Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 215



Tiba di kafe, Pelangi masih enggan keluar dari mobil. Kemudian Joe membukakannya pintu, untuk segera keluar dari mobil.


"Ayo, turun. Malah bengong,"


Nyebelin. Semua ini gara-gara kamu, Joe. Aku merasa takut bertemu Jeni malam ini, bagaimana aku akan bersikap nantinya?


"Aku..."


"Kenapa? Takut ketemu Jeni?"


"Enggak, ngapain takut?"


Lagipula aku tidak merebutmu bukan, justru kau yang telah mencuri ciuman pertama ku. Menyebalkan!!!


Bathin Pelangi terus menggerutu. Pada akhirnya pun dia keluar dari mobil, Joe tersenyum puas. Berjalan mendampingi Pelangi sembari senyum-senyum menatap wajah Pelangi yang terlihat gugup namun berusaha tetap santai.


"Woah, kalian... Barengan?" Sapa Lisa dengan ekspresi terkejut ketika Pelangi dan Joe tiba menghampiri mereka.


"Joe..." Panggil Jeni dengan ekspresi terheran-heran.


"Ehm, ka..kalian jangan salah paham dulu, tadi aku..."


"Aku menjemput Pelangi tadi, emang salah?"


****** gue, Joe gila. Oh my God, apaan coba?


Pelangi terdiam menundukkan wajah nya dengan ekspresi gugup dan salah tingkah. Ketegangan mulai di rasakan, hening seketika meski suasana kafe begitu bising dengan suara musik dan banyak nya para pengunjung yang datang.


"Pelangi, kau tidak berniat mengkhianati persahabatan kita bukan?"


"Jen, pliss jangan menuduhku dulu. Aku dan Joe hanya..."


"Kau juga menyukainya, iya kan?"


Pelangi mulai merasa dipojokkan sementara Lisa dan Lucas hanya terdiam dengan tatapan tercengang, begitu juga dengan Joe. Hanya berdiri di sampingnya saja tanpa memberikan pembelaan padanya.


"Joe, jangan diam saja."


"Apa? Aku, aku harus apa Langi? Bukan kah kita memang saling mencintai saat ini?"


Gila!!! Kau brengsek Joe, jangan konyol. Kau perlahan ingin membunuhku di hadapan semua sahabatku? Iya?


Pelangi mulai mengepalkan kedua tangannya dengan gertakan giginya. Ia merasa Joe sungguh telah menjebaknya, bagaimana bisa?


"Oh my God. Ini sungguh menyeramkan, aduh kalian plisss.. Jangan buat keributan di kafe papi gue, lebih baik selesaikan percintaan kalian diluar. Okeey," Lucas mulai mengomel dengan memijit-mijit ujung keningnya.


Lisa yang mendengar hal itu keluar dari mulut Lucas, langsung memberinya dengan injakan kaki. Lucas memekik sembari terus mengomel.


"Maafin aku, Lucas. Sebaiknya memang aku perlu bicara dengan mu, Jen. Tapi ada baiknya kita diluar saja ya, mau kan?"


"Jawab saja, Pelangi.. Kau dan Joe, apakah kau sungguh menyukai nya juga?"


"Jeen, pliss. Kau masih menganggapku sahabat bukan? Jadi ku mohon, percayalah. Aku tidak akan pernah...


"Aku kau tidak mengerti pertanyaan ku, Pelangi?" Jeni mulai mendette dan terus memotong ucapan Pelangi sebelum ia menyelesaikannya.


Ekspresi Pelangi kini bagai seorang pencuri yang di introgasi oleh petugas kepolisian.


Ia hanya berdiri mematung di hadapan ketiga sahabatnya meskipun Joe berdiri di sisinya, menemaninya bahkan tanpa bersuara.


"Maafkan aku, Jen." Ucap Pelangi kemudian, suaranya begitu lirih. Perlahan Joe menggenggam tangan Pelangi dari sisi kanan, membuat Pelangi terkejut dan berusaha menepisnya.


"Princess cold, ayo lah.. Katakan saja dengan jujur," Titah Lisa bersuara.


"Tapi, Sa.."


"Aku mencintaimu, Langi."


Begitu yang di ucapkan Joe di hadapan ketiga sahabat Pelangi, membuat Pelangi semakin geram dan merasa jika ini adalah akhir dari semuanya. Dengan memejamkan kedua matanya, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Nasi sudah menjadi bubur, lambat laun semua akan curiga dan tetap mengintrogasinya jika tidak juga di selesaikan dengan cepat.


