
Di peganginya kedua pipi Exelle lalu diangkatnya hingga sedikit mendongak menatap wajah Ammar secara dekat. Exelle mengerutkan kedua alisnya, dan Ammar kembali menangis terisak. Di kecupnya kening Exelle dengan hangat.
"Nak, ini papa." Ucap Ammar dengan tegas, singkat, dan jelas. Terdengar begitu lembut namun penuh keyakinan di telinga Exelle.
Kedua mata Exelle terbelalak lalu menepis kedua tangan Ammar yang sejak tadi menyentuh kedua pipinya. Exelle mundur satu langkah dari hadapan Ammar.
"A,apa? Pa-pa?"
"Bukan kah papa nya Exelle sudah lama meninggal?"
Kedua teman Exelle saling menatap dan penuh heran satu sama lain.
"Nak, ini papa. Aku Ammar, Ammar Bilyantama." Ucap Ammar kembali.
"Ja,jadi... Pa-pa beneran masih hidup?" Tanya Exelle dengan nada bicara yang terbata-bata. Dia masih sedikit shock, seolah tak percaya akan hal ini.
"Ya. Aku papa mu, Exelle. Ini papa, Nak." Ucap Ammar berkali-kali sembari mengulurkan tangannya untuk memeluk Exelle kembali.
Lalu kemudian Exelle memeluk tubuh Ammar kembali, memeluknya begitu erat seolah tak ingin di lepaskannya lagi. Berkali-kali dia ciumi wajah, bagian dada serta kedua tangan papanya yang selama ini dia ketahuin telah meninggal namun ternyata masih mampu dia peluk erat secara nyata.
"Pa... Aku... Aku..." Suara Exelle terbata-bata dengan nafasnya yang terdengar sesak di balik isakan tangisnya.
"Jangan bicara apapun lagi, Nak. Ini papa mu, apa mau merindukan ku? Kau sudah sebesar ini, kau sungguh tampan. Oh, anak papa..." Ammar dengan deraian air mata mendekap hangat kedua pipi putera nya itu.
Pertemuan yang tak terduga, hanya dalam waktu sekejab mata semua mereka di pertemukan kembali meski dengan kondisi yang tak diinginkan. Ini sungguh mengharukan, betapa tidak. Siapa yang tidak mengenal jiwa Ammar di masa lalu? Dia begitu keras menolak kehadiran Exelle. Hingga akhirnya pun Eliez, mendiang istrinya pergi untuk selamanya ketika Exelle masih kecil dan butuh kasih sayang seorang ibu.
"Wah... Pertemuan yang mengharukan, kalian puas sekarang?" Ucap Abel dengan bertepuk tangan, menyela kebahagiaan mereka.
Ammar dan Exelle saling meregangkan pelukan mereka yang begitu erat sejak tadi.
"Iih, apaan sih kau ini. Tidak bisakah kau membiarkan suami ku menyalurkan kebahagiaan dan rindunya selama ini dengan puteranya? Kau memang dasar pengganggu." Ucap Hana pada Abel dengan cetus.
"Diam kau! Atau ku cabik-cabik mulutmu itu nantinya." Bentak Abel.
Hana terkejut dan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.
Kemudian dokter keluar dari ruangan operasi. Membuat Abel teralihkan hanya fokus pada dokter dahulu, mengabaikan semua yang dia lihat dan membuatnya marah sejak tadi.
"Dokter, bagaimana puteraku?" Tanya Abel dengan cemas menarik-narik tangan dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Nyonya, tenanglah sedikit." Ujar asisten rumahnya mengelus bahu Abel.
"Keadaan masih kritis setelah operasi di lakukan, kami masih akan berusaha semaksimal mungkin. Kepalanya terbentur cukup keras, kecelakaan ini sungguh sangat fatal. Dan beberapa alat vitalnya tidak berfungsi sehingga dia mengalami koma."
"Ko,koma..." Sekujur tubuh Abel gemetaran terhuyung dan hampir saja jatuh, untung saja dengan sigap Ammar menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
"Abel, kau baik-baik saja?" Tanya Ammar namun diabaikan oleh Abel.
"Sampai kapan, Dok? Sampai kapan? Apakah itu berarti puteraku akan mengalami kelumpuhan???" Abel kian histeris.
