Because, I Love You

Because, I Love You
#16



Setelah menghubungi Beni, Rendy kembali masuk dan dia tertegun melihat Olivia yang tersenyum menatapnya.


Entah sejak kapan wanitanya itu mengganti pakaiannya?


"Damn!"


Rendy selalu tidak bisa untuk tidak memeluk dan mencium wanitanya ini yang saat ini sudah mengenakan lingerie seksi yang memperlihatkan tubuhnya yang begitu Indah.


Rendy memeluk dan mencium bibir Olivia dengan menggebu. Tentu saja Olivia akan menyambutnya dengan senang hati.


Olivia melepas dasi Rendy dan melemparnya ke sembarang arah lalu melepas jas yang masih melekat di tubuh Rendy.


"Hemphh..." Olivia melenguh di sela-sela ciumannya ketika merasakan tangan Rendy meremas pantatnya.


Namun, tiba-tiba Rendy menyudahi ciumannya yang sudah semakin memanas karena ponselnya bergetar dan berdering. Papanya sedang menelponnya.


Hal itu membuat Olivia sangat kesal dan kembali merasa kecewa.


"Tunggu sebentar." Ucap Rendy pada Olivia kemudian berbalik dan menjauhi Olivia seolah tidak ingin wanitanya mendengar percakapannya dengan sang Papa.


'Kenapa selalu saja ada pengganggu! Sial!' Umpat Olivia dengan kesal. Dia menghembuskan nafasnya kemudian memilih duduk di ruang tengah menunggu Rendy.


Rendy berdiri di balkon menatap pemandangan ibu kota di siang hari sambil berbicara dengan sang Papa.


"Papa tenang aja. Aku akan melakukan yang terbaik."


"Di mana kamu sekarang?" Tanya sang Papa.


"Aku—" Rendy melirik kebelakang dan melihat Olivia sedang menonton TV. "Aku lagi ada urusan sama temen, Pa. Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung berangkat ke Surabaya."


"Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik. Ingat pesan Mama kamu!" Papanya mengingatkan Rendy.


"Iya, Pa."


Mereka kemudian mengakhiri panggilan telepon mereka.


Rendy menghela nafasnya panjang dan merasa sangat bersalah harus berbohong pada Papanya. 'Maafin aku Pa, Ma. Aku terpaksa harus berbohong lagi.'


Orang tua Rendy tidak pernah setuju dengan hubungan Rendy dan Olivia. Itu membuat Rendy harus menjalin hubungan dengan Olivia secara diam-diam.


Entah mengapa orang tua Rendy tidak menyukai Olivia. Terutama sang Mama. Mamanya menentang keras hubungan Rendy dengan Olivia. Menurut sang Mama, Olivia wanita yang tidak baik dan tidak cocok jika bersanding dengan putranya.


Entahlah, Rendy tidak mengerti. Setahu dia, Olivia wanita yang baik, ramah, cantik, dan pintar. Sebelumnya, Olivia juga sudah berusaha untuk mengambil hati orang tua Rendy. Namun, tetap saja orang tua Rendy selalu dingin kepadanya, terutama Mamanya.


"Honey, ada apa?"


Rendy tersadar dari lamunannya ketika sang kekasih memeluknya dari belakang.


Rendy berbalik dan tersenyum pada Olivia. Bukannya menjawab pertanyaan Olivia, tapi Rendy melanjutkan ciumannya yang terputus tadi.


"Hemphh..."


Hanya beberapa detik Rendy mencium Olivia kemudian melepaskannya. Dia menatap jam tangan mahalnya yang melingkar di pergelangan tangannya sekilas. "Aku harus balik ke perusahaan sekarang. Ada meeting siang ini."


"Ya sudah, sana pergi saja!"  Jawab Olivia dengan ketus dan langsung berjalan masuk ke dalam.


"Honey!" Rendy memanggil Olivia, namun wanitanya itu tidak menghiraukannya.


Rendy menyusulnya masuk ke dalam. "Jangan marah. Bukannya malam ini aku akan menginap di sini. Kita akan menghabiskan waktu bersama malam ini." Rendy kembali membujuk sang kekasih.


'Sial! Aku benar-benar tidak bisa menahan diri dan kenapa dia selalu membuatku kesal?!' Gerutu Olivia dalam hati.


