
Hana sudah sampai di ruangan yang sama dengan Ammar, Abel dan Joe berdiri saat ini. Melihat dan mendengar apa yang terjadi, Hana menyeringai. Dalam hatinya berbicara dan pikiran licik mulai datang.
"Dia bukan hanya teman lama mami mu, anak tampan. Mami mu adalah..."
"Hana!!!" Bentak Ammar seketika. Membuat Hana terkejut dan mengatupkan kedua bibirnya yang dia poles ulang dengan lipstik berwarna peach.
"Baby boy mami, ayo masuk. Jangan membuat mamimu marah kali ini," Ucap Abel mengancam Joe dengan tatapan serius.
"Aaah, mami. Baiklah, baiklah. Aku masuk kamar, jangan marah. Nanti mami semakin keriput, mau?" Jawab Joe meledeknya sembari melangkah setengah berlari menaiki anak tangga. Melambaikan tangan pada Ammar, dan menatap Hana dengan senyuman tipis.
"Joe! Dasar anak nakal." Abel mendecak kesal di hadapan Ammar.
"Pffttt... Puteramu sungguh renyah, berbeda denganmu. Apakah dia mirip ayahnya?" Tanya Ammar sembari menahan tawanya.
"Sesuai kesepakatan, jangan mendette ku." Jawab Abel dengan cetus melewati Ammar lalu menghempaskan tubuhnya terduduk di sofa. Dengan lagak sombong dia duduk menyilangkan kaki kanan nya di atas kaki kirinya.
"Katakan, apa tujuanmu datang ke Indonesia?" Tanya Abel lagi tanpa menoleh ke arah Ammar.
"Aku ingin menemui putera ku Exelle." Jawab Ammar singkat.
Abel terhentak, menoleh sesaat ke arah Ammar. Lalu Ammar duduk di sofa yang berhadapan dengan Abel dengan tatapan sendu, di susul oleh Hana kemudian.
"Apa kau hilang akal?" Bantah Abel mencelanya.
Ammar terdiam sejenak, menatap wajah Abel yang melemparinya dengan pandangan meremehkan.
"Aku sudah mencoba untuk berkunjung ke makam mendiang Eliez, tapi..."
"Tapi apa?"
"Dua orang penjaga melarang ku ketika dia memeriksa ID ku. Sepertinya, aku pun tidak di izinkan hanya sekedar untuk berziarah ke makam istriku sendiri." Jawab Ammar dengan suara parau. Dia menundukkan wajahnya dengan murung.
"Honey, jangan sedih... Mengenai Exelle, bagaimana jika kita adukan ke kedutaan untuk hak asuh anak." Ujar Hana tanpa ragu.
"Heeei, kau. Caramu terlalu beresiko, kau pikir keluarga Eliez orang yang mudah di kalahkan dengan hal seperti itu?" Bantah Abel pada Hana.
"Aku merindukannya, aku ingin menebus semua kesalahan ku selama ini. Apapun caranya ku mohon bantu aku, Abel."
Kini suara Ammar semakin serak terdengar, punggung tangannya mulai basah di jatuhi oleh tetesan bening dari kedua matanya.
Ya ampun, dia menangis??? Oh Tuhan, kasihan dia. Dia pasti sangat merindukan putera hasil hubungannya dengan Eliez.
Hati Abel bergumam. Melihat Ammar menangis, dia ikut merasa sedih walau sedikit masih kesal. Hana mulai menyeka air mata Ammar dengan lembut, Ammar memalingkan wajahnya.
"Hei, kau. Apa itu? Kau menangis? Hello, sejak kapan seorang Tama yang ku kenal ******** dulu menjadi sosok cengeng seperti itu? Woah, dunia ini sudah terbalik." Abel mengejek Ammar dengan senyuman tipis.
"Setiap kali mengenang semua kesalahan ku. Aku selalu di hantui rasa bersalahku pada anak yang tak berdosa itu, aku bertekad meninggalkan Exelle karena ke egoisan ku kala itu." Ammar kian semakin melemah dengan suaranya.
"Tu,tunggu. Nama puteramu Exelle bukan?"
"Hemm.. Exelle Billyantama. Seharusnya saat ini di duduk di bangku SMA kelas 12." Jelas Ammar dengan tegas. Membuat Abel semakin tercengang dengan kedua mata melotot menatap wajah Ammar.
"Ada apa?" Tanya Ammar kembali pada Abel.