"Maafkan aku, teman-teman. Aku bukan sahabat yang baik, aku telah melukai dan mengecewakan kalian. Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, kalian boleh marah padaku setelah ini, kalian boleh tidak bicara padaku setelah ini. Ya, aku.. Aku menyukai Joe, entah itu sejak kapan. Tapi melihatnya dengan mu, Jen. Aku, aku cemburu. Aku kesal, aku sedih.. Maafkan aku, Jen. Aku bukan sahabat yang baik."


"Yess, akhirnya. Aku bahagia kau mengucapkannya dengan berani di depan semuanya." Joe tampak puas, Pelangi menatapnya dengan mengernyit. Kembali hening sesaat, Pelangi pasrah.


"Pfffttt... Hahaha, oh astaga. Akhirnya aku akan bebas setelah ini,"


Tiba-tiba Jeni tertawa lepas dengan menepuk keningnya dengan keras. Lalu mengangkat salah satu tangannya, di tempelkan pada telapak tangan Lisa. Mereka melakukan tos dengan senyuman puas penuh kemenangan.


"Eh, apa-apaan kalian? Kenapa justru kalian beradu tos tangan hah?" Tanya Lucas dengan terheran-heran.


"Hahaha, kalian luar biasa. Terimakasih, dan untuk kau Jen.. Kau sangat cerdik."


Mendadak Jeni berdiri menghampiri Joe, lalu Joe memberinya pelukan bak seorang teman yang telah lama tidak bertemu.


"Yeay, saatnya berbahagia. Joe, traktir kami. Kau pun berjanji akan mentraktir kami di kantin selama sa-tu bu-lan penuh. Yeay..."


"Sungguh? Waaah, aku mauu... Ih, si kumis tipis. Kau sungguh baik, tidak salah jika aku mengagumimu."


"Eeeh, diam lu. Dia sudah milik Princes cold kita," Ujar Jeni mengancam. Lucas terdiam memanyunkan bibirnya.


"Tunggu!!!" Pelangi mulai bersuara kembali.


"Upz..." Lisa menutup bibirnya dengan ujung jari.


"Apa-apaan ini? Kenapa, kenapa kalian justru riang gembira?"


"Oh astaga, kau sungguh Pelangiku si bodoh." Jawab Joe dengan mengacak rambut di kepala Pelangi.


"Uhm, maafkan aku Princes cold. Ini semua sengaja kami lakukan karena kami hanya ingin membantu mu dan Joe jadian, hehe.. Sory my Princes cold." Ujar Jeni dengan tersenyum nyengir.


"Jen, jangan bercanda. Aku tahu kau sangat menyukai Joe, kau bilang dia cinta pertamamu bukan?"


"Hahaha, sejak kapan kau mempercayaiku mudah jatuh hati? Aku memang menyukai Joe, tapi sebagai sahabat dan calon pacar sahabat kita. Yaitu kau, Pelangi."


"Dan ini, ide cemerlangku. Eh tidak, ini juga bagian dari rencana Joe. Aaaaah, sungguh dia cowok yang romantis dan penuh kejutan. Aku iri, iih..." Ujar Lisa dengan menggigit jari-jemarinya.


Pelangi mulai terlihat memucat, kedua matanya begitu tajam namun berkaca-kaca. Bibirnya gemeteran walau mengatup sangat rapat, dia tarik nafasnya dalam-dalam dengan memejamkan kedua matanya. Lalu membukanya kembali, ia tatap satu persatu wajah ketiga sahabatnya.


Melihat ekspresi Pelangi demikian, ketiga sahabatnya mulai gugup, ketakutan. Bagaimana jika Pelangi marah besar walau selama ini dia selalu tenang dalam keadaan amarah apapaun itu. Dia selalu cuek dan dingin, namun kali ini sepertinya tidak lagi demikian.


"Langi, bicaralah... Mereka merencanakan ini semua untuk ku dan untuk mu jua. Hihi, maafkan aku." Ucap Joe dengan cekikikan.


"Apa ini lucu bagi kalian?"


"Aaah, Princess cold. Aku tidak tahu hal ini, sumpah aku tidak ikut serta. Ini ulah mereka, bukan aku... Aah, kau begitu menyeramkan." Ujar Lucas dengan menggigiti kedua jari jemarinya.


"Langi..." Panggil Joe kembali.


Pelangi tak kuasa lagi menahan air mata yang tiba-tiba berlinang di kedua pipinya.


"Kau puas, Joe? Kau puas???"