
POV
Sesaat setelah Fanny menghindari perkumpulan yang membuat hatinya sesak tak tertahankan, Irgy sedikit gelisah. Sesekali Ia mencari-cari sosok istrinya yang hilang dari pandangannya. Sementara semua teman-teman yang tengah mengelilinginya kian semakin terus menahan dan merebut pandangannya untuk fokus pada reuni ini.
Memang, sikap mereka tak heran lagi bagi Irgy yang sudah bertahun-tahun dalam perkumpulan reuni mereka selalu berhasil menyita waktu dan konsentrasi Irgy. Terlebih lagi Irgy di kenal sebagai teman yang humble selain berprestasi dan selalu mengutamakan ikatan persahabatan saat di SMA dulu. Itu sebabnya dia selalu terpilih sebagai ketua osis dan di tunjuk ketua dalam setiap perkumpulan reuni ini.
"Gigy, sekali lagi.. Selamat atas pernikahan mu, maaf jika aku terlambat mengucapkannya." Sapa Hana yang tiba-tiba datang menghampirinya lebih dekat.
"Hem, makasih." Jawab Irgy singkat tanpa menoleh padanya, dengan meneguk sebuah minuman.
"Itu saja?" Tanya Hana kembali dengan tersenyum melihatnya.
Irgy masih terdiam mengabaikan Hana di dekatnya yang terus menatap Irgy tanpa mempedulikannya. Kemudian Irgy mencoba untuk berpindah posisi dari hadapan Hana.
"Gigy, tunggu. Apakah kau sungguh marah dan tidak ingin memaafkan ku? Apa kau tidak ingin tahu kabar ku setelah kau menghilang begitu saja?"
Irgy menatapnya seketika tanpa berkata sesuatu apapun. Hana masih saja melempar senyumnya pada sosok laki-laki di masa lalunya itu.
"Kenapa kau terus meminta maaf sejak tadi, dan tolong jangan menganggapku seperti yang kau sebut di masa lalu."
"Hahaha, kau tidak berubah sedikitpun Gigy. Kau masih saja malu mengakui perasaan mu dan sikapmu tetap saja tertutup seperti dulu."
"Dan kau tetap menganggapku bahan lelucon mu bukan? Sudah lah Nana, jangan lagi bicara padaku. Jangan mengujiku di hadapan istriku."
"Bukan kah kau masih menyebut nama yang berbeda sama seperti dulu?"
"Itu karena aku sudah terbiasa dengan panggilan itu," Jawab Irgy membantah.
"Itu artinya namaku juga sudah biasa berada di hatimu. Iya kan, hihi.."
"Ha,Ha-na. Bisakah kau pergi saja dari pesta ini?"
Hana tampak terkejut akan ucapan Irgy kali ini. Kedua matanya berkaca-kaca menatap wajah Irgy yang menatapnya masam, seolah dia enggan menatapnya lagi.
"Bagaimana sebenarnya dulu kau menganggap hubungan kita?" Tanya Hana dengan nada serius.
"Seharusnya aku yang bertanya pada mu, apa kau pernah menganggap kedekatan kita dulu?"
"Gigy.. Aku tidak percaya kau memiliki sisi ini, bukan kah aku sudah lebih dulu mengatakan perasaan ku padamu? Tapi kau.. Kau lebih berani menyampaikannya melalui orang lain."
"Karena kau selalu menganggapku lelucon ketika aku berbuat sesuatu untuk menunjukkan perasaan ku yang sesungguhnya padamu saat itu. Kau ingat, saat hari valentine di sekolah aku memberimu bunga mawar ungu seperti yang selalu kau ucapkan setiap kali aku berada di dekatmu. Kau selalu berbicara ingin mendapatkan nya dari seseorang. Aku mengerti dan ingin jika aku lah orang itu, kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkannya hingga memesannya dari luar negeri. Diam-diam menyisihkan uang tabungan dari uang jajan ku, karena aku pantang meminta pada orang tua ku demi membuat bahagia wanita yang ku cintai. Tapi apa? Ketika aku memberikan itu padamu, kau.. Justru mentertawaiku di hadapan seluruh teman-teman satu kelas. Apa aku sungguh kau anggap bahan lelucon seperti itu?"
