Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 213



Dua hari berikutnya, Jeni kembali ke sekolah. Sikapnya sedikit dingin, acuh tak acuh. Baik kepada Lisa maupun Lucas, begitupun pada Pelangi. Namun hal yang lebih mengejutkan ialah Joe, terlihat akrab dengan Jeni. Seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka sejak hari itu. Terkadang Jeni bersikap manja dan Joe menanggapinya dengan baik.


Ada apa? Kenapa begitu saja mereka terlihat lebih akrab dan dekat. Selalu pertanyaan itu yang menyelimuti bathin Pelangi. Sementara Lisa dan Lucas selalu mendecak kesal melihat tingkah Jeni.


"Princess cold, apakah Joe dan Jeni sudah..."


"Aku tidak tahu, Sa. Karena sejak aku meminta Joe untuk lebih menerima cinta Jeni, Joe seperti marah padaku." Jawab Pelangi dengan wajah sedih menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.


"So what? Kau malah menyuruhnya begitu? OMG, Princess cold. Itu berarti kau menolaknya secara halus, itu pasti sangat menyakiti hati Joe."


"Huwaaaa... Apakah aku harus merelakan si kumis tipis untuk cewek tomboy seperti Jeni? Ti-daaaakkk.." Lucas mulai bertingkah konyol lagi.


"Pelangi, apa kau sungguh hanya menganggap Joe sebagai sahabatmu saja? Joe tampan, dia juga pintar dan jenius, dia perhatian dan sangat menyayangimu. Kurang apa dia?" Lisa mulai meninggikan suaranya.


Pelangi menundukkan wajah, Lisa dan Lucas saling menatap satu sama lain.


"Ehm, Princess cold. Maafkan aku, aku jadi sedikit galak."


"Gapapa, Sa. Kau tidak salah, kau benar. Joe, dia.. Dia memang sangat baik, dia perhatian dan penyayang. Siapapun yang berada di dekatnya akan selalu merasa nyaman."


"Lalu kenapa kau melepaskan Joe begitu saja pada Jeni, Princess cold? Ehm, maaf. Selama ini gue memang selalu bercanda, tapi jujur. Gue lihat, si kumis tipis sangat mencintaimu." Pelangi menoleh ke arah Lucas yang tiba-tiba berbicara dengan nada serius kali ini.


"Woah, Lucas.. Kali ini aku sungguh mencintaimu." Goda Lisa pada Lucas.


"Aku tidak ingin merusak persahabatan dengan Jeni, sejak awal aku sudah merelakan Joe untuk Jeni jauh sebelum aku mengetahui siapa Joe sebenarnya. Aku yang mendorongnya untuk mempertahankan cinta pertamanya pada Joe, lalu bagaimana mungkin aku tega merampas cinta pertamanya hah?"


"Jujur pada kami, apa kau juga mencintai Joe beeb???" Tanya Lucas dengan berani.


"Benar kata Lucas, bagaimana dengan perasaan mu sendiri. Ayo lah, Pelangi. Kita sahabat bukan?"


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu Sa.. Lucas, kalian apaan sih. Bisa gak jangan bahas ini saja?"


"Ok, ok. Kami tidak akan menanyakan ini lagi, ayo ke kantin aku sudah lapar." Ajak Lisa kemudian setelah jam istrahat berlangsung.


Di kantin, Joe sudah duduk berdua dengan Jeni. Mereka saling bersenda gurau, sesekali Joe menyentuh tangan Jeni. Mata mereka saling bertemu, memandang satu sama lain. Tak peduli jika Pelangi, Lisa dan Lucas tiba di kantin dan sesekali memperhatikan mereka.


"Oh Tuhan, ada apa dengan Jeens? Sejak kapan dia menjadi cewek genit begitu." Lucas mulai mengomel.


Pelangi diam tanpa suara dengan menyeruput jus strawberry di hadapannya. Lisa pun terus saja ngedumel tanpa henti melihat ke arah Joe dan Jeni.