Olivia menghela nafasnya lalu menatap Rendy. "It's oke. Kalau begitu kembalilah bekerja dan aku akan menunggumu." Olivia melembut.


Rendy tersenyum dan mengecup sekilas bibir Olivia. "Begini kan semakin cantik."


"Aku mencintaimu." Ucap Rendy sambil memeluk dan mengecup kening Olivia penuh sayang.


"Iya, aku juga mencintaimu." Balas Olivia.


Rendy melepaskan pelukannya dan memakai jasnya kembali. Olivia membantunya memakaikan dasi lalu merapikan kemeja Rendy.


"Makasih, sayang. Aku pergi dulu ya."


...


Rendy berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift. Ada sepasang mata yang memperhatikan Rendy dari balik tembok saat Rendy masuk kedalam lift.


"Akhirnya pergi juga dia." Gumamnya dengan tersenyum dingin.


Rendy berjalan dengan cepat ke parkiran mobilnya. Ia menghentikan langkahnya saat melihat ternyata Beni, asisten pribadi sekaligus bodyguardnya sudah berdiri di samping mobilnya entah sejak kapan. Perasaan, tadi ia menyuruh Beni untuk tidak mengikutinya.


"Ngapain kamu di sini?"


"Maaf, Bos. Aku hanya menjalankan perintah dari Pak Bagas." Jawab Beni dengan wajah datarnya.


Rendy menghela nafasnya panjang kemudian ia segera masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan Beni yang sejak tadi menunggunya.


Beni segera masuk ke dalam mobil Rendy, membuat Rendy mengernyit dan menatapnya. "Siapa yang menyuruh kamu masuk?"


"Tidak ada, Bos." Jawab Beni tanpa merubah ekspresi wajahnya.


Rendy mendengus dingin dan akhirnya dia membiarkan Beni duduk di sampingnya.


Mereka kembali ke perusahaan bersama, karena tadi Beni menyusul Rendy dengan taksi.


Beni tahu apartemen yang ditempati Olivia, karena diam-diam dia telah diperintahkan oleh Pak Bagas untuk selalu mengawasi Rendy dan terus mencari informasi tentang orang-orang yang berhubungan dengan putra kesayangannya.


Karena Bagas tidak ingin jika terjadi hal-hal buruk kepada anak sulungnya, mengingat banyak pesaing bisnisnya yang tidak menyukainya. Bisa saja mereka akan berbuat jahat kepada Rendy karena kini Rendy talah resmi menduduki posisi sebagai pimpinan perusahaan Pradipta Grup.


...


"Dari tadi aku nungguin di luar. Ternyata kamu malah keasikan sama pacarmu yang payah itu!" Ucap laki-laki yang saat ini sedang menemui Olivia setelah kepergian Rendy tadi.


"Andreas sayang, jangan marah dong. Bagaimanapun juga Rendy itu kekasihku dan aku sangat mencintai dia." Ucap Olivia sambil mengalungkan tangannya di leher laki-laki yang bernama Andreas itu. "Selain itu, dia juga tambang emasku. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskan dia dan aku juga tidak akan pernah membiarkan wanita manapun merebut Rendy dariku, karena dia adalah milikku, hanya milikku!"


Andreas menyeringai menatap Olivia. "Apa kamu yakin kalau Rendy akan selalu menjadi milikmu setelah dia tahu bahwa ternyata kekasihnya ini berselingkuh denganku?"


Olivia terdiam dan terpaku tampak berfikir. Tak lama ia tersenyum dan senyumnya semakin mengembang, membuat Andreas mengernyit heran. "Kenapa senyum? Kamu tidak takut?"


Olivia tidak menjawab malah dia menarik tengkuk Andreas lalu menciumnya dengan haus.


Mendapat serangan yang tiba-tiba dari Olivia, tentu saja dengan senang hati Andreas menyambutnya dan membalas ciuman Olivia dengan rakus.


Mereka selama ini telah menjalin hubungan di belakang Rendy. Bahkan mereka sudah sering tidur bersama.


Andreas memeluk pinggang ramping Olivia lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Emphh...ahhh..." Olivia tidak bisa menahan lenguhan nikmatnya saat merasakan sentuhan Andreas yang membuatnya melayang.


"Kau benar-benar selalu membuatku gila, Oliv."


"Ahhh...Andreashh..."


Mereka pun melakukan itu lagi, lagi dan lagi.


...............