Because, I Love You

Because, I Love You
#38



Ada dua pelayan masuk membawakan buku menu dan menyerahkannya kepada Olivia dan Rendy juga Kirana. Kirana yang baru pertama kali masuk kedalam restoran Jepang, ia merasa bingung karena belum pernah makan makanan Jepang.


Rendy melirik Kirana dan bisa melihat wajah bingung Kirana. Ia menyerahkan buku menunya kepada pelayan lalu mengambil buku menu dari tangan Kirana lalu membacakan beberapa menu makanan Jepang untuk ia pesan. Kemudian ia menyerahkan lagi buku menu tersebut kepada pelayan.


"Aku udah pesan juga buat kamu." Ucap Rendy sambil mengusap kelapa Kirana membuat Kirana terpaku dan tubuhnya menegang.


Jangan ditanya nasib jantungnya. Sikap Rendy begitu manis dan lembut. Tentu saja membuat Kirana yang sejak awal diam-diam sudah mengagumi Pak Presdir tampannya ini, bisa-bisa ia jatuh cinta kepada Rendy.


Sebisa mungkin Kirana bersikap tenang dan berusaha menenangkan hati juga jantungnya yang berdegup kencang.


Olivia yang duduk diseberang Rendy sudah menahan rasa cemburunya. Ia terus memperhatikan sikap Rendy yang begitu mani kepada Kirana.


"Maaf kak? Kakak mau pesan apa?" Tanya pelayan dengan sopan yang menunggu Olivia belum juga memesan sesuatu. Kemudian Olivia membacakan pesanannya lalu menyerahkan buku menunya pada pelayan.


Pelayan segera pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


Rendy duduk bersandar dengan meletakkan sebelah tangannya dibelakang sandaran kursi Kirana. Terlihat begitu dekat tak ada jarak diantara ia dan Kirana.


"O ya, sejak kapan kamu jadi pacarnya Rendy?" Tanya Olivia pada Kirana.


Rendy hanya diam mendengarkan pertanyaan dari Olivia yang ditujukan kepada Kirana.


"Emm..sejak.." Kirana melirik pada Rendy dan menyikutnya meminta bantuannya untuk menjawab pertanyaan dari Olivia.


Rendy langsung merespon dengan melanjutkan ucapan Kirana. "Sejak kapan itu nggak penting dan bukan urusanmu."


"Bagiku itu sangat penting. Mungkin aja kamu diam-diam juga berselingkuh dibelakangku!" Ucap Olivia dengan kesal.


"Kamu jangan samakan aku dengan kamu Oliv!" Balas Rendy merasa tidak terima dengan tuduhan Olivia.


"Lalu apa? Hubungan kita belum lama berakhir dan tiba-tiba kamu udah sama dia?" Tanya Olivia sambil menunjuk Kirana dengan penuh emosional. "Aku tau kamu Ren! Kamu bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta!" Lanjut Olivia dengan tersenyum sinis. "Oh, atau kamu emang sengaja bayar perempuan ini buat bikin aku cemburu? Kamu mau bales sakit hati dan kecewa kamu ke aku?" Imbuh Olivia dengan menggebu. "Dan kamu! Berapa Rendy bayar kamu hah? Aku bisa bayar kamu lebih, asal kamu pergi sekarang juga dan menjauh dari Rendy!" Sambungnya lagi sambil bangkit berdiri dan menuding Kirana dengan sengit penuh kemarahan dan kebencian.


"Jangan sembarangan ngomong kamu Oliv! Kirana gadis baik-baik dan menurutku, dia jauh lebih baik dari kamu!" Ucap Rendy dengan membentak Olivia karena membela Kirana membuat Olivia sangat geram dan semakin emosi.


"Kamu..!" Geram Olivia namun ia tidak meneruskan ucapannya menatap dengan penuh dendam pada Kirana.


Kirana hanya duduk diam meski hatinya bergemuruh karena ia merasa sedang dihina, disebut kalau dirinya adalah wanita bayaran. Kirana mengepalkan kedua tangannya dibawah meja. Ia berusaha untuk menahan kemarahannya dan tetap bersikap tenang.