"Hai, aku kami gabung ya."


Tiba-tiba terdengar suara Jeni menghampiri mereka. Pelangi menoleh ke arah datangnya suara tersebut, dilihatnya Joe dan Jeni berpegangan tangan berdiri di sisi meja tempat Pelangi menikmati makan. Lisa dan Lucas semakin bersungut-sungut.


"E,eh.. Bo-leh. Duduk aja," Jawab Pelangi dengan kikuk.


"Dih, gue pikir elu udah gak mau gabung dengan kita-kita." Lisa mulai nyeletuk mengeluarkan suara.


"Yoi, secara... Miss TOMBOY sudah menemukan tambatan hatinya." Ujar Lucas sembari memainkan bibirnya ke kanan dan ke kiri.


"Yeee, apaan sih kalian. Seharusnya kalian memberikan selamat dong, untuk kami. Ya kan, Joe?" Jawab Jeni dengan lantang.


"Tidak perlu baby, tapi kita akan mengundang mereka untuk merayakan jadian kita. Ya gak, ehm.. Kalian mau kan?"


Jleb !!!


Jadi Joe sudah benar-benar menerima cinta Jeni? Huh, dasar cowok tidak berperasaan. Kenapa dia tidak menceritakannya lebih dulu padaku, nyebelin. Dasar nyebelin, awas kau Joe.


Bathin Pelangi mulai menggerutu.


"Selamat ya, Jen. Heh, akhirnya. Elu menang, elu berhasil." Ucap Lisa dengan dingin.


"Makasih, Sa. Elu emang sahabat gue, dan elu Lucas... Gak ngucapin juga?"


"Huwwaaaaaa... Kau jahat, Jeens. Kau merebut nya dari ku,"


"Hahaha, maafkan aku Lucas. Mau bagaimana lagi, aku suka wanita yang jujur yang tidak menyembunyikan perasaannya seperti Jeni. Dia berani mengungkapkan isi hatinya pada ku, jadi.. Aku menyukai itu dari Jeni." Jawaban Joe membuat Pelangi hampir tersedak, namun dengan cepat dia menyeruput jusnya kembali dengan lebih banyak.


"Ehm, bagaimana jika nanti kita kumpul seperti biasa di kafe Lucas? Kau setuju kan, Princess cold?" Jeni mencoba menyapa Pelangi dengan sikap congkak.


"Ah, eh.. Aku.. Aku setuju saja, atur saja bagaimana nanti malam." Jawab Pelangi dengan kikuk.


"Yess, jika Princess cold saja setuju berarti kalian juga kan?"


"Kagaak, aku tidak sudi kafe papa ku di tempati oleh kalian. Iiih. sory." Lucas mendecak kesal, memainkan bola matanya. Jeni mulai merayu nya, begitu juga dengan Joe. Lisa hanya terdengar menghela nafas panjang berkali-kali tanpa protes.


"Aku ke toilet sebentar ya, aduh... Perut ku sakit," Tiba-tiba Pelangi beranjak pergi dari hendak menuju ruang toilet.


Di dalam toilet, Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam. Dia duduk diatas closet duduk sembari menengadah ke atas.


"Hah, perasaan apa ini? Kenapa dada ku terasa sakit melihat Joe dengan Jeni begitu dekat, bahkan Joe juga memperlakukan Jeni sama seperti yang selalu dia lakukan padaku. Dasar cowok nyebeliiinnn..." Pelangi setengah teriak berbicara sendiri lalu mendecakkan kaki nya di lantai.


"Awas saja kau Joe, dasar cowok tidak berperasaan. Kau pikir sudah berhasil hah caramu itu? Apa kau sungguh berniat membuatku cemburu? Dasar nyebelin. Kau bilang lebih memilih cinta dan akan mempertahankan persahabatan. Apakah ini yang kau maksud, iya? Dasar plinplan."


