
"Sayang, aku tahu kau marah. Tapi tolong jangan meledak disini. Jika kau ingin mengataiku, ayo kita pulang sekarang juga." Ucap Irgy dengan suara lirih di dekat ku.
"..........."
Aku terdiam tanpa kata. Entah kenapa mendadak aku tidak mampu mengeluarkan suara, banyak kata umpatan dan amarah yang ingin aku luapkan. Tapi terkunci rapat di mulut ku.
"Sayang, aku bicara padamu.."
"Aku mengantuk. Kau bisa kembali berkumpul dengan mereka, aku pulang lebih dulu saja." Jawab ku tegas. Lalu hendak pergi dari hadapan Irgy.
"Sayang, pliss. Jangan menampakkan wajah mu begitu, aku akan malu di depan teman-teman."
Aku hanya tersenyum tipis tanpa menatapnya. Dan kembali menepis kasar tangan Irgy yang menahan ku. Aku kembali melangkah dengan berusaha menebar senyum, di susul oleh Irgy dari belakang. Langkahnya terdengar sedang terburu-buru untuk tidak tertinggal oleh ku.
Langkahku sampai di tengah kerumunan pesta. Kembali Irgy di panggil oleh beberapa teman-teman SMA nya, Irgy mengabaikan namun langkahnya ragu untuk terus mengejarku. Kemudian sahabat Irgy yang sedang berulang tahun muncul tepat di hadapan kami.
"Ada apa?" Tanya nya kepada kami, menatap dengan kebingungan.
"Upz, maaf. Tapi sepertinya aku harus pulang lebih dulu, ku khawatir pada puteriku dirumah tidur hanya di temani asisten ku." Jawab ku mencari alasan.
Dia terdiam dengan mengeluh nafas panjang, menatap ada Irgy seolah mencari jawaban yang benar.
"Fanny, pliss maafkan aku. Semua salah ku, ku pikir Hana tidak akan datang. Lagi pula bukan aku yang mengundangnya datang, dia pasti mendapat undangan reuni dari teman yang lain."
Aku masih menahan gemuruh di hatiku untuk tidak menangis dan terlihat lemah.
"Memangnya siapa Hana? Kenapa kalian seolah begitu cemas dan panik di depan ku?"
Tuhan... Aku ingin sekali menangis.
"Bro, ayolah. Elu gak bisa jelasin semuanya sama istri lu, hah?" Jawab nya menatap Irgy. Membuat Irgy semakin gusar.
"Gue harus jelasin ini dirumah, ini masalah rumah tangga gue. Jadi sebaiknya gue pulang lebih dulu bro, maaf membuat suasana tidak nyaman."
"Kagak bisa gitu bro, ini salah gue. Gue yang ngadain pesta dan reuni ini, gue jadi gak enak sama istri lu bro." Jawabnya membantah kembali pada Irgy.
"Jadi tidak ada yang akan jujur pada ku disini?" Ucapku menyela dengan tegas.
"Hai, Irgy. Kemari, kita akan memulai permainan seperti biasanya. Kemari lah," Panggil seseorang lainnya kepada Irgy.
"Bro, elu masih ingat aturan perkumpulan kita dari dulu bukan? Pantang keluar dari pesta sebelum mengikuti permainan ini."
"Cih, semakin lama aku semakin muak. Kalian bisa melanjutkan, aku akan tetap pulang."
Kemudian aku beranjak pergi namun Hana muncul dari arah berlawanan dengan ku, dia menatapku dengan senyuman yang seolah itu terpaksa dia lakukan padaku.
"Hey, kau mau kemana? Pesta belum selesai." Sapanya dengan sok ramah dan kenal.
"Aku harus segera pulang, puteriku tertidur hanya di temani oleh bibi asisten. Maaf," Jawab ku acuh.
"Gigy, kau yakin akan keluar dari aturan permainan yang selama ini sudah kita jalankan selama ini? Bahkan kau ketuanya bukan? Dan aku wakilnya.. Hihi."
Aaaaaarght... Ayo lah Tuhan, aku tidak tahan semakin lama berada disini.
"Sayang, bisakah kau tetap disini saja menemaniku? Satu putaran permainan saja." Irgy menyentuh lenganku kembali mengeluarkan suara memohon.
