
Rendy terus menatap Kirana yang berteriak memakinya. Bukan sangat marah, tapi Rendy berusaha menahan kemarahannya dan membiarkan hanya Kirana saja yang meluapkan kemarahannya.
Rendy melepaskan tangannya dan menarik Kirana kedalam pelukannya. Semarah apapun dia, dia tidak akan sanggup kalau harus membalas makian dari Kirana.
"Lepasin aku!" Kirana memberontak dan berusaha mendorong Rendy.
Tapi, tubuhnya yang kecil juga tenaganya tentu saja sangat tidak sebanding dengan Rendy.
"Aku bilang diam." Ucap Rendy dengan mengeratkan pelukannya.
Kirana pun terdiam. Dia sudah merasa lelah, ditambah harus melawan Rendy. Lebih baik, saat ini dia diam dan mendengarkan Rendy.
Setelah Kirana terlihat lebih tenang, Rendy melepaskan pelukannya dan menatap Kirana.
"Sekarang aku tanya lagi sama kamu. Dari mana kamu tau kalo aku pergi ke Hotel sama Lena?" Tanya Rendy mengulangi pertanyaannya yang tadi.
Kirana masih membisu enggan untuk menjawab dan memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
"Ki, aku tanya sama kamu. Aku udah berusaha menahan kemarahanku." Ucap Rendy berusaha bicara dengan tenang.
"Aku tadi ngikutin kamu." Jawab Kirana dengan pelan tanpa menoleh melihat Rendy.
"Wah, calon istriku ini ternyata sangat posesif ya?" Ucap Rendy sambil tersenyum dingin.
Kirana langsung menoleh menatapnya. "Kamu nggak usah sok kePDan! Aku ngikutin kamu juga karena Pak Beni yang maksa!" Ucap Kirana dengan ketus dan sangat kesal.
"Oh, jadi Beni penyebabnya?"
Rendy semakin terlihat dingin dan Kirana dapat merasakan kalau Rendy sangat marah saat ini.
Dia hanya khawatir kalau Beni akan mendapat hukuman dari Bosnya yang semakin menyebalkan dan play boy ini.
"Kamu..jangan marah sama Pak Beni." Ucap Kirana sambil menoleh menatap Rendy yang juga masih menatapnya.
"Lalu? Aku harus marah ke siapa? Dia harus aku beri pelajaran. Kalo perlu aku pecat dia!" Ucapan Rendy ini terdengar tegas dan sangat serius membuat Kirana melebarkan kedua matanya.
"Kamu ini lebay banget sih! Kenapa harus dipecat hanya karena masalah sepele kayak gini?!" Pekik Kirana yang ingin membela Beni.
Kirana akan merasa sangat bersalah kalau sampai Beni dipecat. Bagaimanapun juga, ini juga kesalahannya.
"Apa kamu bilang? Masalah sepele?" Tanya Rendy dengan mengernyit. "Aku jadiin dia sebagai asisten pribadiku sekaligus tangan kananku. Dengan kelakuan dia yang kayak gini, aku jadi ngerasa dikhianati." Lanjutnya sambil memundurkan tubuhnya keposisi semula.
Kirana terdiam dan bingung harus begaimana membela Beni.
"Emm..kamu jangan pecat Pak Beni ya? Ini bukan cuma salah dia aja! Aku juga salah." Ucap Kirana dan nadanya menjadi pelan dikalimat terakhirnya lalu menggigit bibirnya.
"Kenapa? Karena kamu penasaran? Terus Beni kasihan sama kamu gitu?" Tanya Rendy dengan tersenyum sinis. "Sepertinya kalian udah akrab banget. Dibandingkan dengan aku, kamu lebih deket dengan Beni!" Lanjutnya dengan menatap dingin Kirana penuh rasa curiga.
"Emangnya kenapa kalo aku lebih akrab sama Pak Beni? Dia baik juga pengertian! Dan yang paling penting, dia nggak play boy!" Ucap Kirana sengaja menekan kata 'play boy' untuk menyindir Rendy.
Rendy mengerutkan keningnya menatap Kirana. "Apa maksud kamu ngomong gitu?"
"Pikir aja sendiri!" Jawab Kirana dengan acuh dan memalingkan wajahnya lagi.
Gadis ini! Rendy hanya masih belum bisa mengerti. Sebenarnya bagaimana perasaan Kirana terhadapnya? Kenapa setelah menjalin hubungan dengannya, mereka malah sering ribut seperti ini.
Sedangkan dirinya sendiri, sudah memantabkan dirinya dan mulai bisa memasukkan Kirana kedalam hatinya.
Tapi kenapa saat dia mulai bisa melupakan Olivia dan memilih Kirana sebagai gantinya, sikap Kirana malah seperti ini kepadanya?
Rendy menghela nafasnya panjang untuk meredam emosinya. Dia tidak ingin banyak bicara lagi yang nantinya malah akan membuatnya dengan Kirana semakin ribut.