"Apa yang udah kamu kasih ke Rendy hah? Apa kamu juga menjual diri ke Rendy? Sampai Rendy bisa memilih kamu bahkan Rendy sanggup membentak aku?!" Tanya Olivia dengan menatap penuh benci pada Kirana membuat Kirana tidak bisa menahan lagi kemarahannya karena ucapan Olivia sudah sangat keterlaluan.


Kirana bangkit berdiri dan menatap tajam Olivia. Tapi, saat Kirana ingin bicara, ia merasakan tangannya digenggam oleh Rendy, ia pun menoleh dan menatap Rendy. Rendy hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan bermaksud meminta Kirana untuk tetap diam dan tenang, tidak terpancing emosi.


Kirana menghela nafasnya panjang untuk meredam segala emosinya. "Aku mau ketoilet dulu." Ucapnya lalu menghempaskan tangan Rendy dan segera pergi keluar.


Rendy terdiam menahan emosinya mendengar ucapan Olivia.


"Rendy." Panggil Olivia setelah melihat Kirana keluar. Tapi Rendy hanya diam memalingkan wajahnya, tidak menatapnya.


"Ren, apa kamu serius sama perempuan itu? Aku tetap nggak percaya dengan hubungan kalian ini. Kamu pasti udah bayar dia kan? Atau dia yang udah godain kamu dan dia juga...


'BRAKKK!'


Seketika Olivia terdiam dan terkejut karena Rendy menggebrak meja sambil bangkit berdiri menatap Olivia dengan penuh emosi.


"Sudah cukup, Oliv! Kamu udah sangat keterlaluan!" Ucap Rendy penuh penekanan terlihat sorot matanya yang sedang menahan kemarahan. "Cukup aku aja yang kamu bikin sakit hati dengan kelakuanmu! Jangan kamu bikin Kirana juga ikut sakit hati dengan ucapanmu itu!" Lanjut Rendy masih menatap tajam Olivia.


Rendy pun segera beranjak ingin keluar dan menyusul Kirana.


Saat Rendy melangkah, Olivia meraih lengannya dan menghentikan langkah Rendy. "Kamu mau kemana?" Tanya Olivia dengan cemas.


Rendy menepis tangan Olivia. "Mau nyusul Kirana!" Jawab Rendy dengan ketus lalu pergi keluar dan keluar menyusul Kirana ketoilet.


Rendy berdiri disamping toilet wanita untuk menunggu Kirana. Ia merasa khawatir kalau saja Kirana akan menangis didalam toilet karena ucapan Olivia tadi. Ia juga teringat saat Kirana kabur darinya waktu itu dengan alasan ingin pergi ketoilet.


Tapi tak lama, Kirana keluar dari toilet dan terlihat baik-baik saja tidak terlihat seperti orang yang habis menangis malah Kirana terlihat terkejut saat melihat Rendy yang berdiri disamping toilet. "Pak Rendy? Ngapain Bapak disini?" Tanya Kirana merasa heran.


"Hanya memastikan kalau kamu nggak kabur lagi." Jawab Rendy dengan mendengus.


Kirana pun jadi teringat saat ia kabur waktu itu dan ia terkekeh geli. "Maaf deh Pak untuk waktu itu. Kali ini, saya nggak akan kabur lagi kok. Kan saya udah bersedia membantu Bapak." Ucap Kirana dengan serius dan sangat tulus ingin membantu Rendy.


"Ya udah Pak, ayo kita masuk lagi." Ucap Kirana lalu berjalan melewati Rendy.


"Aahk!" Pekik Kirana saat kakinya keseleo dan terjatuh.


"Kirana!" Seru Rendy lalu segera meraih tubuh Kirana dan membantunya berdiri.


"Aaawh!" Kirana melenguh karena merasakan sakit dipergelangan kakinya dan ia kesulitan untuk berjalan. "Sakit Pak." Keluhnya sambil meringis.


"Kamu ini emang hobi banget jatuh ya?" Ucap Rendy mengejek Kirana.


"Lepasin saya Pak!" Pinta Kirana dengan kesal sambil mendorong Rendy dan Rendy melepaskan Kirana.


Kirana meringis dan mendesis karena merasakan kesakitan sambil berpegangan pada dinding. "Yakin bisa jalan sendiri?" Tanya Rendy yang terus memperhatikan Kirana.


Kirana hanya diam dan mendengus kesal tidak menjawab pertanyaan Rendy. Ia berjalan merambat pada dinding dan pincang.