"Ayo lah, Fanny. Jangan mempermalukan suami mu di depan semuanya, oh atau.. Kau ingin sungguh ingin memberikan suamimu padaku?" Ucap Hana dengan tawa meledekku.
Sial... Apa kini dia menantangku?
"Ayo lah, Nana.. Jangan bercanda begitu, kau membuat Fanny semakin tidak nyaman." Jawab laki-laki yang sejak tadi mencoba mencairkan suasana hatiku.
"Nana, jangan selalu bersikap seperti anak kecil. Dari dulu aku tidak suka sikapmu ini, kau selalu menganggap hal di sekitarmu lelucon." Ucap Igy dengan nada lantang. Membuat kami yang berdiri tegang semakin menegang.
"E,eh.. Gigy, aku hanya bercanda. Sejak kapan kau menjadi pemarah begitu? Ya ampun, ini bukan dirimu yang dulu. Kau tahu bukan aku memang suka bercanda."
"Hana, kau ingin aku dan Gigy mu ikut serta dalam permainan bukan? Baiklah, aku akan ikut serta. Paling tidak aku memberimu sedikit sedekah waktu lebih lama untuk mengenang masa lalu kalian."
"Sayang... Apa-apaan sih?" Jawab Irgy dengan nada tinggi.
"Oh, hahaha. Lihat, istrimu saja pandai melawak Gigy. Kenapa kau jadi pemarah begitu, hahaha. Baik lah, aku terima tantangan mu itu Fanny. Kau memang mengasyikkan." Jawab Hana dengan tertawa tanpa henti.
Sepertinya kau memang sengaja ingin membuatku terus merasa tidak nyaman dan cemburu berada diantara kalian. Baiklah, aku akan melayanimu. Kau belum tahu bukan, bagaimana rasanya mengejar belut di dalam lumpur?
Ku lihat sahabat Irgy mulai menatapku dengan penuh rasa bersalah. Sementara Irgy masih menahan ku, bahkan dia berbisik rela mengeluarkan banyak uang selama satu tahun sebagai denda yang sudah di tetapkan selama ini, asal Fanny dan dirinya tidak ikut serta dalam permainan kali ini.
Ini membuatku semakin bertanya-tanya kenapa Irgy begitu takut aku ikut serta dalam permainan ini, sedangkan teman yang lain nya terus saja memanggil Irgy. Begitu pula sebagian yang membawa pasangan mereka terlihat enjoy.
"Sayang, pliss kita pulang saja." Irgy terus menarik tangan ku menahan untuk tidak menghampiri sekumpulan teman-teman Irgy yang sudah siap dalam satu lingkaran. Aku menepis tangan Irgy semakin kasar.
"Kenapa? Kau takut aku semakin mengetahui semuanya tentang kau dan Nana mu itu?"
Aku mengabaikannya hingga sudah berasa di tengah perkumpulan teman-teman Irgy. Dengan sigap Irgy duduk di dekat ku, aku masih menebar senyum seolah aku dan Irgy baik-baik saja. Sedangkan Hana sesekali mencuri pandang kepadaku dan Irgy secara bergantian.
Kau tahu, sejak dulu aku selalu membenci permainan ini. Tapi entah kenapa tidak malam ini, aku justru sangat tertarik. Truth and Dare !!!
Dimana semua kejujuran dan keberanian diantara kami harus terucap dan di kupas habis tanpa kebohongan atau di buat dalam sebuah kepura-puraan. Sebab sudah tersedia sebuah benda yang menyerupai bak ponsel yang entah darimana itu datang, benda itu bisa mendeteksi sebuah kejujuran atau tidak.
Setelah beberapa kali putaran menantang semua yang ada disini, putaran botol itu tepat terhenti di hadapan Hana. Semua menyeru dan beberapa orang ada yang berkata jika ini yang mereka nantikan.
"Hmm.. Akhirnya aku kena juga. Ah, aku memilih Dare saja."
"Wow, ini menarik. Jika begitu katakan apa perasaan mu setelah kembali bertemu dengan Irgy, hahaha." Sebuah tantangan datang dari seorang lelaki berkulit hitam dan memakai kaca mata, sejak awal dia lah yang selalu banyak bicara dan menggoda Irgy dengan Hana. Ingin rasanya aku memasukkannya pada mesin cuci, dengan sedikit taburan pemutih di atasnya.
