Because, I Love You

Because, I Love You
#87



"Uhuk uhuk uhuk!"


Rendy seketika panik dan segera memberikan minum kepada Kirana yang tiba-tiba tersedak.


Kirana langsung meminum habis air putih yang diberikan Rendy. Lalu menarik nafasnya panjang dan menatap Rendy.


Yang ditatap hanya mengernyit dan menggedikan dagunya. "Kenapa?"


"Kamu pasti lagi ngebatin aku ya? Sampai aku keselek." Tuduh Kirana.


Rendy seketika mengatupkan bibirnya seolah dia telah kepergok mencuri tapi tidak ingin mengakuinya. "Nggak usah sok kePDan deh. Kamu sendiri makan kayak orang kesurupan gitu."


Kirana mendengus kesal dan sedikit malu karena telah menuduh Rendy dengan penuh percaya diri. "Aku udah kenyang." Ucapnya pelan dan Rendy mengambil tempat makan dari tangan Kirana lalu meletakkan kembali diatas laci kemudian mengambil obat yang tadi diberikan oleh perawat sebelum Kirana tersadar.


"Minum dulu obatnya." Rendy sudah membukakan dua butir obat dan mengambil sebotol air mineral diatas laci untuk Kirana meminum obat.


Kirana hanya diam dan menurut seperti seorang anak yang begitu takut kepada ayahnya.


"Anak yang pintar dan penurut. Nanti daddy belikan es krim ya?" Ucap Rendy sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Kirana dengan tersenyum.


"Ih apaan sih Mas! Nggak lucu tau!" Kirana mendengus dan menepis tangan Rendy. Kemudian dia menekan tombol untuk memanggil perawat.


"Ngapain pencet bell itu?" Tanya Rendy dan tak lama dua perawat datang.


"Permisi. Apa terjadi sesuatu?" Tanya salah satu perawat yang menghampiri Kirana.


Rendy bangkit berdiri dan sedikit menjauh sambil terus memperhatikan Kirana.


"Suster, saya mau pulang. Bisa tolong dilepaskan infusnya?"


"Baiklah, kalau memang mbaknya sudah merasa baikan." Jawab suster tersebut dengan tersenyum ramah.


Setelah memeriksa kembali kondisi Kirana, suster melepas infus yang menempel ditangan Kirana.


"Terimakasih suster." Ucapnya dengan tersenyum manis dan diangguki oleh kedua suster tersebut kemudian kedua suster tersebut segera pergi.


"Kamu itu masih pucet Ki. Kenapa nggak dirawat inap aja dulu disini?" Rendy kembali melangkah mendekati Kirana dan duduk disampingnya.


"Aku udah baikan kok." Jawab Kirana lalu melihat kekanan dan kekiri mencari sesuatu.


"Nyari apaan?" Tanya Rendy yang ikut melihat kekanan dan kekiri.


"Tas. Tas aku dimana ya?" Kirana turun dari tempat tidurnya dan mencari tasnya. Membuka laci disamping dan kemudian menghela nafas lega karena telah menemukan tasnya. "Syukurlah ada disini."


"Aku mau ngurus biaya administrasi dulu, terus pulang." Ucapnya lagi dengan tidak sabar dan segera beranjak.


Tapi Rendy mencekal lengannya saat Kirana hendak melangkah. "Eh?"


"Biar aku yang urus." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri kemudian merangkul Kirana. "Ayo jalan!" Imbuhnya.


Saat berjalan menuju lift, ponsel Rendy berdering. Mereka pun menghentikan langkahnya. Rendy melepas rangkulannya pada Kirana dan mengambil ponselnya dari saku jaketnya, melihat sekilas layar ponselnya lalu menerima panggilan telepon tersebut.


Kirana hanya berdiri diam menunggu Rendy menjawab telepon yang entah dari siapa.


"Ada apa?" Tanya Rendy begitu menerima panggilan telepon.


"Rend, bisa nggak kamu ke apartemen Oliv sekarang? Dia....


Andreas belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Olivia kembali berteriak histeris dan ketakutan.


Rendy mengernyitkan keningnya ketika mendengar dengan jelas suara Olivia yang terus berteriak seperti orang ketakutan.


"Rend, sepertinya Olivia butuh kamu." Ucap Andreas dan Rendy melirik menatap Kirana yang masih berdiri diam menunggunya.


"Oke, aku akan kesana." Jawab Rendy kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.


"Ayo." Ucap Rendy pada Kirana kemudian berjalan lebih dulu menuju lift dan menekan tombol disamping menunggu pintu lift terbuka.


Dia menoleh pada Kirana dan meraih tangannya untuk dia genggam.


Pintu lift terbuka, mereka masuk dan Rendy menekan tombol angka 1 menuju lantai bawah.


"Mas, kalo kamu ada keperluan, kamu pergi aja. Aku bisa mengurus sendiri kok." Ucap Kirana dan pintu lift terbuka.


"Kamu tunggu dulu disini." Ucap Rendy sambil melepas genggaman tangannya dan mendorong pelan Kirana untuk duduk.


Kirana hanya diam dan menurut. Rendy segera mengurus biaya administrasi dan mengambil obat Kirana. Beruntung, tidak banyak orang dirumah sakit ini. Jadi, tidak harus menunggu lama untuk mengantri.


Rendy menghampiri Kirana. "Ini obat kamu. Kamu harus minum dengan teratur dan harus sampai habis." Ucapnya sambil menyodorkan tas kresek kecil yang berisi obat kepada Kirana.


"Loh Mas? Mana nota pembayarannya?" Tanya Kirana setelah membuka tas kresek dan melihat obatnya tapi tidak menemukan nota pembayaran didalamnya.


"Apaan sih? Udah aku buang." Jawab Rendy sedikit ketus.