"Mohon bersabar dulu, saat ini kami masih berusaha untuk menyelamatkan nyawanya. Kita hanya bisa berdoa dan mengharapkan keajaiban Tuhan. Untuk sementara tidak ada yang boleh menjenguknya ke dalam sebelum kami memindahkannya ke ruang ICU." Jelas dokter itu lalu kemudian pergi meninggalkan Abel.
"Abel, tenanglah. Joe akan baik-baik saja, percayakan pada dokter." Ucap Ammar sembari mendekap tubuh Abel yang meringkuk dengan isakan tangis.
"Kau. Semua ini karena puteramu, dia yang menyebabkan Joe tertabrak mobil." Abel mengamuk mendorong dan mengamuk serta memukul-mukul tubuh Ammar.
Dia seperti wanita yang sedang kerauhan, dia sungguh histeris dan mengamuk. Exelle di tarik oleh Hana dan dilindungi dalam pelukannya, sementara kedua teman Exelle ikut serta melindunginya.
"Abel, tenanglah. Ini musibah, tidak mungkin putera ku sengaja membiarkan Joe tertabrak. Berhenti menyalahkannya, kendalikan dirimu." Ucap Ammar dengan menaikkan nada bicaranya.
"Kau brengsek!!! Kau dan puteramu sama-sama brengsek. Aku benci padamu, aku benci kaliaaaaan... Pergi, pergi dari sini." Abel mengamuk dengan terus memukul dan mencakar-cakar wajah Ammar lalu menamparnya.
"Abel... Hentikan, jangan menggila begini." Ammar menangkap kedua tangan Abel dan menatap wajah Abel dengan tajam.
"Diam!!!" Bentak Ammar kemudian. Abel terkejut dengan mengatupkan kedua bibirnya.
"Aku pun juga takut putera mu lebih buruk. Tapi bisakah jangan membuat keadaan semakin kacau disini?"
Mendengar Ammar berkata demikian Abel semakin naik pitam lalu mendorong Ammar kembali.
"Kau tidak akan merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan saat ini, karena kau belum tahu kebenarannya. Aku hanya memiliki Joe, susah payah aku menjaga dan merawatnya hingga kini tumbuh remaja yang sangat menggemaskan."
"Aku paham, aku pun merasakan kesedihanmu. Tapi pliss, berpikirlah dengan tenang. Jangan menuduh Exelle, dia tidak mungkin bersalah. Lihat, dia masih disini bukan?"
"Tama, Joe sedang kritis di dalam. Dia koma, bagaimana aku akan meminta pada Tuhan untuk menyelamatkannya hah???"
"Abel... Joe pasti..."
"Dia puteramu, dia putera kandungmu. Kau dengar itu?"
Jleb!!!
Ammar kini mematung tanpa kata satu pun. Wajahnya memucat, bibirnya gemetaran. Suasana hening seketika, tak ada yang berani memgeluarkan suara.
"A,apa ini? Oh my God. Aku tidak percaya ini, semua seperti mimpi buruk." Ujar Hana lirih.
"Hah, kau jangan gila Abel." Ujar Ammar dengan mengusap wajahnya, berpaling dari tatapan Abel yang begitu sinis.
Gubrak!!!
Abel terjatuh tak sadarkan diri.
"Nyonya, nyonya, nyonya sadar..." Dengan sigap asisten rumah Abel memapah tubuh Abel kepangkuannya.
"Aaakh..." Ammar kesal lalu menggendong Abel. Di susul oleh asisten rumah tangganya memanggil dokter untuk menangani Abel yang kini tidak sadarkan diri.
Dengan cepat para perawat dan satu dokter menghampiri lalu membawa masuk Abel ke sebuah ruangan kosong. Ammar menunggu di luar, hanya asisten rumah tangga Abel yang menemani di dalam.
"Tuhan, cobaan apa ini? Kenapa semua terasa menghujaniku dengan masalah berat. Ini alasan ku mengapa enggan menginjakkan kaki ku kembali di tanah ini. Seolah disini begitu kejam menyerangku, menghukumku dengan hal-hal yang membuat sesak hatiku."
Ammar menutup wajahnya dengan bersandar pada tembok dinding ruangan tempat Abel di tangani oleh dokter di dalam.