"Hemm.. Dasar tukang kepo, itu sama saja aku memilih Truth. Hahaha, aku tidak mau menjawabnya. Bisakah yang lain saja."
"Ayo ayo, jangan menyerah begitu. Apa kau takut? Atau mau mencoba meminum jus cabe ini? hahaha..." Beberapa orang lainnya menantang dan menggodanya terus dengan paksa.
"Sudah lah, kenapa aku yang jadi obyek nya? Yang lain saja. Lagi pula aku tidak menyukainya," Bantah Irgy menyela.
"Wuuuuu... Apakah kau juga takut karena sedang bersama istrimu? Hahaha. Ayoah, ini hanya permainan. Tentu istrimu tidak akan mengambil hati bukan?"
Aaaaaarght... Aku ingin menebar bom nuklir di gedung ini.
Aku masih berusaha tersenyum dengan bersikap sok tenang. Namun tatapan sahabat Irgy tadi terlihat jelas sangat canggung, begitupun dengan istri yang duduk di sisinya.
"Ok, ok baiklah. Aku.. Ehm, Irgy. Maafkan aku, semoga kau bahagia selalu dengan Fanny. Kau mau memaafkan ku bukan?" Ucap Hana dengan tiba-tiba, membuat suasana hening seketika.
"Apa yang kau ucapkan itu? Kenapa meminta maaf, lagi pula tidak ada yang di maafkan." Jawab Irgy dengan cetus. Dan itu terlihat jelas dari lubuk hatinya.
"Woah... Ternyata kalian se romantis ini," Jawab ku memecah keheningan lalu bertepuk tangan. Kemudian yang lain ikut berseru dan bertepuk tangan, sementara Hana begitu kikuk melempar senyuman tipis. Irgy salah tingkah dan mengepalkan kedua tangan nya.
"Sayang, ayo kita pulang. Besok aku harus rapat," Irgy beranjak kemudian menarik ku untuk segera keluar.
"Ayo lah, satu kali permainan lagi. Kenapa buru-buru suamiku, aku menikmati permainan ini. Lagi pula kau belum mendapat giliran mu dalam permainan ini."
"Hey Bro, ayo lah. Kau ketuanya disini, sejak kapan kau berani melanggar aturan yang sudah kita sepakati. Bahkan istrimu senang dengan permainan ini, ini hanya hiburan kita bukan?" Ucap salah seorang menahan Irgy untuk tetap berada dalam lingkaran.
"Fanny, jangan membuatku semakin gila." Bisik Irgy pada ku. Aku menepis dan mengabaikannya lalu kembali duduk.
"Ayo ayo dimulai kembali, putar botolnya.." Ujar teman yang lainnya lagi.
Dan benar saja, entah ini suatu kebetulan atau memang sudah Tuhan rencanakan sebuah pertunjukan padaku. Kini giliran Irgy yang mendapat tantangan berikutnya.
"Yes. Kalau ini mah, saya serahkan kepada tuan putri Hana selaku wakil ketua dalam permainan ini dan yang sejak dulu sudah mengetahui tuan raja Irgy akan memilih apa."
"Hahaha, owh kalian ini. Masih saja memperlakukan aku demikian, jangan membuatku malu di depan para istri kalian." Jawab Hana penuh percaya diri. Lagi-lagi dia menyibakkan rambutnya ke daun telinga nya yang di penuhi beberapa tindikan berhiaskan permata swarovski.
Oh ibu, sepertinya setelah ini anak si mata wayang mu akan menjadi musuh malaikat penjaga surga. Aku sungguh ingin mencincangnya sampai menjadi potongan partikel-partikel kecil dan setelah itu aku harus mencincangnya kembali sampai terkikis habis.
"Ehm, baiklah. Gigy, katakan dengan jujur. Jika aku dan Fanny berada di ujung jurang terdalam, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu? upz, tentu aku tahu kau akan memilih Fanny istrimu. Tapi apakah kau juga akan tega membiarkan ku terjatuh tanpa pertolongan?" Ucap Hana dengan senyuman manis seakan dia sudah menyiapkan semua ini sebelumnya. Tatapan nya padaku begitu penuh percaya diri, dan aku benci itu. Dia terlihat semakin licik saja, aku benci.. Aku benci !!!