"Tapi aku belum liat biayanya berapa tadi? Atau besok kamu potong gaji aku aja ya buat ganti ini." Ucap Kirana yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Rendy.


"Terserah! Ayo pergi!"


Rendy kemudian berjalan begitu saja seolah tidak menghiraukan Kirana yang mengikutinya dengan langkah sedikit berlari karena tubuh tinggi Rendy dengan langkah kakinya yang lebar tidak sebanding dengan langkah kaki Kirana.


Rendy sudah dengan cepat keluar dan menuju mobilnya lalu membuka pintu mobilnya. Merasa teringat sesuatu, dia menoleh dan menatap Kirana yang berjalan cepat kearahnya kemudian nafasnya terengah-engah saat sampai dihadapannya. "Duuuh Pak Rendy ngeselin banget sih! Kalo emang lagi buru-buru mau pergi, biar aku pesen ojek online aja!"


"Ayo cepat masuk! Nggak usah bawel!" Seru Rendy dengan wajah galaknya.


"Aku pulang sendiri aja." Ucap Kirana yang tidak ingin merepotkan Rendy lagi.


"Ki, jangan bikin aku makin kesel sama kamu. Udah, cepet masuk!" Titah Rendy yang seketika membuat Kirana malah mematung menatapnya.


Rendy yang merasa kesal karena melihat Kirana yang malah terdiam seperti patung, dia langsung menggendong Kirana ala bridal.


"Aah Mas! Kamu apa-apaan sih?" Pekik Kirana yang sangat terkejut dengan tindakan tiba-tiba Rendy ini.


Rendy tidak menghiraukan Kirana dan dia berjalan mengitari mobilnya lalu menurunkan Kirana disamping pintu mobilnya. Dia membukakan pintunya dan mendorong pelan Kirana untuk masuk dengan meletakkan telapak tangannya dipuncak kepala Kirana, agar kepalanya tidak terbentur atap mobil.


Tidak hanya itu, Rendy membungkuk dan memakaikan sabuk pengaman untuk Kirana setelah Kirana duduk.


Wajah tampannya terlihat begitu dekat dengan wajah Kirana. Membuat Kirana harus menahan nafasnya dan mengatur detak jantungnya kembali yang dengan kurang ajar selalu ngeprank dirinya membuatnya bisa saja terkena serangan jantung.


Rendy segera menegakkan tubuh tingginya dan menutup pintu mobilnya lalu berjalan cepat kepintu mobil bagian kemudi. Mambuka pintunya dan masuk. Menyalakan mesin mobilnya sambil memakai sabuk pengamannya sendiri. Kemudian segera melajukan mobil sportnya.


Dalam perjalanan mengantar Kirana pulang, mereka hanya diam dan suasana di dalam mobil terasa hening hingga akhirnya Rendy menepikan dan menghentikan mobilnya dipinggir jalan depan gang kampung Anggrek tempat tinggal Kirana.


Kirana segera melepas sabuk pengamannya. "Makasih ya untuk hari ini. Maaf, udah bikin repot kamu lagi." Ucap Kirana lalu menatap Rendy yang juga sedang menatapnya.


Rendy menatapnya dengan tatapan tidak suka setelah mendengar ucapan Kirana. Bagaimana bisa dia merasa direpotkan? Yang ada, Rendy merasa sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kirana.


Menyadari tidak ada respon dari Rendy, Kirana pun ingin segera turun. "Kalo gitu, aku pulang dulu."


"Tunggu!"


Rendy menghentikan gerakan tangan Kirana yang ingin membuka pintu mobil.


Kirana menoleh dan menatapnya kembali. "Ada apa?"


Rendy menatap lekat Kirana. Begitu dalam hingga membuat Kirana hanya diam tanpa kata. "Aku udah nggak bisa nunggu lagi Ki. Sekarang kamu harus beri kepastian. Aku pengen hubungan kita bener-bener serius dan nggak perlu lagi sembunyi-sembunyi seperti ini."


Kirana terdiam dan terpaku. Sejujurnya, dia juga ingin sekali bisa menjalin hubungan yang serius dengan laki-laki yang sangat dia cintai ini. Tapi, hati Kirana masih merasa belum yakin karena Rendy juga masih belum jelas sikapnya.


"Kenapa kamu malah diem?" Tanya Rendy yang seketika menyadarkan Kirana dari lamunannya.


Kirana mengerjapkan matanya dan menatap Rendy dengan bingung. "Aku..eum aku akan langsung jawab kalo kamu bisa bikin aku merasa yakin sama kamu Mas. Karena aku nggak mau merasa dipermainkan apalagi dibohongi."


Rendy mengernyitkan keningnya. "Aku nggak pernah mempermainkan siapapun Ki. Apalagi kamu! Terus, kapan aku bohong sama kamu?"


Kirana merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hubungan mereka. Karena pasti mereka akan kembali bertengkar dengan ego masing-masing. "Sebaiknya jangan sekarang kita bahas ini Mas. Aku capek, mau istirahat."


Rendy menghela nafasnya lalu memalingkan wajahnya kedepan. Dia sendiri juga merasa lelah bahkan sangat lelah. Lelah hati, lelah pikiran juga badan. Dan hanya Kirana yang bisa membuat rasa lelahnya hilang. Tapi, sepertinya dia malah menjadi semakin lelah dan sedikit merasa kecewa dalam hatinya.


"Aku pulang dulu ya Mas. Makasih banyak untuk hari ini." Ucap Kirana dan dia benar-benar turun dari mobil kemudian segera berjalan masuk kedalam gang Kampung tampat tinggalnya.


Rendy hanya menatap nanar kepergian Kirana kemudian menghela nafasnya dalam-dalam mencoba meredam segala rasa yang berkecamuk didalam hatinya.


................