Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 144



Hari ini aku sedikit terlambat datang ke sekolah untuk menjemput Pelangi. Entah kenapa perjalanan kota hari ini tiba-tiba macet total, membuatku semakin khawatir membayangkan Pelangi sendiri menunggu ku di pintu gerbang sekolah.


Tepat di depan pintu gerbang sekolah, dengan tergesa-gesa aku keluar dari mobil lalu melangkah setengah berlari memasuki halaman sekolah. Langkahku terhenti mendadak setelah ku lihat Pelangi duduk manis dengan Lucky. Anak yang penuh dengan sopan santun itu...


"Pelangi," Panggil ku setelah kembali berjalan menghampirinya.


"Mama !!!" Teriak Pelangi berlari ke arahku lalu memeluk erat.


"Houp." Aku menggendongnya.


"Wah, sepertinya mama sudah hampir tidak kuat menggendong mu lagi." Jawab ku meledeknya.


"Mama, kenapa terlambat hari ini? Untung saja ada Lucky. Tapi dia sedikit banyak bicara sejak tadi." Jawab Pelangi mengadu.


"Oh ya, ehm.. Lucky, terimakasih nak. Kau bersedia menemani Pelangi disini. Tapi, apa kau juga belum di jemput?"


Lucky tersenyum hangat padaku lalu menyentuh bagian sisi rambut diatas daun telinga nya.


Beberapa saat kemudian, datang seorang wanita yang biasa mengantar dan menjemputnya kesekolah.


Aku terperangah di buatnya. Semakin membuatku penasaran sosok anak kecil ini, kenapa seolah dia begitu di lindungi.


"Permisi tante, saya pulang duluan. Hati-hati di jalan,"


Ucapnya berpamitan dengan kembali membungkukkan setengah tubuhnya padaku. Lalu pergi memasuki mobil mewah warna hitam kemudian berlalu pergi. Sementara aku masih terpaku menatapnya meski bayangannya telah hilang di depan mata.


"Ma, ayo pulang. Pelangi ngantuk ma," Ucapan Pelangi mengejutkan ku yang sejak tadi terpaku.


"E,eh baiklah. Ayo kita pulang, mama sudah buatkan jus dan cemilan kesukaan mu."


"Yeay, asyik." Jawab Pelangi mengayun-ayunkan tangannya yang menggandeng tangan ku lalu berjalan memasuki mobil.


Sepanjang jalan, ku lirik Pelangi yang sedang sibuk mengulang ulang nyanyian yang sejak tadi dia nyanyikan. Sepertinya dia sedikit kesulitan, aku tertawa geli dibuatnya.


"Ehm, Pelangi. Lucky itu anak yang baik ya, mama kagum dengan kesantunannya." Ucap ku menyela ketika dia berhenti menyanyi sejenak.


"Lucky? Eh, kagum itu apa ma?"


"Astaga, kagum itu.. Ehm, kita menyukai sesorang karena dia berbeda dan tentu lebih baik dari kita." Jawab ku berusaha menjelaskan. Selain itu aku juga menahan untuk menyampaikan penjelasan yang dia mudah mengerti seusianya.


Tapi Pelangi tetap terdiam menatapku tanpa ekspresi apapun. Hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya, dia terlihat semakin menggemaskan layaknya boneka.


"Fiuht.. Ya sudah lah, nanti akan ada saatnya Pelangi mengerti."


"Eh tapi, apakah Lucky suka mengganggumu di kelas atau mungkin dia bersikap yang tidak wajar nak?" Aku masih memaksa mengajaknya berbicara tentang sosok Lucky.


Pelangi menggelengkan kepalanya menanggapi ku.


"Tapi dia suka mengajak bicara Pelangi ma."


"E,eh.. Bagus dong, Pelangi jadi banyak punya teman yang bisa diajak berbicara dan berbagi."


"Pelangi tidak suka ma."


Astaga. Apakah dia masih trauma karena kedekatannya dulu dengan Tama kecil harus terpisah begitu saja. Semoga tidak Tuhan...


"Pelangi ngantuk ma," jawab Pelangi menyela tiba-tiba. Dia merubah posisi duduknya merebahkan nya di kursi, membuatku terdiam seketika. Hingga sampai dirumah Pelangi masih tertidur lelap, aku bergegas turun dari mobil lalu menggendong Pelangi keluar dari mobil.


