
"Si..siapa kamu?!" Teriak Kirana bertanya dengan suara dan tubuh menegang dan bergetar karena ketakutan.
"Kamu lupa denganku Kirana?"
Terdengar suara laki-laki yang sudah tidak asing lagi ditelinga Kirana.
"Bima?!" Pekik Kirana semakin terkejut sambil melebarkan kedua bola matanya.
"Aaahk!" Pekiknya lagi karena tiba-tiba Bima mendorongnya hingga tubuh Kirana terbaring diatas meja dan Bima segera menggenggam erat kedua pergelangan tangan Kirana dengan sebelah tangannya saja, menyatukannya hingga keatas kepala dengan erat lalu menindihnya dan mendekatkan wajahnya pada Kirana.
"Bi..Bima..kamu mau apa?" Tanya Kirana dengan tubuh semakin menegang dan ketakutan.
"Aku hanya ingin kamu jadi milikku Kirana. Setidaknya untuk malam ini saja." Ucap Bima dengan berbisik ditelinga Kirana dan mengusap sisi wajah cantik Kirana lalu mengecup daun telinganya membuat tubuh Kirana menggigil karena rasa takut yang luar biasa telah menyerangnya.
"Bima! Kamu gila!" Pekik Kirana yang berusaha memberontak saat Bima semakin liar ingin menciumnya.
"Aku memang udah gila karena kamu Kirana! Kamu sudah membuatku tergila-gila. Kenapa kamu selalu berlagak sombong kepadaku hah?!" Ucap Bima dengan meneyringai lalu membentak Kirana terdengar begitu emosional karena setiap bertemu dengan Bima, Kirana terlihat acuh dan sering menghindar.
Kirana terdiam karena rasa takut telah membuatnya sulit untuk mengeluarkan suaranya.
Bukan maksud Kirana untuk bersikap sombong seperti yang ada dipikiran Bima. Ia hanya merasa tidam nyaman saja dengan sikap Bima yang selalu berusaha menggodanya dan menarik perhatian semua orang dikantor. Meski Rosa dan Yolanda selalu berada disampingnya untuk menghalangi Bima, tapi Bima yang memang sudah tertarik dengan Kirana seolah tidak peduli dengan semua orang disana.
"Sebaiknya kamu diam dan nikmati aja. Aku yakin, kamu pasti akan menyukainya." Ucap Bima dengan berbisik lalu berusaha ingin mencium bibir Kirana.
Namun Kirana memberontak dan menghindari ciuman dari Bima dan ciuman Bima mendarat dipipi Kirana.
"Bima, hentikan! Aku mohon!" Pekik Kirana sambil menangis dan terus memberontak.
"Tolooooong!" Teriak Kirana sekencang-kencangnya sambil menangis. Tubuhnya menegang dan gemetar hebat. Kirana benar-benar sangat ketakutan. Dalam hati, ia terus berdoa berharap ada yang mendengarnya dan menolongnya.
"Diam! Percuma aja kamu teriak. Karena nggak akan ada yang denger kamu!" Bentak Bima sambil terus berusaha mencium Kirana namun Kirana masih bisa menghindari ciuman Bima dibibirnya.
"Bima..aku mohon..jangan lakukan ini." Ucap Kirana dengan suara melemah dan terus memohon dengan air matanya yang telah mengalir deras.
'BRAKKK!'
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang didobrak dari luar dengan keras hingga terbuka lebar. Seketika Bima melepaskan cengkraman tangannya pada kedua pergelangan tangan Kirana. Ia menegakkan tubuhnya dan berbalik melihat kearah pintu dengan panik.
"Siapa kamu?" Tanya Bima dengan memicingkan matanya karena tidak bisa melihat dengan jelas sosok tinggi tegap menghalangi cahaya lampu dari luar ruangan lalu berjalan cepat kearahnya.
'BUGH! BUGH! BUGH!'
Bima langsung mendapat pukulan begitu keras di wajah dan perutnya.
Mendengar suara perkelahian, membuat Kirana langsung beringsut dan bersembunyi disamping meja dengan berjongkok sambil memeluk kedua kakinya menyatukan dengan tubuhnya.
'BUGH!'
"Pak..Pak Rendy?" Bima mengenali suara Rendy dan langsung bisa menebaknya.
"A..ampun Pak! Saya minta maaf! Saya.."