Hana memejamkan kedua matanya dengan nafas dalam-dalam lalu meneteskan butiran bening di sebelah matanya. Ia menyadari akan sikapnya saat itu yang tidak sama sekali dia pikir akan berakibat fatal bagi hati Irgy.
"Gigy, aku.. Saat itu aku, sesungguhnya aku hanya mengalihkan rasa terkejutku. Kau sungguh memberikan bunga langka itu di hadapan teman-teman. Aku bahagia, aku terharu, aku sungguh ingin mengatakan langsung jika mau kah kau menjadi kekasihku hingga terikat dalam sumpah pernikahan. Tapi aku seorang wanita, aku pun tidak ingin terlihat cengeng di hadapan semuanya akan keharuanku."
"Tapi tidak bisakah kau sedikit saja, berhenti menertawaiku seolah aku tidak pantas mendapatkan cintamu."
"Gy, aku menunggu mu mengucapkannya langsung. Aku mencintaimu dan sampai saat sebelum aku mendengar kabar kau telah menikah, aku masih menunggumu. Aku masih berharap mendengar kata cinta dari mu, aku masih berharap kau pun merindukan ku Gigy..."
"Kita memang tidak berjodoh, aku hanya seorang laki-laki pengecut dan tidak pantas untuk wanita berkelas sepertimu."
"Lalu bagaimana sekarang, apakah hatimu sudah tak lagi bergetar dengan kehadiran ku? Kau pernah bilang dulu, jika hanya dengan berada di dekat ku saja kau merasakan getaran di hatimu. Hingga butiran keringat membasahi sekujur tubuhmu, iya bukan?"
"Itu dulu, sebelum pada akhirnya aku berhasil perlahan membunuh perasaan ku terhadapmu Hana."
"Kau bohong. Jangan selalu menjadi pengecut, jangan membuatku tetap menganggapmu sama seperti dulu terhadapku."
"Aku sudah menikah Hana, aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini. Bukan kah kau bilang tadi sudah bertunangan. Lalu apa lagi? Sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing-masing tanpa menyimpan perasaan lainnya lagi."
"Lalu ini apa, ini apa Gigy?" Dengan gesit Hana meraih tangan kiri Irgy yang mulai basah oleh keringat. Irgy menepisnya dengan sedikit kasar.
"Keningmu, lehermu, dan tangan mu sudah basah, atau mungkin di sekujur tubuhmu saat ini juga sudah basah oleh keringatmu bukan?"
"Jangan salah paham, ini karena.. Aku terkejut akan kehadiran mu tiba-tiba yang selama ini tidak pernah hadir setiap kali reuni ini diadakan."
"Itu karena aku sangat sibuk dengan kuliah ku di luar negeri. Apakah itu menjadi alasan untuk mu melupakan ku begitu saja?"
Irgy terdiam tanpa jawaban. Ia semakin gusar dan kebingungan untuk memberi jawaban pada wanita yang pernah ada di masa lalu nya. Mau tidak mau Ia harus mengakuinya jika Hana adalah wanita yang dulu membuatnya pernah merasakan adanya cinta.
"Katakan Gigy, katakan. Jika kau sungguh pernah mencintaiku dulu, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu yang tidak pernah bisa kau ungkapkan dulu."
"Itu tidak perlu lagi, aku sudah lupa caranya mengatakan perasaan ku padamu dulu." Jawab Irgy tegas. Membuat Hana terkejut hingga kedua matanya yang bulat memerah karena air mata mulai merembes dengan derasnya.
Irgy merasa kebingungan. Sementara sebagian orang yang hadir di pesta kali ini menatapnya dengan saling berbisik.
"Maafkan aku Nana. Aku..."
"Bertahun-tahun lamanya aku menunggu kau mengucapkannya langsung di depan ku Gigy. Kau sudah bahagia, apa aku tidak berhak untuk bahagia juga hanya dengan satu kalimat cinta yang terucap dari bibirmu. Kau berubah begitu egois Gigy... Kau egois."
"Apa lagi yang kau inginkan hah?"