"Ti,tidak... Aku hanya, sedikit terkejut saja. Kau sudah tua ternyata ya, haha." Jawab Abel kikuk dengan tawa paksa.
"Jadi bagaimana, apa yang inginkan dariku?"
"Pertemukan aku dengan putera ku, Abel. Pliss..."
"Bagaimana caranya? Oh astaga, kau membunuhku perlahan jika begitu."
"Hanya kau yang bisa melakukannya, kau bisa berperan sebagai teman mendiang istriku. Ayo lah, kau begitu jago akting." Desak Ammar kali ini.
"Kenapa bukan wanita mu saja yang kau suruh itu hah? Sepertinya dia lebih jago berperan dari ku."
Hana menatap Abel dengan kedua bola matanya yang hampir saja mencuat keluar. Kemudian tertawa lepas mengibas rambut nya yang bergelombang.
"Hmm... Akhirnya, kau mengakui kehebatanku. Sejujurnya pun aku tidak setuju jika suamiku meminta bantuan mu untuk mempertemukannya dengan puteranya. Sebab, kau terlihat begitu licik. Hahaha, ayolah. Akui saja, kau pasti sudah pernah bertemu dengan Exelle bukan?"
"Kau, dimana otak mu itu hah? Bagaimana mungkin aku menemui Exelle yang jelas bukan siapa ku."
"Ah, mulut bisa saja berkata tidak. Bisa saja mungkin bukan? Karena kau masih ingin dekat dengan suamiku." Bantah Hana dengan menyeringai.
"Hana!!! Tidak ada sedikitpun niat ku untuk kembali pada laki-laki brengsek seperti nya, walau kini aku sudah berhasil membesarkan puteraku sendiri tanpanya."
Abel hilang kendali dan tak dapat mengontrol ucapannya, tanpa ia sadari telah membuka peluang rahasia besarnya selama ini akan terungkap.
"So what??? Apa yang kau katakan itu? Aku tidak mengerti." Hana kebingungan.
Dengan cepat Abel menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Menyadari apa yang saat tadi ia lontarkan.
Oh my God. Apa-apaan aku ini? Aaakh, sial. Oh tidak, Tama sudah menatapku dengan begitu tajam. Dia bukan orang yang mudah di bodohi dan di bohongi.
"E,eh.. Aku.. Aku salah bicara, maksudku. Meski tanpa bantuan darinya aku bisa hidup mewah dengan suami ku." Jawaban Abel kian terbata-bata, mencobat tetap tenang agar tidak mudah terkoreksi oleh Ammar. Meski kenyataannya bibir Abel sudah gemetaran memucat.
"Aku... Ah, panas sekali. Aku akan ke dapur sebentar, aku butuh air dingin." Abel kikuk beranjak pergi menuju ruang dapur.
"Heh, dasar wanita aneh. Tidak kah kau juga merasa demikian, tuan? Teman yang kau bilang begitu baik. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu, haha." Hana berucap menatap Ammar yang masih terdiam dengan lamunan. Lalu beranjak berdiri menepis tangan Hana yang menopang di paha Ammar.
"Tuan, kau mau kemana?" Tanya Hana dengan panik saat melihat Ammar pergi menuju ke ruang dimana Abel memasukinya tadi. Dia mengabaikan teriakan Hana yang terus memanggilnya.
Sementara Abel mulai meraih sebotol air mineral yang sudah dingin di dalam kulkasnya. Dia menegaknya dengan cepat-cepat, kemudian mengipas-ngipas sepuluh jemarinya ke arah wajah dan lehernya. Berjalan mondar mandir dengan panik dan cemas, ia mulai gelisah dan ketakutan.
"Nyonya. Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya asisten rumah tangga nya. Ia pun kebingungan dan cemas melihat majikannya itu mondar mandir seperti cacing kepanasan saja.
"Hah, mbok. Bawakan cemilan untuk Tama ke atas, jangan sampai dia keluar kamar dulu."
"Tapi nyonya, den Tama bilang dia masih kenyang. Ini, makanan nya mbok bawa kesini lagi." Jelas asisten tersebut dengan menunjuk pada makanan di atas nampan yang tadi dia sediakan untuk Joe.
"Aaah, anak itu. Tidak bisakah mengerti sejenak situasi kali ini sungguh buruk. Dia memang sangat mirip dengan kepribadian si brengsek itu, kenapa tidak mirip dengan Daddy nya saja." Ucap Abel sembari memijit-minit batang hidungnya.
"Siapa Joe sebenarnya, Abel?"