'BUGH!'
Bahkan sepertinya, Rendy tidak memberi ijin kepada Bima untuk bicara. Bima terus mendapat pukulan bertubi-tubi dari Rendy. Tak hanya pukulan saja. Rendy juga menendang tubuhnya hingga terpental dan membentur lemari juga meja hingga semua barang-barang yang tertata rapi diatas meja terjatuh berserakan tidak karuan.
"Pak..Pak Rendy..ampun Pak! Saya mohon..maafkan saya!" Ucap Bima terus memohon ampun karena Rendy terus menghajarnya tanpa ampun.
Rendy menghentikan pukulannya saat tidak mendengar suara Bima lagi. Meski ia sedang tersulut emosi dan belum puas menghajar laki-laki bejat seperti Bima, setidaknya Rendy masih memiliki hati nurani. Ia tidak ingin sampai membunuh orang didalam perusahaannya ini.
Rendy kemudian meraih ponsel disaku jasnya dan menghubungi Beni. Dengan cepat, Beni langsung datang dan menyalakan lampu ruangan tersebut.
"Ada apa Bos?" Tanya Beni dengan memperhatikan isi dalam ruangan tersebut yang sudah seperti kapal pecah. Lalu pandangannya jatuh kebawah dan mengernyit menatap Bima yang sudah terkapar dilantai dengan wajah babak belur dan ada darah yang keluar dari hidung juga bibirnya. Ia dapat menebak, pasti Bosnya baru saja menghajarnya habis-habisan. Tapi ada masalah apa sehingga Bosnya sampai menghajarnya hingga seperti ini?
"Apa kamu karyawan disini?" Tanya Rendy dengan menahan emosinya sambil menatap tajam Bima yang tergelatak meringkuk dilantai dengan nafas tersengal.
Bima hanya diam saja tidak menjawabnya karena merasa tidak berdaya untuk mengeluarkan suaranya.
Beni pun ikut geram dan ia menyenggol kaki Bima dengan kakinya. "Apa kamu tuli?"
"I..iya. A..aku karyawan disini." Jawab Bima pelan sambil menahan kesakitan disekujur tubuh dan wajahnya.
"Bos, memangnya apa yang terjadi?" Akhirnya Beni bertanya karena merasa penasaran melihat wajah Rendy yang begitu emosi dan membuat karyawannya ini babak belur. Sepertinya luka Bima juga terlihat cukup parah.
"Seret sampah ini keluar. Dan pastikan jangan sampai dia muncul lagi disini ataupun disekitar perusahaan ini!" Ucap Rendy penuh penekanan memberi perintah kepada Beni dengan menatap tajam Bima dan mengepalkan kedua tangannya menahan segala emosinya.
Rendy merasa tidak terima dengan kelakuan karyawannya yang sudah berani melecehkan karyawan wanitanya didalam perusahaan yang telah dipimpinnya ini.
Apa jadinya kalau sampai ia tidak ada disini malam ini? Mungkin saja karyawan wanita ini sudah kehilangan kehormatannya oleh sampah seperti Bima.
"Baik Bos!" Jawab Beni dan tanpa bertanya lagi, Beni langsung menyeret Bima keluar.
"Pak Rendy! Saya mohon..jangan pecat saya! Saya minta maaf Pak, saya khilaf! Saya mohon..maafkan saya! Saya janji..tidak akan mengulangi lagi Pak! Jangan pecat saya Pak! Hukum saja saya..tapi jangan pecat saya." Bima pun tiba-tiba berlutut di kaki Rendy, memeluk kakinya dan terus memohon sambil menangis.
Rendy yang saat ini hati dan pikirannya sedang kalut karena banyak sekali yang ia pikirkan. Ditambah harus melihat kejadian yang membuatnya langsung semakin tersulut emosi. Ia tidak peduli dengan permohonan Bima.
Beni yang sangat mengerti pun, ia tidak ingin membuat sang Bos kembali emosi dan menghajar Bima. Ia menarik paksa tangan Bima.
"Ayo bangun!" Bentak Beni sambil menarik Bima dan segera menyeretnya hingga keluar dari ruangan itu.
Randy menghela nafasnya panjang mencoba meredam seluruh amarahnya. Lalu ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan karyawan wanita yang tadi hampir dilecehkan oleh Bima keseluruh ruangan tersebut. "Dimana dia?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
................