Kembali Pelangi mendecak kesal mengepalkan kedua tangannya. Berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh akibat menahan amarahnya kali ini.


"Hah, ya. Aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh marah, apa itu cemburu? Hah, bukan kah aku yang menyutuhnya untuk menerima Jeni saja? Lalu kenapa aku harus menangis? Aaaarght.. Aku tidak mengerti semua ini. Hikzt..."


Pelangi terus saja mengomel di dalam ruangan toilet, kemudian dia menaril nafasnya dalam-dalam dan hendak keluar dari ruangan ini. Sepertinya dia sudah cukup lama menahan diri di toilet.


"Ommo.. Hah, Lisaaaaa.. Kau mengagetkan ku saja. Se,sejak kapan kau disini?" Pelangi terkejut bukan main setelah membuka pintu toilet dilihatnya Lisa berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan tajam.


"Apa ini, Princess cold?" Tanya Lisa dengan ekspresi serius.


Pelangi mengabaikan ucapannya lalu beranjak ke depan wastafel di sampingnya. Mencuci kedua tangannya tanpa berani menatap ke arah Lisa.


"Princess cold, jawab aku.. Iih, nyebelin deh."


"Jawab apaan sih, Sa.. Ayo, kita kembali ke kelas saja."


"Kau habis menangis bukan? Kenapa? Apa kau cemburu melihat Joe begitu dekat dan pada akhirnya bersama Jeni.."


"Hahaha, aku.. Aku tidak menangis, apa kau tidak bosan Lisa.. selalu mendetteku terus menerus dengan pertanyaan yang sama?"


"Hari ini aku sudah meyakinkan hatiku, Pelangi. Kau pun jatuh cinta pada Joe, feelingku selalu benar. Karena aku lebih dulu merasakan apa itu cinta, kau cemburu. Kau mencintai Joe, kau menyukainya."


"Lisa, stop.. Jangan terus memaksaku untuk mengakuinya."


"Lalu apa ini hah? Lalu apa ini?" Lisa menangkap kedua pipi Pelangi dan dihadapkan ke arah nya.


"Hey, ayo lah. Aku baik-baik saja, Lisa..."


"Tapi mata mu berkata tidak, Pelangi. Mau sampai kapan kau bersikeras tidak mengakuinya? Jangan menyiksa dirimu. Cukup!!!"


"Pikirkan saja apa yang kini kau pikirkan, Lisa. Jangan membuatku semakin takut, aku bingung, aku capek."


"Apa, apa yang kau takut dan bingung???"


"Tadinya ku pikir, aku akan sungguh baik-baik saja jika Joe bisa menerima cinta Jeni. Tapi di sisi lain hatiku, entah kenapa dan entah sejak kapan. Ku rasakan begitu sesak dan sakit melihatnya memperlakukan Jeni sangat manis, tapi aku.. Aku juga bahagia, melihat Jeni bahagia. Tapi aku... Aku juga ingin menangis, Sa."


Menyaksikan sahabatnya demikian, Lisa langsung memeluk tubuh Pelangi dengan erat. Pelangi menyembunyikan wajahnya dalm pelukan Lisa.


"Kau mencintainya, sayang ku. Kau jatuh hati pada Joe, aku senang akhirnya kau mau mengakuinya dan membuka hatimu."


"Tidak, Sa. Tolong jangan membuatku percaya hal itu, aku tidak ingin menyakiti Jeni. Dia baru saja merasakan bahagia akan cinta pertamanya.",


"Sssstt... Tenanglah. Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri, tenang ya..."


Lisa terus memeluk dan mengelus lembut rambut lurus Pelangi yang dibiarkan terurai indah. Dalam hati Lisa bergumam...


Sudah saatnya, kau merasakan indahnya cinta Princess cold. Aku akan mengatur keindahan itu untuk mu, sudah cukup selama ini kau begitu menahan diri dan menutup dirimu.