Dalam perjalanan mengantar Kirana, mereka berdua terus terdiam dan suasana didalam mobil menjadi hening. Jalanan juga sudah terlihat tidak seramai tadi. Mungkin karena sudah semakin larut.
Dua puluh menit kemudian, mobil Rendy berhenti dipinggir jalan depan Gang Kampung Anggrek tempat Kirana tinggal.
Kirana melepaskan sabuk pengamannya dan ingin turun. Rendy menahan tangan Kirana ketika ingin membuka pintunya.
"Mas, kamu...mau ngapin? Jangan macem-macem y? Atau aku teriak nih!" Ucap Kirana dengan gugup sedikit panik dan penuh kewaspadaan.
"Aku mau serius sama kamu." Ucap Rendy dengan menatap lekat Kirana dan dimatanya tidak ada keraguan sedikitpun.
Kirana terdiam dan terpaku. Bahkan untuk bernafaspun dia merasa sulit. Jantungnya kembali berdegub kencang.
Ya Tuhan! Apa aku sedang bermimpi? Mas Rendy mau beneran serius sama aku? Atau...dia lagi mabuk?
Batinnya dengan menatap Rendy merasa ragu tidak percaya.
"Mas, kamu..mabuk ya?" Tanya Kirana sambil menahan dada bidang Rendy dengan sebelah tangannya karena tangan sebelahnya lagi masih dipegangi Rendy.
"Kamu liat aku Ki. Apa aku lagi mabuk atau enggak, kamu pasti tau kan?" Tanya balik Rendy.
"Mas, aku..aku masih belum bisa jawab dan aku....
"Kamu masih belum mau pacaran? Kamu mau fokus kerja?" Sahut Rendy memotong ucapan Kirana dan Kirana hanya mengangguk sambil menggigit bibirnya. "Ki, aku bisa bantu kehidupan kamu kalo kamu mau." Lanjut Rendy.
"Mas, aku jauh-jauh datang kesini dari kampung, aku pengen ngejar impian aku, dan impian aku selama ini, bisa kerja jadi karyawan diperusahaan Pradipta Grup. Aku nggak mau ada campur tangan dari kamu atau siapapun. Aku pengen bisa sukses dengan usahaku sendiri." Ucap Kirana dengan menatap Rendy.
Mendengar ini, hati Rendy semakin mantab untuk menjadikan gadis polos ini menjadi miliknya. Hanya miliknya.
Ketulusan, kelembutan dan kejujurannya membuat Rendy semakin tertarik kepadanya.
Mungkin masih banyak perempuan diluar sana yang lebih baik dari Kirana. Tapi, Rendy hanya tertarik dengan gadis polos ini.
Dan jujur, dari sejak awal bertemu dengan Kirana, Rendy sudah tertarik dengan Kirana.
Dia tertarik dengan semangat dan usaha dari gadis polos ini. Makanya, dia langsung meminta HRD untuk menerima Kirana tanpa melalui tes atau ujian terlebih dulu.
Kirana langsung diterima dan menjadi karyawan tetap di Pradipta Grup.
Kini, Rendy merasa cemas. Kalau Kirana tau dirinya yang selalu membantu dia dan tidak pernah menyulitkan pekerjaannya, mungkin Kirana akan marah dan kembali merasa kecewa.
"Aku janji nggak akan campur tangan kalo kamu sendiri yang nggak minta. Tapi please Ki, aku mau hubungan kita ini bisa serius." Pinta Rendy kembali dengan wajah memohon kepada Kirana.
Kirana sebenarnya merasa sangat senang akhirnya bisa menjalin hubungan serius dengan laki-laki tampan yang sejak awal sudah membuatnya jatuh hati.
Tapi Kirana teringat saat Rendy menjemput Lena dan melihat mereka pergi ke Hotel. Hati Kirana menjadi ragu. Dia meragukan keseriusan Rendy meski dia bisa melihat dari sorot mata Rendy yang terlihat begitu serius.
"Maaf Mas, aku masih belum bisa." Jawab Kirana lalu menunduk tidak sanggup menatap Rendy. "Aku masih meragukan kamu." Lanjutnya sambil menunduk.
"Apa yang membuat kamu ragu? Kamu masih berpikiran kalo aku ini laki-laki brengsek yang suka main-main sama perempuan diluar sana?"
Kirana terdiam dan hanya bicara dalam hati.
Iya Mas! Karena kamu dan Lena..kalian berdua sampai pergi ke Hotel. Ngapain coba, laki-laki dan perempuan masuk ke Hotel, apalagi pakaian Lena yang kurang bahan itu?!
"Mas, udah malem. Kita bahas lagi lain waktu aja ya?"
"Nggak bisa! Aku pengen bisa tidur nyenyak Ki. Beri aku kepastian." Tegas Rendy karena semenjak menjalin hubungan yang tidak jelas dengan Kirana, Rendy selalu kepikiran Kirana dan membuatnya sudah tidur.
................