal hendak menyusul Joe.
"Mery, biarkan Joe mengejar Pelangi. Kau disini dengan tante," Ucap tegas Abel pada nya.
"Tante, maafkan aku. Maaf banget aku harus mengejar si cewek galak," Ujar Exelle kemudian.
"Hei, nak. Kau juga tidak boleh perg..."
Exelle mengabaikan ku yang berbicara lalu pergi begitu saja dengan berlarian sedikit lebih cepat. Aku kebingungan dengan kondisi kali ini, ada apa? Kenapa dengan anak-anak ini???
"Abel, ada apa dengan anak-anak kita?"
"Aku.. Aku tidak tahu, Fanny. Tapi sepertinya disini ada kesalah pahaman yang terjadi,"
"Tapi apa, dan siapa anak itu?" Tanya ku menunjuk ke arah gadis yang sejak tadi memasang wajah cemberut selalu menatap ke arah depan. Seolah sedang menunggu sosok Joe.
"Oh, dia.. Dia anak dari rekan kerja suami ku saat di LN. Kami bertetangga, dia memang sedikit manja dengan Joe. Karena kami sudah menganggapnya keluarga, Fanny."
Aah, jadi ini penyebab puteriku sedikit diam sejak pagi tadi. Mungkinkah timbul rasa cemburu diantara hubungan mereka saat ini? Tapi sepertinya, gadis itu memang berbeda. Dia menyukai Joe, ya.. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya saat ini.
Aku terdiam sejenak menatap wajah anak gadis itu, dia membalas tatapanku dengan sedikit kesal tanpa memperkenalkan diri menyapa ku.
"Ayolah, Fanny. Percaya padaku, Jangan berpikir yang tidak-tidak, semua masih aman terkendalikan oleh ku."
"Mery, ayo beri salam pada tante di depan ini. Namanya Fanny, mamanya Pelangi pacar Joe." Titah Abel menyuruhnya menyapa Abel. Namun dia masih sibuk clingak clingkuk menatap sekitar, masih seolah mencari sosok Joe.
Sementara di lain tempat...
Joe berhasil menarik tangan Pelangi dan menangkapnya dalam dekapannya. Pelangi mendorongnya dengan sedikit kasar di depan umum, Joe terkejut akan sikap dingin Pelangi detik ini.
"Bisa gak, jangan selalu memelukku tiba-tiba begini?"
"Astaga, Langi.. Ada apa dengan mu? Tidak seperti biasanya kau begini, apa kau sungguh marah padaku? Sejak malam tadi hingga siang ini aku berulang kali menelponmu, bahkan kau hanya membaca pesan singkatku saja tanpa membalasnya."
"Lalu apa itu berarti kau bebas berduaan dengan Maria, hanya karena aku mengabaikannya?"
"Langi, apa kau sungguh cemburu pada Maria? Dia teman ku, aku sungguh hanya menganggapnya teman. Aku hanya menghargainya karena dia datang dan menginap dirumah ku untuk tiga hari ke depan."
"Woah, pantas saja. Kau begitu asyik bersenda gurau dengan nya tadi. Apa kau bahagia bisa mengulang masa-masa indah kalian saat di LN dulu?"
"Lalu bagaimana dengan kau dan dia, Langi?" Tanya Joe kemudian setelah melihat Exelle tiba dari arah belakang. Pelangi menghela nafas panjang dan memutar kedua bola matanya jengah.
"Apakah dia berhasil dengan mudah meluluhkan hatimu, Langi? Sehingga dia menguntitmu kemana saja kau pergi."
"Joe, apa mau berbalik menuduhku saat ini hah? Kami tidak sengaja bertemu disini, Joe."
"Aku memang sedang berusaha meluluhkan hatinya dan menjadikannya pacar, tapi aku bukan penguntit seperti yang kau tuduhkan padaku tadi. Aku tidak sekonyol itu, atau mungkin kau sedang membicarakan dirimu sendiri saat ini."
"Ex, diamlah!!!" Bentak Pelangi.
Sontak Exelle menoleh dan menatapnya dengan senyuman berbinar-binar. Itu karena dia mendengar Pelangi pada akhirnya menyebut namanya, Exelle sangat bahagia.
"Hai, cewek galak. Kau baru saja menyebut namaku, baiklah. Aku akan menurutim untuk diam kali ini." Ujar Exelle kembali.
"Pemandangan apa ini, menjijikkan!" Joe sedikit mengumpat dengan kasar.