
Rendy melepaskan pelukannya kemudian dia bangkit berdiri dan menarik pelan kedua tangan Olivia untuk membantunya berdiri. "Sebaiknya kamu istirahat. Jangan banyak pikiran."
Olivia hanya sedikit tersenyum dan mengangguk pelan.
Rendy membantunya berbaring ditempat tidur, kemudian menyelimutinya dan tangannya langsung digenggam oleh Olivia. "Jangan pergi." Pintanya dengan suara yang terdengar bergetar.
Rendy kemudian duduk ditepian tempat tidur di samping dia. "Aku nggak kemana-mana,Oliv. Sekarang kamu tidur." Ucap Rendy kemudian melepaskan genggaman tangan Olivia.
Meskipun saat ini dia sedang bersama Olivia, tapi sejak tadi pikiran Rendy terus tertuju pada Kirana.
Gadisnya itu, kini benar-benar sudah menguasai pikiran Rendy.
"Rend..." Panggil Olivia lirih sambil menatapnya.
"Hmm?" Rendy menurunkan tatapannya kearah Olivia.
"Apa kamu lagi mikirin sesuatu? Pasti lagi mikirin perempuan itu ya? Calon istri pura-pura kamu." Tanya Olivia dengan suara yang masih terdengar sangat lemah.
"Ngomong apa sih kamu? Udah cepet tidur. Nggak usah mikirin sesuatu yang bukan urusanmu!"
Rendy merasa sangat tidak suka jika ada yang mengatakan kalau Kirana calon istri pura-puranya.
Meski diawal memang seperti itu, tapi semakin kesini, Rendy semakin ingin membuat hubungan bersama Kirana benar-benar serius. Bahkan kalau Kirana mau memberi kepastian kepadanya, saat ini juga Rendy akan langsung menghubungi orang tuanya datang menemui Kirana untuk melamarnya. Karena Rendy tidak pernah main-main dengan perasaannya.
"Aku kangen sama kamu Ren. Aku kangen bisa berduaan sama kamu seperti ini." Ucap Olivia dengan wajah sendu sambil meraih tangan Rendy untuk dia genggam.
Rendy menghela nafasnya tidak berniat merespon ucapan Olivia. dan membiarkan Olivia menggenggam tangannya hingga perlahan, Olivia memejamkan kedua matanya dan tertidur.
Untuk sesaat, Rendy masih menemani Olivia yang sudah tertidur dan wajahnya terlihat tenang. Tidak seperti tadi saat dia datang melihat wajah ketakutan Olivia.
Perlahan, Rendy melepaskan genggaman tangan Olivia lalu bangkit berdiri. Saat Rendy hendak melangkah, tiba-tiba Olivia seperti sedang mengalami mimpi buruk.
"Jangan..ampun.."
Rendy kembali duduk dan membangunkan Olivia. "Hey Oliv, tenanglah."
"Tidak..jangan pukul aku..
"Hah!" Seketika Olivia terbangun dengan nafas yang tersengal.
"Hey. Are you ok?" Tanya Rendy sambil mengusap sisi wajah Olivia dengan lembut.
Olivia langsung memeluk Rendy dengan erat. "Ren, aku..aku takut." Ucapnya dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan.
Rendy mengusap lembut punggung Olivia untuk menenangkannya. "Kamu cuma bermimpi, Oliv. Nggak perlu takut."
Perlahan, Olivia kembali merasa tenang dalam pelukan sang mantan kekasihnya. Rendy melepaskan pelukannya dan menatap Olivia yang terlihat pucat.
"Jangan pernah mengingat apapun yang membuatmu takut. Kamu ingat-ingat aja hal-hal yang menyenangkan dalam hidup kamu." Ucap Rendy mencoba membuat Olivia melupakan ketakutannya.
"Yang menyenangkan?" Tanya Olivia dan Rendy mengangguk pelan. "Kebersamaan kita bagiku adalah hal paling menyenangkan Ren. Aku nggak pernah lupa. Tapi laki-laki berengsek itu..dia..dia..
Olivia kemudian menangis kesakitan sambil menekan dadanya yang terasa sangat sesak. "Dia..udah bikin aku..seperti ini..
Rendy kemudian menarik Olivia kedalam pelukannya. "Udah cukup! Jangan bicara lagi!"
Melihat Olivia yang seperti ini, Rendy benar-benar merasa tidak tega untuk pergi. Karena disini hanya dia yang bisa membuat Olivia bisa merasa tenang.
Sedangkan Andreas? Bahkan teman sialannya itu merasa kualahan untuk menenangkan Olivia.
Setelah Olivia kembali tenang. Rendy membantu Olivia untuk berbaring lagi. Saat ini sudah hampir jam dua dan Rendy sama sekali belum beristirahat.
"Ren.." Panggil Olivia dengan lirih.
"Hmm? Apa?"
"Boleh aku tidur sambil peluk kamu?"
Rendy terdiam sejenak kemudian sedikit mengangguk dengan tersenyum tipis. Sebisa mungkin, Rendy akan membantu Olivia keluar dari trauma yang membuatnya seperti ini, sesuai dengan anjuran dari dokter.
Menuruti keinginannya. Membuatnya untuk tidak berdiam diri sendirian dan melamun yang mungkin akan membuat Olivia teringat dengan kejadian yang membuatnya sakit kemudian berteriak histeris ketakutan.
Olivia menggeser tubuhnya dan Rendy naik lalu duduk bersandar pada tempat tidur setengah berbaring.
Olivia tersenyum bahagia dan menyandarkan kepalanya didada bidang Rendy dengan tangannya memeluk perut six pack mantannya ini. "Makasih Ren." Ucapnya dan Rendy hanya diam tapi tangannya mengusap lembut kepala Olivia membuatnya merasakan kenyamanan yang telah lama tidak dia rasakan.
Rasa lelah dan kantuk yang dirasakan Rendy membuatnya tidak kuat lagi untuk terus terjaga. Perlahan dia memejamkan matanya dan kemudian terlelap tidur.
Menyadari usapan tangan Rendy berhenti mengusap kepalanya. Olivia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Rendy yang ternyata tertidur.
Olivia tersenyum kemudian mensejajarkan posisinya dengan Rendy. Dia menatap sejenak wajah tampan mantan kekasihnya ini yang baru disadarinya semakin tampan.
Olivia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah tampan Rendy yang begitu teduh saat tertidur seperti ini. "Aku benar-benar nyesel banget udah khianatin kamu dan buat kamu sangat kecewa sama aku. Mungkin kamu juga benci sama aku. Tapi aku masih sangat mencintai kamu, Ren. Aku selalu kangen sama kamu." Lirih Olivia sambil mengusap pelan sisi wajah Rendy.
Olivia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Rendy sekilas. Tidak ada pergerakan dari laki-laki tampan ini, Olivia kembali mengecup bibir lembut milik mantan kekasihnya ini yang dulu sering sekali membuatnya bengkak saat Rendy menciumnya.
Olivia tidak hanya mengecup, dia mulai ******* bibir Rendy.
................
Hallo Readers π
Author mau kasih beberapa visual dari tokoh-tokoh didalam karya "Because, I Love You!"
...Rendy π...
...Kirana π...
...Harisπ...
...Olivia π...
...Beni π...
Itu aja visualnya ya ππ₯°
Semoga kalian suka, dan terimakasih banyak sudah selalu mengikuti karya sayaππ₯°
Mohon maaf, karena Author tidak bisa UP setiap hari. ππ₯°