Rendy menghela nafasnya lalu ia merangkul pinggang Kirana dan memapahnya berjalan. Kirana masih diam juga tidak menolak bantuan dari Rendy karena ia benar-benar tidak bisa berjalan sendiri.


Rendy meminta pelayan untuk membawakan obat urut lalu mereka pun segera kembali masuk kedalam private room. Ternyata pesanan mereka sudah tertata dimeja.


Olivia menoleh dan melihat Rendy sedang memapah Kirana lalu mendudukan Kirana dikursi tempatnya duduk tadi.


"Kenapa dia?" Tanya Olivia dengan memperbatikan Kirana yang terlihat kesakitan.


Tidak ada yang menjawabnya kemudian ada pelayan yang masuk lagi menghampiri Rendy yang masih berdiri.


"Ini kak obat urut yang anda minta tadi." Pelayan itu dengan sopan menyerahkan obat urut kepada Rendy.


"Makasih ya." Ucap Rendy kemudian pelayan tadi mengangguk dengan tersenyum lalu pergi keluar.


Rendy berjongkok didepan Kirana yang duduk dikursi. "Eh Pak..emm Mas. Nggak usah! Sa..emm aku bisa sendiri!" Seketika Kirana kembali terkejut dan ia keceplosan memanggil Rendy dengan sebutan Pak dan hampir melupakan kalau saat ini ia sedang bersandiwara menjadi pacar pura-puranya Rendy, membuat Olivia mengernyitkan keningnya dan merasa aneh.


Rendy mengangkat wajahnya dan menatap Kirana dengan tatapan peringatan. Kirana menggigit bibirnya dan ia merasa sangat bersalah. Berharap Olivia tidak memperhatikan ucapanya barusan.


Rendy membuka sepatu sebelah kanan Kirana lalu mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya diatas paha Rendy. Kirana hanya diam menahan rasa tidak enak didalam hatinya karena ia merasa tidak sopan saja dengan posisi seperti ini. Tapi, ia juga tidak bisa menolak perlakuan Rendy terhadapnya yang sedang menajdi pacar pura-puranya.


Pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, berjongkok dihadapannya dan kakinya menopang dipaha sang Presdir. Ini sungguh membuat Kirana merasa sangat tidak enak hati juga. merasa sangat kurang ajar. Namun ia semakin tersanjung dan mengagumi Rendy.


Pak Rendy sweet banget sih!


Batin Kirana dengan hati yang tidak karuan.


"Ren. Apa kamu nggak denger? Dia bilang dia bisa sendiri!" Seru Olivia merasa tidak terima dengan sikap Rendy yang sangat manis dan penuh perhatian kepada Kirana.


Rendy hanya diam tidak mendengarkan ucapan Olivia. Olivia mendengus kesal dan ia menatap Kirana dengan sorot mata penuh emosi.


"Aahk! Sakitt!" Teriak Kirana saat Rendy mengurut lalu menarik pergelangan kakinya hingga mengeluarkan air mata.


"Maaf. Coba sekarang kamu berdiri." Ucap Rendy sambil meletakkan kaki Kirana kelantai lalu ia bangkit berdiri dan meraih tangan Kirana untuk membantunya berdiri.


Kirana berdiri dengan pelan sambil menggenggam tangan Rendy.


"Masih sakit?" Tanya Rendy sambil memperhatikan kaki Kirana yang baru saja ia urut.


"Udah nggak sakit." Jawab Kirana dengan tersenyum lebar merasa senang. "Makasih ya..Mas. Aku baru tau kalau kamu pinter mijit." Lanjut Kirana diselingi kekehannya.


Rendy hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Kirana.


"Dasar manja!" Cibir Olivia merasa sangat cemburu dan iri.


"Wajar dong manja sama pacar sendiri." Balas Kirana dengan tersenyum sinis pada Olivia.


Rendy sedikit terkejut mendengar ucapan Kirana. Lalu tersenyum tipis dan hatinya merasa senang setelah mendengar ucapan Kirana barusan.


Olivia hanya mendengus kesal. Ia tetap masih belum percaya kalau Rendy benar-benar berpacaran dengan Kirana. Ia harus memastikannya sendiri dan Rendy juga harus memberinya bukti yang membuatnya bisa percaya kepadanya.


................