
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka semua sampai di Bali. Meskipun kebanyakan dari mereka pernah liburan ke Pulau Dewata ini, tapi mereka selalu ingin mendatangi pulau ini.
Destinasi wisata ini menjadi kebanggan dari Indonesia, karena cukup populer dengan keindahan di dalamnya yang cukup mempesona yang membuatnya banyak dikunjungi. Baik wisatawan domestic hingga wisatawan asing.
Bali selalu menjadi wisata yang direkomendasikan untuk menghabiskan waktu liburan dan membangun momen-momen indah yang tidak akan terlupakan.
Rendy telah menyiapkan Hotel dan mansion milik keluarganya untuk semua karyawannya menginap selama liburan.
Karena banyaknya jumlah karyawan, jadi Rendy meminta mereka untuk memilih ingin menginap dimana. Terserah mereka juga kalau pun ingin menyewa tempat lain untuk beristirahat selama liburan. Rendy membebaskan mereka ingin pergi kemana saja asalkan saat waktu yang sudah ditetapkan telah usai, mereka diminta berkumpul dimansion untuk bersiap pulang kembali ke kota metropolitan.
"Pak Rendy!" Seru Siska yang baru turun dari Bus dengan membawa kopernya.
Rendy yang sedang berjalan bersama Kirana dan juga dua teman baik Kirana-Yolanda dan Rossa memasuki Hotel menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Siska.
Sebagai sekertaris pribadi Rendy, harusnya selalu mengikuti kemanapun Bosnya berada bukan? Jadi, Siska dengan senyum penuh percaya dirinya menghampiri Rendy.
"Saya mau ikut Pak Rendy boleh?"
Rendy mengernyitkan keningnya. Meskipun Siska sekertaris pribadinya, tapi saat ini bukan waktu untuk bekerja melainkan sedang liburan. "Terserah kamu. Kamu nggak perlu ijin dari saya karena ini bukan sedang dikantor. Kita semua disini sedang loburan. Jadi, terserah kamu mau menginap dimana aja."
Siska hanya tersenyum dan mengangguk. "Saya mengerti Pak. Terimakasih."
Banyak karyawan lain yang juga memilih menginap diHotel yang sama dengan Rendy. Mereka sudah lebih dulu masuk.
Rendy kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Kirana, Rossa, Yolanda dan juga Siska dibelakangnya.
Beberala staff Hotel membungkukkan badan memberi salam hormat kepada terutama kepada Rendy yang sudah beberapa kali menginap diHotelnya ini saat melakukan perjalanan bisnis di Bali.
Mereka menuju kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.
Hotel bintang lima berkelas international milik keluarga Pradipta ini secara keseluruhan memiliki jumlah kamar yang sangat banyak yaitu 674 buah kamar, sebuah ballroom, 9 buah ruang banquet, 2 buah kolam renang, satu buah fitness center, terdapat juga sebuah lapangan tenis dan lapangan basket serta jogging track sepanjang 500 meter.
Hotel ini memiliki banyak tipe kamar. Sebagai Hotel bintang 5 berkelas internasional, sudah tentu memiliki fasilitas yang lengkap. Mulai dari ruang pertemuan, coffee shop, restoran, arcade, concierge, business center, night club, free WiFi dan lain sebagainya. Juga memberikan berbagai kelengkapan fasilitas, pelayanan yang jauh lebih prima, keramahan dan kenyamanan yang lebih baik daripada Hotel yang lebih rendah status bintangnya.
Disini, Rendy sudah memiliki kamar sendiri khusus untuknya dilantai paling atas yaitu presidential atau bisa disebut dengan penthouse.
Fasilitas mewah dihadirkan dalam kamar ini. Mulai dari kamar yang lebih dari satu, hingga bisa tiga ruang tidur, ruang tamu, ruang makan area kerja yang megah, hingga kolam renang pribadi.
Kamar ini juga memiliki layanan pribadi seperti butler. Bahkan ada ruang olahraga pribadi hingga jendela anti peluru karena saking mewah dan Demi keamanannya.
Sedangkan Kirana bersama Rossa dan Yolanda dilantai yang berbeda dengan fasilitas kamar yang pastinya juga berbeda dengan milik Rendy. Mereka berada didalam satu kamar dengan tipe kamar deluxe. Luas ruangan kamar tersebut sekitar 40 meter persegi dan ada dua bed dengan ukuran queen size juga fasilitas tambahan seperti coffee maker, kulkas, dan lainnya.
Siska yang seharusnya bergabung dengan karyawan yang lain, dia memilih bergabung dengan Kirana.