"Katakan, ungkapkan. Perasaan yang pernah kau bunuh karena sikap salah paham dari ku, sebelum nantinya kita akan benar-benar tidak di pertemukan kembali meski itu hanya sebatas kenal saja."
"Aku mencintaimu."
"Apa? One again. Aku tidak mendengarnya Gigy."
Hana tersenyum lega mendengar ucapan kalimat yang selama ini dia nantikan terucap dari mulut sosok laki-laki yang dicintainya diam-diam. Dia menyeka air mata nya dan menggantinya dengan tersenyum ceria.
"Kau jangan merasa puas dulu, aku hanya tidak ingin kau hidup dengan terus menganggap perasaan ku terus menghantuimu selamanya."
"Hem, tak apa. Aku mengerti, paling tidak aku sudah mendengarnya secara langsung meski sudah terlambat." Jawab Hanna dengan kembali meneteskan air mata meski Ia tetap tersenyum ceria.
"Aku berharap kita tidak lagi membahas semua yang telah usai tertelan waktu di masa lalu. Dan tentang perasaan yang telah berhasil ku kubur dalam-dalam jangan lagi memaksa untuk kembali bangkit. Karena kisah kita kini sudah berbeda.." Jawab Irgy dengan tegas kemudian beranjak pergi dari hadapan Hana.
Dalam hati Hana bergumam...
Kau tidak akan pernah tahu kebahagiaan ku saat ini Gigy, selama bertahun-tahun aku menanti kalimat itu terucap dari bibir manismu. Tapi kenapa kau harus berani mengatakannya di saat kita sudah terpisah oleh jarak yang tidak mungkin mampu ku tembus untuk tetap merebutmu kembali.
🌻🌻🌻
"Woah, suasana apa ini? Menyeramkan sekali, bulu kuduk ku sampai bergidik." Jawab salah seorang dari teman Irgy yang berkulit hitam, suasana memang hening kembali setelah aku menatap wajah suami ku Irgy dengan tajam serta dengan kata pujian.
"Sayang, ini benda hanya simbolis saja. Tidak seperti yang kau pikirkan, jangan menganggapnya serius." Jawab Irgy kemudian dengan gemetaran.
"Oh ya? Tapi ini sungguh menarik, dan hebat. Bisa menjawab sesuatu yang tersembunyi meski sudah bertahun-tahun dianggap mati." Balas ku dengan menyeringai.
"Ehm, Fanny. Apa kau marah? Ini.. Ini hanya permainan saja, jangan memberikan tatapan menyeramkan begitu. Kau membuat Gigy takut... Hahaha, ya ampun." Ucap Hana menyela.
"Hahaha, kau justru lebih hebat dan menarik dalam permainan ini Hana. Sejak tadi kau seolah lupa status Irgy saat ini, dan sebuah tatapan hangat itu. Hanya milikku untuk Irgy, kau hanya bagian dari masa lalu nya yang mungkin sudah tidak sedikitpun lagi di ingatnya."
Tahan Fanny, tahan emosi mu... Semua sudah memperhatikan mu saat ini, kau harus tetap bersikap bahwa kau wanita yang lebih pantas mendampingi Irgy walau kini amarah mu sudah memuncak.
Ku lihat Hana terperangah menatapku tanpa berani memberikan jawaban untuk membela diri kemudian dia melihat sekeliling teman-teman yang kini menatapnya pula dengan kebingungan.
"Hahaha, aku bercanda. Kenapa wajah mu pucat begitu, aku hanya bercanda. Astaga,"
Aku kembali mengambil alih untuk mencairkan keheningan ini, aku tidak ingin dinilai sebagai wanita kasar dan tidak pantas di peristri oleh seorang Irgy yang dianggap mereka sebagai laki-laki perfect.
"Hahaha, astaga. Fanny, ternyata kau istri yang kocak dan konyol. Pantas saja Irgy memilihmu sebagai istri. Karena kau begitu bar-bar, hahahaa." Jawab salah seorang menyela ucapan ku.
"Ehm, terimakasih. Tapi sepertinya Irgy memilihku sebagai istri bukan hanya karena itu, aku juga menggila dalam perihal memuaskan birahinya. Iya kan sayang? Bahkan dia selalu memaksaku setiap detik melakukan nya sampai dia merasa lelah."