"Apakah hari ini sungguh melelahkan di sekolahnya? Kenapa dia begitu mudah lelap dalam sekejap saja."


🌻🌻🌻


Berlalu kian sudah 2 minggu berjalan, aktifitas Pelangi di sekolah terkadang sedikit menyita waktu. Hari ini kembali aku bertemu dengan Lucky, entah apa yang membuatnya kini menghampiriku.


"Apa kabar tante?" Sapanya padaku setelah Pelangi lebih dulu sudah berjalan memasuki halaman sekolah.


"Hai Lucky, Ehm.. Pelangi baru saja menuju kelas." Jawab ku dan dia tersenyum menanggapi.


"Baiklah tante, aku masuk kelas dulu." Ucapnya kemudian.


"Eh Lucky, ehm... Jadilah teman yang baik untuk anak tante, Pelangi. Kau anak baik, jaga Pelangi selama di kelas." Ucap ku padanya.


"Saya akan menjaga Pelangi dengan baik." Jawab nya dengan tegas namun bahasa nya sedikit terdengar kaku. Aku tersenyum hangat mendengarnya, lalu dia melanjutkan langkahnya.


Aku membalikkan badan hendak kembali pulang kerumah, namun seorang wanita setengah berlari memanggilku, yang tak lain guru Pelangi di kelas.


"Mama Pelangi, tunggu sebentar." Panggilnya.


"Ya, ada apa bu?" Jawab ku mengurungkan langkah ku hendak menuju mobil.


"Eh, maaf. Minta waktu sebentar, berapa kali saya selalu memperhatikan anda juga penampilan anda. Sungguh sangat modis dan tak kalah dengan para artis. Anda tidak terlihat seperti ibu yang memiliki satu anak."


"Ah, anda terlalu memujiku bu. Ehm, tapi apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Papa saya seorang designer terkenal. Dia sedang mencari seseorang untuk menjadi model di peragaan busana nya. Kami belum menemukan model yang cocok karena selain mereka banyak menuntut, karakternya juga tidak pas."


"Oh, lalu? Hubungannya dengan ku apa bu?" Tanya ku heran.


"Saya ingin anda yang menjadi model papa saya, pliss. Saya harap anda bersedia, bagaimana?


"Aduh, maaf bu. Saya, saya bukan seorang model. Saya hanya seorang ibu rumah tangga, dan mengenai tentang style yang selalu saya gunakan itu karena sejak masih gadis saya selalu suka mengaplikasikan pakaian saya sesuai style yang lagi ngetrend."


"Tak apa mama Pelangi, ini hanya sekal waktu saja. Dan tentang status anda, saya yakin papa tidak akan keberatan. Ini hanya sementara saja, dan bayarannya juga cukup tinggi. Ayolah,"


"Eh, maafkan aku Bu. Tapi aku juga perlu persetujuan suami ku juga, maafkan aku."


"Aku akan memberimu waktu sampai besok, karena acara ini sudah akan berlangsung minggu depan."


"Aduh, saya tidak bisa berjanji bu. Tapi akan saya usahakan,"


"Baiklah mama Pelangi, aku akan menunggu kabar baik darimu. Ini nomor yang bisa kau hubungi nanti padaku." Jawab nya sembari menyodorkan sebuah kartu identitas.


"Ehm, baiklah. Saya akan memberi kabar pada Anda besok." Jawab ku mantap.


Kemudian aku kembali melangkah memasuki mobil, lalu melajukan mobil dengan perlahan. Di tengah perjalanan aku menertawai diriku sendiri, bagaimana bisa aku mendapatkan tawaran menjadi seorang model.


Tidak pernah ku bayangkan sebelumnya, lagi pula aku yakin Irgy akan menolaknya. Dia tidak akan pernah mengizinkan tubuhku dilihat oleh banyak orang diluar sana, khususnya lelaki. Aku pun sebenarnya tidak tertarik, tapi bagaimana aku akan menolak dan memberikan alasan pada guru Pelangi nantinya.


Aku berniat pergi ke kantor Irgy sebelum akhirnya pulang kerumah kemudian menjemput pelangi lagi. Sampai di kantor, aku langsung melangkah menaiki sebuah lift menuju ruangan Irgy. Aku menunggu lift terbuka begitu lama, setelah terbuka tanpa ku duga di dalam ruangan Lift telah lebih dulu berdiri sosok lelaki yang telah lama tak pernah ku temui.