"Aku akan tetap menyelamatkan dan mengutamakan istriku Fanny. Lagi pula, kau bukan siapa-siapaku."
"Oh ya, Hmm... Lalu bagaimana jika aku merubahnya, jika hal itu terjadi sebelum kau dan Fanny terikat dalam sumpah pernikahan. Apakah kau tetap akan lebih memilih menyelamatkan Fanny lebih dulu? Hihi.. Ayo jawab dengan jujur, jika tidak.. Kau akan merasakan bagaimana alat itu menyentuh persendianmu Gigy." Ucap Hana kembali dengan tersenyum penuh kemenangan kali ini.
Aku tidak tahu, sungguh aku tidak menduga dengan apa yang ku saksikan kali ini dari sosok Irgy yang selama ini selalu menunjukkan sikap santai, tenang, dengan segala ungkapan kasih sayang dan cinta untuk ku, segala rayuan dan gombalan yang dia utarakan padaku setiap detik.
Kini.. Hanya dengan satu pertanyaan dari wanita yang bernama Hana itu, dia tampak gelisah, kikuk, salah tingkah, terdiam sesaat. Membuat suasana kembali hening. Seolah semua menantikan jawaban dari Irgy yang di saksikan langsung oleh ku, istri sah nya.
"Aku.. Aku tetap memilih Fanny. Yang kini sudah menjadi istriku, apapun alasannya." Irgy menjawab kemudian dengan ragu.
"Wah... Bro, kau sunggub setia dan cinta mati pada istrimu. Aku yakin itu, hahaha." Seketika semua yang berkumpul tergelak tawa mendengar jawab Irgy.
"Eh tunggu, mari kita lihat apakah ketua kita sungguh berkata jujur kali ini?" Bantah seseorang lainnya. Lalu mengecek benda pendeteksi yang sejak tadi di menyentuh lengan Irgy.
"Upz... E,eh.. Ah, hahaha. Wah, ehm. Gimana jika kita lanjutkan permainan kembali." Jawab seseorang itu dengan ragu dan melirikku dengan rasa takut tertahan.
"Hey, tunggu dulu. Kau belum memberitahu kami bagaimana hasil benda itu, hahaha apakah ketua kita masih tetap saja orang yang paling jujur." Seseorang lainnya merebut dengan paksa, kemudian di tahan oleh seseorang yang lebih dulu mengeceknya.
Mereka saling berebut satu sama lain, hingga membuatku geram. Aku justru lebih ingin tahu dari mereka, mau tidak mau aku harus mempercayai alat unik itu. Aku harus meraihnya lebih dulu dan aku berhasil merebutnya dari tingkah mereka yang seperti anak kecil.
Yah... Aku berhasil meraihnya. Dan jawaban Irgy tadi menunjukkan bahwa Irgy, memiliki nilai 50:50. Entah apa ini maksudnya, tapi bagiku itu jawaban menunjukkan bahwa Irgy ragu dengan jawabannya sendiri. Yang berarti, kemungkinan besar dia bingung memilih antara aku atau Hana. Iya bukan???
Secara terang-terangan aku menunjukkan nya pada Irgy langsung. Membuat wajah Irgy memucat dengan mata terbelalak, dia menghela nafas dalam-dalam.
"Kau hebat. Jawaban ini sangat memuaskan ku, juga Hana. Iya kan Hana?" Ucapku sembari menunjukkannya pada Hana. Dengan tangan gemetaran, aku berusaha untuk tetap tenang tanpa ekspresi gusar sekalipun.
Hana yang melihatnya pun ikut terkejut, kemudian sejenak ia tertawa lepas menatap Irgy yang enggan memalingkan wajahnya dengan terus menatapku. Suasana semakin terasa membakar sekujur tubuhku malam ini.
🌻Hai readers setia ku, maafkan Author baru up malam ini. Author sedang lumayan sibuk. Untuk permohonan maaf, Author memberikan update 1 episode yang di kemas dari dua episode seharusnya. Semoga kalian puas dengan episode kali ini, mohon like nya selalu dan dukungan vote sebanyak-banyak. Luv kalian 😘 🌻