Kau tahu, ini ucapan spontan keluar dari mulutku. Entah apa untungnya dan apa alasannya aku tidak peduli, aku hanya ingin menggila disini.
"Aaah? Astaga, aku tidak percaya ini. Woah, kalian membuat kami iri. Kami belum menikah, hahaha..."
"Apa kalian juga ingin tahu bagaimana caranya merengek manja saat menginginkan ku?"
"Sayang, apa yang kau bicarakan? Ayo kita pulang. Jangan membuatku malu di depan teman-teman." Irgy menahan ku untuk tidak melanjutkan obrolan.
"Jika kalian ingin tahu, kalian harus membayarku lebih dulu. Satu cerita dari ku bayarannya 50 juta, bagaimana?" Jawab ku lagi mengabaikan ucapan Irgy yang menahan ku sejak tadi.
"Sayang, ayo pulang. Permainan sudah selesai," Bantah Irgy dengan tegas.
"Aku, aku duluan. Aku akan membayarmu dua kali lipat, ayo katakan. Aku akan membayarnya langsung malam ini."
"Fanny..."
Panggil Irgy dengan lantang. Membuat semua terdiam seketika.
"Ayo lah sayang. Jangan marah begitu, mereka kan teman-teman mu. Biarkan mereka juga tahu sisi lain mu, mereka juga..."
Tanpa mendengar ucapan ku selesai, dengan gilanya Irgy menyumpal mulutku dengan sebuah ciuman. Dan ciuman nya kali ini berbeda, antara marah dan merasa bersalah. Aku berusaha memberontak, aku membenci sikapnya ini. Ini justru membuatku malu, tapi...
Dan ku lihat Hana pergi dengan membanting segelas minuman di tangannya. Membuatku semakin memberontak mendorong Irgy, hingga bibir ku terasa sakit oleh gigitan Irgy. Brengsek !!!
"Kau puas sayang?" Tanya ku setelah Irgy melepas ciumannya yang sedikit kasae, aku tersenyum menyeringai, dengan sebuah tatapan tajam pada Irgy.
"Ma,maafkan aku sayang." Ucap Irgy dengan kikuk.
"Kalian lihat, bahkan dalam berciuman dia juga sangat liar. Tak peduli dimana kami berada, Irgy memang selalu melakukannya sesuka hati."
"Wah parah lu Man, gila. Ternyata maniak juga lu ya," Lagi-lagi si kulit hitam berucap.
"Ayo sayang, kita pulang. Ini sudah larut,"
"Hahaha apakah kau sungguh mengajak pulang karena waktu? Bukan karena ingin sesuatu? Hahaha."
Kini Irgy menjadi bahan ledekan dari mulut teman-temannya yang sejak tadi tidak seorang pun menghargaiku. Begitu pun Irgy, mungkin karena dia sudah terbiasa. Tapi ini menyakitiku...
"Aku mohon, ayo kita pulang." Ucap Irgy kembali mengabaikan ledekan teman-temannya. Sejujurnya aku belum puas, justru hati ini semakin sakit.
"Baik lah, semua. Terimakasih atas undangan ini, kalian semua menghibur ku begitu seru dan sedikit gila. Sampai jumpa kembali, Ehm.. Kemana Hana? Aku akan mengucapkan kata selamat tinggal." Ucap ku dengan berpura-pura mencari sosok Hana.
"Sudah lah, ayo pulang."
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Irgy menggendong ku hingga keluar dari ruangan. Lalu menurunkan ku tepat di depan mobil kami, Irgy menatapku tajam. Aku membuang muka, berusaha menahan air mata ku untuk tidak terjatuh karena luapnya amarah ku.
"Sayang, sejak tadi kau sudah pasti memaki dan mengeluarkan kata umpatan untuk ku. Lakukan sekarang di depan ku langsung?"
Aku tersenyum tertahan. Tanpa jawaban dan melakukan seperti yang dia perintahkan. Irgy mencoba menyentuh kedua pipi ku, aku masih enggan menatap wajahnya. Aku tidak tahu lagi, apa yang akan aku lakukan saat ini, aku hanya ingin marah. Aku ingin teriak, aku ingin meluapkan segalanya...