Because, I Love You

Because, I Love You
#125



Sesampainya diparkiran restoran, Rendy melepas jas dan dasinya sebelum turun dari mobil. Dia juga membuka dua kancing kemejanya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku.


Kirana terpaku menatap sosok tampan disampingnya. Dia hanya merasa seperti sedang bermimpi masih bisa bertemu dengan Rendy dan melanjutkan hubungan mereka kembali setelah pernikan mereka batal karena Rendy mengalami kecelakaan.


Rendy mengecup sekilas bibir Kirana dan Kirana mengerjapkan matanya tersadar dari lamunannya.


"Segitunya banget ngeliatin aku? Aku ganteng ya?" Tanya Rendy dengan penuh percaya diri.


"Hisss! Apaan sih Mas. Lebay deh. Udah ah, ayo turun." Jawab Kirana dengan terkekeh pelan kemudian mereka turun dan masuk kedalam restoran bersama dengan Rendy menggenggam tangan Kirana.


Rendy menarik kursi untuk Kirana duduk kemudian dia menggeser kursi lain dan duduk disamping Kirana.


Ada pelayan yang datang dengan membawa buku menu dan memberikan kepada mereka.


"Kamu aja yang pesan." Ucap Rendy setelah melihat sekilas daftar menu makanan didalam buku menu lalu menutupnya dan memberikan kepada Kirana.


Kirana pun memesan beberapa menu kesukaan Rendy dan juga dirinya, pelayan pun pergi dengan membawa catatan pesanan mereka.


"Mas." Panggil Kirana saat Rendy sedang menunduk melihat ponselnya.


"Ya?" Jawab Rendy kemudian memasukkan ponselnya kembali disaku celananya.


"Aku mau minta maaf." Kirana masih merasa tidak tenang kalau belum minta maaf kepada Rendy.


"Minta maaf untuk apa?" Tanya Rendy dengan menatap heran.


"Selama ini aku udah salah paham sama kamu." Jawab Kirana sambil menunduk dan kembali bersedih.


"Salah paham apa sih? Karena masalah tadi?" Tanya Rendy dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan." Jawab Kirana dengan wajah ditekuk merasa sangat menyesal.


"Terus?" Rendy semakin bingung menatap kekasihnya ini.


Saat Kirana ingin bicara lagi, pelayan datang mengantar pesanan mereka.


"Makan dulu." Ucap Randy sambil mengusap Puncak kepala Kirana.


Mereka pun segera makan dengan keheningan. Selesai makan, Rendy membayar dan mereka pergi.


Rendy mengantar Kirana pulang. Kirana masih terdiam dengan wajah yang tampak sedih.


"Ki, kamu kenapa sih?" Tanya Rendy memecah keheningan dalam perjalanan mengantar Kirana.


"Aku sedih karena aku merasa bersalah aja sama kamu Mas." Jawabnya dengan menunduk.


"Ya udah, sekarang kamu jelasin. Aku nggak mau lihat kamu sedih gini."


"Aku pikir selama ini kamu sengaja menghindar karena nggak mau nikahin aku. Aku nggak tau keadaan kamu setelah kecelakaan itu. Sejak itu, aku nggak pernah dapet kabar tentang keadaan kamu. Cuma sekali aja dari Pak Beni. Dia cuma bilang kalau kamu koma." Ucap Kirana dengan suara pelan. "Pak Beni juga minta aku ikut sama dia ke Jerman buat lihat keadaan kamu dan katanya itu permintaan orang tua kamu. Tapi, aku harus resign dari perusahaan karena orang tua kamu bakal menjamin kehidupan aku." Lanjut Kirana.


Rendy langsung menepikan mobilnya mendengar semua itu. "Beni yang bilang gitu ke kamu?" Tanya Rendy merasa tidak percaya karena dia baru tau mengenai hal ini.


Kirana mengangguk dan sepertinya dia menyadari kalau tidak seharusnya dia memberi tau Rendy tentang hal itu.


"Aku bener-bener nggak tau Ki. Orang tua aku juga nggak pernah bilang apapun setelah aku sadar dari koma. Saat aku mengalami hilang ingatan juga mereka nggak ada yang mencoba ingin memberitahu aku sesuatu yang mungkin bisa bikin aku inget." Ucap Rendy yang menjadi emosi.