Rossa dan Yolanda sebenarnya merasa sangat keberatan karena mereka tidak suka dengan sikap Siska yang bossly juga terlihat sombong.
Tapi, Kirana yang berbaik hati tidak mempermasalahkan hal itu dan menerima Siska untuk bergabung dengannya.
Dia berjalan masuk melewati mereka dengan angkuh.
"Dih, dasar nenek lampir!" Gumam Rossa dengan pelan namun penuh rasa tidak suka. "Kamu juga ngapain sih Ki mau aja nurutin dia?!" Imbuhnya mengomeli Kirana.
"Ya udahlah Ros, biarin aja kali. Kalau dia macem-macem kan kita bisa keroyok dia." Jawab Kirana dengan terkekeh geli membuat Yolanda tergelak.
Mereka pun bergantian untuk membersihkan diri kemudian beristirahat karena saat ini masih dini hari.
Kirana yang sudah mengantuk karena tidak bisa tidur selama perjalanan tadi, selesai mandi dia langsung merebahkan tubuhnya dikasur yang terasa empuk dan lembut juga wangi. Membuatnya merasa nyaman.
Tapi saat tiba-tiba Siska menjatuhkan tubuhnya disamping Kirana, Kirana yang sudah memejamkan mata hampir tertidur merasa terkejut dan membuka kembali matanya menoleh kesamping. "Astaga Bu Siska. Pelan. sedikit bisa kan? Ngagetin aja." Ucap Kirana dengan pelan karena masih menghormati Siska.
"Terserah aku dong. Kenaap? Kamu gak suka? Kalau gitu kamu bisa pindah ke sofa."
Kirana menghela nafasnya dan berusaha untuk bersabar menghadapi nenek lampir yang begitu menyebalkan ini.
Rossa dan Yolanda sudah tertidur lebih dulu. Kalau belum, sudah dipastikan Siska akan dibalas oleh kedua teman baik Kirana.
Kirana bisa saja membalas ucapan Siska dengan lebih kejam, tapi dia tidak ingin membuat keributan disini. Apalagi saat ini sedang liburan. Harusnya bersenang-senang bukannya mencari masalah kan?
Ponsel Kirana berdering didekat bantalnya dan dia segera mengambilnya. Ada notifikasi pesan dari Rendy.
"Ki, bisa kekamarku sekarang?"
Kirana mengernyitkan keningnya setelah membaca pesan chat dari Rendy.
Mau apa Mas Rendy nyuruh aku kekamarnya?
Batin Kirana.
Siska yang duduk disebelahnya sedikit mencondongkan kepalanya dan melirik ponsel Kirana lalu membaca pesan tersebut. "Wah, pesan dari Pak Rendy tuh. Ternyata sudah sejauh itu ya hubunganmu sama Pak Rendy?"
Kirana langsung mengunci layar ponselnya dan menatap sinis Siska. "Bu Siska ngapain baca pesan saya? Kenapa? Bu Siska cemburu ya? Saya tau kalau Bu Siska cinta mati sama Pak Rendy. Ups maksud saya Mas Rendy pacar saya..hehe." Tanya Kirana yang sengaja ingin membuat Siska merasa kesal karena dia sudah sering dibuat kesal olehnya.
"Jangan sembarangan kamu! Saya ini sekertaris pribadi Pak Rendy! Saya lebih tau bagaimana Pak Rendy karena saya lebih dekat dengannya daripada kamu!" Balas Siska dengan masa melotot menatap Kirana.
Kirana hanya tersenyum mendengarnya. "Saya tau Bu Siska sekertaris pribadinya Mas Rendy. Tapi tetep aja, saya yang jadi pacarnya Mas Rendy sekarang ini. O ya, silahkan kalau Bu Siska mau tidur duluan. Saya masih ada urusan dengan pacar saya. Daaah Bu Siska."
Kirana segera beranjak turun dari tempat tidur dengan tertawa pelan lalu keluar dari kamar. Membuat Siska geram dan mengepalkan kedua tangannya. "Sialan!" Umpat.Siska lalu segera mengambil jaket dan pergi mengikuti Kirana secara diam-diam.
Siska tersenyum sinis saat melihat Rendy membuka pintu lalu menarik Kirana masuk kedalam. "Jangan-jangan emang bener dia jual diri ke Pak Rendy sampai Pak Rendy mau sama dia." Gumamnya semakin merasa geram. Kemudian berbalik dan kembali menuju kamarnya yang dia tempati bersama Kirana, Rossa dan Yolanda.
................