Rendy menghela nafasnya panjang. "Tadi kamu bilang kamu harus resign dari perusahaan, itu apa maksudnya?"


"Itu..itu karena orang tua kamu tau kalau kita hampir nikah. Orang tua kamu nganggep aku sebagai calon mantu mereka Mas. Jadi, mereka minta aku ikut ke Jerman buat nemenin kamu disana. Tapi, aku menolak itu. Maaf..." Jawab Kirana dengan sangat gugup dan nada suara yang terdengar bergetar diakhir kalimat karena menahan tangis.


Rendy terdiam dan hanya menatap Kirana dengan tatapan kosong. Dia tidak tau kenapa Kirana menolak permintaan orang tuanya yang dia anggap sebuah kebaikan untuk Kirana.


"Aku minta maaf untuk itu dan juga aku minta maaf karena selama ini aku selalu menganggap kamu cuma mempermainkan aku Mas." Lanjut Kirana dengan menunduk dan air mata yang sudah menetes. Tapi, Kirana langsung mengusapnya dengan cepat.


Rendy mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia tidak habis pikir kalau ternyata Kirana menolak permintaan orang tuanya. Bahkan berpikiran kalau dirinya telah mempermainkannya?


Tapi, Rendy juga tidak bisa menyalahkan Kirana. Kirana tidak tau kondisinya saat dirinya mengalami hilang ingatan dan selama itu dirinya juga tidak pernah memberi kabar kepada Kirana.


"Mas..." Panggil Kirana dengan lirih karena Rendy hanya diam saja dan tidak menatapnya.


Rendy kembali melajukan mobilnya dan tidak menghiraukan panggilan Kirana.


Kirana pun ikut terdiam dengan perasaan penuh penyesalan dan rasa bersalah terhadap Rendy.


Seharusnya dia tidak memberitau Rendy. Dia baru saja merasakan bahagia karena Rendy sudah kembali. Tidak seharusnya dia merusak moment bahagianya seperti ini.


Dasar bodoh! Kirana merasa kesal pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya sendiri.


Rendy langsung menangkap pergelangan tangan Kirana. "Kamu ini apa-apaan sih?"


"Aku bener-bener merasa bodoh banget Mas! Aku nyesel kenapa cerita ke kamu dan bikin kamu jadi marah dan diemin aku?!" Ucap Kirana dengan keras dan menangis.


Rendy kembali menghela nafasnya panjang dan menepikan mobilnya lagi. "Sini!" Rendy menarik Kirana dan memeluknya.


Kirana semakin menangis dipelukan Rendy.


"Aku nggak marah sama kamu. Aku marah sama diri aku sendiri. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu karena udah bikin kamu sedih. Pasti hari-hari kamu selama ini nggak mudah kan? Aku minta maaf." Ucap Rendy kemudian mengecup puncak kepala Kirana.


...


Sesampainya dipinggir jalan dekat gang tempat tinggal Kirana, Kirana meminta Rendy untuk tidak mengantarnya sampai ke rumah. "Mas, kamu langsung pulang aja. Udah malem."


"Ki, nggak mungkin aku biarin kamu jalan sendirian sampai rumah." Bantah Rendy.


"Mas, aku udah biasa. Lagi pula aku nggak mau nanti dilihat sama warga lagi dan bikin heboh seisi kampung. Aku nggak mau kejadian itu terulang lagi." Ucap Kirana yang tanpa sadar membuat Rendy terdiam.


Rendy merasa kalau Kirana memang tidak ingin menikah dengannya. Kirana mengatakan tidak ingin kejadian saat dirinya dinikahkan dengannya oleh warga akan terulang lagi. Rendy pun berpikiran kalau Kirana memang tidak ingin menikah dengannya.


"Mas, aku turun ya?" Pamit Kirana dan Rendy hanya mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi.


Kirana memberanikan diri mengecup sekilas bibir Rendy sebelum dia turun. Tapi, sebelum bibir Kirana menyentuh bibirnya, Rendy malah memalingkan wajahnya hingga kecupan Kirana mendarat dipipinya.


Seketika Kirana merasa sangat malu.


Biasanya, Rendy yang lebih dulu menciumnya. Tapi, saat Kirana memberanikan diri untuk lebih dulu ingin menciumnya, Rendy seolah menghindar.


Kirana pun tanpa berkata apa-apa lagi langsung turun dengan perasaan kecewa sekaligus malu.


................